Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Hari ini Mila dan Imran berada di rumah Mama Lina. Mereka sedang menyiapkan masakan untuk makan malam untuk menyambut kedatangan adik angkat Imran yang baru menyelesaikan kuliahnya di Luar Negri. Mila baru tahu kalau ternyata Imran mempunyai adik angkat.


Mama Lina da Mila sedang sibuk di dapur, Mila memang sudah memaafkan Mama Lina tapi Ia sedikit memberi jarak di antara keduanya. Ia tidak berharap terlalu jauh sebelum Ia bisa memastikan perasaannya sendiri.


" Duh senengnya kalau lihat kedua wanita yang aku cintai akur gini, Aku jadi pengin tinggal di sini Ma." Ucap Imran yang baru saja duduk di kursi depan meja makan.


" Kamu ini, Ya harus akur lah sesama keluarga, Kalau kamu mau tinggal di sini Mama seneng banget lhoh sayang, Apalagi dengan kehadiran adik kamu Mama yakin rumah ini akan semakin ramai, Ya nggak Mil?" Tanya Mama Lina.


" Iya Ma." Sahut Mila singkat.


" Apa kamu mau tinggal di sini bersama kami Mila?" Sambung Mama Lina.


" Aku terserah Mas Des aja Ma." Sahut Mila.


" Enggak ah Ma, Nanti aku nggak bisa dua duaan lagi, Yang ada nanti Mama ngrecokin." Ujar Imran.


" Ya deh terserah kamu aja yang lagi hangat hangatnya." Sahut Mama Lina.


" Masak apa Yank?" Tanya Imran berdiri di belakang Mila dengan tubuh menempel.


" Nggak tahu, Minggir Mas nggak usah nempel nempel." Sahut Mila.


" Aku cuma mau ambil kopi doank kok." Ucap Imran sambil mengambil kopi di rak atas depan Mila.


Pipi Mila memerah menahan malu karna Ia sudah salah mengira.


" Nggak perlu malu karna memang aku sengaja mendekatimu." Bisik Imran membuat bulu kuduk Mila merinding.


Imran menjauh dari Mila, Ia mulai menyeduh kopinya sambil tersenyum melirik Mila.


" Yank kalau di rumah mau masak kaya' di sini aku akan selalu menunggumu di meja makan seperti sekarang." Ujar Imran.


" Udah deh Mas diem aja nggak usah aneh aneh." Cebik Mila melanjutkan kegiatannya.


" Kalau sudah matang tinggal di tata di meja ya sayang." Ucap Mama Lina.


" Iya Ma." Sahut Mila.


Setelah selesai dengan kegiatan masaknya, Mila kembali ke kamar untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Imran sedang menjemput adik angkatnya di bandara.


Menjelang ba'da isya Imran sampai di kediamannya bersama adik angkatnya. Keduanya masuk ke dalam disambut heboh oleh keluarga mereka.


" Sayang kamu sudah kembali?" Pekik Mama Lina memeluk anak angkatnya.


" Iya Ma." Sahutnya.


" Selamat sayang akhirnya kamu mendapat gelar seperti apa yang kamu cita citakan selama ini, Dokter muda.... Dokter Arvian Sp.A." Ujar Mama Lina.


" Makasih Ma." Sahut Arvi.


" Selamat untukmu Arvi dan selamat bergabung kembali dengan keluarga kami." Ucap Papa Romi memeluk Arvi sebentar.

__ADS_1


" Makasih Pa." Sahut Arvi.


" Arvi kenalin ini Mama dan Papa mertuaku." Ucap Imran.


" Halo Tante, Om, Perkenalkan aku Arvi adiknya Kak Imran." Ucap Arvi menyalami keduanya secara bergantian.


" Selamat untukmu Nak Arvi." Ucap Mama Lina.


" Terima kasih Tan." Sahut Arvi.


" Kak dimana istrimu?" Tanya Arvi.


" Dia sedang di kamarnya sebentar lagi pasti dia turun." Ujar Imran.


" Ayo kita langsung ke meja makan saja biarkan nanti Mila menyusul." Ajak Mama Lina.


Semuanya menuju meja makan dan memulai acara makan malamnya tanpa Mila. Imran terlihat gelisah pasalnya sampai acara makan malam selesai Mila tidak turun juga.


Selesai makan malam mereka semua berkumpul di ruang keluarga.


" Kak dimana istrimu kenapa dia tidak juga turun? Apa dia tidak mau menyambut kepulangan adik iparnya?" Tanya Arvi.


" Sebentar Kakak lihat dulu." Ujar Imran.


Tap tap tap


Suara langkah kaki menuruni anak tangga. Mereka menoleh ke arah suara yang ternyata Mila sedang menuruni satu persatu anak tangga. Arvi menatap tidak percaya dengan apa yang Ia lihat, Tanpa ragu Arvi segera menghampiri Mila.


" Kamila sayang." Pekik Arvi memeluk Mila.


Deg.....


Jantung Imran serasa berhenti berdetak, Hatinya bagai di sayat sembilu melihat pemandangan di depannya.


" Arvi." Lirih Mila.


" Iya sayang ini aku." Sahut Arvi melepas pelukannya.


Arvi menggenggam tangan Mila.


" Kak Pa Ma, Ini Kamila wanita yang pernah aku ceritakan pada kalian, Wanita yang mencuri hatiku dan wanita yang sangat aku cintai." Ucap Arvi lantang.


Jeduar......


Bagai di sambar petir di siang bolong membuat tubuh Imran terhuyung hingga mundur ke belakang. Bagaimana tidak? Wanita yang Ia cintai ternyata wanita yang sama dengan wanita yang di cintai adiknya. Adik tersayangnya, Walau hanya adik angkat tapi Imran begitu memanjakan Arvi, Apapun yang Arvi minta pasti akan Imran berikan. Lalu bagaimana jika Arvi meminta istrinya? Apakah Imran akan melepaskannya demi adik tersayangnya?


Sejak kecil Imran menginginkan seorang adik, Tapi sayang Mama Lina tidak bisa memberikannya lantaran penyakit yang dulu Ia derita hingga menyebabkan rahim Mama Lina di angkat. Alhasil demi memberikan teman untuk Imran, Mama Lina dan Papa Romi mengadopsi putra dari sahabatnya yang meninggal akibat kecelakaan.


" Apa???? Wanita yang kamu cintai adalah Mila? Begitu maksudmu?" Selidik Mama Lina.


" Iya Ma, Aku jauh jauh belajar di negri orang hanya untuk menepati janjiku padanya, Menjadi seorang dokter spesial anak adalah cita cita kami berdua Ma." Terang Arvi masih menggenggam tangan Mila. Sedangkan Mila masih syok dengan keterkejutannya.

__ADS_1


" Sayang dia....


" Aku tidak peduli walaupun dia hanya pelayan di rumah ini Ma yang jelas aku sangat mencintainya, Dan aku akan segera menikahinya." Arvi memotong ucapan Mamanya. Ia mengira kalau Mila adalah pelayan di rumahnya karena saat ini Mila hanya memakai daster milik Mama Lina. Ia tadi lupa membawa ganti.


Mereka saling pandang, Mila bisa saja menjelaskan kalau dirinya adalah kakak iparnya namun Ia ingin melihat bagaimana reaksi Imran untuk memperjuangkan miliknya. Bukankah ini saatnya Imran menunjukkan cintanya kepada Mila? Tapi lihatlah! Imran bahkan diam saja.


Bukan tanpa alasan Imran diam saja. Keluarga baru mengetahui jika Arvi mengidap kanker otak stadium akhir. Padahal sebelum mendapat gelar spesialis Arvi lebih dulu menjadi dokter umum tapi entah kenapa penyakitnya baru terdeksi saat Arvi sudah mendapat gelar spesialis, Bahkan pengobatanpun tidak bisa di lakukan karena sudah sangat sangat terlambat. Virus tumor sudah menyebar hingga ke jantungnya. Keluarga hanya bisa pasrah dengan takdir Tuhan. Jika memang Tuhan akan memanggil Arvi kapan saja keluarganya sudah siap. Satu keinginan terakhir Arvi adalah menikahi gadis pujaan hatinya, Cinta pertamanya yang kini sedang berada di depannya.


" Mila kenapa kamu justru bekerja di sini? Bukankah seharusnya kamu kuliah saat ini? Apa kamu kuliah sambil bekerja?" Selidik Arvi menatap Mila dengan tatapan yang sulit di artikan.


" E... A.. Aku..." Mila mengedarkan pandangannya di segala arah.


Dalam hati Ia bertanya kenapa suami dan kedua mertuanya tidak menjelaskan siapa dirinya? Apa ada sesuatu yang tidak Ia ketahui? Mau bicara jujur takut salah, Ia berada di posisi yang sangat membingungkan saat ini.


" Ayo kita duduk di sana aku ingin berbagi cerita denganmu." Arvi menggandeng tangan Mila menuju luar rumah. Mila menatap Imran yang justru hanya memejamkan matanya.


Sekali lagi Ia seperti boneka di negri dongeng yang tidak tahu arah kemana Ia akan melanjutkan ceritanya. Keduanya duduk di kursi taman. Arvi tidak melepas genggamannya seolah takut jika Mila menghilang dari pandangannya.


" Mila... Maafkan aku gelar spesialisku tidak berguna untukku saat ini." Ucap Arvi.


" Kenapa bisa begitu?" Tanya Mila.


" Aku terkena kanker otak stadium akhir." Ucap Arvi.


" Apa? Kanker otak? Kamu sedang tidak bercanda bukan?" Selidik Mila.


" Tidak sayang... Aku benar benar mengidap penyakit itu, Umurku sudah tidak lama lagi." Sahut Arvi sedih.


" Apa karna ini Mas Des diam saja? Apa karna mereka sudah mengetahui penyakit Arvi hingga mereka tidak memberitahu yang sebenarnya siapa aku?" Batin Mila.


" Maafkan aku, Aku tidak bisa menepati janjiku padamu dulu untuk menemanimu sampai tua, Bahkan impian yang kita bayangkan harus musnah begitu saja." Ujar Arvi.


Ya dulu Mila dan Arvi memang menjalin hubungan dekat. Arvi berjanji jika Ia sudah mendapat gelarnya Ia akan kembali untuk menikahi Mila. Tapi sayang setelah Arvi pergi Mila kehilangan kontaknya sedangkan Arvi fokus mengejar cita citanya supaya Ia bisa segera bertemu dengan kekasih idamannya.


Penantian bertahun tahun Mila sia sia karna sampai Ia menikah dengan Imran tidak ada kabar apapun tentang Arvi. Ia berpikir jika Arvi sudah melupakannya.


" Sebelum aku pergi maukan kamu menikah denganku? Temani aku walau hanya sebentar saja, Aku akan sangat bahagia di sisa hidupku ada wanita yang aku cintai akan selalu menemaniku." Ujar Arvi.


" Kamu mau kan?" Tanya Arvi menatap Mila.


" A.... Aku...


TBC.....


*Mau nggak ya??????


Jangan lupa like dan komentnya.....


Makasih atas suport yang para readers berikan.


Miss U All*

__ADS_1


__ADS_2