
Sebulan telah berlalu hari ini tiba hari pernikahan Mila dengan Imran. Berbagai cara telah Mila lakukan untuk membatalkan pernikahan ini, Tapi yang namanya jodoh tidak akan kemana, Ia selalu gagal menjalankan rencananya. Pernikahan di selenggarakan di kediaman Mila setelah itu Mila akan di boyong ke rumah Imran.
" Sayang kamu cantik sekali." Ucap Mama menghampiri Mila yang sedang duduk di tepi ranjang setelah di rias oleh pihak MUA.
" Tidak perlu memujiku Ma, Aku ucapkan selamat karena kalian berhasil membuangku atau lebih tepatnya menjualku demi bisnis kalian." Sinis Mila.
" Sayang jangan berkata seperti itu Nak, Semua ini demi kebaikanmu." Ujar Mama.
" Kebaikan apa? Kebaikan yang mana? Kebaikan karena telah menolong kalian membalas budi pada keluarga Maulana begitu?" Ketus Mila.
" Mila...." Ucap Mama Lina di ambang pintu lalu Ia menghampiri Mila.
" Sayang... Mama dan Imran menerimamu bukan sebagai balasan dari hutang mereka Nak, Mama memang menginginkanmu menjadi menantuku bukan karena yang lainnya sayang." Ujar Mama Lina.
" Entah lah Ma aku tidak tahu permainan apa yang sedang kalian mainkan, Aku hanya menjadi boneka saja di sini." Sahut Mila.
Mama dan calon Mama mertuanya sama sama menghela nafasnya. Mereka tahu betapa kecewanya Mila kepada mereka sebagai orang tuanya.
" Ya udah sayang ayo, Acara akan segera di mulai Pak penghulu sudah menunggu." Ujar Mama Lina.
Mila berjalan di apit Mama Santi dan Mama Lina menuju ruang tamu tempat akad nikah di adakan. Imran menatap kagum pada Mila yang terlihat begitu cantik hari ini. Kebaya putih dan riasan natural membuatnya terlihat semakin dewasa walau usianya baru delapan belas tahun. Mila duduk di samping kiri Imran dengan menundukkan kepalanya.
" Mari kita mulai acaranya." Ucap Pak penghulu.
Setelah Penghulu membacakan doa doa, Papa Toni menjabat tangan Imran.
" Saudara Desfian Imran Maulana." Ucap Papa Toni.
" Saya." Sahut Imran.
" Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya Kamila Azzurra untuk dirimu sendiri dengan mas kawin emas seberat lima ratus gram di bayar TUNAI." Ucap Papa Toni.
" Saya terima nikah dan kawinnya Kamila Azzurra binti Toni Erlangga dengan mas kawin tersebut di bayar tunai." Sahut Imran secara lantang.
" Bagaimana para saksi? Sah?" Ucap Pak Penghulu.
" Sah." Sahut kedua saksi bersamaan dengan para tamu undangan yang hadir.
" Alhamdulillah.." Ucap Semua orang.
Setelah di tutup dengan doa, Tukar cincin dan khutbah nikah serta penandatanganan dokumen nikah akhirnya acara ijab qobul pun selesai.
Acara di lanjut dengan resepsi, Banyak para tamu yang mengucapkan selamat walau kedua orang tua Mila hanya mengundang kerabat dan tetangga terdekat saja.
" Selamat menempuh hidup baru sayang, Semoga kalian mejandi keluarga yang Sakinah mawaddah warohmah." Ucap Mama Santi memeluk Mila.
" Hmm." Gumam Mila.
" Amien." Sahut Imran.
__ADS_1
" Selamat datang di keluarga Maulana sayang, Semoga kebahagiaan selalu mengiringi rumah tangga kalian." Ucap Mama Lina memeluk Mila.
" Makasih Ma." Sahut Mila singkat.
" Sayang jadilah istri yang baik yang taat dan menghormati suami." Pesan Mama Santi.
" Ma Mila capek mau istirahat di kamar saja." Ucap Mila kepada Mama Santi membuat Mamanya menghela nafasnya karena Mila tidak mau merespon ucapannya.
" Baiklah sayang ajak suamimu sekalian." Ujar Mama Santi.
" Nggak perlu Ma, Biar dia menerima tamu di sini, Aku sendiri saja." Sahut Mila berjalan meinggalkan mereka.
" Maafkan sikap Mila Nak Imran." Ucap Mama Santi setelah kepergian Mila.
" Tidak pa pa Ma, Mungkin Mila belum terbiasa saja." Sahut Imran.
" Segera susul dia ke kamarnya, Sudah tahu kan kamar Mila?" Tanya Mama Santi.
" Iya Ma, Imran pamit dulu." Sahut Imran.
Imran berjalan menuju kamar Mila. Sesampainya di depan kamar Mila, Imran membuka pintunya tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
Ceklek.....
Imran masuk ke dalam bersamaan dengan Mila yang baru keluar dari kamar mandi, Mila hanya mengenakan bathrobe dengan panjang di atas paha membuat paha mulusnya terekspos. Imran menelan kasar salivanya walaupun saat sekolah Mila juga memakai rok sebatas lutut saja.
" Segera bersiap karena kita akan pindah ke rumahku." Ucap Imran.
" Kalau aku tidak mau?" Mila balik bertanya.
" Apa maksudmu tidak mau?" Tanya Imran menghampiri Mila yang sedang menyisir rambut indahnya.
" Aku tidak mau tinggal di rumahmu, Aku mau di sini saja." Ujar Mila.
" Tidak bisa sekarang kamu istriku jadi kemanapun aku pergi kamu harus mengikutiku, Lagia Mama dan Papamu akan segera pindah dari sini." Jelas Imran.
" Pindah? Kemana?" Tanya Mila menatap Imran.
" Ke kampung, Nenekmu sakit jadi mereka akan merawat nenekmu di sana untuk waktu yang lama." Sahut Imran.
" Apa ini alasan mereka menikahkan aku?" Selidik Mila.
" Aku tidak tahu, Sekarang bersiaplah aku ingin istirahat di rumahku sendiri." Ucap Imran.
" Pak Des bisa pulang sendiri biarkan aku di sini saja, Aku juga mau istirahat, Aku lelah." Sahut Mila.
" Mila mengertilah adab dan kewajiban seorang wanita setelah menikah, Jangan banyak membantah kemauan suami selama itu di jalan kebenaran, Aku mohon jangan membuat kedua orang tua kita sedih dengan sikapmu yang seperti ini, Sekarang kamu sudah dewasa jadi belajarlah bersikap dewasa tanpa berdebat." Ujar Imran memijat pelipisnya.
" Heh... Baiklah selalu saja seperti ini tidak ada yang mau peduli akan perasaanku apalagi keinginanku, Kalian semua berbuat semaunya saja dalam mengatur hidupku, Aku seperti mayat hidup yang tidak punya tujuan hidup sendiri." Keluh Mila.
__ADS_1
" Jangan sering mengeluh karena semua akan indah pada waktunya." Sahut Imran.
Selesai bersiap keduanya turun ke bawah menghampiri para orang tua yang sedang berkumpul di ruang tamu. Sedangkan para tamu sudah kembali ke rumah masing masing.
" Kalian sudah siap?" Tanya Papa Toni.
" Sudah Pa." Sahut Imran.
" Duduk dulu ada yang perlu Papa bicarakan pada kalian." Ujar Papa Toni.
Mila dan Imran duduk berdampingan di depan Papa Toni.
" Nak Imran, Papa sudah menyerahkan tanggung jawab Papa padamu, Jagalah dan sayangi Mila seperti Papa menyanyanginya selama ini, Tegurlah dia jika dia salah tapi Papa mohon jangan pernah kamu memarahinya, Jika suatu hari nanti kamu sudah tidak mencintainya maka kembalikan dia baik baik kepada kami." Ucap Papa Toni menghapus air matanya. Ia merasa sedih karena selama menjadi Papa, Ia jarang memberikan waktu kepada Mila. Ia hanya sibuk bekerja dan bekerja.
" Aku akan berusaha menjaga dan menyayangi Mila sebisa mungkin Pa, Papa tenang saja Insya Allah sampai kapanpun aku tidak akan mengembalikan Mila kembali pada Papa, Terima kasih telah mengijinkanku memiliki putrimu." Sahut Imran.
" Papa percaya padamu Nak." Sahut Papa Toni.
" Mila." Panggil Papa Toni menatap Mila.
" Ya." Sahut Mila malas.
" Papa minta maaf padamu Nak karena Papa selama ini kurang memperhatikanmu, Tapi percayalah jika Papa sangat menyayangimu, Sekarang kamu sudah menjadi seorang istri jadi....
" Aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan Pa, Dan aku mohon setelah kau memberikanku pada orang lain jangan pernah lagi mencampuri segala urusanku apalagi melarangku, Aku tahu mana yang baik dan tidak untuk diriku sendiri." Mila memotong ucapan Papanya sebagai bentuk protesnya.
Hati Papa dan Mamanya mencelos mendengar ucapan Mila begitupun dengan kedua mertuanya. Mereka tahu akan kekecewaan yang Mila alami saat ini.
" Sayang jangan seperti itu kepada orang tua kita, Tidak baik sayang." Tegur Imran menggenggam tangan Mila.
" Bagiku orang tuaku sudah tiada setelah mereka menyerahkanku pada orang lain, Sekarang ayo kita pergi aku sudah tidak di perlukan lagi di sini." Ucap Mila berlalu dari sana membuat kedua orang tuanya begitu sedih melihat kekecewaan di mata anaknya.
" Pa Ma jangan di pikirkan, Maafkan Mila ya, Suatu hai nanti Mila akan mengerti, Maafkan aku yang sudah membuat kerenggangan pada hubungan kalian." Ujar Imran.
" Tidak pa pa Nak, Mila hanya meluapkan kekecewaannya saja kepada kami, Bagaimanapun kami yang membuatnya seperti ini, Maafkan kami yang tidak bisa mendidik Mila menjadi wanita yang lemah lembut." Ujar Mama Santi.
" Jangan di pikirkan Jenk, Insya Allah seiring berjalannya waktu Imran mampu membimbingnya untuk menjadi wanita yang lebih baik lagi dan menjadi istri dan anak yang soleha." Sahut Mama Lina.
" Amien... Kami menaruh harapan besar padamu Nak Imran." Ucap Mama Santi.
"Doakan saja Ma, Kalau begitu aku pamit Ma Pa, Assalamu'alaikum." Ucap Imran.
" Wa'alaikumsallam, Hati hati Nak." Sahut Papa Toni.
Imran berjalan menghampiri Mila yang sudah duduk menunggu di dalam mobilnya. Imran masuk ke dalam mobil lalu Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumahnya sendiri.
TBC....
Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya...
__ADS_1