Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Pemandangan Menyakitkan


__ADS_3

Di dalam kantor, Fahri nampak duduk termenung. Ia tidak bisa fokus bekerja karena pikirannya tertinggal di taman kota yang tadi Ia lewati.


Tok tok


Tiara mengetuk pintu dari luar namun tidak ada sahutan.


Ceklek...


Tiara membuka pintu lalu masuk menghampiri Fahri.


" Fahri kau kenapa? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" Tanya Tiara namun Fahri tidak meresponya. Ia masih sibuk dengan lamunannya.


" Fahri." Teriak Tiara menepuk bahu Fahri dengan kencang.


" Astaga." Ucap Fahri terkejut.


" Ha ha ha... Lo ngelamunin apa Bos? Tumben amat lo bersikap seperti ini, seumur umur gue baru lihat lo begini." Ucap Tiara meledek Fahri.


" Roman romannya lagi jatuh hati nih." Sambung Tiara.


" Jatuh hati sama siapa?" Tanya Fahri.


" Ya siapa tahu lo sedang jatuh hati sama istri lo itu." Sahut Tiara.


" Benarkah?" Gumam Fahri.


" Gue nggak heran sih kalau lo jatuh hati sama istri lo, kalau di lihat lihat istri lo cantik kok." Ujar Tiara.


Fahri menatap Tiara sambil sedikit berpikir.


" Benarkah aku sudah jatuh hati dengan wanita itu? Tidak.. Tidak mungkin aku jatuh hati kepada wanita pembohong itu, aku hanya sedang kesal saja." Ucap Fahri menepis pikirannya.


" Hati hati Ri, lama kelamaan lo pasti akan jatuh cinta padanya dan tidak mau kehilangannya." Ujar Tiara.


" Tidak akan, aku akan segera membuang perasaan itu jika aku mulai menyukainya." Sahut Fahri.


" Lalu kenapa kau melamun? Apa yang sedang kau pikirkan saat ini? Apa Sita membuatmu kesal?" Tanya Tiara.


" Ya dia hanya bisa melakukan itu kepadaku kan? Apalagi yang akan dia lakukan selain menjebakku dan membuatku kesal." Sahut Fahri.


" Apa kau membutuhkan secangkir kopi?" Tanya Tiara.


" Boleh." Sahut Fahri.


" Baiklah akan aku buatkan." Sahut Tiara tersenyum smirk.


Fahri menatap kepergian Tiara. Ia kembali menyelami pikirannya.


" Kenapa aku sangat emosi saat melihat Sita bersama pria itu? Kenapa sepertinya aku tidak rela melihatnya tertawa bersama pria lain? Ada apa dengan hatiku?... Tidak... Aku tidak boleh terlalu memikirkan hal ini, atau perasaanku akan semakin tak menentu, aku akan melupakan hal yang mengganggu pikiranku." Ujar Fahri kembali fokus dengan pekerjaannya.


Tiara kembali masuk ke dalam ruangan Fahri sambil membawa dua cangkir kopi untuknya dan Fahri.


" Ini kopinya Ri." Ucap Tiara meletakkan kopinya di atas meja.


" Terima kasih." Sahut Fahri menghampiri meja yang ada di tengah sofa.

__ADS_1


Fahri menyesap kopinya sedikit demi sedikit. Tiara tersenyum smirk menatapnya. Lama semakin lama ada sesuatu aneh yang Fahri rasakan. Dan.....


...****************...


Di tempat lain tepatnya di resto, Sita dan Adnan sedang makan bersama. Sita nampak gelisah hingga membuat hatinya tidak tenang.


" Sita, ada apa? Kenapa kau terlihat sangat gelisah?" Tanya Adnan menatap Sita.


" Entahlah... Entah mengapa aku mengkhawatirkan suamiku." Sahut Sita membuat Adnan melongo.


" Apa? Suami?" Tanya Adnan memastikan jika pendengarannya tidak bermasalah.


" Iya." Sahut Sita.


" Jadi aku berteman dengan istri orang? Astaga ya Tuhan.... Aku tidak menyangka ini, aku kira kamu masih sendiri." Ujar Adnan menertawakan dirinya sendiri.


" Memangnya kenapa? Lagian kita cuma berteman kan? Kita tidak ada hubungan apa apa selain pertemanan." Sahut Sita menyesap minumannya.


" Apa suami tidak masalah jika kau berteman denganku?" Tanya Adnan.


" Tidak.. Dia tidak akan mempedulikan hal itu." Ucap Sita.


" Apa maksudmu? Bagaimana seorang suami bisa berbuat seperti itu?" Adnan kembali bertanya seperti seorang penyidik saja.


" Ah tidak... Bukan begitu maksudku, saat ini aku sedang kesal dengannya, tadi pagi dia membuatku marah jadi aku hanya asal bicara." Ujar Reya.


" Oh." Gumam Adnan.


" Tapi aku merasa jika apa yang kau ucapkan adalah kebohongan Reya, aku bisa melihat dari sorot matamu yang menyiratkan kesedihan." Ujar Adnan dalam hatinya.


Setelah menghabiskan makanannya, Sita beranjak dari kursinya.


" Aku akan menemui suamiku di kantornya, aku ingin memastikan jika dia baik baik saja." Ucap Sita.


" Aku akan mengantarmu." Ucap Adnan.


" Tapi...


" Sebagai teman tidak ada penolakan untuk hal ini." Sahut Adnan memotong ucapan Sita.


" Baiklah." Sahut Sita menghela nafasnya.


Sita dan Adnan pergi ke kantor Fahri menaiki mobil yang di kemudikan oleh Adnan.


Dua puluh menit kemudian mobil Adnan sampai di depan gedung yang menjulang tinggi. Sita menatap gedung itu dengan kagum, ini pertama kalinya Ia datang ke sini.


Sita tidak menyangka jika Fahri yang semula hanya seorang karyawan biasa kini mampu menjadi pemimpin perusahaan besar itu.


" Kamu mau turun atau hanya mau mengintainya dari sini? Yang ada kita akan di usir oleh satpam karena mobil kita menghalangi jalan, Sita." Ucap Adnan.


" Ah iya maaf, aku akan masuk ke dalam, kamu pulang saja." Sahut Sita.


" Aku akan menunggumu di parkiran." Ujar Adnan.


" Apa itu tidak merepotkanmu?" Tanya Sita.

__ADS_1


" Tidak ada yang merepotkan untuk seorang teman." Sahut Adnan.


" Baiklah kau tunggu di sana saja, aku turun dulu." Ucap Sita turun dari mobil.


Sita masuk ke dalam lobby perusahaan.


Di sana Ia di sambut ramah oleh sang receptionist.


" Siang Nona." Sapa receptionist.


" Siang Mbak, saya mau bertemu dengan Mas Fahri, dimana ruangannya ya?" Tanya Sita.


" Apa anda sudah membuat janji sebelumnya?" Tanyanya.


" Apa seorang istri harus membuat janji dulu sebelum menemui suaminya?" Sita balik bertanya membuat receptionis itu tercengang.


" Anda istri Tuan Fahri Nona? Maaf saya tidak tahu Nona, sekali lagi maafkan saya." Ucapnya.


" Tidak apa Mbak, dimana ruangannya?" Sita kembali bertanya.


" Ruangannya ada di lantai sepuluh Nona, di sana ada ruangan yang paling besar yang bertuliskan ruangan presdir." Terangnya.


" Terima kasih Mbak." Ucap Sita.


" Sama sama Nona." Sahutnya.


Sita menuju ruangan yang sudah di jelaskan oleh receptionist tadi. Ia harus menaiki lift terlebih dulu untuk sampai di ruangan Fahri.


" Ah itu ruangannya." Ucap Sita setelah keluar dari lift.


Sita berjalan menuju ruangan yang tertutup rapat. Ia mencoba mengetuknya namun tidak ada sahutan dari dalam.


" Kemana Mas Fahri ya? Apa Mas Fahri pergi ya? Tapi kalau pergi harusnya Mbaknya tadi bilang kan? Atau jangan jangan terjadi sesuatu dengan Mas Fahri di dalam sana? Aku harus segera memastikannya." Monolog Sita.


Ceklek....


Sita membuka pintunya, Ia masuk ke dalam namun kosong. Sita melihat dua cangkir kopi yang masih setengah. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.


Tatapannya berhenti pada pintu yang tertutup di dalam ruangan itu.


" Apakah itu ruangan pribadi Mas Fahri?" Gumam Sita.


Sita mendekati pintu itu, lalu Ia membukanya perlahan dan....


Jeduar.....


Tubuh Sita terasa kaku tanpa bisa di gerakkan.


Air mata Sita lolos dari mata indahnya melihat pemandangan menyakitkan di depannya.


Pemandangan apakah yang Sita lihat?


Tetap like koment vote dan hadiahnya biar author semangat ya...


Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All...


TBC....


__ADS_2