Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Penjelasan


__ADS_3

Flashback On


Sebelum semua orang datang, Vania hilang kendali karna melihat banyak darah yang mengalir dari sela kedua kakinya. Dokter jiwa memanggil Imran ke ruangannya.


" Silahkan duduk Tuan Imran." Ucap Dokter.


" Terima kasih Dok." Ucap Imran.


" Begini Tuan Imran, saya tahu anda teman baik dari Nona Vania maka dari itu saya ingin memberitahu keadaan terakhir Nona Vania Tuan." Ucap Dokter.


" Apa yang terjadi padanya Dok?" Tanya Imran.


" Kondisi psikisnya sangat menurun Tuan, saat ini Nona Vania bisa di katakan gil* apalagi dia tidak mendapat perawatan dan pengobatan sebagaimana mestinya, dan saya yakin dia akan semakin menjadi karna keadaannya saat ini." Jelas Dokter.


" Lalu apa yang harus saya lakukan Dok?" Tanya Imran.


" Untuk sementara buatlah dia tenang dulu sampai dia sembuh, ikuti semua kemauannya setelah dia sembuh kita akan memberikan pengobatan untuknya." Ujar Dokter.


" Apa bisa hanya minum obat saja Dok?" Tanya Imran.


" Tidak bisa Tuan, kondisinya sudah parah, dia harus di rawat di rumah sakit jiwa, saya takut dia akan membahayakan orang lain Tuan." Sahut Dokter.


" Kasihan sekali kau Vania...." Gumam Imran.


" Bisakah anda membantu saya Tuan Imran dengan membuatnya tenang?" Tanya Dokter.


" Baik Dok saya akan membantunya sebisa mungkin." Jawab Imran.


" Sayang semoga kau mengerti akan keputusanku ini." Batin Imran.


Flashback Off


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Imran pulang ke rumahnya pagi hari. Ia berjalan menuju kamarnya, kosong. Imran mencari Mila di seluruh penjuru rumahnya tapi nihil Mila tidak Ia temukan dimana mana.


" Sayang kamu kemana? Aku ingin menjelaskan semuanya, sebenarnya inilah yang aku takutkan sedari kemarin, maafkan aku sayang sebenarnya semalam aku ingin pulang tapi Vania histeris lagi jadi aku menunggunya sampai ia tidur, sialnya justru aku yang ketiduran di sana sampai pagi, sepertinya takdir tidak memihak pada kita." Monolog Imran.


Imran melajukan mobilnya ke rumah Mamanya. Ia berharap Mila ada di sana. Sesampainya di rumah Mamanya, Imran masuk ke dalam rumah yang ternyata sepi, Ia langsung menuju kamarnya.


Ceklek.....

__ADS_1


Imran tersenyum melihat seseorang yang di cintainya sedang berdiri di samping ranjang menghadap ke jendela. Imran menghampirinya dengan pelan.


Grep....


Imran memeluk Mila dari belakang, Mila berjingkrak kaget, Ia ingin berteriak tapi saat mencium aroma maskulin suaminya ia hanya diam saja. Rasanya enggan untuk berkata apalagi menolak pelukannya. Ia akan membiarkan Imran melakukan apapun sesuka hatinya. Ia tidak mau ambil pusing lagi.


" Sayang maafkan aku." Ucap Imran. Mila tidak bergeming, Ia hanya diam saja.


" Sayang jangan marah ya, dengarkan dulu penjelasanku." Ucap Imran.


Imran mulai menceritakan apa yang membuatnya melakukan hal seperti itu. Mila menyimak penjelasan dari Imran. Tapi tetap saja apapun alasan Imran, Mila tidak membenarkannya. Imran sudah mengingkari janjinya dengan membuat Mila merasakan kekecewaan lagi.


" Begitu ceritanya sayang.... Maafkan aku ya, aku bingung mau bagaimana, Mas hanya merasa iba saja padanya, dia sahabatku dari kecil tapi dia harus mengalami hal yang menyakitkan ini, yah walaupun aku juga kecewa dengan sikapnya yang berencana jahat pada pernikahan kita, tapi rasa ibaku lebih besar dari itu sayang." Jelas Imran.


" Kenapa kau sangat peduli dengannya? Apa mungkin anak itu milikmu?" Tuduh Mila.


"Sayang." Ucap Imran membalikkan badan Mila menghadapnya.


" Apa yang kamu katakan hmm? Mas tidak akan melakukan hal serendah itu sayang, Mas hanya mencintaimu dan Mas tidak bisa menyentuh wanita selain dirimu." Ucap Imran menangkup wajah Mila dengan kedua tangannya.


" Lepas." Ucap Mila menepis tangan Imran.


" Kata memaafkanmu sudah tidak ada lagi dalam diriku, aku sudah lelah menghadapi sikapmu yang selalu seperti ini, sekarang pergilah biarkan aku sendiri." Ucap Mila.


" Aku tidak meninggalkanmu tapi aku menginginkanmu meninggalkan aku, aku manusia biasa yang bisa merasakan bosan dengan luka, maafkan aku Mas kali ini aku tidak bisa memaafkanmu lagi, pergilah menjauh dariku sampai aku bisa memaafkanmu kembali, aku selalu mengerti dirimu dan selalu memaafkanmu bukan? Maka kali ini kau yang harus mengerti diriku, sekarang pergilah! Pintunya masih sama." Ucap Mila.


Imran menatap Mila tidak percaya. Mila menyuruhnya untuk pergi? Sudah habiskah stok kesabaran Mila untuk dirinya?


" Sayang....


" Ku mohon pergilah! Jika kau tidak mau menjauh dariku maka aku yang akan pergi jauh darimu." Ancam Mila.


" Baiklah sayang aku yang akan pergi, jika kau sudah memaafkan aku segera kabari aku, maka aku yang akan kembali mendekat ke arahmu." Ujar Imran mengalah. Ia ingin memberikan waktu untuk Mila sendiri.


" Aku tidak akan mengatakan apapun padamu, aku juga tidak mengharapkan apapun lagi darimu, fokuslah dalam membantu sahabatmu itu, jangan pikirkan aku karna aku akan baik baik saja di sini, dan ingatlah menjauhlah dariku setiap kali kita bertemu karna aku tidak ingin melihat wajahmu lagi." Ujar Mila membuat Imran memejamkan matanya menahan sakit di hatinya.


" Baiklah sayang, jaga dirimu baik baik Mas keluar dulu." Ucap Imran keluar dari kamarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terhitung sebulan sudah sejak kejadian itu, Imran hanya bisa melihat Mila dari jauh. Mereka tinggal di satu atap tapi mereka tidak pernah bertemu. Sesuai keinginan Mila jika mereka saling berpapasan maka Imran akan bersembunyi terlebih dahulu. Imran benar benar tersiksa dengan semua ini. Hatinya penuh luka yang menganga lebar. Inilah akibat yang harus Ia rasakan karna membuat Mila sakit hati.

__ADS_1


Sedangkan Vania saat ini Ia sedang di rawat di rumah sakit jiwa untuk menjalani pengobatannya.


Imran menatap Mila yang sedang membuat jus di dapur dari balik pilar. Tiba tiba...


Huek.... Huek....


Mila memuntahkan isi perutnya di wastafel. Imran hendak menghampirinya tapi di tahan oleh Mama Lina yang kebetulan lewat di sana.


" Kamu di sini saja." Ucap Mama Lina.


" Sayang kamu kenapa?" Tanya Mama Lina menghampiri Mila.


" Enggak tahu Ma, akhir akhir ini aku sering mual dan pusing Ma." Sahut Mila.


" Kita periksa ke Dokter ya, siapa tahu akan ada kabar gembira yang Mama dengar darimu sayang." Ujar Mama Lina.


" Apa maksud Mama?" Tanya Mila.


" Siapa tahu kamu saat ini sedang hamil sayang, bukankah bulan ini kamu tidak datang bulan." Ujar Mama Lina.


Mila mengingat ingat kapan terakhir Ia datang bulan. Ya bulan ini Ia sudah terlambat tiga minggu.


" Apa mungkin." Gumam Mila.


" Untuk memastikan kita akan periksa ke Dokter, segera bersiaplah." Ucap Mama Lina.


" Ah iya Ma." Sahut Mila.


Setelah bersiap keduanya menuju rumah sakit di ikuti Imran dari belakang. Tentu saja tanpa sepengetahuan Mila. Sesampainya di rumah sakit Dokter segera memeriksa Mila. Mila di anjurkan untuk melakukan tes urine terlebih dulu. Setelah itu Ia baru menjalani USG.


" Bagaimana hasilnya Dok?" Tanya Mila.


Hayoooo apa kira kira hasilnya????


Yang penasaran tekan like ya...


Tunggu di bab berikutnya....


TBC.....


Jangan lupa like dan koment...

__ADS_1


Terima kasih untuk para readers yang sudah mensuport author semoga sehat selalu....


Miss U All...


__ADS_2