
" Sayang jangan pernah mengucapkan kata pisah, Itu tidak baik sayang.... Aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi." Ucap Imran.
" Bagiku kesempatan tidak datang dua kali Mas, Untuk apa kita terus bersama jika kita tidak sejalan, Aku tidak mau terus terussan kamu sakiti dengan alasan tidak sengaja atau tidak menyadarinya." Sahut Mila.
" Sayang pikirkanlah dulu." Ucap Mama Santi.
" Aku rasa kali ini kalian semua harus mendengar apa keinginanku." Ujar Mila.
" Mila... Kesalahan apa yang Imran perbuat padamu? Apa Imran melakukan kesalahan fatal? Apa Imran mengkhianati pernikahan kalian? Apa Imran berbuat kasar padamu? Dia memukulmu? Katakan apa yang dia lakukan hingga kalian harus menempuh jalan perpisahan." Ucap Mama Lina.
Mila tidak bergeming, Ia memikirkan pertanyaan demi pertanyaan Mama mertuanya. Mungkin bagi sebagian orang ini hal biasa dalam rumah tangga tapi bagi gadis belia seperti Mila ini masalah besar, Karena Ia merasa dia tidak di hargai oleh suaminya dan keluarganya sendiri. Ia tidak bisa mengutarakan pendapatnya.
" Jika masalah Imran yang selalu memaksamu, Selalu mengambil keputusan tanpa persetujuanmu itu masih bisa di selesaikan Mila, Bukan maksud Mama membela Imran tapi cobalah bersikap dewasa.... Mungkin umurmu memang masih muda tapi kamu sudah menjadi istri dari suamimu, Setiap rumah tangga pasti ada saja masalah yang datang sayang, Apalagi usia pernikahan kalian masih seumur jagung tapi semua itu ada jalan keluarnya, Bukan hanya perpisahan... Jika sedikit dikit berpisah terus nanti kamu menikah lagi dan mengalami hal seperti ini kamu minta pisah lagi, Lalu kamu mau menikah berapa kali? Jika ada masalah bicarakanlah dari hati ke hati, Selesaikan dengan hati dingin jangan biarkan emosi menguasimu Nak.... Jangan sampai kau menyesali keputusanmu sendiri, Jika kalian sudah bercerai maka kamu belum bisa rujuk sebelum kamu menikahi pria lain." Tutur Mama Lina dengan panjang lebar. Mama tahu jika sampai saat ini Mila masih suci.
" Maafkan aku Ma, Aku butuh waktu untuk memikirkannya, Saat ini aku tidak bisa berpikir karena rasa kecewa yang aku rasakan lebih mendominasi di hatiku, Mila harus pergi." Ucap Mila.
Mila beranjak meninggalkan keluarganya menuju kamarnya. Biarlah Ia di anggap tidak sopan. Ia sudah muak dengan apa yang Ia alami dan Ia rasakan selama ini. Keputusannya sudah bulat, Buat apa mempertahankan cinta jika cinta itu sendiri hanya mampu membuat luka di hatinya.
Mila membereskan beberapa barangnya, Ia menyeret kopernya keluar kamar. Semua orang tertegun saat Mila melewati ruang keluarga.
" Kamu mau kemana sayang? Apa kamu tetap mau meninggalkan aku?" Tanya Imran menghampiri Mila.
" Biarkan aku pergi karna tempatku bukan di sini." Ucap Mila.
" Aku akan mencari tempat dimana aku di hargai bukan di butuhkan." Sambung Mila.
" Sayang ku mohon jangan pernah tinggalkan aku, Aku sangat mencintaimu sayang." Ujar Imran.
" Apa gunanya cinta jika hanya membuat diri kita menderita? Bulshit dengan kata cinta aku sudah tidak mempercayainya, Karna orang yang pertama kali mengajariku cinta kini sudah tiada." Ujar Mila.
Imran memejamkan matanya menahan rasa sakit di dadanya.
" Mila... Apa kau sama sekali tidak ada perasaan padaku?" Tanya Imran menatap mata Mila.
" Perasaan apa yang kamu maksud?" Mila balik bertanya.
" Cinta." Sahut Imran.
" Apa di mataku ada cinta untukmu?" Mila balik bertanya.
"Ada." Sahut Imran.
" Ku rasa kau sudah tertipu dengan tatapanku, Maaf aku tidak mau membuang waktuku untuk hal yang tidak penting, Aku akan segera mengurus surat perpisahan kita dan kau harus menandatanganinya." Ujar Mila.
Mila berjalan meninggalkan rumah mertuanya. Air mata yang Ia tahan akhirnya keluar juga. Rasa sesak di dadanya begitu menyiksa dirinya. Imran mencintainya? Nyatanya Imran tidak mengejarnya. Bukankah ini kemauannya? Hah wanita memang susah di mengerti. Betul nggak sih?
Mila mengemudikan mobilnya menuju rumah Tafisa. Sampai di sana hari sudah malam. Ia memencet bel rumah hingga si empu membukakan pintu untuknya.
" Kau mau pindahan kemana? Pakai bawa bawa koper segala?" Tanya Fisa.
" Untuk beberapa hari aku mau di sini Kak." Sahut Mila.
" Menenangkan pikiran?" Tanya Fisa.
" Lebih tepatnya numpang makan." Sahut Mila membuat Fisa tertawa.
" Ada ada aja kamu ini." Kekeh Fisa
Keduanya masuk ke kamar begadang menonton serial drakor yang terkenal dengan muka muka ganteng dan cantiknya. Sampai tak terasa Mila memejamkan matanya.
...----------------...
Mila mengerjapkan matanya ternyata hari sudah pagi. Ia segera membersihkan dirinya di dalam kamar mandi. Setelah selesai Ia duduk di tepi ranjang sambil membuka ponselnya.
Sepuluh panggilan tak terjawab dari Mama Lina jam dua belas malam. Takut ada sesuatu yang terjadi, Mila segera menelepon balik Mama mertuanya.
__ADS_1
" Halo Ma." Sapa Mila setelah Mama Lina menjawab panggilannya.
" Halo sayang." Sahut Mama Mila.
" Ada apa Mama menelepon malam malam, Maaf Mila sudah tidur Ma." Ujar Mila.
" Terjadi sesuatu hal yang buruk kepada Imran sayang." Sahut Mama Lina.
" Apa?" Pekik Mila.
" Apa yang terjadi kepada Mas Imran Ma?" Tanya Mila cemas.
" Entah kenapa semalam Imran mabuk, Ia mengalami kecelakaan di jalan xx, Sekarang Ia sedang di rawat di rumah sakit, Kaki dan tangannya cidera sayang." Jelas Mama Lina.
Mila menangis mendengar kondisi suaminya.
" Mil apa kamu mau ke rumah sakit merawat Imran? Papa dan Mama sedang dalam perjalan bisnis keluar negri, pekerjaan Papamu tidak bisa di tunda sayang, Mila.. Bagaimanapun kamu masih istri Imran Nak, Maukan kamu merawatnya untuk sementara waktu?" Tanya Mama Lina.
" Kasihan sayang semalam Imran di rumah sakit sendirian, Abbas baru bisa ke sana tadi pagi, Mama mohon rawatlah Imran sayang." Sambung Mama Lina.
" Akan Mila usahakan Ma." Sahut Mila.
" Mama titip Imran ya Mil." Ucap Mama Lina.
" Iya Ma, Kalau begitu Mila tutup teleponnya Ma, Assalamu'alaikum." Sahut Mila menutup sambungan teleponnya.
" Apa yang sebenarnya Kau rencanakan Tuhan, Kenapa di saat aku ingin menjauh darinya justru kami harus semakin dekat, Semoga aku menemukan kebahagiaan dan jawaban atas semua ini." Batin Mila.
Mila segera turun ke bawah mencari Fisa yang ternyata sedang berolahraga di taman rumahnya.
" Kak aku pergi dulu ya, Sepertinya aku tidak kembali lagi ke sini." Ucap Mila menghampiri Fisa.
" Kenapa? Apa ada masalah? Apa kamu mau pergi ke luar negri?" Tanya Fisa.
" Itu pertanda dari Tuhan jika Ia tidak mau kamu berpisah dari Des." Ucap Fisa.
" Semoga saja Kak, Aku pergi dulu terima kasih atas bantuan Kakak." Ucap Mila
" Its OK hati hati." Sahut Fisa.
Mila melajukan mobilnya ke rumah sakit yang sudah di beritahu oleh Mama Lina lewat pesan WA. Setengah jam Mila sampai di sana. Ia segera berjalan menuju ruang VIP no 15.
Ceklek.....
Deg
Hati Mila bergemuruh melihat Vania menyuapi Imran sambil sesekali tertawa. Apa ini yang Imran rasakan saat Mila bersama Arvi? Mengapa karma begitu cepat datangnya.
Imran yang mendengar pintu terbuka menatap ke arah pintu. Ia menatap Mila yang sedang berdiri di sana.
" Sayang." Panggil Imran membuat Vania menoleh.
" Lanjut lagi makannya Ran." Ujar Vania.
" Nggak usah Van, Makasih ya." Sahut Imran.
Mila menghampiri Imran Ia berdiri di tepi ranjang.
" Gimana kabarmu Mas? Maaf aku baru tahu kalau kamu mengalami kejadian ini." Ucap Mila.
" Bagaimana bisa seorang istri tidak tahu kalau suaminya kecelakaan? Emangnya kamu dimana? Nggak perasaan banget membiarkan suaminya sendirian." Cebik Vania.
" Tahu dan tidaknya aku rasa itu bukan urusanmu, Yang penting aku sudah ada di sini untuk merawat suamiku jadi sekarang kamu pergilah dan terima kasih sudah mencari kesempatan dalam kesempitan." Ketus Mila.
" Hei apa maksudmu? Aku menemani Imran karena memang dia butuh teman bukan? Kasihan jika dia sendirian di sini." Sahut Vania.
__ADS_1
" Baiklah Nona Vania yang terhormat terima kasih atas kebaikanmu." Ucap Mila. Saat ini Ia sedang malas berdebat.
" Istrimu memang tidak ada sopan santunnya Ran, Betul Tante Lina kalau dia urakan." Ejek Vania.
" Jaga bicaramu Vania, Bagaimanapun dia aku tetap mencintainya, Sekarang pergilah dan terima kasih karna kamu mau menjengekku." Ucap Imran.
Vania keluar dengan perasaan kesal. Sedangkan di dalam ruangan Mila menatap ke arah Imran. Kaki dan tangan kanannya di perban. Mungkin bagian itu yang mengalami cidera.
" Apa dia dari semalam di sini?" Tanya Mila.
" Tidak sayang dia baru saja datang." Sahut Imran.
" Siapa yang mengabarinya?" Selidik Mila.
" Ya Mas nggak tahu lah Yank, Tiba tiba dia datang ke sini terus menyuapi Mas, Kebetulan Mas sangat lapar ya jadi Mas tidak menolaknya." Sahut Imran.
" Kenapa kamu cemburu ya? Cemburu itu tandanya sayang lhoh Mil." Goda Imran.
" Apasih kamu Mas, Nggak ada ya aku cemburu." Kilah Mila.
" Ngaku aja deh." Ujar Imran.
" Enggak ya." Sahut Mila.
" Udah ah Mas, Kenapa Mas bisa seperti ini? Apa yang sebenarnya terjadi Mas?" Tanya Mila.
" Maafkan Mas, Semalam Mas pergi ke club malam dengan mengendarai motor, Mas mencoba minum untuk menghilangkan rasa penat dan beban pikiran Mas karna kamu meninggalkan aku, Tapi dasar akunya payah baru minum beberapa gelas saja udah mabuk, Mas nekat pulang dan di perjalanan Mas justru menubruk pengendara lain dan berakhir menabrak tiang, Alhasil kaki dan tangan Mas harus di perban seperti ini." Jelas Imran.
" Lagian kamu sok sokkan Mas, Orang nggak bisa minum main minum minum aja, Dosa juga tahu Mas." Ujar Mila.
" Iya maaf nggak lagi lagi deh, Tapi syaratnya kamu nggak pergi ninggalin aku." Ucap Imran.
" Sayang maafkan aku, Aku berjanji akan membenahi diriku untuk tidak semena mena denganmu, Berikan aku kesempatan untuk membuktikannya sayang, Tetaplah di sisiku jangan pernah tinggalkan aku, Aku sangat sangat mencintaimu sayang." Ungkap Imran.
Mila menatap mata Imran, Mata yang memancarkan sinar cinta yang begitu dalam.
" Kau maukan memaafkan Mas? Kita jalani rumah tangga kita dengan awal baru dan suasana yang baru juga, Gimana?" Sambung Imran.
Mila menghela nafasnya.
" Baiklah Mas aku akan tetap di sini, Kau juga tidak melakukan kesalahan hanya saja aku yang tidak suka jika kau mengambil keputusan tentang diriku tanpa meminta pendapatku." Ujar Mila.
" Terima kasih sayang... Maafkan aku yang tak sadar sudah melukai hatimu." Ucap Imran.
" Sama sama Mas, Aku juga minta maaf karna selama ini aku belum bisa menjadi istri yang baik, Berawal dari sini dengan keadaanmu sekarang, Aku akan mengabdikan diriku kepadamu." Ujar Mila.
" Terima kasih sayang, Peluk aku donk." Ucap Imran.
Mila membungkukkan badannya lalu Ia memeluk tubuh Imran.
" I Love U Kamila Maulana dan aku akan selalu setia menanti jawaban darimu, Cintaku cukup untuk kita berdua." Ucap Imran.
Sebenarnya Mila ingin membalas ungkapan cinta Imran, Tapi entah mengapa lidahnya menjadi kelu. Ia hanya bisa menjawabnya di dalam hatinya.
TBC.....
Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya...
Kalau berkenan vote dan beri author hadiah donk...
Mohon doa dan suportnya supaya author bisa memberikan cerita yang menarik ya...
Makasih suportnya... Siapalah author tanpa kalian...
Miss U All
__ADS_1