
Mila, Imran, Papa Romi dan Mama Lina berdiri mengelilingi ranjang Arvi. Beberapa saat yang lalu Arvi koleps lagi. Saat ini Arvi terlihat lemah tak berdaya. Ia menatap Mila dengan penuh cinta. Imran sudah memberitahu Mila jika Arvi sudah mengetahui kebenarannya.
" Mila." Lirih Arvi menggenggam tangan Mila.
" Iya Vi." Sahut Mila.
" Kau tahu betapa besar cintaku padamu bukan?" Tanya Arvi di jawab anggukan kepala oleh Mila.
Ya Arvi rela menimba ilmu di negri orang dan mendapatkan gelar Dokter Spesialis dengan predikat terbaik hanya demi Mila. Demi bisa hidup bersama Mila sesuai keinginan Mila. Tapi sayang usahanya sia sia karna Mila telah menjadi milik orang lain dan juga karna penyakit yang suatu saat akan merenggut nyawanya. Setidaknya Arvi sedikit lega karna Mila jatuh ke tangan Kakaknya. Ia yakin Imran mampu menjaga dan membuat Mila bahagia.
" Aku akan membawa cinta ini hingga ke Syurga, Aku berharap kita akan berjodoh di sana, Maafkan aku yang tidak bisa menepati janjiku untuk membangun kehidupan bersama yang bahagia." Ucap Arvi pelan.
" Bukan kamu yang tidak menepati tapi aku yang mengingkarinya, Karena aku menikahi pria lain, Maafkan aku Arvi aku terpaksa melakukannya." Ucap Mila.
" Aku yang salah Mil, Aku meninggalkanmu begitu saja bahkan aku tidak pernah menghubungimu, Aku yang tidak bisa memperjuangkan cintaku, Apalagi dengan penyakit ini aku menjadi tidak berdaya Mil, Maafkan aku, Kuharap aku bisa pergi dengan tenang setelah mendapat maaf darimu ." Ujar Arvi.
" Arvi jangan katakan apapun! Ku mohon, Aku sudah memaafkanmu, Jika memang kepergian adalah jalan terbaik aku ikhlas melepasmu, Jangan katakan apapun, Aku takut aku akan sangat berat untuk melepasmu... Hiks... Hiks.." Isak Mila.
" Jangan menangisi kepergianku seperti waktu itu." Ujar Arvi mengusap air mata Mila.
" Kau membuatku menangisimu untuk yang kesekian kali, Kamu jahat padaku Arvi, Setelah kau meninggalkan aku kau kembali ke kehidupanku, Dan kini kau mau pergi lagi hiks.." Ujar Mila.
Hati Imran perih mendengar ucapan Mila yang menurutnya sebuah kejujuran dari dalam hati Mila. Bukan sekedar bersandiwara.
" Setelah aku pergi kembalilah menjadi istri Kakakku, Hiduplah dengan bahagia dan lahirkan untukku keponakan yang lucu lucu." Ucap Arvi.
" Maaf Arvi soal itu aku tidak bisa menjanjikannya, Aku pasrahkan semuanya pada takdir saja." Sahut Mila.
Deg...
Hati Imran mencelos, Sepertinya kali ini Ia akan benar benar kehilangan Mila.
" Aku tidak akan memaksamu Mil, Apapun keputusanmu aku akan mendukungmu, Berbahagialah sayang.... Bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kali?" Tanya Arvi. Mila menganggukkan kepalanya. Ia menubruk tubuh Arvi sambil menangis.
" Hiks.... Hiks... Arvi maafkan aku... Aku tidak pernah menyangka jika kita bertemu hanya untuk berpisah." Isak Mila.
Kok Author mewek sendiri ya...
" Aku sangat mencintaimu Mila." Ucap Arvi.
__ADS_1
Tiiiiiitttttt
Suara monitor terdengar nyaring. Mila menatap Arvi yang memejamkan matanya.
" Arvi bangun... Arvi bangun." Teriak Mila mengguncang tubuh Arvi.
" Papa... Hiks... Arvi Pa.." Mama Lina memeluk Papa Romi sambil menangisi kepergian Arvi.
" Arvi bangunlah.... Bertahanlah Arvi... Aku berjanji jika kau bangun aku akan menikahimu...
Jeduarrrr
Tubuh Imran kaku bagai di sambar petir di siang bolong. Akankah ada keajaiban untuk Arvi setelah Mila menjanjikan pernikahan untuknya. Imran meneteskan air matanya. Ia segera keluar dari ruangan itu untuk memanggil Dokter. Tak lama Dokter datang lalu memeriksa Arvi.
" Innalillahiwainnaillaihiroji'un." Ucap Dokter.
" Ar....Viiiiii." Teriak Mila seiring luruhnya tubuh Mila ke lantai.
" Mila tenanglah sayang." Ucap Imran membantu Mila berdiri.
" Arvi jangan tinggalkan aku.... Arvi... Hiks... " Isak Mila.
" Imran bawa Mila dan Mama pulang ke rumah, Biar Papa yang urus di sini." Ucap Papa.
" Aku tidak mau pulang, Aku mau menemani Arvi." Sahut Mila.
" Kita tunggu di rumah saja biar Papa dan pihak rumah sakit yang mengurus jenazah Arvi." Ucap Imran.
" Tidak mau aku mau di sini menemaninya, Aku mau di sini." Kukuh Mila.
" Mila." Bentak Imran membuat Mila berjingkrak kaget.
" Jaga batasanmu di sini! Kamu hanya iparnya bukan istrinya." Tegas Imran dengan suara meninggi.
Mila menatap mata Imran yang marah, Sedih, Kecewa dan cemburu kepadanya.
" Sayang ayo kita pulang saja, Kita tunggu di rumah ya." Ajak Mama merangkul Mila.
Keduanya berjalan menuju mobil di ikuti Imran di belakangnya. Imran melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Sesekali Ia menatap ke arah Mila yang masih saja menangis membuat hatinya kesal. Bagaimana bisa Mila menangisi pria lain di depannya? Apa dia tidak memikirkan tentang perasaannya?
__ADS_1
" Mila jangan menangis lagi, Ikhlaskan kepergian Arvi, Lihatlah suamimu! Dia begitu terluka melihatmu menangisi kepergian adiknya sayang." Ucap Mama Lina yang tahu perasaan Imran.
" Aku tidak peduli Ma selama ini juga tidak ada yang mempedulikan perasaanku, Lagian Imran yang sengaja mendekatkan aku padanya." Sahut Mila cuek.
Lagi lagi Imran begitu terluka mendengar ucapan Mila. Ingin rasanya Ia berteriak dan menangis saat ini juga.
Sesampainya di rumah Mila berlari menuju kamar tamu yang selama beberapa hari Ia tempati. Ia mengunci pintunya dan tidak membiarkan siapapun masuk ke dalam termasuk suaminya. Mila duduk di lantai bersandar pada ranjang.
" Aku memang sudah tidak memiliki cinta untuknya, Tapi aku sangat sedih dengan kepergiannya, Bagaimanapun dia orang yang pernah singgah di hatiku, Dia orang yang pernah mengisi kekosongan hidupku... Ya Tuhan... Jangan goyahkan perasaanku, Heh perasaan, Bahkan Imran tidak mau mengerti perasaanku, Dia yang menginginkan semua ini bukan? Aku akan mengabulkannya walaupun hati ini juga sama terlukanya, Sesuai keinginanku aku akan pergi setelah ini, Aku tidak mau lagi berhubungan dengan keluarga ini, Jika memang Imran bukan jodohku mudahkanlah perpisahan ini, Tapi jika memang dia jodoh terbaik untukku maka satukan kami bagaimanapun caranya Ya Allah." Batin Mila.
Apapun yang akan terjadi ke depannya Ia pasrahkan pada yang Maha kuasa saja.
Di dalam kamar Imran, Imran pun sama Ia sedang merenungi keputusan apa yang akan Ia ambil setelah ini. Ia yakin jika Mila akan menagih upahnya dari Imran. Sejujurnya Imran tidak ingin berpisah dengan Mila. Tapi jika Mila terus memaksanya Ia bisa apa? Memang sesuatu yang di paksakan tidak akan berakhir baik bukan?
" Sayang ku mohon jangan memintaku untuk melepasmu, Aku sangat mencintaimu, Aku tidak mau kehilangan diri dan cintamu, Aku yakin kau juga mencintaiku Mila..... Maafkan aku yang selama ini telah melukaimu, Aku akan berusaha sekali lagi, Jika memang tidak berhasil maka aku akan melepasmu, Semoga kau selalu bahagia baik bersamaku ataupun bersama orang lain." Monolog Imran.
Sore hari setelah prosesi pemakaman Arvi selesai, Papa Romi mengumpulkan anggota keluarganya di ruang tamu termasuk dua besannya.
" Imran Mila, Papa ingin berbicara dengan kalian." Ucap Papa Romi.
Mila dan Imran menatap Papa Romi.
" Papa butuh kejelasan dari hubungan kalian ini, Papa sudah tahu dengan masalah yang kalian hadapi, Selesaikan masalahnya sekarang juga di depan kami semua, Kami akan menjadi saksinya." Ucap Papa Romi dengan tegas.
" Aku tetap menginginkan untuk melanjutkan pernikahan ini dan membuat hubungan baru dengan Mila Pa, Aku tidak akan pernah menceraikannya, Aku harap Mila mau memberikan aku kesempatan lagi." Sahut Imran.
" Bagaimana denganmu Mila?" Tanya Papa Romi.
Mila menatap semua orang yang kini sedang menatap ke arahnya. Ia bagai tersangka yang sedang di hakimi.
" Sesuai keinginanku, Aku akan menagih upahku karena aku telah membantu Mas Des bersandiwara, Aku ingin berpisah darinya." Ucap Mila.
Jeduar.....
TBC.....
Hayo nih mau pisah apa enggak ya??????
Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya..
__ADS_1
Makasih atas suport yang telah para readers berikan kepada Author...
Miss U All...