
Di dalam kamar Mila dan Dewa sedang menatap layar komputer yang menampakkan rekaman cctv di depan gerbang. Jantung Mila deg degan tak beraturan karna apapun pergerakan Imran sudah di ketahui oleh Dewa.
" Kau benar, suamimu mampu menemukanmu di sini, tapi aku tidak bodoh sayang aku tahu kau menyalakan gps pada ponselmu." Ucap Dewa. Mila menatap Dewa seketika.
" Kenapa? Kamu kira aku tidak tahu? Aku sengaja tidak mematikan ponselmu untuk menjebak Imran datang kemari." Sambung Dewa.
" Apa yang akan kau lakukan dengan suamiku?" Tanya Mila.
" Aku akan melenyapkannya." Sahut Imran.
" Jangan pernah kau sentuh suamiku." Teriak Mila.
" Tenang sayang aku tidak akan menyentuh suamimu tapi aku akan menyentuh dirimu." Ucap Dewa.
" Dasar kau laki laki kurang ajar." Hujat Mila.
" Kau akan tahu seberapa jauh sikap kurang ajarku sayang." Ucap Dewa mendorong tubuh Mila hingga terlentang di atas ranjang.
" Kau... Mau apa kau?" Tanya Mila.
" Aku mau melakukan apa yang seharusnya aku lakukan untuk membungkam mulutmu." Ucap Dewa menindih tubuh Mila. Ia mengunci tangan Mila di atas kepala.
" Minggir! Jangan berani berbuat macam macam denganku atau kau akan menyesalinya." Ucap Mila.
" Wow sayang aku benar benar tertarik denganmu, di saat terdesak seperti inipun kamu masih berani menghadapiku? Sungguh wanita pemberani dirimu sayang aku menyukai itu." Ujar Sewa mengelus wajah Mila.
" Jangan sentuh aku." Teriak Mila.
" Lalu aku harus menyentuh siapa hmm? Menyentuh Imran tidak boleh, menyentuhmu juga tidak boleh, Lalu bolehnya bagaimana?" Tanya Dewa.
Dewa menatap bibir pink milik Mila, Ia memajukan wajahnya dan mengecup bibir Mila.
" Mmmppttt." Gumam Mila menghindari ciuman Dewa.
Dewa mencoba menerobos bibir Mila dengan lidahnya, Setelah berhasil Ia mengekspos bibir Mila hingga beberapa saat sampai tiba tiba...
Brakkk....
Imran mendobrak pintu kamar mereka. Entah darimana masuknya Imran dan Abbas berhasil masuk ke kamar Dewa.
" Kurang ajar! Beraninya kau menyentuh istriku." Teriak Imran menghampiri Dewa.
Imran menarik tubuh Dewa lalu...
Bugh bugh bugh...
" Mas." Pekik Mila menutup mulutnya. Abbas memberi kode kepada Mila untuk diam saja dan tenang.
Imran memukul wajah Dewa berkali kali. Tak ada perlawanan dari Dewa sampai beberapa anak buah Dewa datang lalu memegangi tubuh Abbas dan Imran. Dewa tersenyum smirk mengusap darah di bibirnya. Ia meludahkan darah itu ke lantai.
Bugh...
__ADS_1
Pukulan keras Dewa mengenai wajah Imran.
" Massssss." Teriak Mila.
Bugh..... Bugh.... Bugh.... Bugh...
Suara pukulan bukan berasal dari bogeman Dewa saja tetapi dari anak buahnya juga yang memukuli wajah dan perut Abbas. Kini Imran dan Abbas menjadi bulan bulanan anak buah Dewa. Mereka tidak bisa melawan karna kalah lawan. Mila menangis melihat semua itu, Ia mencari cari ponselnya, tatapannya menangkap tasnya yang berada di atas sofa. Diam diam Mila mengambil ponselnya lalu menelepon polisi.
" Hentikan... Hentikan semua ini." Teriak Mila.
" Dewa aku mohon hentikan Dewa, aku akan menuruti apa kemauanmu Hiks... hiks.. Ku mohon jangan sakiti suamiku dan Abbas, Lepaskan mereka hiks...." Ucap Mila luruh ke lantai. Air mata menetes di pipinya melihat suaminya yang sudah babak belur.
Dewa menatap ke arah Mila begitupun dengan Imran dan Abbas.
" Benarkah kamu akan menuruti apa mauku?" Tanya Dewa.
" Iya, tapi lepaskan suami dan temannya." Ucap Mila.
" Apa maksudmu sayang, jangan menyerah! Biarkan kami bertarung secara gentle tapi jangan turuti apa kemauannya, jangan sampai kamu masuk perangkapnya karna pengorbananku akan sia sia." Ucap Imran menggelengkan kepalanya.
" Mas mengertilah keinginanku." Ujar Mila.
" Jangan... Jangan lakukan apapun! Biarkan aku dan Abbas yang menyelesaikan semuanya... Lepas.. Lepaskan aku!" Teriak Dewa.
" Tidak semudah itu, aku menantikan momen ini selama bertahun tahun lamanya, aku tidak akan melepasmu begitu saja, aku akan membalas nyawa dengan nyawa." Ujar Dewa.
" Apa makaudmu? Sebenarnya siapa kau? Kenapa kau mencoba mengusik kehidupanku?" Teriak Imran yang masih di pegangi oleh anak buah Dewa.
" Ya... Aku bahkan merasa tidak pernah mengenalmu sebelumnya." Sahut Imran.
" Tapi kau sangat mengenal Kakakku... Dewi." Ucap Dewa mencengkram kuat dagu Imran.
" Dewi? Dewi siapa?" Selidik Imran.
" Dewi Zavrani... Gadis lugu yang selalu mengejar cintamu tapi sayang kau selalu menolaknya dan kerena putus asa dia mengakhiri dirinya sendiri, dan semua itu karna kau Imran, karna dirimu aku harus kehilangan Kakak tersayangku untuk selamanya." Teriak Dewa mengepalkan tangannya erat.
" Dewi Zavrani...." Gumam Imran memutar otaknya mengingat nama itu.
Imran menatap ke arah Abbas seolah bertanya apakah kau mengenalnya? Abbas hanya menggelengkan kepalanya saja.
" Kau juga harus merasakan apa yang sudah aku rasakan selama ini, kau harus kehilangan orang yang kau sayangi dan melihat istrimu hidup bahagia bersama orang lain." Ujar Dewa.
" Siapa Kakakmu? Aku tidak mengenalnya?" Tanya Imran.
" Dia teman SMA mu bodoh." Bentak Dewa memukul kepala Imran.
Plak.... Kepala Imran berdenyut nyeri kala mendapat pukulan dari Dewa.
" Hentikan... Aku mohon jangan lukai suamiku lagi hiks.... hiks...." Isak Mila.
" Sayang jangan menangis! Aku tidak pa pa." Ucap Imran.
__ADS_1
" Ucapkan selamat tinggal untuk yang terakhir kalinya karna sebentar lagi kalian akan berpisah, aku akan menikahi istrimu dan membawanya jauh dari kehidupanmu, selamat menikmati hidup dalam kesendirian Imran Maulana." Ucap Dewa tersenyum mengejek.
" Ayo kita pergi dari sini." Dewa menarik tangan Mila. Mereka berjalan keluar kamar.
Imran mencari celah untuk membebaskan diri dari cekalan kedua anak buah Imran. Imran dan Abbas saling pandang, mereka saling mengirim kode untuk memberontak. Sampai tepat pada hitungan ketiga keduanya sama sama mengeluarkan kekuatan yang cukup membuat anak buah Dewa kewalahan.
Bugh...bughh...bugh...
Keempat anak buah Dewa terlibat perkelahian dengan Imran dan Abbas. Setelah berhasil mengalahkan anak buah Dewa, keduanya berlari menyusul Mila dan Dewa yang hendak memasuki mobilnya.
" Kamila....." Teriak Imran berlari menghampiri ke duanya.
Melihat ada kesempatan Mila hendak berlari menghampiri Imran sampai tiba tiba....
Dorrrrrr
" Argh ....." Teriak Imran.
Tubuhnya terkapar di pavingan depan rumah Dewa dengan darah mengucur di area perutnya.
" Mas Imran." Teriak Mila menghampiri Imran.
" Mas... bangun Mas..." Ucap Mila memangku kepala Imran.
" Mas bangun jangan tinggalkan aku." Ucap Mila menepuk nepuk pipi Imran. Air mata menetes deras di pipinya bahkan membasahi wajah Imran.
Abbas segera menghampiri Dewa lalu menendang pistol di tangan Dewa hingga terpental jauh dari sana.
Bugh bugh bugh...
Abbas memukuli Dewa dengan membabi buta.
" Orang sepertimu memang seharusnya mati, susul kakakmu itu supaya kau tidak membahayakan kami lagi." Teriak Abbas.
Tap tap tap tap tap...
" Hentikan Pak! Dia bisa mati." Ucap salah satu polisi.
Abbas mendorong tubuh Dewa dengan keras hingga tergeletak di atas paving. Bak adegan slow motion, Dewa terjatuh sambil menatap Mila.
" Mila... akhirnya aku kalah... tapi aku puas karna aku bisa melukai bajingan itu, jika aku mati maka Imran juga harus mati bersamaku, Kakak aku sudah membalas dendamku padanya... sekarang kau bisa tenang di alam di sana." Batin Dewa menutup matanya.
TBC.....
Hayooo tebak kira kira Imran selamat nggak ya...
Jangan lupa like dan komentnya....
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author.....
Miss U All....
__ADS_1