Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Kedatangan Teman Teman


__ADS_3

Sepulang sekolah Mila langsung menuju kamarnya. Ia mengganti bajunya dengan hotspant dan kaos oblong kedodoran membuatnya terlihat sangat cantik. Ia turun ke bawah karena merasa lapar. Di sana sudah ada makanan tersaji di dalam tudung saji. Ia makan dengan lahap.


" Enak ya pulang pulang tinggal makan." Seru Hena duduk di depan Mila.


" Kenapa? Kalau mau makan tinggal makan aja repot." Sahut Mila.


" Aku tidak tahu kenapa Imran mau menikahi gadis sepertimu, Gadis kecil yang tidak punya sopan santun." Ejek Hena.


" Kenapa tidak kau tanya sendiri saja pada Mas Des? Apa kamu tidak berani bertanya kepadanya?." Tanya Mila.


" A... Aku berani saja tapi malas kalau menanyakan hal yang tidak penting." Sahut Hena.


" Ya sudah jangan di pikirkan entar jadi penyakitan, Eh bentar..." Mila menghentikan makannya lalu menatap Hena.


" Apa memang kamu wanita penyakitan Mbak? Makanya Mas Des nikah lagi?" Selidik Mila.


" Jaga ucapanmu Mila, Aku tidak seperti itu." Hardik Hena.


" Owh kirain." Sahut Mila meneruskan makannya.


Keduanya makan dengan diam tanpa bicara apa apa hingga suara Imran mengagetkan mereka.


" Kok nggak nungguin aku Yank." Ucap Imran duduk di samping Mila.


" Ambilin donk Mila sayang." Sambung Imran.


" Biar aku yang ambilkan." Sahut Hena.


" Boleh deh." Sahut Imran karena tidak ada reaksi apa apa dari Mila.


Hena mengambilkan makan untuk Imran. Tiba tiba..


" Awh kepalaku." Rintih Hena memegangi kepalanya.


" Kenapa Hen?" Tanya Imran menyentuh pundak Hena.


" Sakit Ran, Kepalaku sakit banget." Sahut Hena.


" Ayo aku antar ke kamarmu." Ujar Imran menuntun Hena menuju kamarnya.


" Kalau di lihat lihat aneh nggak sih pasangan suami istri itu? Kelihatannya dari kemarin nggak ada mesra mesranya sama sekali." Batin Mila.


Setelah selesai makan, Mila kembali ke kamarnya. Ia duduk di atas ranjang bersandar pada headboard sambil memainkan ponselnya.


Ceklek....


Imran masuk ke dalam kamarnya langsung menuju kamar mandi. Ia mengganti pakaiannya dengan pakaian casualnya. Celana kolor di padukan dengan kaos oblong. Ia berjalan menghampiri Mila.


" Nanti malam teman temanku mau pada ke sini, Katanya mereka mau mengucapkan selamat pada kita jadi tolong nanti temui mereka." Ujar Imran menatap Mila yang masih asyik dengan ponselnya.


" Mila kalau suami sedang berbicara dengarkan donk jangan malah mainan ponsel gitu." Sambung Imran.

__ADS_1


" Aku dengar tapi aku nggak janji mau menemui mereka, Aku malu jadi istri keduamu." Sahut Mila.


" Sayang jangan seperti itu donk mereka nggak tahu soal itu yang mereka tahu kamu istriku satu satunya." Jelas Imran.


" Jangan paksa aku jika aku tidak mau." Ketus Mila membuat Imran menghela nafasnya.


" Baiklah kalau kamu tidak mau tidak masalah." Sahut Imran meninggalkan kamarnya.


Drt...drt..


Ponsel Mila berdering tanda panggilan masuk.


" Halo Ris, Ada apa?" Tanya Mila setelah mengangkat panggilannya.


" Gimana lo tadi belum cerita sama gue." Ujar Risa.


" Yang jelas gue nggak akan pernah bahagia dengan pernikahan ini Ris." Ucap Mila.


" Kenapa?" Tanya Risa.


" Ternyata gue jadi istri kedua Ris." Jawab Mila.


" Apa? Is.. Istri kedua?" Pekik Risa.


" Iya.. Malang banget kan nasib gue Ris, Gue udah nggak di sayang sama bonyok gue, Sekarang gue harus jadi pelakor hidup bersama madu gue... Hiks..." Isak Mila mengusap air matanya.


" Yang sabar Mil... Gue turut prihatin dengan keadaan Lo saat ini." Ujar Risa.


" Kalau gue tahu hidup gue bakal kaya' gini gue nggak mau di lahirin ke dunia ini Ris." Keluh Mila.


" Sampai kapan? Kapan waktu itu akan datang? Bagaimana jika sampai mati aku terus terbelenggu dengan pernikahan ini? Bagaimana aku bisa menjalani semua ini Ris? Bagaimana aku bisa bahagia dengan berbagi suami dengan wanita lain? Aku tidak sanggup Ris, Tolong aku... Keluarkan aku dari sini Ris, Keluarkan aku sekarang juga hiks..." Mila mengeluarkan semua kesedihannya yang Ia rasakan selama ini.


" Tenang Mil, Bukankah kita akan ke kota Y untuk menuntut ilmu? Lo bisa memulai hidup baru di sana, Lo bisa mengukir nasib Lo sendiri saat itu, Sekarang bersabarlah dulu OK." Ujar Risa.


" Ah iya kau benar aku menantikan saat itu." Sahut Mila.


Setelah memutus sambungan teleponnya, Tak sadar Mila tertidur begitu saja. Imran menghampirinya, Ia mengusap sisa air mata Mila dengan lembut.


" Bersabarlah sayang, Ada saatnya aku menjadi milikmu seutuhnya, Maafkan aku untuk saat ini aku belum bisa jujur padamu." Lirih Imran mencium kening Mila.


Ya Imran mendengar semua keluh kesah yang Mila katakan pada Risa. Ia berjanji akan membuat Mila bahagia setelah urusannya dengan Hena selesai.


Mila mengerjapkan matanya, Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar ternyata hari sudah malam. Lalu berapa lama Ia tertidur? Kenapa tidak ada yang membangunkannya. Ia mendengar suara banyak orang. Ia ingat jika teman teman Imran akan datang. Ia segera masuk ke dalam kamar mandi.


Di bawah Imran dan teman temannya sedang berkumpul sambil makan camilan yang di suguhkan oleh Imran.


" Dimana Kakak Ipar Ran? Kenapa Ia tidak mau menemui kami?" Tanya Dude.


" Dia sedang tidak enak badan, Jadi dia sedang tidur." Sahut Imran.


" Ah sayang sekali padahal kami ingin melihatnya, Gadis seperti apa yang membuatmu klepek klepek." Ujar Amir.

__ADS_1


" Iya lho Ran, Penasaran nih gue." Sahut Leo.


" Eh ternyata Kakak Ipar cantik banet broo." Ucap Rifki.


" Mana?" Tanya mereka serempak.


Rifki menunjuk ke arah tangga dimana Mila sedang menuruninya. Semua mata tertuju padanya.



Anggap aja menuruni tangga ya...


" Iya bener masih abg broo, Cantiknya.." Ucap Leo melongo.


Imran menatap Mila yang nampak lebih cantik dari biasanya. Senyum mengembang di sudut bibirnya.


" Maaf tidak bisa menyambut kedatangan Kakak Kakak semua." Ucap Mila dengan suara indahnya. Bahkan Imran terpesona karena baru mendengar suara lembut Mila.


" Ah nggak pa pa Kakak Ipar, Terima kasih sudah berkenan menemui kami, Kenalkan saya Leo." Ucap Leo menyodorkan tangannya.


" Mila." Sahut Mila membalas uluran Leo.


" Amir."


" Rifki."


" Dude."


" Dude?" Tanya Mila memastikan.


" Iya Dude... D.. u.. d.. e bukan Duda karena saya masih lajang Kakak Ipar." Ucap Dude mengeja namanya.


" Panggil Mila saja jangan Kakak ipar, Saya lebih muda dari Kakak semuanya." Ujar Mila lembut.


" Ya kamu lebih muda tapi Imran palin tua di antara kami jadi kami panggil Kakak Ipar saja." Sahut Leo.


Mila melirik ke arah Imran yang tersenyum padanya.


" Baiklah terserah kalian saja, Terima kasih sudah mau mengunjungi kami." Ucap Mila.


" Ah iya... Selamat atas pernikahan kalian dan jangan lupa segera beri keponakan pada kita kita." Ujar Amir.


" Doakan saja semoga keinginan kalian segera terkabul." Sahut Imran.


" Apaan sih mas." Ucap Mila.


Punya anak? Membayangkan saja Mila tidak pernah. Ia bahkan tidak tahu bagaimana nasib pernikahannya? Yang jelas setelah ini Ia akan mengejar cita citanya.


TBC.....


*Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya...

__ADS_1


Makasih...


Miss U All*...


__ADS_2