
Sepulang dari sekolahan Imran segera turun dari mobil, Ia berjalan masuk ke dalam rumahnya untuk mencari Hena.
" Hena...." Teriak Imran.
Hena yang sedang tidur pun langsung mengerjapkan matanya.
" Hena." Teriak Imran.
Hena segera turun dari ranjang dan berlari menghampiri Imran yang sedang berkacak pinggang di ruang tamu.
" Ada apa Ran?" Tanya Hena.
" Kemasi semua barang barangmu dan silahkan pergi dari rumahku." Titah Imran menatap Hena dengan tatapan nyalang.
" Kenapa? Ada apa? Apa yang terjadi sampai kau tega mengusirku? Apa salahku padamu?" Tanya Hena.
" Tidak perlu bersandiwara lagi padaku, Aku sudah mengetahui semua rencana busukmu." Ucap Imran.
Deg.... Deg.... Deg...
Jantung Hena terasa berdetak begitu kencang, Bahkan rasanya begitu menyesakkan dada. Ia merasa takut dan khawatir menjadi satu. Imran sudah mengetahui rencananya? Darimana Imran tahu semuanya? Apa Ia sudah berhasil menemukan Mila lalu menanyakannya pada Mila? Berbagai pertanyaan bersarang di kepala Hena. Ia memberanikan diri menatap Imran.
" Apa maksudmu aku bersandiwara? Siapa yang mencoba memfitnahku?" Tanya Hena mencoba menutupi ketakutannya.
Plek...
Imran melempar sebuah file dan flasdisk di atas meja.
" kamu lihat bukti rekaman dan file itu, Kau akan tahu betapa bodohnya dirimu karena telah menipuku." Bentak Imran.
" Aku tidak tahu maksudmu Imran, Katakan yang sebenarnya jangan mutar mutar nggak jelas." Ucap Hena.
" Kau mengatakan kebohongan pada istriku." Bentak Imran.
" Apa kau pikir aku tidak akan pernah mengetahuinya? Kau salah telah bermain main denganku Hena, Kau bahkan membohongiku tentang penyakitmu, Aku berharap kau akan mendapatkan karmanya supaya kau bisa merasakan bagaimana tersiksanya menderita penyakit kanker." Ujar Imran.
" Maafkan aku.... Aku terpaksa melakukannya karena aku mencintaimu Imran, Aku tidak rela kamu menjadi milik orang lain, Maafkan aku Ran." Ucap Hena.
" Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Kau membuatku kehilangan wanita yang aku cintai." Sahut Imran.
" Sekarang pergilah dari rumah ini, Aku tidak sudi menampung wanita ular sepertimu, Pergi." Bentak Imran.
Hena berjingkrak kaget. Jika Hena bukan perempuan mungkin Imran sudah menghajarnya hingga babak belur. Imran melirik Hena yang tidak bergeming sama sekali. Bahkan Ia tidak merasa bersalah sama sekali.
__ADS_1
" Kalau kau tidak mau keluar dari rumah ini maka dengan terpaksa aku akan memenjarakanmu, Sebelum aku berubah pikiran segeralah menyingkir dari hadapanku." Tekan Imran.
" Ba... Baiklah aku akan pergi dari sini." Ucap Hena.
Hena segera kembali ke kamar untuk mengemas semua barang barangnya. Tanpa melihat flashdisk yang di lemparkan Imran, Hena sudah tahu apa isinya. Imran tidak akan menuduh seseorang tanpa bukti yang nyata.
" Aku cari aman saja yang jelas aku tidak mau masuk penjara, Ayo Hena lekas pergi dari sini sebelum Imran berubah pikiran." Monolog Hena.
Setelah berkemas Hena segera pergi meninggalkan rumah Imran.
Sedangkan Imran saat ini sedang melajukan mobilnya menuju Bandara untuk menuju kota Y, Padahal hari sudah menjelang malam tapi Ia tidak mau membuang waktu lagi. Abbas berusan meneleponnya memberitahu kalau Mila berada di kota Y, Dan baru tadi pagi Ia mendaftar kuliah. Sampai di sini Imran tahu jika semalam Mila menyuruhnya menandatangani surat pendaftaran kuliahnya.
" Kau benar benar licik anak kecil, Kau memperdayaku dengan sikap manismu, Ternyata ada sesuatu di balik sikap manismu itu." Gerutu Imran dalam hatinya.
...****************...
Pagi hari Mila mengerjapkan matanya, Ia berjalan menuju kamar mandi untuk bersiap menuju kampusnya. Dua puluh menit kemudian Ia keluar kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi. Ia duduk di depan meja rias mengaplikasikan cream siang di wajahnya.
Tok tok tok
Suara pintu di ketuk dari luar. Mila berpikir jika itu Risa yang akan menghampirinya untuk berangkat bareng. Kamar kost Mila dan Risa bersebelahan. Mila berjalan ke arah pintu dan segera membuka pintunya.
" Sab......." Ucapan Mila menggantung begitu saja.
Deg....
Grep...
Imran memeluk Mila dari belakang. Ia menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Mila. Tubuh Mila kaku bahkan untuk mengelaknya saja Ia tidak bisa. Ia memejamkan matanya menahan sesuatu yang bergejolak di dadanya. Pelukan Imran berlalu hingga beberapa saat.
" Lepas." Ucap Mila setelah kesadarannya kembali.
" Aku tidak akan pernah melepaskanmu." Sahut Imran.
" Pak Des lepas, Aku harus bersiap pergi ke kampusku." Ujar Mila mencoba memberontak.
" Tidak perlu ke kampus karena aku sudah membatalkan surat pendaftaranmu, Kamu tidak di terima menjadi mahasiswa di Universitas itu." Jelas Imran.
Mila membalikkan tubuhnya, Ia menatap tajam ke arah suaminya. Imran melepas pelukannya.
" Apa maksudmu?" Tanya Mila.
" Kamu tidak perlu kuliah, Kamu di rumah aja menungguku pulang dan mengurus calon anak anak kita." Ucap Imran.
__ADS_1
" Heh percaya diri sekali dirimu Pak Desfian, Apa kau kira aku mau?" Sinis Mila sambil bersedekap dada.
" Kau harus mau dan kau tidak bisa membantah perintahku." Ucap Imran.
" Kata siapa? Aku bahkan bisa membantah perintah orang tuaku kenapa aku tidak bisa membantah perintahmu, Mulai sekarang jangan pernah mengganggu hidupku lagi, Dan jangan pernah mengatur hidupku biarkan aku mrngatur hidupku sendiri, Aku akan meminta pengacara untuk mengurus surat cerai kita." Ujar Mila.
" Aku tidak akan pernah menceraikanmu Kamila, Jangan pernah sekali kali kamu mengucapkan kata itu lagi karena aku tidak suka mendengarnya." Tegas Imran.
" Kau serakah Pak Desfian, Kau tidak bisa menyatukan dua wanita dalam satu atap, Karena bagaimanapun tidak ada wanita yang rela berbagi suami dengan madunya, Ku mohon jangan menyulitkan aku, Biarkan aku mencari kebahagiaanku sendiri dan kau mencari kebahagiaanmu, Impas bukan?" Tanya Mila.
" Kebahagiaanku ada bersamamu bukan dengan yang lainnya Mila." Sahut Imran.
Mila memejamkan matanya menahan sesak di dadanya. Sejujurnya Ia ingin mengatakan hal yang sama tapi Ia tidak boleh egois. Ada hati yang harus Ia jaga.
" Tenang Mila... Jangan egois, Jangan goyah kuatkan hatimu, Hah nasib baru sehari menjauh sudah di temukan, Aku harus kuat untuk menolak." Batin Mila.
" Sudahlah Pak jangan di perpanjang lagi, Sekarang pulanglah istrimu menunggumu di rumah." Ujar Mila.
" Istriku ada di sini, Dan aku akan membawa istriku kembali ke rumah kami, Menurutlah Mila, Kembalilah ke rumah kita, Kita mulai semuanya dari awal." Ujar Imran.
" Berikan satu alasan kenapa aku harus kembali bersamamu!" Ucap Mila.
" Karena aku mencintaimu." Ungkap Imran.
Deg....
Jantung Mila bergetar mendengar ucapan Imran. Benarkah Imran mencintainya? Benarkah Imran memiliki perasaan yang sama dengannya? Hati Mila mulai goyah, Apakah Ia harus menerima cinta Imran untuknya? Ataukah Ia harus menolaknya demi wanita penyakitan yang sedang menantinya di rumah?
" Sayang percayalah, Aku sangat mencintaimu." Ucap Imran menggenggam tangan Mila.
Mila menatap mata Imran yang sedang menatap ke arahnya.
" Ada sesuatu yang harus Mas beritahukan padamu." Ucap Nervan merapikan anak rambut Mila.
" Apa?" Tanya Mila.
" Sebenarnya...
Tbc.....
*Jangan lupa like dan koment di setiap Babnya ..
Jika berkenan berikan mawar untuk author ya...
__ADS_1
Makasih suportnya....
Miss U All*