
Imran berlari turun ke bawah menghampiri Hena, Ia bahkan melupakan rasa sakit di kepalanya.
" Hena... Hena..." Teriak Imran.
" Ada apa Ran?" Tanya Hena.
" Hena apa kau tidak tahu tentang kepergian Mila?" Tanya Imran menatap Hena.
" Apa pergi? Maksudmu pergi gimana?" Tanya Hena pura pura.
" Mila pergi dari rumah dengan membawa semua pakaiannya, Apa kau yakin tidak tahu apa apa? Apa kamu tidak melihat kepergian Mila?" Selidik Imran.
" A... aku tidak tahu menahu soal itu Ran, Apa mungkin Mila perginya malam?" Tebak Hena.
" Mungkin saja, Aku akan mencarinya." Ujar Imran.
Imran berjalan keluar rumah menuju mobilnya.
" Kenapa kau tidak pernah mau memandangku Ran? Kamu masih saja melihat Mila walau Ia jauh dari pandanganmu." Lirih Hena.
Di dalam mobil Imran mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia mencari kontak Mama Santi lalu segera meneleponnya.
" Halo Ran ada apa?" Tanya Mama Santi setelah mengangkat panggilannya.
" Ma apa Mila ada di rumah Mama?" Tanya Imran to the point.
" Tidak... Mila tidak ke sini, Apa Mila pergi dari rumah? Kenapa kamu mencarinya? Bukankah jam segini dia pergi ke sekolah? Atau udah libur?" Sekarang giliran Mama Santi yang bertanya.
" Ah iya mungkin dia ke sekolah Ma, Maaf Imran panik saat bangun tidur tidak ada Mila jadi nggak kepikiran sampai ke situ." Ujar Imran.
" Hah kamu ini membuat jantung Mama hampir copot, Mama kira dia pergi kemana, Sampai segitunya nggak mau kehilangan Mila." Ucap Mama Santi.
" Iya Ma, Aku sangat mencintainya." Sahut Imran.
" Segera ungkapkan perasaanmu sebelum terlambat." Saran Mama Santi.
" Iya Ma, Ya udah Ma Imran mau berangkat dulu, Salam untuk Papa." Ujar Imran.
" Ya udah hati hati." Sahut Mama Santi.
" Kamu pergi kemana sayang?" Monolog Imran.
Imran menyandarkan tubuhnya pada jok mobil, Ia mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Bayangan setelah makan Ia merasa sangat ngantuk lalu Mila meminta tanda tangannya untuk mencairkan cek kalau Ia tidak salah dengar.
" Ah sial.... Aku sudah tertipu, Aku yakin tanda tangan itu bukan untuk mencairkan cek tapi untuk.... Untuk apa ya? Apa mungkin itu surat cerai? Ah tidak tidak jangan sampai itu terjadi, Aku yakin Hena ikut terlibat di dalamnya." Ujar Imran.
__ADS_1
Imran membuka ponselnya untuk melihat rekaman cctv rumahnya. Ya Hena tidak pernah tahu kalau di rumah Imran terdapat kamera pengintai kecil di setiap sudut rumahnya. Kamera itu menyerupai warna tembok jadi tidak kasat mata.
Imran membuka rekaman semalam, Ya seperti yang ada dalam bayangannya. Imran pindah melihat cctv di depan kamarnya, Setelah Ia tidur Mila keluar kamar sambil menyeret kopernya. Di depan kamar Hena sudah menghadangnya, Mereka berpelukan lalu Mila keluar dari rumahnya.
Imran melihat Hena begitu bahagia, Ia bahkan bersorak karena telah berhasil menyingkirkan Mila. Tangan Imran terkepal kuat menahan emosinya. Ia membuka rekaman beberapa hari sebelumnya hingga menemukan rekaman saat hari pertama Mila ujian.
Imran terus melihat dan mendengarkan percakapan keduanya hingga membuat darahnya mendidih.
" Henaaaaaa." Geram Imran.
" Aku tidak menyangka kau begitu licik Hen, Aku sudah mengorbankan perasaanku dan perasaan Mila untuk dirimu tapi kau telah mengkhianatiku." Ucap Imran.
Imran segera menelepon seseorang kepercayaannya. Abbas assisten pribadi, Sahabat sekaligus orang terhebat yang Imran miliki. Bahkan Abbas adalah seorang hacker terhebat.
" Halo Ran." Sapa Abbas di sebrang sana.
" Aku ingin kamu menyelidiki tentang penyakit Hena rebecca, Apa dia benar penyakitan atau hanya bersandiwara." Titah Imran.
" Lima menit." Sahut Abbas mematikan sambungan teleponnya.
Drt... drt...
Setelah menunggu lima menit Abbas menelepon Imran.
" Ya katakan." Ucap Imran mengangkat panggilan teleponnya.
" Apa tujuan dia melakukan semua itu?" Tanya Imran.
" Untuk menguasai seluruh hartamu, Dia juga terlihat mencintaimu." Sahut Abbas.
" Satu tugas lagi untukmu." Ucap Imran.
" Apa?" Tanya Abbas.
" Lacak keberadaan istriku Kamila Azzurra Maulana, Aku sudah mengirimkan nomer ponselnya padamu, Segera kabarkan padaku." Ucap Imran.
" Baiklah tapi tunggu sedikit lama karena sepertinya nomer ponsel istrimu sudah tidak di gunakan lagi." Jelas Abbas.
" Lakukan dan aku tunggu kabar darimu secepatnya." Ucap Imran memutus sambungan teleponnya.
" Aku akan buat perhitungan padamu Hena, Tunggu aku sepulang dari sekolah kau akan merasakan akibatnya bermain main denganku." Geram Imran.
Di tempat lain tepatnya di alun alun kota Y, Mila, Risa dan Vicki sedang berjalan jalan menuju Malio**** setelah pulang dari mendaftar kuliahnya. Entah apa yang akan mereka beli di sana. Di setiap trotoar yang dulu banyak pedagang kaki lima sekarang sudah bersih, Jadi perjalanan tidak akan terhambat oleh para pedagang itu.
" Eh Lo mau beli apa sih? Dari tadi cuma jalan aja." Ucap Risa.
__ADS_1
" Ya nggak beli apa apa si, Emang kalau jalan ke sini cuma mau beli sesuatu doank." Sahut Mila.
" Iya juga sih, Mending kita masuk ke benteng yang di sana aja, Kita lihat ada apa aja di dalamnya." Saran Vicki.
" Boleh juga tuh, Terus nanti kita mampir ke taman P." Sahut Mila.
" Idih kaya' anak kecil aja ke sana, Gue nggak mau ah habis dari benteng kita pulang, Udah capek gue." Sahut Risa.
" Ah Lo mah nggak asyik." Ucap Mila.
" Bodo'... Gue kok nggak hafal jalan daerah sini ya? Nih kalau gue di tinggal di sini gue nggak bisa pulang ke kostan lhoh." Ujar Risa.
" Sama' saking banyaknya perempatan gue juga bingung." Sahut Mila.
" Ha ha ha." Ketiganya tertawa bersama.
Mereka melanjutkan perjalanan untuk mengenal destinasi wisata di kota ini. Mereka masuk dari satu tempat ke tempat lainnya hingga tak terasa hari sudah mulai sore, Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke kostan masing masing.
Kostan cewek dan cowok hanya terpisah oleh jalan setapak saja jadi Vicki masih bisa mengawasi kedua teman ceweknya itu.
" Hah capeknya." Keluh Mila merebahkan tubuhnya di atas kasur busa.
" Iya... Besok kita udah mulai ospek jadi sekarang kita bobok yang nyenyak biar besok lebih fresh." Ujar Risa.
" Hmmm sekarang pejamkan mata dan kita menjelajah ke alam mimpi." Ucap Mila memejamkan matanya.
Saat Mila memejamkan matanya bukannya tidur malah Ia terbayang oleh wajah tampan suaminya. Ia memcoba menghilangkannya tapi gagal, Bayangan senyuman Imran justru semakin melekat di dalam pikirannya.
" Ayo Mila berusahalah untuk melupakannya, Kamu harus melepasnya jangan merebut kebahagiaan orang lain, Kamu harus yakin kalau kamu bisa bahagia tanpa dirinya." Batin Mila menguatkan dirinya.
TBC.....
*Jangan lupa like dan koment di setiap babnya...
Makasih untuk readers yang sudah mendukung karya author...
Baca dan dukung juga karya author yang lain ya...
Ada " Pria Cacat Itu Suamiku"
Ada " Menjadi Mommy Anak Bosku"
Ada juga " Suamiku Kakak Angkatku" Dan
Ada " Cinta keduaku"
__ADS_1
Author tunggu di sana ya*...
Miss U All