
Sembilan belas berlalu, Kini Babby Kira sudah tumbuh menjadi gadis cantik super ceria yang duduk di bangku SMA kelas dua belas ipa2. Setelah bersiap Ia turun ke bawah untuk sarapan.
" Pagi Mom, Dad." Sapa Kira mencium pipi Mommy dan Daddynya bergantian.
" Pagi sayang." Sahut Daddy Aroon.
Kira duduk di kursinya dan memulai sarapannya.
" Pagi ini Kak Zav nggak jemput kamu karna ada meeting pagi katanya, kamu naik taksi aja." Ucap Mommy Kinan menghentikan suapan Kira.
" Kok Kak Zav nggak telepon aku Mom." Ujar Kira.
" Udah tapi nggak kamu angkat, mungkin kamu sedang mandi tadi." Sahut Mommy Kinan.
" Owh... Aku juga belum buka ponsel si Mom." Sahut Kira.
" Mommy pesankan taksi ya." Ujar Mommy Kinan.
" Yah nggak usah Mom, aku mau pakai mobil sendiri aja Mom." Decak Kira.
" Nggak boleh! Bahaya kalau kamu nyetir sendiri, nanti kamu ngebut lagi." Sahut Mommy Kinan.
" Dad...." Rengek Kira menatap Daddynya dengan tatapan memohonnya.
" Baiklah kamu boleh pakai mobil sendiri tapi harus hati hati." Ujar Daddy Aroon.
" Makasih Daddyku yang paling tampan." Ucap Kira.
" Sama sama princesnya Daddy." Sahut Daddy Aroon.
" Mas kamu ini gimana sih orang aku melarangnya kamu malah mengijinkannya, jangan terlalu di manja biar jadi anak mandiri." Cebik Mommy Kinan.
" Mom aku mau belajar mandiri lhoh, buktinya aku mau berangkat sekolah naik mobil sendiri jadi nggak ketergantungan sama Kak Zav." Sahut Kira tak mau kalah.
Mommy Kinan menghela nafasnya. Anak gadisnya ini super pintar kalau melawan omongan orang tua.
" Dasar gadis keras kepala." Cibir Mommy Kinan.
" Daddy.... Mom nakal." Ucap Kira dengan nada manja.
" Udah udah kalian ini, anak sama Mama nggak ada akur akurnya." Ucap Daddy Aroon.
" Mommy duluan."
" Kira duluan." Sahut Kira dan Mommynya bersamaan.
Selalu seperti itu sejak Kira kecil. Entah mengapa Kira hanya mau patuh sama Daddynya saja. Pengambilan raport saja harus Daddynya yang mengambil. Ia akan mogok makan jika Mommynya yang mengambilkan.
" Kalian ini membuat Dad darah tinggi saja, Gimana nggak tambah tua Dadmu ini." Keluh Daddy Aroon.
" Kan Dad emang udah tua." Ucap Kira dan Mommynya bersamaan.
" Kalau mengejek Daddy kalian kompak sekali." Ucap Daddy Aroon.
" Ha ha ha." Tawa Kira.
" Ya udah Mom Dad, aku berangkat dulu." Ucap Kira menyalami kedua orang tuanya dengan takzim.
" Assalamu'alaikum." Ucap Kira.
" Wa'alaikumsallam." Sahut Mommy dan Daddynya bersamaan.
Kira masuk ke dalam mobilnya, Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesampainya di sekolah Ia memarkirkan mobilnya di parkiran khusus murid.
__ADS_1
" Kira...." Teriak Aira berlari menghampiri Kira yang baru saja keluar dari mobil. Aira besti Kira yang sering di sapa Ai.
" Apaan sih lo, kebiasaan deh teriak teriak gitu kaya' di hutan aja." Cebik Kira.
" Aduh Kira yang cantiknya nggak kira kira, cuek amat." Ucap Ai.
" Eh bentar deh, kemana kakak lo yang super tampan itu? Kok tumben nggak ngantar lo ke sekolah?" Tanya Ai.
" Dia lagi sibuk." Sahut Kira.
" Yah nggak dapat vitamin deh." Keluh Ai.
" Rasi mana?" Tanya Kira.
" Ada gue di sini, kenapa mesti nanyain Rasi sih." Ujar Ai cemberut.
" Lah kan lo udah nongol, ya gue tanya yang belum kelihatan lah." Sahut Kira.
" Kaya'nya Rasi belum berangkat deh." Sahut Ai.
" Tumben tuh anak jam segini belum datang, jangan jangan dia dalam masalah." Ujar Kira.
Kira mengambil ponsel di sakunya. Ia segera menelepon besti satunya yang bernama Rasita yang sering di sapa Rasi.
" Halo lo dimana?" Tanya Kira setelah Rasi mengangkat teleponnya.
" Gue lagi di bus, bentar lagi sampek." Sahut Rasi.
" OK gue tunggu di parkiran." Ucap Kira menutup panggilan teleponnya.
" Lagi dimana?" Tanya Ai.
" Bus." Sahut Kira.
" Pagi Pak, udah sarapan belum Pak?" Tanya Kira.
" Udah donk Neng." Sahut Pak Asep.
" Aku bantuin buang di tempat sampah Pak." Ucap Kira.
Ya Kira suka membantu Pak Asep membuang sampah dedaunan ke bak sampah terdekat. Kadang Ia membantu Pak Asep menyiram tanaman yang ada di sekitar kelasnya. Kira juga suka menanam bunga di taman dekat kelasnya. Ia tidak malu melakukan semua itu, Ia merasa kasihan dengan pekerjaan Pak Asep. Pekerjaan banyak dengan upah yang minim. Baginya antara pekerjaan dan tenaga yang di keluarkan tidak sebanding.
" Boleh Neng." Sahut Pak Asep sambil tersenyum.
Pak Asep hidup bersama satu putranya yang bekerja sebagai staff di perusahaan ternama. Kalau nggak salah sih di perusahaan Kakeknya.
" Ai bantuin donk, bengong aja." Ucap Kira.
" Ah iya." Sahut Ai.
Keduanya membantu Pak Asep sambil menunggu kedatangan Rasi.
" Ha ha ha.... Turun pangkat lo? Sekarang jadi tukang kebun sekolah, pekerjaan rendahan yang hanya bisa di lakukan oleh orang miskin, udah nggak mampu bonyok lo kasih uang jajan?" Cibir Dila musuh bebuyutan Kira.
Kira membawa ember berisi dedaunan kering sambil menghampiri Dila. Tiba tiba...
Brughhhhh
Kira menumpahkan ember sampah itu ke kepala Dila membuat semua orang yang melihatnya melongo membuka mulutnya.
" Arghhhh." Teriak Dila memunguti daun kering di rambutnya.
" Ups maaf." Ucap Kira menutup mulutnya.
__ADS_1
" Tapi kaya'nya pas ya, sampah ketemu sama mulut sampah." Ucap Kira menatap tajam ke arah Dila.
" Sialan lo." Umpat Dila.
" Kenapa? Nggak terima? Makanya punya mulut tuh di jaga, emang kenapa kalau gue bantuin Pak Asep? Masalah buat lo? Jangan mandang rendah orang ataupun pekerjaan orang lain! Kalau tidak ada Pak Asep sekolah kita akan banyak sampah bertebaran, apalagi sampah macam lo." Ucap Kira menunjuk wajah Dila.
" Ingat! Lo boleh hina gue tapi jangan pernah lo hina Pak Asep dan pekerjaannya, atau lo akan terima akibatnya." Ancam Kira.
Kira menubruk bahu Dila lalu pergi meninggalkan Dila di ikuti Ai di belakangnya. Rasi yang baru saja datang juga mengikutinya.
" Ahhhh sialan lo Kira, lo lihat aja gue akan membuat perhitungan ke lo." Teriak Dila membuat semua orang menatap remeh ke arahnya.
" Ngapain kalian lihat lihat? Mau gue aduin ke Papa gue... Bubar kalian semua." Ancam Dila menjauh dari sana.
Ya Dila merupakan anak kepala sekolah di SMA ini. Ia selalu berbuat semena mena kepada temannya dengan membawa jabatan Papanya. Tapi Ia tidak tahu kalau Papa Kiralah yang mempunyai yayasan ini.
" Ayah." Ucap Fahri menghampiri Ayahnya yang sedang duduk di bawah pohon palem.
" Fahri kamu tidak berangkat kerja?" Tanya Pak Asep.
" Tidak, hari ini aku free Yah." Sahut Fahri duduk di samping Ayahnya.
" Yah, siapa gadis yang tadi membela Ayah?" Tanya Fahri. Pak Asep menatap ke arah Fahri.
" Kenapa?" Bukannya menjawab Pak Asep malah balik bertanya.
" E.... e... A... Aku..." Gugup Fahri.
" Kamu suka?" Tanya Pak Asep.
" Ya.... Bisa di bilang gitu." Sahut Fahri.
" Namanya neng Kira, dia anak baik yang selalu membantu Ayah saat bekerja, tapi tidak ada yang tahu jika dia ternyata anak pemilik yayasan di sini." Terang Pak Asep.
" Yah anak sultan." Ujar Fahri.
" Emang kenapa kalau dia anak sultan? Nggak ada bedanya kan sama kamu." Ucap Pak Asep.
" Ya beda lah Yah, udah ah jangan bahas dia Yah, yang penting aku udah tahu namanya." Ucap Fahri.
" Kalau suka kejar atuh." Ucap Pak Asep.
" Apasih Yah." Sahut Fahri.
" Ayah istirahat aja, biar aku yang meneruskannya." Sambung Fahri.
Fahri melanjutkan pekerjaan Ayahnya sampai selesai. Fahri Almanaf, putra dari Pak Asep yang memiliki rupa yang sangat tampan. Orang orang bahkan tidak percaya kalau Fahri anak kandung Pak Asep.
Fahri senyum senyum sendiri kala menatap Kira yang sedang duduk di depan kelasnya. Entah mengapa hatinya berdesir, ada sesuatu yang menggelitik hatinya.
Babang Fahri ya... Maaf bang gue pinjem fotonya.....
Kira cantik ya... Maaf Neng gue pinjem fotonya...
Ada yang mau kasih tahu apa artinya itu sama Fahri nggak nih?
Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya...
Miss U All...
__ADS_1
TBC.....