Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Salah Paham Imran, Aroon dan Mila


__ADS_3

Mila sedang berbenah kamarnya, Ia ingin mengubah susunan barang barang di dalamnya. Tidak terlalu berat, Ia hanya mengerjakan yang ringan ringan saja seperti menata bunga di vas, menata hiasan di bufet dan semacamnya.


Ting


Ponsel Mila berbunyi tanda pesan masuk.


📲 081xxxxxxxx


Datanglah ke cafe xx, suamimu ada di sini bersama dengan wanita lain


" Nomer siapa ya? Ah jangan jangan orang iseng aja" Ujar Mila meletakkan ponselnya di atas nakas.


Ting


Ponsel Mila berbunyi lagi, Mila mengambil lagi ponselnya lalu membuka pesan yang ternyata kiriman foto.


Deg....


Jantung Mila berdetak kencang saat melihat foto yang menampakkan Imran sedang memeluk mesra seorang wanita. Hatinya perih melihat semua itu. Apakah Imran kembali membuat kesalahan lagi? Hati Mila bertanya tanya tanpa bisa menemukan jawabannya.


" Aku harus ke sana untuk memastikannya sendiri." Ujar Mila keluar kamarnya menuju mobilnya yang ada di garasi. Ia melajukan mobilnya sendiri menuju alamat Cafe yang ada pada ponselnya.


Di kantor Aroon mendapat telepon dari Fisa.


" Halo Fis ada apa?" Tanya Aroon setelah mengangkat panggilannya.


" Ar apa kamu bisa menggantikan aku menemui Mila?" Tanya Fisa.


" Mila kenapa?" Tanya Aroon.


" Tadi dia telepon memintaku menemaninya, tapi aku sibuk katanya Imran menyakiti Mila lagi, saat ini Mila sedang menuju cafe xx, kamu tidak perlu bilang kalau aku tidak bisa ke sana karna tadi aku sudah bilang sama Mila, apa kamu bisa Ar?" Tanya Fisa.


" OK aku akan kesana." Sahut Aroon mematikan ponselnya.


Fisa tersenyun lebar mendengar ucapan Aroon.


" Maafkan aku Mil, aku tahu kalau di antara kita tidak ada masalah, tapi aku harus melibatkanmu untuk memberikan Aroon pelajaran, jika nanti hubunganmu dengan Desfian renggang, aku yakin kalian pasti bisa bersatu lagi karna cinta kalian tidak selemah itu, aku sakit hati dengannya Mil, dia tidak bisa melupakanmu walaupun sudah ada diriku di sampingnya, aku cemburu denganmu Mil, aku membenci Aroon karna dia selalu menyakitiku, yang jelas aku harus membuat Aroon tersiksa dengan perasaannya sendiri... Maafkan aku Mila." Monolog Fisa tesenyum smirk.


Mila berjalan menuju cafe xx, Ia masuk ke dalam mengedarkan pandangannya mencari meja dimana suaminya berada, Sampai pandangannya menemukan Imran di pojokan sana, Ia menatap Imran yang sedang duduk berdua dengan seorang wanita yang Ia yakini wanita yang telepon kemarin. Hatinya mencelos kala melihat wanita itu mengusap bibir Imran menggunakan tisu. Merwka nampak seperti sepasang kekasih. Mila hendak menghampirinya tapi tiba tiba Aroon menarik tangannya keluar dari cafe.


" Pak Aroon." Lirih Mila.


" Ikut saja denganku kau tidak usah menghampiri mereka, kau akan sakit hati nanti, aku tidak mau sampai itu terjadi." Ucap Aroon membuka pintu mobilnya.


" Kita mau kemana?" Tanya Mila.


" Aku akan membawamu ke tempat yang indah." Sahut Aroon.


" Aku bawa mobil sendir Pak." Ujar Mila.


" Biar nanti orangku yang membawanya, kita naik mobilku saja, mana kuncinya." Ucap Aroon.


Mila memberikan kunci mobilnya kepada Aroon, Aroon berjalan menuju pos parkir untuk menitipkan kunci mobil Mila.


" Ayo masuk." Ucap Aroon.


Mila masuk ke dalam mobil Aroon, Ia duduk di samping kemudi. Aroon menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran cafe itu.


Imran keluar cafe menuju mobilnya, saat Ia hendak membuka pintu Ia melihat mobil Mila. Ia mengedarkan pandangannya mencari Mila tapi sepertinya tidak ada. Imran menghampiri pos parkir untuk bertanya.


" Pak apa bapak melihat pemilik mobil itu?" Tanya Imran menunjuk mobil Mila.


" Tadi orangnya buru buru pergi Pak bersama seorang pria, pria itu juga menitipkan kuncinya kepada saya." Sahut petugas parkir.


" Kemana perginya mereka Pak?" Tanya Imran.

__ADS_1


" Kalau soal itu saya tidak tahu Pak." Sahut petugas parkir itu.


" Makasih Pak." Ucap Imran kembali ke mobilnya.


" Mila buru buru pergi bersama seorang pria? Siapa pria itu dan kenapa Mila buru buru pergi dari sini? Apa mungkin karna dia melihatku ada di sini lalu dia mencoba menghindariku? Aku akan mencoba meneleponnya aja biar aku nggak negatif thinking." Ujar Imran.


Imran mencoba menelepon Mila, tapi nomernya tidak aktif.


" Kamu kemana sayang? Kamu pergi sama siapa?" Gumam Imran.


Imran melajukan mobilnya menuju kantornya kembali, Ia mencoba berpikir positif thinking.


Sedangkan di dalam mobil Aroon, Mila terus merenung memikirkan Imran dengan wanita itu.


" Tidak usah di pikirkan Mil, nanti kamu bisa sakit." Ujar Aroon.


" Iya Pak." Sahut Mila.


" Jangan panggil Pak donk kan kamu sudah bukan murid aku." Protes Aroon.


" Iya Kak." Sahut Mila.


" Nah gitu donk." Ujar Aroon.


Aroon melajukan mobilnya menuju taman wisata. Sesampainya di sana Ia memarkirkan mobilnya.


" Ayo turun." Ajak Aroon.


" Taman bunga." Gumam Mila.


" Iya, aku sengaja mengajakmu ke sini supaya kamu terhibur, kamu suka bunga kan?" Tanya Aroon.


" Suka Kak." Sahut Mila.


" Ya udah gih turun, hari ini aku akan menjadi kumbang dan kamu menjadi kupu kupu." Ujar Aroon.


Aroon berjalan berdampingan dengan Mila menuju pintu masuk. Setelah membeli karcis, mereka masuk ke dalam. Mila menatap hamparan bunga bunga yang ada di depan matanya. Ia begitu takjub melihat semuanya.


" Wow indah sekali..." Decak Mila.


" Kau suka?" Tanya Aroon.


" Sangat suka, terima kasih sudah membawaku ke sini, aku tidak tahu kalau ada taman seindah ini di sini." Ujar Mila.


" Lain kali kalau kamu lagi galau aku akan mengajakmu ke sini." Ujar Aroon.


" Ok deh.... Eh tapi bagaimana dengan Kak Fisa Kak?" Tanya Mila menatap Aroon.


" Dia yang menyuruhku untuk menghiburmu." Sahut Aroon.


" Menghiburku? Bagaimana Kak Fisa tahu kalau aku mengalami masalah?" Tanya Mila.


" Bukankah kamu yang memberitahunya?" Aroon balik bertanya.


" Tidak." Sahut Mila.


" Ah mungkin dia merasa sahabatnya dalam masalah jadi dia menyuruhku untuk menghiburmu." Ujar Aroon.


" Ah iya mungkin Kak, ayo kita jalan." sahut Mila.


Mereka kembali melanjutkan langkahnya, mereka mengitari berbagai macam blok tanaman bunga.Tanpa mereka sadari Imran menatapnya dari kejauhan.


Setelah mendapat pesan dari seseorang, Imran langsung menuju ke tempat itu. Tidak tahan melihat Aroon dan Mila yang saling melempar canda dan tawa, Imran menghampiri keduanya.


Imran menarik tubuh Aroon dan langsung...

__ADS_1


Bugh... Bugh....


Imran memukul wajah Aroon.


" Massss." Pekik Mila menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Bugh.... Bugh


Imran masih memukuli Aroon hingga wajah Aroon berlumuran darah. Para pengunjung lain mengerubungi mereka bertiga. Ada yang sambil berteriak.


" Mas Desfian hentikan, ku mohon hentikan Mas." Ucap Mila memeluk Imran dari belakang.


" Lepaskan aku! Aku akan memberinya pelajaran karna sudah berani mendekati istriku." Teriak Imran.


" Mas ku mohon jangan seperti ini, malu Mas di lihat banyak orang." Ucap Mila.


Imran mendorong tubuh Aroon ke tanah, Ia berbalik menatap Mila yang sedang menangis.


" Apa kamu bilang? Malu?" Tanya Imran penuh emosi.


" Apa kamu masih punya malu setelah tertangkap basah bersama laki laki lain Mila." Bentak Imran membuat Mila berjingkrak kaget. Mila menutup matanya untuk menetralkan jantungnya serta menahan malu karna Imran membentaknya di depan umum.


"Kenapa kamu diam? Kamu pikir aku tidak bisa menemukanmu di sini? Aku tidak menyangka kamu seperti ini Mila, apa kesalahan yang aku lakukan hingga kamu berbuat seperti ini di belakangku." Ujar Imran.


" Tutup mulutmu Imran." Teriak Aroon mencoba berdiri di depan Imran.


" Jangan pernah kamu merendahkan Mila di hadapan siapapun." Bentak Aroon.


" Wah... Kamu lihat? Bahkan pria yang sangat mencintaimu ini selalu membelamu Mila." Ujar Imran.


" Mas kamu salah paham, aku kesini karna aku...


" Aku tidak mau mendengarkan alasanmu Mila, aku kecewa sama kamu." Ucap Imran meninggalkan Mila dan Aroon.


" Mas tunggu." Teriak Mila mengejar Imran.


Karna saking emosinya, Imran mengabaikan Mila, Ia terus berjalan keluar menuju mobilnya. Mila terus berlari sampai saat di depan pintu masuk, Ia tidak menyadari jika lantainya licin karna baru di pel, tiba tiba....


Brugh....


" Awh." Pekik Mila.


" Mi... Laaaaa." Teriak Aroon berlari menghampiri Mila.


Imran yang hendak membuka pintu menoleh ke belakang karna mendengar teriakan Aroon. Jantungnya terasa berhenti berdetak melihat Mila terkapar di lantai.


" Mila kau tidak pa pa?" Tanya Aroon berjongkok di depan Mila dengan satu kaki sebagai tumpuannya.


" Kak sakit Kak... Perutku sakit banget." Lirih Mila.


Aroon menatap ke bawah.


" Mila kau berdarah." Pekik Aroon saat melihat darah dari sela sela kaki Mila.


Imran yang mendengar ucapan Aroon menatap ke bagian bawah Mila. Jantung Imran kembalu berdetak dengan cepat. Ia takut terjadi sesuatu dengan istri dan anaknya.


" Aku akan menuntut tempat ini jika sampai terjadi sesuatu dengan wanita yang aku cintai." Teriak Aroon tanpa sadar sambil mengangkat tubuh Mila.


Aroon berlari menuju mobilnya. Setelah mendudukkan Mila di samping kursi kemudi, Aroon segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat tanpa mempedulikan Imran. Imran merasa bersalah karna berhasil di kuasai emosinya.


" Maafkan aku sayang, aku terlalu emosi tadi hingga membuat aku melakukan hal di luar kendali, Ya Tuhan selamatkan anak dan istriku." Ujar Imran mengikuti mobil Aroon.


TBC....


Jangan lupa like dan komentnya...

__ADS_1


Author ucapkan terima kasih untuk para readers yang sudah mensuport author...


Miss U All...


__ADS_2