
Malam hari Mila kembali ke rumah orang tuanya, Ia masuk ke dalam kamar dimana Imran sedang menunggunya.
" Sayang kamu sudah pulang." Ujar Imran saat Mila membuka pintu kamarnya.
" Tidak perlu tanya kau sudah tahu bukan kalau aku sudah pulang, Pertanyaan konyol." Sahut Mila.
" Sayang maafkan aku yang sudah membohongimu tapi bukan maksud aku untuk melukaimu, Niatku hanya membantunya saja, Aku merasa iba dengan apa yang terjadi dengannya, Tapi sungguh aku tidak tahu jika dia punya rencana jahat denganku, Aku juga tidak melakukan apapun dengannya sayang." Jelas Imran.
" Heh tidak melakukan apapun, Padahal dia selalu bergelayut manja di lenganmu bahkan mencium pipimu, Apa itu yang dinamakan tidak melakukan apa apa? Kau munafik Mas." Ujar Mila.
" Sayang maafkan aku, Tampar aku sepuasmu tapi jangan bersikap dingin padaku, Atau kau bisa pukul seluruh tubuhku tapi ku mohon jangan seperti ini, Jangan diamkan aku." Ucap Imran.
" Kau sendiri yang memberikan jarak di antara kita Mas, Aku hanya mengikuti apa maumu saja." Sahut Mila.
Mila masuk ke dalam kamar mandi. Sepuluh menit kemudian Ia sudah rapi dengan hotpants dan tangtopnya membuat tubuh Mila terekspos.
Imran menelan salivanya kasar melihat tubuh sang istri yang serasa ingin di terkam. Tapi Imran segera menguasai dirinya. Mila naik ke atas ranjang lalu masuk ke dalam selimutnya.
" Sayang sampai kapan kamu akan marah sama Mas?" Tanya Imran.
" Sampai aku bosan." Sahut Mila.
" Sayang ku mohon maafkan kesalahan dan kebodohanku Mila, Aku benar benar tertipu dengan dua wanita ular itu, Aku mohon maafkan aku, Bersikaplah seperti biasa jangan mendiamkan aku begini." Ucap Imran memeluk Mila dari belakang. Sepertinya Imran sangat takut jika Mila membencinya.
" Sayang.... Ku mohon maafkan kebohonganku selama ini, Mas menyesal sayang." Lirih Imran.
" Kamu selalu seperti ini jika ketahuan berbohong Mas, Kamu pernah bilang kalau kamu tidak akan membohongiku lagi dan kamu akan meminta pendapatku sebelum kamu mengambil keputusan tapi nyatanya apa? Kau selalu bertindak tanpa sepengetahuan aku, Jangan mentang mentang aku selalu memaafkanmu kamu bisa seenaknya saja denganku, Coba kau balikkan keadaan jika kamu berada di posisiku apa yang akan kamu lakukan?" Terang Mila panjang lebar.
" Mungkin Mas tidak akan berbesar hati sepertimu sayang, Tapi Mas mohon banget sama kamu maafkan Mas sekali lagi, Berikan kesempatan sekali lagi pada Mas sayang, Mas sangat mencintaimu dan menyayangimu, Mas tidak mau kehilanganmu." Ujar Imran.
" Aku tidak peduli Mas, Bukankah waktu itu aku sudah bilang jangan paksa aku untuk memaafkanmu lagi dan jangan paksa aku untuk bertahan di sampingmu Mas, Lama lama aku bosan." Ujar Mila.
" Sayang jangan katakan seperti itu maafkan Mas... Mas memang membohongimu tapi Mas masih menjaga kesetiaan ini sayang, Mas tidak selingkuh, Mas tidak mengkhianatimu, Maafkan Mas sayang.. Mas tidak ingin kehilangan kamu, Jangan pernah tinggalkan Mas sayang... Hiks." Isak Imran semakin mempererat pelukannya.
Mila tidak bergeming. Terus terang saja Ia masih kesal dengan sikap Imran yang selalu saja begitu. Dulu Imran seorang guru yang tegas dan killer menurutnya tapi entah kenapa sekarang dia jadi pria bodoh yang gampang di bodohi oleh orang lain. Pikir Mila.
" Terserahlah Mas lakukan apapun yang kamu mau karna aku pun akan melakukan apa yang aku mau termasuk berteman dengan pria manapun." Sahut Mila.
Mendengar ucapan Mila, Imran melepas pelukannya lalu Ia berjalan menuju kamar mandi.
Brakkkk
Imran menutup pintu dengan keras membuat Mila berjingkrak kaget. Di dalam kamar mandi. Imran memukul mukul dadanya yang terasa sesak. Berteman dengan pria manapun? Imran tahu kalau beberapa hari ini hubungan Arnav dan Mila semakin dekat. Ia tidak mau Mila berpaling darinya. Ia menyesali sikap bodohnya dan mudah mengasihani orang lain.
__ADS_1
" Tidak... Aku tidak ingin kehilanganmu Mila.. Tidak aku tidak mau.. Apa yang harus aku lakukan untuk meluluhkan hatimu sayang, Apa yang harus aku lakukan." Ucap Imran kalut.
" Arghhhh." Teriak Imran frustasi.
Pyarrrrrrr
Imran memukul cermin yang berada di atas wastafel. Darah segar mengalir dari tangannya. Mendengar teriakan Imran dan suara sesuatu yang pecah, Mila segera berlari membuka pintu kamar mandi dengan kasar.
" Mas Des." Pekik Mila menghampiri Imran.
" Ya ampun Mas apa yang kamu lakukan?" Ucap Mila menarik pelan tangan Imran yang terluka. Ia menatap tangan itu yang terus mengeluarkan darah, Bahkan masih ada sisa sisa cermin yang menancap di sana.
" Sini Mas biar aku obati." Ucap Mila.
" Biarkan saja!" Ujar Imran.
" Apa maksudmu?" Tanya Mila menatap Imran.
" Bukankah rasa sakit ini tidak sebanding dengan rasa sakit yang aku torehkan di hatimu, Setidaknya biarkan Mas ikut merasakan rasa sakit itu." Ujar Imran.
" Masssssss." Mila memeluk Imran sambil terisak. Ia tidak tahan melihat Imran yang menyalahkan dirinya sendiri bahkan melukainya.
" Hei kenapa menangis? Jangan menangis sayang! Mas akan lebih merasa bersalah padamu jika kamu seperti ini, Maafkan Mas yang sudah membuatmu begini." Ujar Imran.
" Sayang." Imran melepas pelukannya, Ia menangkup wajah Mila dengan tangan kirinya.
" Maafkan Mas ya." Ucap Imran.
" Iya Mas aku sudah memaafkanmu, Maafkan aku yang keras kepala ini, Sebenarnya aku sudah memaafkanmu tapi aku masih kesal dengan sikapmu yang selalu menyembunyikan sesuatu dariku, Maafkan aku Mas." Ucap Mila.
" Hmm, Mas juga minta maaf sama kamu." Ujar Imran kembali memeluk Mila.
" Udah lepas Mas, Kita obati dulu lukamu." Ujar Mila.
Mila menarik tangan Imran menuju wastafel, Mila mengucurinya dengan air sambil memunguti serpihan cermin yang mrnancap di tangan Imran. Setelah lebih bersih Mila menggandeng tangan Imran menuju ranjang.
" Aku ambil obat dulu Mas." Ujar Mila.
Mila mengambil kota obat lalu mulai mengobati luka di tangan Imran.
" Shhh." Desis Imran saat Mila mengoleskan revanol di tangannya.
"Perih banget ya Mas, Di tahan ya." Ujar Mila.
__ADS_1
" Iya sayang." Sahut Imran.
Imran menatap wajah Mila yang sedang mengobati lukanya. Mila melilitkan perban di tangan Imran.
" Sudah selesai." Ucap Mila.
Mila menatap Imran yang juga sedang menatapnya.
" Sudah puas menatapku?" Tanya Mila.
" Ah iya." Sahut Imran tersadar dari lamunannya.
" Melamunin apa sih Mas? Kaya'nya serius banget." Ujar Mila.
" Ngelamunin muridku yang sangat keras kepala tapi juga baik hatin Dan sayangnya sangat aku cintai." Sahut Imran.
" Siapa?" Tanya Mila.
" Kamila Azzurra." Sahut Imran.
" Siapa Kamila itu?" Mila kembali bertanya.
" Nafasku." Jawab Imran.
" Berarti kalau tidak ada Kamila, Mas Des tidak akan bernafas?" Tanya Mila.
" Ya kau benar, Tanpa Mila aku tidak akan bisa bernafas, Jantungku tidak akan berdetak dengan normal dan tentunya aku tidak akan bisa hidup tanpanya." Ucap Imran.
" Gombal." Sahut Mila.
" Eh Mas nggak pernah ngegombal lho, Ini asli murni tulus dari dalam hati sayang." Ujar Imran.
" Ya ya aku percaya Mas." Sahut Mila.
" Makasih sayang." Ucap Imran.
Keduanya saling berpelukan, Imran merasa lega dan bahagia. Jika tahu lukanya mampu meluluhkan hati Mila sudah dari kemarin Ia lakukan.
TBC.....
Jangan lupa like dan koment di setiap babnya..
Makasih untuk para readers yang udah mensuport author semoga selalu dalam LindunganNya ....
__ADS_1
Miss U All