Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Ke Rumah CalMer


__ADS_3

Mila masuk ke dalam mobilnya yang hendak di kemudikan Imran dengan bibir mengerucut. Sebenarnya Ia malas sekali jika harus satu mobil dengan Imran, Tapi Imran memaksa dengan alasan tidak membawa mobilnya.


" Jangan manyun gitu entar aku khilaf gimana? Hilang sudah keperawanan bibirmu." Kekeh Imran.


" Berani melakukan itu aku jotos kamu Pak." Sahut Mila mengacungkan kepalan tangannya.


" Sudah di bilang kalau di luar panggil Mas aja." Ujar Imran.


" Ini masih di lingkungan sekolah, Bapak nggak lihat kalau kita masih di parkiran." Sahut Mila.


Dan benar saja memang saat ini mereka masih di parkiran sekolah, Imran segera melajukan mobilnya meninggalkan pelataran sekolahan.


" Sekarang sudah di luar jadi panggil aku Mas." Ujar Imran.


" Sayangnya aku nggak mau tuh manggil kamu." Sinis Mila.


Imran menghela nafasnya. Ia tidak akan menang melawan Mila murid sekaligus tunangannya itu. Imran terus melajukan mobilnya menuju rumah kedua orang tuanya.


Drt... Drt... Ponsel Mila berdering, Ia melihat ID pemanggil.


" Halo Vic." Sapa Mila setelah mengangkat panggilannya, Imran melirik ke arah Mila yang sedang tersenyum manis.


" Lo dimana? Gue mau ajak jalan." Ucap Vicki.


" Yah gue nggak bisa sorry, Gue ada acara nih." Sahut Mila.


" Acara? Sama siapa? Pak Imran?" Tanya Vicki.


" Iya... Di suruh ke rumahnya, Sorry banget ya gue janji deh lain waktu pasti kita jalan bareng." Ucap Mila.


" Ok deh selamat ketemu calmer kalau gitu." Ujar Vicki.


" Calmer apaan? Nggak ya..." Sahut Mila.


" Eh entar malem aja gimana? Kita nonton." Sambung Mila.


" Nggak boleh." Sahut Imran.


" Kenapa? Suka suka aku donk." Ucap Mila tanpa menutup teleponnya.


" Kita itu udah mau nikah Mil, Jadi kamu nggak boleh dekat sama pria lain apalagi main bareng, Kamu nggak inget sama ucapan Papa kamu." Ujar Imran.


" Jangan pernah batasi pertemananku aku tidak suka, Dan ingat jangan pernah berani mengaturku atau aku akan membatalkan pernikahan ini." Ancam Mila sambil melirik Imran. Imran memilih diam cari aman saja.


" Hallo Vic nggak jadi deh males banget entar kena ceramah Bonyok." Ucap Mila kembali ke sambungan teleponnya.


" OK deh nggak papa... Dada bebeb sayang." Ucap Vicki.


" Da Say..." Mila menutup sambungan teleponnya.


" Kamu panggil dia apa?" Selidik Imran.


" Vicki." Sahut Mila singkat.


" Saat nutup telepon kamu panggil dia apa?" Tanya Imran.

__ADS_1


" Say.... Emang kenapa?" Mila balik bertanya.


" Apa maksudmu kamu memanggilnya Say di depan calon suami kamu?" Tanya Imran tidak suka.


" Kenapa? Baru calon kan? Belum jadi suami, Lagian posesif amat jadi orang, Belum juga jadi suami apalagi setelah nikah nanti jangan jangan aku hanya akan di kurung di kamar saja....Ih." Ujar Mila bergedik ngeri.


" Yang namanya pengantin baru pasti ngeram di kamar lah, Nggak mungkin kan kalau kita main di dapur." Seloroh Imran.


" Ha ha ha tapi aku tidak akan membiarkan pernikahan ini terjadi, Aku akan kabur saat pernikahan itu berlangsung." Ujar Mila.


" Kau akan sangat menyesal jika berani melakukan itu." Tekan Imran.


" Aku tidak akan pernah menyesali keputusanku." Sahut Mila.


Duk...


Mobil berhenti hampir membuat jidat Mila terpentok dashboard.


" Kenapa berhenti sih." Cebik Mila.


" Udah sampai." Sahut Imran turun dari mobil.


Mila mengedarkan pandangannya dan benar saja saat ini Ia berada di halaman rumah mewah milik kedua orang tua Imran. Jika rumah Imran sendiri berada di gang sebelum masuk ke rumah ini.


" Widihhhhh orang kaya... Kenapa dia hanya jadi seorang guru? Kenapa tidak bekerja di perusahaan saja seperti Papanya?" Monolog Mila.


Tuk tuk


Imran mengetuk kaca mobil karena Mila tidak juga turun dari mobilnya. Mila membuka pintu mobilnya lalu turun dari sana.


" Wa'alaikumsallam sayang." Sahut Mama Lina dari dalam.


" Eh kalian udah datang?" Tanya Mama Lina menghampiri keduanya. Keduanya menyalami tangan Mama Lina dengan takzim.


" Iya Tan" Sahut Mila.


" Kok Tante lagi... Mama donk kaya' Imran." Ujar Mama Lina.


" Maaf Ma belum terbiasa." Sahut Mila.


" Ma Imran ke kamar dulu mau ganti baju." Ujar Imran meninggalkan mereka berdua.


" Sini sayang Mama sedang masak." Ucap Mama Lina.


" Aku bantu Ma." Ucap Mila.


" Emang bisa masak?" Tanya Mama Lina sambil berjalan menuju dapur di ikuti oleh Mila.


" Sedikit Ma." Sahut Mila.


" Baiklah ayo kita buat makanan untuk makan siang." Ujar Mama Lina.


" Kok baru masak Ma padahal ini udah hampir jam satu, Emang biasanya makan siang jam berapa Ma?" Tanya Mila.


" Jam dua sayang nunggu Papanya Imran pulang." Sahut Mama Lina.

__ADS_1


Di dalam keluarga Imran biasanya pagi jam enam mereka hanya sarapan roti, Nanti jam sembilan baru makan pagi lalu jam dua makan siang, Kalau makan malam jam delapan.


Keduanya saling asyik menyiapkan masakan yang akan mereka masak.


" Akur banget." Ucap Imran duduk di meja makan.


Mila menoleh ke arah Imran, Ia begitu terpana melihat penampilan Imran yang jauh dari saat Ia mengajar. Dengan memakai celana jeans selutut dan kaos oblong biasa Imran terlihat sangat tampan.


" Aku tahu kalau aku tampan jangan terpesona begitu entar cinta." Ucap Imran menyadarkan Mila.


" Idih narsis." Sinis Mila.


"Bodoh kamu Mil... Kenapa bisa terkagum kagum sama penampilan guru killer itu sih." Gerutu Mila dalam hatinya.


" Emang bisa masak? Jangan salah nanti garan di kira gula lagi." Kekeh Imran dengan senyum mengejek.


" Asal tidak keliru dengan racun tikus jadi Bapak tidak akan mati atau sekedar keracunan." Sahut Mila membuat Mama Lina tersenyum.


" Ya jangan donk entar kalau aku mati kamu jadi janda sebelum menikah." Ujar Imran.


" Ya bagus donk jadi aku nggak perlu nikah sama guru killer kaya' Bapak." Ejek Mila.


" Eh gini gini gue banyak yang suka ya." Ujar Imran.


" Banyak yang suka nyatanya mau di jodohin itu berarti tandanya Bapak nggak laku." Sahut Mila.


" Bukan nggak laku tapi karna memang aku sukanya sama ka....." Ucapan Imran menggantung, Hampir saja Ia kelepasan.


" Sukanya sama Ka, Ka siapa?" Tanya Mila.


" Sama siapa ya? Nggak ada." Kilah Imran.


" Udah udah jangan berantem entar lama lama jadi cinta lho." Ujar Mama Lina.


" Nggak akan." Sahut Mila tanpa sadar.


" Nggak akan gimana?" Selidik Mama Lina.


" Eh.. Enggak Ma.." Sahut Mila menundukkan kepalanya.


" Ya udah kita lanjutin masaknya." Ujar Mama Lina.


Mama Lina dan Mila melanjutkan acara masaknya. Selesai memasak mereka menyajikannya di meja makan.


" Kalian sini dulu Mama mau memanggil Papa, Sepertinya Papamu sudah pulang." Ujar Mama berlalu dari sana.


" Aku nggak nyangka kamu bisa memgimbangi Mama memasak." Ucap Imran.


" Bapak pikir aku nggak bisa ngapa ngapain gitu? Aku hanya pintar mainan ponsel, Hura hura dan ngehabisin uang orang tua doank." Ucap Mila menatap Imran.


" Yah aku pikir begitu, Kan kamu sendiri kemarin yang bilang, Berarti kamu bohongin orang tuaku ya?" Tanya Imran.


" Eh??????"


TBC...

__ADS_1


Jangan lupa like dan koment di setiap babnya


__ADS_2