Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Patah hati bersama


__ADS_3

Pagi hari Mila sedang bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Hari ini ada agenda cek kandungan. Kehamilan Mila memasuki bulan ke empat, perutnya sudah terlihat agak buncit. Dengan memakai gaun di bawah lutut membuat Mila tampak cantik dan elegant.


" Sayang kamu sudah siap?" Tanya Imran.


" Udah Mas." Sahut Mila.


" Ayo." Ajak Imran.


Mila menggandeng lengan Imran, keduanya berjalan menuju mobil. Imran mrlajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit Kasih Ibu.


Di tempat lain Fisa sedang berkemas untuk pulang ke rumah bersama Aroon. Ia masih kesal dengan sikap Aroon yang masih memikirkan Mila. Bahkan semalam malam pengantin mereka lalui hanya diam diaman saja.


" Sayang maafkan aku." Ucap Aroon.


" Tidak usah memanggilku sayang jika di hatimu masih ada nama wanita lain." Sahut Fisa.


Fisa keluar kamar hotel meninggalkan Aroon, melihat itu Aroon langsung mengejarnya.


" Hei tunggu! Kau mau kemana?" Tanya Aroon menghadang Fisa.


" Mau pulang lah, emang mau kemana lagi?" Fisa balik bertanya.


" Pulang ke rumah siapa?" Tanya Aroon.


" Pulang ke rumahku." Sahut Fisa.


" Ya nggak bisa, kamu harus ikut aku pulang ke rumahku Fisa." Ujar Aroon.


" Nggak mau." Sahut Fisa.


" Jangan membuat aku malu dengan sikapmu Fisa, kau sudah dewasa bukan anak kecil lagi jadi menurutlah, namaku dipertaruhkan di sini." Tekan Aroon.


" Kau hanya peduli dengan namamu saja tanpa mau peduli dengan perasaanku." Ujar Fisa menghentakkan kakinya.


Aroon menarik tangan Fisa menuju mobilnya.


" Masuk." Titah Aroon.


Tidak mau berdebat Fisa pun masuk ke dalam mobil Aroon begitu saja. Aroon melajukan mobilnya menuju rumahnya. Lebih tepatnya rumah Papa angkat Aroon, Papa Shiv namanya.


Setelah setengah jam mobil Aroon terparkir di depan rumahnya. Ia turun lalu membukakan pintu mobil Fisa.


" Ini rumah siapa?" Tanya Fisa.


" Ini rumah Papa angkatku, Papa Shiv... Aku tinggal di sini selama ini, anggaplah Papa Shiv sebagai Papamu juga." Ucap Aroon.


" Hmm." Gumam Fisa.

__ADS_1


Aroon menggandeng Fisa masuk ke dalam.


" Assalamu'alaikum Pa." Ucap Aroon menghampiri Papa Shiv yang sedang membaca koran di sofa ruang tamu.


" Wa'alaikumsallam." Sahut Papa Shiv.


Keduanya menyalami Papa Shiv dengan takzim.


" Cantik sekali menantu Papa, maafkan Papa ya kemarin tidak bisa menghadiri pernikahan kalian karna Papa baru pulang ke sini tadi pagi." Ucap Papa Shiv.


" Tidak masalah Pa, yang terpenting doanya." Sahut Fisa.


" Doa terbaik untuk kalian berdua Nak, semoga kau dan Aroon selalu bahagia." Ujar Papa Shiv.


" Amien.. Makasih Pa." Ucap Fisa.


" Sama sama." Sahut Papa Shiv.


" Pa aku ke kamar dulu ya." Ujar Aroon.


" Silahkan." Sahut Papa Shiv.


" Ayo sayang." Ajak Aroon.


" Iya Mas." Sahut Fisa.


Ceklek....


Aroon membuka kamarnya yang bernuansakan putih seperti di rumah sakit. Fisa mengedarkan pandangannya menatap seisi kamar Aroon.


" Apa kau suka warna putih Ar? Bukankah dulu kau suka warna hitam" Tanya Fisa.


" Dulu memang aku suka warna putih, tapi semenjak kenal Mil..


" Cukup! Aku sudah tahu jawabannya." Potong Fisa.


" Maaf." Ucap Aroon.


" Sepertinya aku harus terbiasa dengan kata maaf yang keluar dari bibirmu itu, maaf maaf dan maaf lagi." Ucap Fisa.


" Tapi sayang kata memaafkan dariku tidak berarti lagi bagimu karna kau akan selalu mengulanginya lagi dan lagi, sebenarnya aku tidak ada masalah dengan Mila tapi jika kamu selalu saja seperti ini maka rasa benci untuk Mila akan tumbuh begitu saja di dalam hatiku." Sambung Fisa.


" Ini salahku jadi ku mohon jangan bawa bawa Mila dalam masalah ini, tetaplah menjadi temannya biarkan perasaanku menjadi urusanku, aku akan menjadi suami yang baik untukmu walau aku tidak memberi cintaku kepadamu." Ucap Aroon.


Deg....


Hati Fisa tertohok dengan ucapan Aroon. Begitu besarkah cintanya untuk Mila hingga Aroon tidak bisa membaginya untuk Fisa yang sekarang menjadi istrinya walau hanya sedikit saja? Apakah Aroon tidak bisa berpaling dari Mila untuk selamanya? Kalau benar begitu maka akan sia sia perjuangan Fisa selama ini.

__ADS_1


" Lakukan apapun yang kau mau Ar, aku berharap jika suatu saat nanti kau kehilangan aku maka kau tidak akan menyesalinya." Ucap Fisa keluar dari kamar Aroon.


" Maafkan aku Fis, aku sudah mencobanya tapi aku tidak bisa menghapus nama Mila di dalam hatiku, aku hanya mencoba jujur padamu karna aku tidak mau lebih dalam menyakitimu, hatiku telah pergi bersama kenangan Mila, walaupun aku tidak bisa memberikan hatiku untukmu tapi aku berjanji akan memberikan hidupku untukmu Fisa, semoga kau bisa bahagia bersamaku." Monolog Aroon.


Fisa menaiki taksi menuju rumahnya sendiri. Ia ingin menenangkan dirinya dari rasa kesal di dalam hatinya. Sebelumnya Aroon sudah pernah mengatakan kepadanya kalau Aroon tidak bisa berjanji akan membalas perasaannya. Tapi dengan percaya dirinya Fisa mengatakan kalau Ia mampu memenangkan hati Aroon.


" Pak pak berhenti pak." Ucap Fisa kepada driver.


Taksi berhenti di depan taman kota. Fisa turun daei taksi setelah membayar ongkosnya. Fisa berjalan menghampiri seseorang yang sedang duduk di kursi taman sambil melamun.


" Hai." Sapa Fisa membuat orang itu mendongak.


" Fisa." Ucap orang itu.


" Daren, sedang apa kau di sini?" Tanya Fisa kepada Daren teman satu SMA dulu.


" Aku sedang patah hati." Sahut Daren.


" Patah hati? Kok sama ya." Gumam Fisa.


" Kamu juga sedang patah hati?" Tanya Daren.


" Iya." Sahut Fisa duduk di samping Daren.


" Istriku masih sering menangisi mantan pacarnya yang sudah meninggal, hatiku selalu sakit jika melihatnya, aku sudah berkorban selama ini supaya dia mau menerimaku sebagai suaminya tapi nyatanya semuanya sia sia Fis." Curhat Daren.


" Sudah berapa lama kamu menikah dengannya?" Tanya Fisa.


" Empat bulan, tapi rasanya selama ini aku masih lajang, aku tidak pernah merasakan rasanya mempunyai seorang istri." Ujar Daren.


" Kasihan sekali.... Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan ke depannya?" Tanya Fisa.


" Aku akan mundur jika sampai dalam enam bulan pernikahan kami, dia tetap tidak bisa menerimaku." Sahut Daren. Valen mengangguk anggukkan kepalanya.


" Kalau kamu sendiri patah hati karna apa? Di tinggal maried pacar kamu?" Tanya Daren.


" Kasus kita hampir sama Ren, aku juga tidak tahu harus berbuat apa." Sahut Fisa.


" Kamu kan pengacara, pasti biasalah menghadapi masalah seperti ini, solusi apa yang kamu berikan kepada clientmu jika menghadapi situasi seperti ini?" Tanya Daren.


" Yah solusinya lupakan dia, lepaskan dia, biarkan dia bahagia bersama pilihannya dan carilah kebahagiaan untuk diri sendiri." Sahut Valen menghela nafasnya.


" Tapi di saat aku menghadapi kenyataan ini aku tidak bisa memilih Ren, bertahan sakit melepaspun juga sakit, aku dilema." Sambung Fisa.


" Itulah manusia Fis, mereka akan mudah memberikan solusi untuk orang lain tapi mereka tidak mampu mencari solusi untuk diri sendiri, sekarang lupakan masalah kita, maukah kau ikut denganku jalan jalan?" Tanya Daren.


" Baiklah ayo." Sahut Fisa.

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2