
Author kasih cerita Aroon dan Fisa dulu ya.... Biarkan Imran sama Mila menikmati moment bahagianya dulu.
Jangan lupa like dan komentnya ya...
Miss U All...
...****************...
Fisa masuk ke dalam kamarnya. Ia melihat Aroon yang sedang duduk di tepi ranjang namun Ia tidak menghiraukannya. Ia berjalan ke arah almari pakaiannya.
" Darimana saja kamu malam malam begini baru pulang?" Tanya Aroon menatap Fisa dengan tatapan menyelidik.
" Peduli apa kamu denganku? Suka suka aku mau kemana dan dengan siapa aku pergi bukan urusanmu." Sahut Fisa mengambil baju di almarinya.
" Aku suamimu jadi aku berhak tahu apa yang kamu lakukan di luar sana." Ujar Aroon.
Fisa berdiri di depan Aroon sambil menatapnya.
" Aku pergi jalan jalan dengan Daren, puas?" Sahut Fisa hendak masuk ke kamar mandi tapi Aroon mencekal tangannya.
" Siapa Daren?" Tanya Aroon.
" Temanku, kenapa? Apa aku juga harus menceritakan teman yang mana, dimana rumahnya, apa saja yang aku lakukan dengannya, dan bagaimana aku bisa bertemu dengannya begitu?" Ujar Fisa.
" Bersikaplah seperti biasanya." Sahut Fisa menyentak kasar tangan Aroon. Ia masuk ke dalam kamar mandi.
Aroon kembali duduk di tepi ranjang.
" Daren???? Siapa dia? Apa Fisa selingkuh dariku? Ah tidak mungkin, bukankah dia begitu mencintaiku? Atau mungkin luka di hatinya mampu menghapus rasa cintanya padaku? Tidak.... Tidak... Apapun yang aku lakukan padanya dia akan tetap mencintaiku." Monolog Aroon.
Hati Aroon merasa terusik dengan nama pria lain yang mendekati istrinya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menatap langit langit kamarnya sambil berpikir sikap apa yang akan Ia ambil kedepannya.
Ceklek...
Fisa membuka pintu kamar mandi, Ia keluar dari sana, Aroon menatap ke arah Fisa dengan tatapan yang sukar Ia jelaskan. Fisa mendekati ranjang lalu mengambil bantal dan selimut.
" Mau kemana?" Tanya Aroon menatap Fisa yang hendak berjalan menuju sofa.
" Sofa." Sahut Fisa.
" Tidur di sini saja, kita suami istri jadi jangan bersikap seperti orang asing." Ujar Aroon.
" Apa kamu mau tidur denganku?" Tanya Fisa.
" Lha memang kenapa? Kamu istriku sudah semestinya kan suami istri tidur bersama, sekarang naiklah kita tidur sudah malam aku juga sudah capek." Ujar Aroon.
Fisa menghela nafasnya, Ia naik ke atas ranjang lalu membaringkan tubuhnya di samping Aroon. Ia menutupi tubuhnya dengan selimut di atas dada. Fisa memejamkan matanya menuju alam mimpi. Aroon memiringkan tubuhnya menghadap Fisa. Ia pandangi wajah istri di depannya.
" Kamu cantik juga ternyata." Lirih Aroon mengelus pelan pipi Fisa.
" Tidurlah sayang lupakan masalah kita hari ini, aku berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu." Ujar Aroon mencium kening Fisa.
" Percuma kamu menjadi suami yang baik jika hatimu masih milik orang lain Ar, aku akan mencoba untuk bertahan di sisimu tapi jika tiba saatnya aku menyerah jangan pernah halangi aku." Batin Fisa yang sebelumnya belum tidur.
__ADS_1
Pagi hari Fisa mengerjapkan matanya, Ia menatap tangan kekar yang memeluk perutnya. Senyum mengembang di bibirnya tapi sesaat kemudian Ia tersenyum kecut mentertawakan nasibnya sendiri. Fisa memang memiliki raga Aroon tapi jiwa Aroon pergi bersama Mila. Fisa hanya bisa berharap suatu saat jiwa Aroon akan kembali dan mendekat padanya.
Fisa menyingkirkan tangan Aroon dengan pelan, tiba tiba Aroon mempererat pelukannya.
" Biarkan seperti ini sayang." Lirih Aroon. Fisa tersenyum mendengar ucapan Aroon.
" Sekarang tidur lagi, mau ngapain bangun pagi pagi." Ucap Aroon.
" Mau menyiapkan sarapanlah emang mau ngapain lagi, lepas aku mau mandi dulu." Ujar Fisa.
" Ada art yang sudah menyiapkan semuanya." Ucap Aroon.
" Yang jelas aku mau bangun." Sahut Fisa.
" Kamu ini gimana sih? Bukannya seneng di sayang sayang malah mau kabur." Ucap Aroon.
" Percuma aku di sayang kalau kasih sayang itu palsu, minggir." Ucap Fisa mendorong tubuh Aroon.
Fisa turun dari ranjang, Ia berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. Setelah itu Ia turun ke bawah menuju dapur membantu Bi Ina menyiapkan sarapan.
" Pagi Bi." Sapa Fisa.
" Eh Non Tafisa, pagi Non." Sahut Bi Ina.
" Hari ini mau masak apa Bi?" Tanya Fisa.
" Masak ayam kecap aja Non buat sarapan." Sahut Bi Ina.
" Aku bantu ya Bi." Ucap Fisa mulai membantu Bi Inah.
Di tempat lain tepatnya di rumah Imran, Mila baru saja menyiapkan perlengkapan kantor suaminya. Ia menghampiri Imran yang masih setia bergelung di dalam selimut.
" Mas Des bangun." Ucap Mila mengguncang pelan bahu Imran.
" Hmm." Gumam Imran.
" Bangun Mas udah pagi, mandi dulu lalu sarapan." Ucap Mila.
" Iya sayang bentar lagi." Sahut Imran.
" Aku mau ke bawah lhoh Mas, nanti kalau kamu kesiangan aku nggak tanggung jawab ya." Ujar Mila.
" Iya sayang Mas bangun nih." Sahut Imran beranjak duduk bersila di atas ranjang.
" Mandi gih baju gantinya udah aku siapin." Ucap Mila.
" Bi Inem udah datang belum?" Tanya Imran menanyakan art baru yang akan membantu Mila.
" Udah dari tadi Mas, bahkan udah selesai masak dianya." Sahut Mila.
" Mulai hari ini kamu nggak boleh ngapa ngapain, kamu harus banyak banyak istirahat biar dedeknya sehat." Ucap Imran.
" Iya Mas tenang saja, aku dan dedeknya sehat kok." Sahut Mila mengelus perutnya yang mulai membuncit.
__ADS_1
" Anak Daddy sayang, sehat sehat di dalam ya.. Daddy udah nggak sabar nunggu kamu lahir." Ucap Imran menempelkan telinganya ke perut Mila.
" Iya Daddy." Sahut Mila menirukan suara anak kecil.
" Jangan buat Mommy kesakitan apalagi kecapekan ya.." Ujar Imran.
" Kamu ini Mas, udah ah mandi dulu sana nanti kamu terlambat lagi ke kantornya." Ucap Mila.
" Morning kiss dulu." Ucap Imran menunjuk pipinya.
Mmuuaahhh
Mila mengecup pipi Imran dengan menekan bibirnya ke pipi Imran.
" Nafsu amat Yank." Ucap Imran.
" Biar nggak hilang." Sahut Mila enteng.
" Jangan turun dulu tunggu Mas mandi yah." Ucap Imran.
" Gak pake lama." Sahut Mila.
" Siap." Sahut Imran.
Imran masuk ke dalam kamar mandi, lima belas menit kemudian Ia keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk yang menutupi bagian bawahnya saja. Ia berjalan menuju walk in closet untuk berganti pakaian.
" Sayang pakein dasinya donk." Ucap Imran menyodorkan dasi kepada Mila.
" Manja." Ucap Mila.
Mila membantu Imran memasangkan dasinya. Imran menatap wajah cantik istri tercintanya.
" Kamu cantik Yank." Ucap Imran.
" Dari dulu." Sahut Mila.
" Iya makanya aku terpesona denganmu dan selalu ingin memilikimu dari dulu." Ujar Imran.
" Giliran udah jadi milikmu kamu sia siain." Sahut Mila.
" Maafkan Mas yang pernah menyakiti hatimu sayang, tapi Mas janji mulai sekarang Mas akan selalu membuatmu bahagia." Ujar Imran menggenggam tangan Mila.
" Aku percaya padamu Mas, jangan sia siakan aku lagi, kita akan hidup bahagia bersama anak anak kita nanti." Ucap Mila.
" Tentu sayang." Sahut Imran memeluk Mila.
TBC.....
*Jangan lupa like dan komentnya...
Ada yang masih mau baca kelanjutanna nggak sih? Kalau udah pada bosan author tamatin...
Jawab di kolom komentar ya...
__ADS_1
Miss U All*...