
Tubuh Sita terasa kaku tanpa bisa di gerakkan.
Air mata Sita lolos dari mata indahnya melihat pemandangan menyakitkan di depannya.
" Mas." Panggil Sita membuat Tiara dan Fahri menoleh ke arahnya.
" Sita." Ucap Fahri.
Fahri segera memakai bajunya begitupun dengan Tiara.
Sita berjalan mendekati Fahri. Ia menatap Fahri dengan tajam.
Plak....
Tamparan keras mendarat di pipi Fahri. Fahri menyentuh pipinya yang terasa perih.
" Apa ada yang ingin kamu jelaskan di sini Mas?" Tanya Sita.
" Tidak... Kamu sudah melihat semua kan? Jadi yah inilah aku dan Tiara." Ucap Fahri tersenyum smirk.
" Tega kamu Mas, hanya demi membuatku sakit hati kau bisa melakukan hal serendah ini." Bentak Sita.
" Aku tidak pernah menyangka jika pria sebaik dirimu melakukan hal sebejat ini, kau melakukan hubungan terlarang dengan wanita yang kau anggap sebagai sahabatmu sendiri, sungguh menjijikkan." Cebik Sita mengusap air matanya.
Sita berjalan menuju pintu keluar namun Ia menghentikan langkahnya. Sita menoleh ke belakang menatap Fahri begitupun sebaliknya.
" Aku berharap kau tidak akan pernah menyesali perbuatanmu ini Mas, terima kasih sudah menyadarkan aku seberapa tidak berharganya perasaan ini." Ucap Sita pergi meninggalkan ruangan Fahri dengan luka yang mendalam.
Fahri menatap kepergiannya dengan perasaan yang sulit di artikan.
" Kita harus menyelesaikan masalah ini." Ucap Fahri menatap Tiara.
...----------------...
Sita berlari menuju Adnan yang berdiri di depan mobilnya. Ia langsung menubruk tubuh Adnan membuat tubuh Adnan mematung.
" Hiks... Hiks.... Aku tidak kuat Adnan, aku tidak sanggup melanjutkan hubungan ini." Isak Sita di dalam pelukan Adnan.
Adnan membalas pelukan Sita. Ia mengelus kepala Sita dengan lembut membiarkan Sita mengeluarkan sesak di dadanya dan apa yang selama ini menjadi beban pikirannya.
" Aku tidak kuat menahan rasa sakit ini Nan, bawa aku pergi dari sini, aku tidak mau kembali ke rumahnya lagi, aku tidak mau hidup bersamanya lagi, dia mengkhianatiku dengan temannya sendiri Adnan, dia melakukan ini untuk balas dendam kepadaku, aku mohon bawa aku pergi Adnan, cukup sudah selama ini aku merasakan luka di dalam hatiku, bawa aku pergi." Ucap Sita.
" Sita tenanglah! Tenangkan dirimu dulu nanti aku akan membawamu pergi dari sini." Ucap Adnan melepas pelukannya.
Adnan mengusap air mata Sita.
" Jangan menangis! Kalau suamimu melihatnya dia akan semakin senang, sekarang berhenti menangis, ayo kita pergi dari sini." Ucap Adnan di balas anggukan kepala oleh Sita.
Adnan membukakan pintu mobil, Sita masuk ke dalam. Adnan segera melajukan mobilnya menuju rumahnya.
Tiga puluh menit Adnan sampai di kediamannya. Ia menggandeng tangan Sita masuk ke dalam.
__ADS_1
" Silahkan duduk." Ucap Adnan.
" Terima kasih." Sahut Sita.
Adnan ke dapur membuatkan minum untuk Sita. Sita mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah Adnan.
Rumah yang terlihat sangat rapi untuk ukuran pria seperti Adnan.
" Minumlah." Ucap Adnan memberikan segelas es coklat kepada Sita.
" Terima kasih." Sahut Sita menyesap es tersebut.
" Apa kau mau cerita kepadaku soal apa yang kau lihat di dalam ruangan suamimu?" Tanya Adnan menatap Sita.
" Dia sedang berbagi ranjang dengan wanita yang mengaku sebagai sahabatnya." Sahut Sita.
Seharusnya Sita tidak boleh mengatakan aib suaminya kepada orang lain. Tapi apalah daya Sita yang hanya manusia biasa. Ia butuh seseorang untuk menjadi teman curhatnya.
" Aku tidak menyangka dia setega itu kepadamu." Ujar Adnan.
" Ini semua salahku, awalnya aku yang membuat kesalahan kepadanya, dan saat ini dia hanya membalas dendam saja kepadaku, dia ingin aku merasakan seperti apa yang dia rasakan saat itu." Sahut Sita.
" Apa dia tidak mencintaimu? Apa pernikahan kalian karena terpaksa sehingga dia bisa melakukan hal itu? Karena jika dia mencintaimu pasti dia akan dengan mudah memaafkanmu." Ujar Adnan pelan.
" Iya... Dia mencintaiku sahabatku, tapi aku mengkhianatinya, aku membuat suamiku terjebak dalam pernikahan ini." Sahut Sita.
" Lalu apa wanita tadi kekasihnya?" Adnan kembali bertanya.
" Ah maaf, aku hanya memastikan saja, sebagai teman bukankah seharusnya aku membantumu keluar dari masalah ini." Ujar Adnan.
" Dia akan menikahi wanita itu, tapi dia tidak mau menceraikan aku." Ucap Sita.
" Apa?" Pekik Adnan.
" Ya.. Itulah kenyataan yang harus aku hadapi, aku harus menderita melihat mereka bahagia di depan mataku." Ucap Sita sedih.
" Aku tidak sanggup Nan jika harus hidup satu atap dengan mereka, aku ingin pergi jauh darinya, aku ingin melupakan perasaan cinta yang sangat menyakitkan ini hiks." Sita kembali terisak.
" Maafkan aku membuatmu menangis lagi." Ucap Adnan menarik Sita ke dalam pelukannya.
" Aku akan membantumu membalikkan keadaan Sita." Ujar Adnan.
Sita melepas pelukannya. Ia menatap Adnan sambil mengerutkan keningnya.
" Apa maksudmu Adnan?" Tanya Sita.
" Kamu harus jadi wanita kuat untuk bisa melawan suamimu, kau tidak perlu pergi dari rumah itu." Ujar Adnan.
" Lalu?" Tanya Sita.
Adnan memberitahu apa yang harus di lakukan Sita untuk melawan Fahri.
__ADS_1
" Aku yakin suamimu akan menyadari kesalahannya, dan semoga saja suamimu bisa membalas perasaanmu saat itu." Ucap Adnan.
" Kau benar, aku tidak harus menangisi nasibku, aku akan melakukan apa yang kau katakan, aku akan membalikkan keadaan dimana suatu hari nanti Mas Fahri yang akan mengejarku." Ucap Sita.
" Itu baru temanku." Ucap Adnan mengacak rambut Sita.
" Terima kasih kamu sudah menjadi teman baik untukku." Ucap Sita.
" Its ok." Sahut Adnan.
" Setelah aku kehilangan Kira, aku tidak punya teman lagi, aku hidup dalam kesendirian sampai aku bertemu dengan Neneknya Mas Fahri." Ujar Sita.
" Kau bisa memperbaiki hubunganmu dengan Kira." Ucap Adnan.
" Apakah mungkin kami bisa berteman seperti dulu lagi?" Tanya Sita.
" Kenapa tidak? Jika temanmu itu sudah menerima takdirnya dengan ikhlas, maka dia pasti akan menerimamu kembali sebagai temannya asalkan kamu bersungguh sungguh meminta maaf padanya." Sahut Adnan.
" Baiklah akan aku coba, terima kasih sekali lagi." Ucap Sita.
" Sama sama." Sahut Adnan.
" Kau akan bekerja di cafeku mulai besok." Ucap Adnan.
" Benarkah?" Tanya Sita girang.
" Iya, tapi aku tidak bisa menggajimu dengan gaji besar, kamu tahu kan kalau cafeku baru buka beberapa hari lalu." Ujar Adnan.
" Tidak masalah, yang terpenting aku bisa melupakan masalahku dengan bekerja di tempatmu." Sahut Sita.
" Baiklah mulai sekarang berarti kau adalah bosku." Sambung Sita.
" Bukan... Aku tetap akan menjadi temanmu sekarang ataupun nanti." Ucap Adnan.
" Terima kasih." Sahut Sita.
" Ya hanya akan menjadi teman selamanya, melihat betapa besar cintamu kepada suamimu membuatku yakin jika aku tidak akan pernah bisa menggantikan nama suamimu di dalam hatimu." Batin Adnan.
Mereka melanjutkan mengobrol sambil membahas tentang pekerjaan yang akan mereka jalani mulai besok pagi.
Sita nampak tenang dan sedikit melupakan masalahnya. Masalah yang Ia sendiri tidak tahu kapan akan berakhir.
Penasaran nggak nih apa yang akan di lakukan Sita?
Kalau masalah Tiara dan Fahri author simpen dulu ya biar menjadi misteri...
Tetap like koment dan votenya ya...
Author ucapkan terima kasih untuk readers yang telah mensuport author semoga sehat selalu....
Miss U All...
__ADS_1
TBC...