
Hari hari berlalu, kini tiba saatnya hari kelulusan untuk Kira. Kira mencapai keberhasilannya dengan nilai tertinggi di kelasnya. Kedua Mommy dan Daddynya datang ke sekolahan. Tentunya bersama dengan Zavran.
" Selamat sayang, kamu memang terbaik." Ucap Mommy Kinan memeluk Kira.
" Semua ini berkat Mommy." Sahut Kira melepas pelukannya.
" Selamat sayang." Ucap Mommy Mila.
" Terima kasih Ma." Sahut Kira.
Sekarang giliran Zavran yang hendak mengucapkan selamat kepada Kira dengan bunga di tangannya.
" Selamat Dek." Ucap Zavran memberikan buket bunga kepada Kira. Saat Kira hendak menerimanya, Ia melihat Fahri yang hendak menghampirinya juga.
" Kak Fahri." Ucap Kira menghampiri Fahri mengabaikan buket bunga yang di berikan Zavran.
Kedua orang tua mereka melongo menatap Zavran. Zavran meninggalkan tempat itu dan membuang buket bunganya ke tempat sampah.
" Selamat untukmu Kira." Ucap Fahri memberikan buket bunga yang di bawanya. Sama sama bunga mawar putih seperti yang di bawa Zavran.
" Makasih Kak." Sahut Kira menerima bunganya.
" Mau ke cafe denganku untuk merayakan kelulusanmu?" Tanya Fahri.
" Ayo." Sahut Kira.
Kira menarik tangan Fahri menghampiri kedua orang tuanya.
" Mom, Dad kenalkan ini Kak Fahri." Ucap Kira memperkenalkan Fahri kepada kedua orang tuanya.
" Halo Om, saya Fahri." Ucap Fahri mengulurkan tangannya.
" Aroon, Daddynya Kira." Sahut Daddy Aroon menjabat tangan Fahri.
" Halo Tan, Saya Fahri." Ucap Fahri menyalami Mommy Kinan.
" Kinan, Mommynya Kira." Sahut Mommy Kinan.
" Papa sama Mama kemana Mom?" Tanya Kira.
" Mereka pulang duluan, Kak Zav ada perlu." Sahut Mommy Kinan.
" Owh, Dad aku mau pergi sama Kak Fahri." Ucap Kira menatap Daddynya.
" Baiklah, jangan malam malam pulangnya." Sahut Daddy Aroon.
" Siap Dad." Sahut Kira.
" Ayo Kak." Ajak Fahri.
" Mari Om, Tante." Ucap Fahri.
" Silahkan." Sahut Mommy Kinan.
Kinan dan Fahri berjalan berdampingan menuju mobil Fahri.
" Kak kok pakai mobil, motormu mana?" Tanya Kira.
" Ada di rumah, kan mau ngajak kencan kamu masa' pakai motor." Sahut Fahri.
Fahri membukakan pintu mobil untuk Kira. Kira segera masuk ke dalam mobil di susul oleh Fahri. Fahri melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
" Mau ke Cafe mana sih Kak?" Tanya Kira.
" Cafe ToLove dekat pantai." Sahut Fahri.
" Wah mau banget tuh ngerasain suasana indah di sana." Ujar Kira.
__ADS_1
" Suka tempatnya apa sama yang ngajak?" Tanya Fahri penuh arti.
" Maksudnya?" Tanya Kira.
" Tidak, lupakan saja." Sahut Fahri.
Sesampainya di cafe yang di maksud oleh Fahri, keduanya turun dari mobil. Mereka masuk ke dalam mencari meja yang kosong. Tepat di pojok yang sangat dekat dengan pantai, keduanya duduk di sana.
" Mau pesan apa Mas, Mbak?" Tanya pelayan.
" Mau pesan apa Ki?" Tanya Fahri menatap Kira.
" Cafe ini juga menyediakan seafood ya, gimana kalau udang pedas aja Kak?" Tanya Kira.
" Nggak ah, gurameh bakar aja ya." Sahut Fahri.
" Nggak mau, aku maunya es kelapa muda sama udang pedas aja Mbak, kalau Kak Fahri pilih menu lain nggak pa pa." Sahut Kira.
" Kalau Masnya gimana?" Tanya pelayan pada Fahri.
" Samain aja Mbak kalau gitu." Sahut Fahri.
" Baiklah di tunggu sebentar ya Mbak, Mas." Ucap Pelayan meninggalkan mereka.
" Katanya mau gurameh bakar." Ucap Kira.
" Khusus hari ini aku akan ikut kamu aja, apa maumu akan aku penuhi termasuk menu makanan yang kamu mau." Ucap Fahri.
" Kamu ini Kak." Kekeh Kira.
" Kak ada yang ingin aku katakan padamu." Ucap Kira.
" Katakan saja." Sahut Fahri.
" Apa Kakak mau menikah denganku?" Tanya Kira menatap Fahri.
Beruntung pengunjung sedang ramai saat ini jadi suara Fahri tidak berpengaruh pada pengunjung lainnya.
" Iya Kak, apa Kakak mau menjadi imamku?" Tanya Kira.
" Kira, apa kamu memiliki perasaan khusus untukku?" Fahri balik bertanya.
" Jujur untuk saat ini aku belum merasakan itu Kak, tapi aku yakin cinta akan hadir seiring berjalannya waktu dan kedekatan kita, jika aku sudah berkomitment maka aku akan berusaha keras untuk menghadirkan perasaan itu untukmu Kak." Terang Kira.
" Aku hargai kejujuranmu Ki." Sahut Fahri.
" Jadi jawabanmu apa Kak?" Tanya Kira.
" Aku mau, aku mau menikah denganmu." Sahut Fahri.
" Kira." Ucap Fahri menggenggam tangan Kira.
" Sejujurnya aku mencintaimu, tapi aku tidak berani mengungkapkannya karna aku takut kamu akan menjauh dariku, aku mau menikah denganmu dan akan aku tunggu balasan dari perasaanmu, untuk saat ini cintaku cukup untuk kita berdua." Ungkap Fahri.
Deg....
Jantung Kira seakan berhenti berdetak. Fahri mencintainya? Sudah benarkah keputusannya? Ya Kira akan menjaga komitment ini selamanya kecuali Fahri sendiri yang mengingkarinya.
" Terima kasih Kak, mulai sekarang aku akan berusaha melabuhkan hatiku kepadamu." Ucap Kira.
" Untuk memulai awal yang baru, panggil aku Mas donk." Ujar Fahri.
" Baiklah Mas Fahri." Ucap Kira.
" Rasanya adem di hatiku Dek." Ujar Fahri.
" Dek?" Ucap Kira mengerutkan keningnya.
__ADS_1
" Iya... Nggak usah Yank Yankan lah kan Mas udah nggak abg lagi, jadi Dek aja biar lain dari yang lain." Ujar Fahri dengan senyum manisnya.
" Emang umur kamu berapa tahun?" Tanya Kira.
" Dua puluh dua." Sahut Fahri.
" Ya cuma beda empat tahun doank Mas, nggak tualah." Ujar Kira.
" Tapi nggak abg juga kan." Sahut Fahri.
" Ya terserah kamu aja Mas mau panggil aku apa yang penting nyaman buat kamu." Ujar Kira.
" Iya Adek." Sahut Fahri.
" Maaf Mbak lama, soalnya lagi ramai jadi banyak pesanan." Ujar pelayan meletakkan pesanan mereka.
" Nggak pa pa Mbak makasih." Sahut Kira.
" Ini Mas." Ucap Kira menyodorkan sepiring udang manis di depan meja Fahri.
Fahri menelan kasar salivanya. Ia menahan sesak di dadanya.
" Kok nggak di makan sih Mas, sini aku suapi." Ujar Kira.
" A' Mas." Ucap Kira.
Kira menyuapkan nasi dan udang ke mulut Fahri menggunakan tangannya. Fahri menatap Kira sambil tersenyum. Dengan terpaksa Ia menerima suapan dari Kira lalu mengunyahnya.
" Gimana Mas? Enak nggak?" Tanya Kira menatap Fahri. Fahri menganggukkan kepalanya.
Kira menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sendiri. Sadar tidak ada pergerakan makan dari Fahri, Kira menatap ke arah Fahri. Dan....
" Mas kenapa wajahmu memerah seperti itu?" Tanya Kira panik. Kira berlari menuju wastafel untuk mencuci bersih tangannya. Setelah itu Ia kembali ke mejanya.
" Mas kamu alergi udang ya?" Sambung Kira menangkup wajah Fahri. Fahri mengaggukkan kepalanya.
" Astaga Mas Fahri... Kenapa tidak bilang kalau kamu alergi udang? Duh gimana ini." Ujar Kira mengedarkan pandangannya.
" Mbak Mbak." Panggil Kira kepada salah satu pelayan.
" Iya Mbak, ada yang bisa saya bantu?" Tanya pelayan itu.
" Mbak apa ada klinik di sekitar sini?" Tanya Kira.
" Tidak ada Mbak, adanya puskesmas tapi jauh dari sini, sekitar lima kilometer mbak." Ucap Pelayan.
" Astaga jauh sekali." Gerutu Kira.
" Mas ayo kita ke dokter, kamu makin parah sepertinya." Ujar Kira.
" Mbak tolong bantu saya membawa suami saya ke mobil ya." Sambung Kira membuat Fahri tersenyum bahagia karna Kira menyebutnya dengan nama suami.
" Baik Mbak." Sahut pelayan.
Kira memapah Fahri menuju mobil di bantu pelayan cafe. Setelah masuk mobil Kira segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit kota. Hampir satu jam akhirnya Kira sampai di sana.
" Mas... Mas Fahri." Ucap Kira menepuk pelan pipi Fahri.
" Mas Fahi sadarlah, jangan buat aku khawatir, Mas..." Ujar Kira.
Fahri sudah tidak sadarkan diri membuat Kira semakin panik. Ia segera meminta pertolongan kepada suster yang ada di sana.
TBC.....
Jangan lupa like dan komentnya ya...
Miss U All...
__ADS_1