
Setelah di rawat selama tujuh hari lamanya di rumah sakit, Malam ini Imran di perbolehkan untuk pulang dengan catatan Ia harus bisa menjaga dirinya di rumah.
Ia pulang ke rumahnya sendiri yang dulu pernah Ia tinggali bersama Mila dan istri palsunya. Hubungan keduanya semakin membaik dan lebih dekat bahkan Imran selalu memberi kecupan singkat kepada Mila tanpa mendapat penolakan dari Mila.
Mila membantu Imran berjalan menaiki anak tangga satu persatu menuju kamarnya.
Ceklek...
Mila membuka pintu kamarnya, Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar, Masih sama seperti saat terakhir Ia meninggalkannya.
" Kenapa sayang? Apa kamu tidak mau kembali ke rumah ini? Kalau begitu ayo kita beli rumah baru lagi, Dimana hanya akan ada kenangan untuk kita berdua saja." Ucap Imran seolah mengerti apa yang sedang Mila pikirkan.
" Nggak perlu Mas, Aku nggak pa pa kok, Ayo aku bantu duduk di ranjang." Ujar Mila.
Mila membantu Imran duduk bersandar di ranjang. Kaki dan tangannya sudah membaik tapi masih sakit jika di gerakkan. Jadi untuk melakukan apapun harus di bantu Mila.
" Mas aku mau mandi dulu ya, Kalau ada apa apa panggil aku, Kamu tidurlah dulu." Ucap Mila melihat jam dinding yang menunjukkan pukul delapan malam.
" Iya sayang.. Makasih." Sahut Imran.
Mila masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya dengan air hangat.
Ponsel Imran berdering tanda panggilan masuk. Ia menatap Id pemanggil yang tak lain dari Dokter Alan.
" Halo Lan." Sapa Imran setelah mengangkat panggilannya.
" Gimana kabarmu? Udah dua hari kita nggak ketemu." Ujar Alan.
Ya dua hari ini Alan ada perjalan dinas ke luar kota jadi tidak bisa memantau kondisi Imran.
" Hampir saja ketahuan Bro." Ucap Imran.
" Ketahuan gimana?" Tanya Alan.
" Ada Dokter pengganti Lo yang mau meriksa gue, Untung aja suster Lo langsung memberi kode padanya supaya mengatakan hal yang sama kaya' yang Lo katakan." Sahut Imran.
" Ha ha ha, Emang Lo nggak takut ketahuan istri Lo kalau sebenarnya Lo udah baik baik saja?" Tanya Alan.
" Ya takut sih, Tapi kalau hal ini bisa mendekatkan hubunganku dengan istriku ya mau tidak mau aku harus melakukannya bukan?" Ujar Imran.
" Iya juga sih yang penting tidak ketahuan aja, Kalau ketahuan Lo udah bohongin dia siap siap aja Lo dapat karmanya." Ucap Alan.
" Sialan Lo... Lo nyumpahin gue? Asal Lo tahu apapun akan gue lakukan demi mendapatkan cinta dan perhatiannya termasuk mengaku jika kaki dan tangan ini masih sakit, Aku tidak punya cara lain dia terlalu cuek Bro." Ujar Imran.
Deg...
Jantung Mila berdetak dengan kencang mendengar ucapan Imran dengan seseorang di dalam panggilan teleponnya. Bahkan Mila melihat Imran menggenggam ponselnya dengan tangan kanannya. Lagi.... Imran mencoba mengelabuhinya demi keuntungannya sendiri. Mila menghela nafasnya mencoba menguasai emosi di dalam hatinya.
" Ya udah makasih banyak atas bantuan Lo karena Lo udah mendekatkan gue dengan istri gue, Gue akan transfer bonus buat Lo, Bye." Imran menutup panggilan teleponnya.
Merasa ada bayangan seseorang, Imran menatap ke arah pintu kamar mandi.
__ADS_1
Deg...
Tatapan mereka bertemu, Jantung Imran berdetak dua kali lebih cepat seperti genderang mau perang saat melihat Mila berdiri di depan pintu kamar mandi. Ia menatap Mila yang sedang menatapnya dengan mata berkaca kaca. Apakah Mila mendengar semua ucapannya? Apakah Mila akan marah dan benar benar akan meninggalkannya sesuai ancaman Mila selama ini?
" Sayang... Sejak kapan kamu berdiri di sana?" Tanya Imran gugup.
" Sejak kamu menerima panggilan teleponmu." Jawab Mila tenang.
" Apa?" Pekik Imran.
" Apa kamu mendengar ucapanku...
" Semua." Mila memotong ucapan Imran.
" Aku mendengar semuanya tentang bagaimana kamu mencuri perhatianku, Bagaimana kamu membodohiku, Dan bagaimana kamu menunjukkan kebodohan diriku sendiri Imran." Tekan Mila.
" Sayang bukan maksudku seperti itu." Ucap Imran.
" Ya ya.. Tidak ada yang bermaksud membohongiku, Tidak ada yang bermaksud membodohiku apalagi menyakitiku, Karena semua ini akibat dari kebodohanku sendiri." Ujar Mila.
Mila masuk ke dalam ruang ganti untuk mengganti bathrobenya dengan piyama. Tidak ada emosi ataupun kesedihan apalagi air mata yang jatuh di pipinya. Ia merasa semua kesakitan ini merupakan hal yang sudah biasa. Ia tidak perlu meratapinya bukan? Karena mulai hari ini Ia bertekad untuk menjadi wanita yang kuat.
Tok tok
" Sayang." Panggil Imran mengetuk pintu.
Ceklek...
Mila keluar dari ruang ganti sudah lengkap dengan piyama tidurnya. Ia menatap sekilas Imran yang mampu berdiri tegak di atas kakinya sendiri.
Mila tidak menghiraukannya, Ia berjalan menuju ke ranjangnya di ikuti Imran di belakangnya. Mila naik ke atas ranjang merebahkan tubuhnya dengan memunggungi Imran.
" Sayang maafkan aku, Apa kamu mau mendengar alasanku?" Tanya Imran.
" Aku tidak peduli lagi dengan alasanmu Mas, Bukankah aku harus membiasakan hatiku dengan rasa sakit ini? Aku lelah Mas, Aku mau tidur dan jangan ganggu aku." Sahut Mila.
Mila memejamkan matanya, Sedangkan Imran tampak gelisah. Ia lebih suka jika Mila memarahinya, Membentaknya, Atau mungkin memukulnya dari pada Mila mendiamkannya seperti ini. Imran takut jika Mila memendam emosinya akan membuat penyakit pikiran untuk Mila sendiri.
" Sayang maafkan aku sekali lagi, Bukan maksudku membohongimu tapi saat aku melihat perhatianmu kepadaku dengan kondisiku yang seperti ini, Entah mengapa tiba tiba muncul ide bodoh dalam benakku untuk membohongimu, Aku merasa nyaman dengan perhatian dan kasih sayang yang kamu berikan kepadaku, Aku tidak bermaksud menyakitimu, Maafkan aku." Ucap Imran memeluk Mila dari belakang.
Mila memejamkan matanya tak terasa air mata menetes di pipinya. Dadanya merasa sesak mendengar ucapan Imran. Hanya karna menginginkan perhatiannya Imran tega membodohinya. Apakah Mila memang seorang istri yang tidak peka dengan kondisi suaminya? Tak terasa keduanya terlelap begitu saja.
Pagi hari Mila mengerjapkan matanya, Ia menatap wajah tampan di depannya yang sedang memeluknya. Bagaimana posisinya berubah menjadi berhadapan? Bukankah semalam Mila memunggungi Imran? Itu hanya Imran yang tahu jawabannya.
Mila mengangkat tangan Imran dengan pelan supaya tidak menganggu tidur Imran. Ia turun dari ranjang lalu menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya. Setelah itu Ia turun ke dapur untuk membuat sarapan.
Di dapur Mila mulai meracik bumbu dan bahan bahan yang akan di masak. Saat Ia sedang sibuk di depan kompor tiba tiba...
Grep....
" Aw." Peki Mila saat Imran memeluknya dari belakang.
__ADS_1
" Apa sih Mas ngagetin aja." Cebik Mila setelah tahu siapa yang berani memeluknya.
" Maaf sayang." Ucap Imran.
" Maafkan Mas ya." Sambung Imran. Ia menyusupkan wajahnya ke tengkuk Mila.
" Minggir Mas entar gosong ih." Ujar Mila.
Klik...
Imran mematikan kompornya.
" Biarkan seperti ini sayang, Maafkan aku yang selama ini telah membohongimu, Aku berjanji kalau kamu mau memberikanku perhatian yang sama, Aku tidak akan mengulangi perbuatanku." Ucap Imran.
" Sekali menjadi pembohong maka selamanya dia akan menjadi pembohong." Ucap Mila.
" Tidak sayang, Aku berbohong karena terpaksa, Aku haus akan kasih sayang istriku sendiri, Itu sebabnya aku melakukam hal bodoh itu." Sahut Imran.
" Aku tidak peduli Mas, Sekarang lepaskan aku! Aku sudah lapar." Ujar Mila.
" Tidak akan aku lepaskan sebelum kamu memaafkan aku." Ujar Imran.
" Berulang kali aku memaafkanmu berulang kali juga kamu membohongiku Mas, Lalu apa gunanya kata maaf itu lagi?" Tanya Mila.
" Maafkan aku... Aku berjanji ini terakhir kalinya kamu memaafkan kesalahanku." Ucap Imran.
" Berarti lain kali aku tidak perlu memaafkan kesalahanmu bukan?" Tanya Mila.
" Bukan tidak perlu tapi aku tidak akan membuat kesalahan yang sama lagi." Sahut Imran.
" Pastinya kamu akan membohongiku dengan alasan lain lagi, Begitu maksudmu?" Tanya Mila membuat Imran terpojok.
" Bukan begitu maksudku sayang.... Ih gemesin deh." Geram Imran mencubit pelan pipi Mila.
" Udah minggir lepasin ah aku mau masak dulu keburu lapar." Ujar Mila.
" Berarti udah di maafin ya?" Tanya Imran.
" Ini yang terakhir kali, Kalau sampai kamu membuat kesalahan lagi maka aku tidak akan pernah memaafkanmu lagi, Camkan itu." Ancam Mila.
" Ah baiklah sayang terima kasih, U Are is the Best." Ucap Imran membalikkan tubuh Mila.
Cup... Cup.. Cup
Imran mencium kedua pipi Mila dan kening Mila. Mila melanjutkan acara masaknya hingga masakannya matang. Keduanya sarapan bersama tanpa ada masalah di antara mereka.
TBC....
Doain author sehat ya biar besok bisa double up.
Jangan lupa like dan koment di setiap babnya...
__ADS_1
Makasih atas suport yang para readers berikan...
Miss U All...