Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Mengetahui Yang Sebenarnya


__ADS_3

Pagi ini Imran membeli makanan untuk dirinya dan Mila. Ia membuka pintu ruangan Arvi sambil menenteng kantong kresek di tangannya.


Ceklek......


Deg...


Jantungnya terasa nyeri melihat pemandangan di depannya dimana Mila sedang menyuapi Arvi sambil sesekali tertawa. Keduanya tampak seperti sepasang kekasih bahagia.


" A' lagi donk biar cepet habis." Ucap Mila menyuapkan sesendok bubur ke mulut Arvi.


" Kau tahu? Seandainya aku bisa memutar waktu pasti akan aku putar waktu itu supaya aku bisa tahu penyakitku sejak dini, Aku ingin sembuh dan segera meminangmu Mil." Ujar Arvi.


" Salah sendiri kamu hilang kontak waktu itu, Aku bahkan menunggumu sampai bertahun tahun sampai aku men.....


Mila menghentikan ucapannya. Hampir saja Ia keceplosan soal pernikahannya.


" Sampai kamu apa?" Tanya Arvi.


" Sampai aku menjadi pelayan Pak Imran dan bertemu denganmu." Dalih Mila.


Imran berjalan menghampiri mereka. Mendengar langkah kaki Mila menoleh ke belakang, Tatapannya bertemu dengan tatapan Imran tapi Mila segera memutusnya. Ia menatap kembali ke depan ke arah Arvi.


" Ini sarapanmu Mil." Ucap Imran meletakkan sebungkus makanan di atas nakas.


" Makasih Pak." Ucap Mila.


" Kamu panggil Kak Imran Pak? Ha ha ha apa dia terlihat setua itu?" Kekeh Arvi.


" Kau tidak tahu kalau dia guruku saat aku SMA? Ya aku sudah terbiasa aja manggil dia PAK IMRAN." Tekan Mila memutar bola matanya malas.


" Oh ya? Sejak kapan Kak Imran berubah profesi menjadi guru?" Tanya Arvi.


" Maksudmu?" Tanya Mila.


" Kak Imran seorang CEO di perusahaannya kenapa harus menjadi guru? Pekerjaan yang sangat jauh di bawahnya." Ujar Arvi.


Mila menatap ke arah Imran yang kini sedang menatapnya. Ia ingin mencari jawaban dari mata Imran. Mata itu, Mata yang menunjukkan banyak cinta dan juga kesedihan secara bersamaan. Apakah benar kata Imran waktu itu? Jika Ia menjadi guru hanya untuk menjaganya agar tidak dekat dengan pria lain? Mila memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Hatinya selalu berdesir jika bertatapan dengan Imran. Ia tidak mau jatuh terlalu dalam dengan pesona Imran. Ia sudah bertekad untuk berpisah dari Imran setelah ini.


" Sekarang minum obat dulu Vi." Ucap Mila.


" Nggak perlu minum obat Mil, Itu akan percuma aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersamamu saja." Ucap Arvi melirik Imran.


Imran tampak mengepalkan tangannya. Ia berjalan menuju sofa mulai memakan makanannya.


" Kamu makan dulu Mil, Jangan sampai kamu sakit karena merawatku." Ucap Arvi.


" Ah iya.. Aku makan dulu ya, Kamu istirahatlah." Sahut Mila.


Mila duduk di sofa samping Imran. Ia membuka sterefoam yang Imran berikan. Nasi putih dengan ayam lada hitam di dalamnya. Ternyata Imran tahu makanan kesukaannya.


" Kalian seperti pasangan suami istri yang lagi diem dieman." Ucap Arvi tiba tiba.

__ADS_1


Uhuk... Uhuk... Uhuk....


Mila tersedak makanannya sendiri. Imran segera memberinya air putih sambil mengelus punggung Mila.


" Sayang hati hati makannya donk." Ucap Imran keceplosan.


Mila meminum air dari tangan Imran sambil terbatuk batuk.


" Sayang." Imran masih mengelus punggung Mila berharap bisa meringankan batuk yang Mila rasakan.


" Hah..." Mila menghela nafasnya.


Imran mengusap air mata Mila dengan sapu tangannya, Ia bahkan meniup ubun ubun Mila seperti anak kecil.


" Gimana sayang? Apa sudah baikan?" Tanya Imran yang masih belum menyadari jika sedari tadi Arvi melihat semuanya.


" Sudah Mas, Terima kasih." Sahut Mila kembali meminum segelas air putih.


" Ehm Ehm." Dehem Arvi.


Mila dan Imran menoleh ke arah suara, Keduanya saling pandang setelah menyadari jika ada Arvi di sana.


" Arvi kamu jangan salah paham." Ucap Imran.


" Salah paham gimana Kak? Perhatian kamu atau panggilanmu kepada Mila?" Tanya Arvi.


" Semuanya." Sahut Mila.


" Jangan berpikiran macam macam Vi, Aku tadi hanya refleks saja, Aku teringat dengan istriku, Maafkan aku." Ucap Imran.


" Istrimu yang mana? Siapa istrimu?" Tanya Arvi.


Imran menatap Mila yang sedang menundukkan kepalanya.


" Istriku yang sedang di luar negri." Ucap Imran.


" Istrimu yang sedang di luar negri? Vania maksudmu?" Arvi bertanya lagi.


" Iya." Sahut Imran.


" Lalu siapa wanita yang sedang berdiri di sampingmu?" Tanya Arvi.


Imran menatap Mila, Mereka saling menatap untuk beberapa saat.


" Apa maksudmu Arvi?" Tanya Mila menatap Arvi.


" Aku sedang bertanya dengan Kakakku Mil, Siapa Mila bagimu Kak?" Selidik Arvi.


" Di.... Dia.... Dia hanya pelayan di rumah kita." Kilah Imran.


Hati Mila mencelos mendengar ucapan Imran. Seharusnya Ia menggunakan kesempatan ini untuk jujur pada Arvi bukan? Mila tidak mengerti bagaimana jalan pikiran Imran. Mila hanya di anggap sebagai pelayan di rumahnya saja. Itulah sebabnya semua keputusan tentang dirinya berada di tangan Imran dan keluarganya? Pikir Mila.

__ADS_1


Tak terasa cairan bening yang sedari tadi Mila bendung akhirnya jatuh juga. Ia segera mengusapnya sebelum Imran dan Arvi menyadarinya.


" Ya kau benar Pak Imran, Aku hanya pelayan di rumah anda, Maaf Arvi aku ada urusan nanti aku akan kembali lagi." Ucap Mila.


Mila mengambil slingbagnya lalu Ia berlari keluar meninggalkan ruangan yang menyesakkan hatinya. Imran menatap kepergiannya dengan tatapan sendu. Ia tahu jika Mila terluka karena ucapannya.


"Maafkan aku sayang." Batin Imran.


" Kau tidak mau mengejarnya Kak?" Tanya Arvi.


Imran menatap Arvi sambil mengerutkan keningnya. Tanpa mereka sadari jika Papa dan Mama mereka sedang berdiri di depan pintu. Mereka ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi karena saat mereka hendak masuk, Mereka melihat Mila yang sedang menangis.


" Kau tidak mau meminta maaf pada istrimu?" Tanya Arvi.


Deg....


Istri? Apa Arvi sudah mengetahui semuanya? Pikir Imran.


" Ya... Kau benar Kak, Dari awal aku sudah tahu yang sebenarnya." Ucap Arvi seolah tahu isi hati Imran.


" Apa maksudmu sudah mengetahui yang sebenarnya?" Selidik Imran.


" Aku tahu jika Mila istrimu, Aku hanya sedang menguji seberapa besar cintamu kepada Mila, Aku hanya ingin memastikan jika Mila berada di tangan yang tepat, Berada di tangan suami yang selalu mencintainya, Suami yang selalu mempertahankan kehadirannya, Suami yang selalu ada untuknya di saat dia mengalami kesulitan." Ujar Arvi dengan nafas sedikit tersengal.


" Tapi aku salah Kak, Bahkan kau sendiri yang menempatkan Mila dalam kesulitan ini, Kau memaksa Mila untuk melakukan semua ini demi kebahagiaanku tanpa kau memikirkan perasaannya Kak, Ternyata cintamu pada Mila tak sedalam cintaku padanya." Sambung Arvi penuh dengan kekecewaan. Imran diam tak bergeming. Ia meratapi kesalahannya sendiri.


" Aku kecewa padamu Kak, Kau lebih mencintaiku dan memikirkan kebahagiaanku di banding kebahagiaan Mila sendiri, Kau tidak pantas untuknya Kak, Jika aku tiada nanti bebaskanlah Mila dari pernikahanmu Kak, Biarkan dia menggapai kebahagiaannya sendiri dan menemukan seseorang yang benar benar mencintainya dan rela berkorban apapun demi dirinya termasuk mengorbankan perasaan adiknya sendiri demi kebahagiaan wanita yang Ia cintai." Jelas Arvi.


Hati Imran mencelos, Ia baru sadar jika sikap dan keputusannya membuat Mila menderita.


" Satu permintaan terakhirku Kak, Jika kau tidak bisa membuatnya bahagia ceraikan saja dirinya." Ucap Arvi.


" Aku tidak akan pernah menceriakannya Arvi, Aku tahu aku salah dan aku akan memperbaiki hubunganku dengannya, Maafkan aku jika aku telah membuatmu dan Mila terluka karena keegoisanku." Ucap Imran.


" Jangan paksa Mila jika dia tidak menginginkannya, Sekarang kejarlah dia kak suruh dia kemari biar aku yang berbicara." Titah Arvi.


Imran membalikkan tubuhnya dan...


" Papa... Mama....


TBC......


Hai readers tersayang jangan lupa untuk selalu like koment di setiap babnya ya....


Jika berkenan beri vote dan hadiahnya ya...


Makasih atas doa dan suport yang para readers berikan, Apalah artinya author tanpa kalian semua...


Miss U All...


Dukung juga karya author yang lain ya...

__ADS_1


__ADS_2