
Malam hari Kinan sudah bersiap untuk tidur, sedangkan Aroon masih membersihkan dirinya di dalam kamar mandi.
Tok tok tok
Pintu terbuka dari luar menampakkan Bi Siti yang datang membawa dua gelas susu hangat.
" Ini susunya Non, di minum sampai habis ya mumpung masih hangat." Ucap Bi Siti meletakkan nampannya di atas nakas.
" Terima kasih Bi." Sahut Kinan.
" Sama sama Non." Sahut Bi Siti.
Bi Siti keluar kamar dan menutup pintunya kembali.
" Semoga berhasil." Monolog Bi Siti.
" Bagaimana Bi? Apa mereka sudah meminumnya?" Tanya Papa Shiv.
" Belum Tuan, sepertinya Den Aroon sedang di kamar mandi.
" Semoga berhasil Bi." Ucap Papa Shiv.
" Iya Tuan." Sahut Bi Siti.
Bi Siti dan Papa Shiv meninggalkan kamar Aroon. Di dalam kamar Aroon baru saja keluar dari kamar mandi. Ia menghampiri Kinan di ranjangnya.
" Susunya Om di minum dulu." Ucap Kinan.
" Kamu yang buat?" Tanya Aroon.
" Bukan, tadi Bi Siti yang membawanya kemari." Sahut Kinan.
" Punya kamu di minum juga donk." Ucap Aroon.
" Iya Om." Sahut Kinan.
" Sayang jangan panggil Om donk, Mas ya." Ujar Aroon.
" Emmm belum terbiasa kaku lidahku rasanya." Ujar Kinan.
" Makanya di biasain donk."Ujar Aroon.
" Baiklah Mas." Sahut Kinan.
Aroon segera menghabiskan susunya begitupun dengan Kinan.
" Kamu tidur di sini ya Mas?" Tanya Kinan.
" Ya mau dimana lagi? Nggak mungkin kan Mas tidur di bawah bisa sakit semua badan Mas nanti." Jawab Aroon.
" Ya udah tapi jangan melewati batas ya." Sahut Kinan.
" Kamu tenang saja, Mas tidak akan menerkammu malam ini." Sahut Aroon.
Keduanya mulai masuk ke dalam selimut memejamkan matanya. Tiba tiba badan Aroon terasa panas. Ia terlihat begitu gelisah, Keringat mengucur di dahinya. Melihat itu Kinan menyandarkan punggungnya pada headboard.
" Mas kenapa sih? Kaya'nya gelisah amat, aku nggak bisa tidur kalau Mas gerak mulu tahu." Ujar Kinan.
Aroon menatap Kinan dengan tatapan lapar.
" Mas." Ucap Kinan menyentuh pundak Aroon. Aroon memejamkan matanya, ada sesuatu yang aneh dalam tubuhnya.
__ADS_1
" Mas." Kinan mengguncang pelan bahu Aroon.
" Jangan menyentuhku." Ucap Aroon.
" Kenapa Mas? Apa yang terjadi?" Tanya Kinan hendak menyentuh lengan Aroon.
" Aku bilang jangan sentuh." Bentak Aroon membuat tubuh Kinan berjingkrak kaget.
" Kau membentakku?" Lirih Kinan.
Aroon memejamkan matanya untuk menahan emosi dan gejolak di jiwanya.
" Sekarang keluarlah dari kamarku atau kalau tidak kau akan menyesal Kinan." Titah Aroon.
" Sebenarnya kau kenapa Om? Jika kamu tidak mau aku sentuh kenapa kamu menikahiku? Aneh sekali." Sahut Kinan kembali memanggil Aroon dengan sebutan Om.
" Jangan membantah Kinan, sekarang pergilah.. Pergilah Kinan." Bentak Aroon.
Hati Kinan mencelos, Ia turun dari ranjangnya lalu keluar kamarnya.
" Apa yang terjadi Non?" Tanya Bibi saat Kinan menutup pintunya.
" Entahlah Bi, Mas Aroon tiba tiba bersikap aneh." Ucap Kinan.
" Non bolehkah Bibi mengatakan sesuatu?" Tanya Bi Siti.
" Apa Bi?" Kinan balik bertanya.
" Emmm.... Maaf Non." Ucap Bi Siti.
" Maaf untuk apa Bi?" Tanya Kinan.
" Begini Non, saat tadi Bibi pergi ke pasar, Bibi bertemu dengan teman Bibi yang tahu kalau Den Aroon sudah menikah lagi." Terang Bi Siti.
" Em... Dia bertanya pada Bibi soal Den Aroon lalu Bibi menceritakannya dan dia memberikan serbuk obat kepada Bibi yang katanya obat tidur untuk Den Aroon supaya Den Aroon tidak meminta haknya malam ini Non, Dan Bibi menaruhnya di susu Den Aroon." Ujar Bi Siti.
" Maksud Bibi susu yang di minum Mas Aroon tadi ada obat tidurnya?" Tanya Kinan memastikan.
" Iya Non." Sahut Bi Siti.
" Kalau obat tidur kenapa Mas Aroon terlihat gelisah? Harusnya Ia tertidur lelap kan?" Tanya Kinan.
" Itu masalahnya Non, ternyata teman Bibi salah memberikan obat." Ucap Bi Siti.
" Obat apa yang di berikan kepada Mas Aroon Bi?" Tanya Kinan.
" Obat perangs*ng Non." Sahut Bi Siti.
" Apa? Bagaimana bisa Bibi ceroboh seperti ini Bi." Pekik Kinan.
" Maaf Non, Bibi nggak tahu." Ujar Bi Siti.
" Lalu bagaimana aku menghilangkan efeknya Bi?" Tanya Kinan cemas.
" Bibi nggak tahu Non." Sahut Bi Siti.
" Setahuku jika efeknya nggak hilang bisa membuat orang menjadi gila Bi, bagaimana ini?" Ujar Kinan mondar mandir di depan pintu sambil menggigit jarinya.
" Apa ini rencana Bibi? Tadi kan Bibi memintaku untuk memberikan hak Mas Aroon padanya?" Selidik Kinan.
" Tidak Non.... Bibi benar benar tidak tahu" Kilah Bi Siti.
__ADS_1
"Tidak salah maksudnya Non." Batin Bi Siti.
" Ya udah Bi aku akan mengatasinya." Ucap Kinan.
" Terima kasih Non." Sahut Bi Siti.
Kinan kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia menatap Aroon yang seperti cacing kepanasan. Bahkan Aroon hanya memakai boxer pendeknya saja. Kinan mendekati Aroon di tepi ranjang.
" Mas." Ucap Kinan.
Aroon menatap Kinan dengan mata berkabut gairah.
" Tidak Kinan... Jangan kemari! Ku mohon pergilah sekarang juga, tinggalkan aku semalam saja... Aku sedang tersiksa saat ini Kinan... Pergilah." Lirih Aroon.
" Mas rendam tubuhmu supaya efeknya hilang Mas." Ucap Kinan.
" Airnya mati Kinan, mungkin ada pemadaman pdam, sekarang pergilah.. Mas bisa mengatasinya." Sahut Aroon.
Kinan menatap Aroon tidak tega, bagaimanapun Aroon suaminya yang berhak atas dirinya. Tapi Ia juga takut, Ia tidak mau menyerahkan dirinya pada orang yang tidak di cintainya. Lalu Kinan harus bagaimana?
Kinan teringat kata Papanya.
" Kinan jika nanti Aroon menginginkanmu, kamu harus memberikan haknya, Papa tidak mau menanggung dosa karna tidak bisa menjadikanmu istri yang baik untuk suamimu Nak, jangan sampai orang bilang kamu menjadi seperti ini karna kamu tidak punya Mama dan Papa tidak bisa mendidikmu dengan baik, percayalah jika semua itu pahala bagimu Nak, apa kamu mengerti ucapan Papa? Didikan Papa di dipertaruhkan di sini Nak."
Kinan mendekati Aroon. Ia kembali menyentuh bahu Aroon membuat Aroon kaget menatapnya.
" Kalau kamu tidak mau pergi, jangan salahkan aku kalau aku berbuat sesuatu kepadamu." Tekan Aroon.
Kinan duduk di depan Aroon. Ia menatap wajah Aroon yang nampak begitu tampan menurutnya. Kinan menangkup wajah Aroon dan memajukan wajahnya, tangan satunya menyusup ke belakang leher Aroon. Aroon menatap heran ke arahnya.
" Kamu pasti bisa Kinan, bantu suamimu melewati malam ini jika kamu tidak ingin menyesal." Batin Kinan menyemangati dirinya sendiri.
" Sayang." Lirih Aroon.
Cup...
Kinan mengecup bibir Aroon, Aroon membulatkan matanya tak percaya.
"Sayang???" Ucap Aroon.
" Lakukanlah Mas!" Ujar Kinan.
" Tidak sayang, Mas tidak bisa melakukannya karna Mas tahu kamu terpaksa melakukannya." Ujar Aroon.
" Tidak Mas, aku melakukannya dengan ikhlas, ini semua hakmu Mas." Sahut Kinan.
" Kau tidak akan menyesal?" Tanya Aroon menahan hasratnya.
" Aku tidak pernah menyesali apa yang sudah aku lakukan Mas." Sahut Kinan mematikan lampunya.
" Baiklah akan Mas lakukan." Sahut Aroon.
Aroon mendorong tubuh Kinan di atas ranjang. Ia mencium bibir Kinan dengan lembut. Kinan memejamkan matanya sambil sedikit membuka mulutnya. Aroon mengekspos setiap inchinya. Keduanya sama sama menikmati manisnya ciuman yang Aroon ciptakan. Kinan terbuai dengan sentuhan sentuhan yang Aroon berikan kepadanya.
Ciuman Aroon turun ke leher, Ia meninggalkan banyak jejak di sana membuat Kinan mendesis.Tanpa mereka sadari keduanya sudah sama sama polos.
" Mas datang sayang." Ucap Aroon. Kinan menganggukkan kepalanya.
Aroon mulai memasuki pintu goa dengan perlahan. Kinan mencengkram erat sprei sambil menggigit bibir bawahnya agar tidak berteriak karna rasa sakit yang saat ini Ia rasakan. Aroon memanjakan tubuh Kinan dengan penuh kelembutan. Keduanya benar benar terbang ke atas nirwana merajut kebahagiaan surga dunia.
Setelah beberapa waktu akhirnya Aroon menyelesaikan permainannya.
__ADS_1
" Terima kasih sayang." Ucap Aroon mencium kening Kinan. Aroon membaringkan tubuhnya di samping istri tercintanya. Ia benar benar bahagia ternyata di balik musibah yang menimpa dirinya ada hikmah yang luar biasa.
TBC...