
Setelah teman teman Imran pulang, Mila kembali ke kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang bersandar pada headboard sambil bermain ponselnya. Imran masuk ke kamar menghampirinya.
" Makasih udah mau nemuin teman temanku sayang." Ujar Imran.
" Hmm." Gumam Mila masih sibuk dengan ponselnya.
" Mama barusan telepon, Mama menyediakan tiket bulan madu untuk kita berdua ke pulau B." Ucap Imran.
" Aku nggak mau buang aja." Sahut Mila.
" Tidak bisa sayang, Nanti Mama akan sangat kecewa pada kita, Kita berangkat saja walau di sana tidak melakukan apa apa, Itung itung kita liburan." Ujar Imran.
" Aku nggak mau Mas ih jangan maksa, Nggak nyaman aku pergi berdua sama kamu." Ketus Mila.
" Lalu harus gimana sayang? Aku tidak mau membuat Mama kecewa sayang." Ujar Imran.
" Kamu sama Mbak Hena saja." Sahut Mila.
Imran melongo menatap ke arah Mila. Bagaimana bisa Ia menyuruh Imran bulan madu dengan Hena padahal mereka yang pengantin baru.
" Sayang.... Yang pengantin baru itu kita lhoh, Kenapa aku sama Hena yang bulan madu? Jangan aneh aneh kamu ini, Pokoknya mau tidak mau kamu harus ikut titik tidak ada kata penolakan." Tekan Imran.
" Aku sekolah Pak Des, Gimana sih." Cebik Mila.
" Mas... Jangan panggil Pak aku bukan gurumu tapi suamimu." Protes Imran.
" Baiklah Mas Des sayang aku katakan padamu, Aku tidak mau pergi bulan madu denganmu, TITIK." Ucap Mila.
Nyesssss
Hati Imran terasa dingin seperti tersiram salju mendengar Mila mengucapkan kata sayang. Ha ha ha dasar bucin.
" Aku suka dengan panggilanmu memanggil aku sayang." Ujar Imran.
" Bodo' lah aku ngantuk mau tidur jangan ganggu aku." Ucap Mila.
" Oh ya kenapa kamu tidak tidur di kamar Mbak Hena? Semalam udah tidur di sini kan?" Tanya Mila.
" Terserah aku donk mau tidur di mana, Semalem kamu juga udah janji nggak akan nglarang aku tidur di sini." Sahut Imran.
" Terserah kamu sajalah tapi ingat jangan macam macam atau aku akan buat perhitungan denganmu." Ancam Mila.
Mila menata tumpukan bantal dan guling di tengah tengah mereka sampai tinggi. Entah Mila dapat darimana bantal sebanyak itu.
" Jangan melewati batas ini, Awas kalau melanggar akan aku hukum besok pagi." Ucap Mila menyembunyikan tubuhnya ke dalam selimut.
" Sayang jangan tidur dulu, Kita bahas soal bulan madu dulu." Ujar Imran, Mila tidak bergeming.
" Mila sayang.... Jangan pura pura tidak dengar ucapanku ya, Aku tahu kalau kamu belum tidur." Ucap Imran.
Tidak ada sahutan, Mila sudah terbang ke alam mimpinya. Imran menghela nafasnya lalu Ia ikut tidur di samping Mila.
Mila mengerjapkan matanya, Ia merasa perutnya berat seperti tertindih sesuatu, Ia menatap tangan yang melingkar pada perutnya. Mila menyentak kasar tangan itu membuat si pemilik kaget.
" Apaan sih Yank." Ujar Imran duduk bersandar pada headboard sambil mengucek matanya.
" Apaan apaan, Ngapain pakai peluk peluk segala? Kan udah gue bilang jangan melewati batas, Curi curi kesempatan aja." Cebik Mila.
" Hei lihat! Aku tidak melewati batas Yank cuma bantalnya aja yang jatuh ke bawah, Kamu rusuh kali boboknya." Sahut Imran.
Mila mencari cari bantal yang semalam Ia susun tapi ternyata bantal itu sudah berserakan di bawah lantai. Imran menyembunyikan senyumnya menatap wajah Mila yang sedang cemberut. Ia teringat saat Ia membuang semua bantal bantal itu ke lantai lalu diam diam tidur memeluk Kia dari belakang, Pikirnya Ia akan bangun sebelum Mila bangun tapi nyatanya Ia seperti maling yang ketahuan, Jadi sebisa mungkin donk beralibi.
" Kenapa? Mau nyalahin aku?" Tanya Imran.
__ADS_1
" Ya kamu tetap salah lah, Orang kamu meluk meluk aku, Udah aku bilang jangan pernah sentuh aku karena aku tidak mau di sentuh sama suami orang bandel banget sih." Gerutu Mila.
" Orang kamunya juga nggak nolak kok aku peluk, Kamu nyaman kan tidur dalam pelukan aku? Buktinya pules banget sampai pagi nggak terjaga." Ujar Imran.
Mila merasa apa yang di katakan Imran benar adanya, Entah mengapa dia begitu nyaman tidur dalam pelukan Imran. Mila turun dari ranjang berjalan menuju kamar mandi.
" Mau kemana Yank?" Teriak Imran.
Brak.....
Mila menutup kasar pintu kamar mandi membuat Imran kaget, Imran menggelengkan kepalanya.
Dua puluh menit kemudian Mila sudah bersiap dengan seragam sekolahnya.
" Mau sekolah?" Tanya Imran.
" Ya iyalah emang mau kemana lagi?" Bukannya menjawab Mila justru balik bertanya.
" Kamu lupa kalau pagi ini kita harus terbang ke Pulau B?" Tanya Imran.
" Mau apa?" Selidik Mila.
" Honeymoon sayang." Sahut Imran.
" What? Honeymoon? Kan udah aku bilang kalau aku nggak mau Pak." Kesal Mila.
" Mas... Aku dan kamu tidak bisa menolak karena Mama yang sudah mengatur semuanya, Bahkan Mama sudah meminta ijin kepada kepala sekolah selama satu minggu." Jelas Imran.
Mila menghela nafasnya lalu duduk di tepi ranjang.
" Selalu begini... Selalu saja semuanya memaksakan kehendaknya padaku, Tidak ada yang menanyakan keinginanku." Gerutu Mila.
" Lagian kenapa sih kamu nggak bilang sama mereka soal pernikahanmu dengan Mbak Hena, Setidaknya ini dapat membantuku." Sambung Mila.
" Kenapa? Kalau kalian saling mencintai harusnya kalian sama sama berjuang mendapat restu dari Papa Romi sama Mama Mila, Aku yakin mereka pasti akan mengerti." Ujar Mila.
" Tidak akan Mil, Mereka bersikeras menjodohkan aku padamu." Sahut Imran.
" Heh ternyata kau pecundang juga, Kau tidak bisa memperjuangkan seseorang yang kamu cintai, Lalu sampai kapan kita akan hidup begini? Akhirilah semua ini dengan damai, Kalau tidak maka aku yang akan mengakhirinya dengan caraku sendiri." Ucap Mila.
" Apa maksudmu?" Selidik Imran memegang kedua bahu Mila.
" Tidak apa." Sahut Mila.
" Katakan apa maksudmu bicara seperti itu? Apa kamu tetap mau berpisah dariku?" Tanya Imran.
" Tidak ada... Lakukan sesuka hatimu aku hanya menurut saja." Ujar Mila.
" Kalau begitu segera bersiap kita akan segera berangkat, Penerbangan dua jam lagi." Ucap Imran.
" Ya ya ya." Sahut Mila.
" Sabar sebentar lagi Mila.... Kau akan terbebas dari kemelut pernikahan ini." Batin Mila menyemangati dirinya sendiri.
Mila masuk ke dalam ruang ganti untuk mengganti seragamnya dengan baju casualnya.
" Tidak usah packing karena Mama udah nyiapin baju baju untuk kita selama di sana." Ucap Imran.
" ok baiklah, Kebetulan juga biar aku tidak susah jika harus bawa bawa koper juga." Sahut Mila.
" Ayo kita sarapan dulu, Hena sudah menyiapkannya untuk kita." Ajak Imran.
" Apa Mas Des tidak mau cari art saja? Kan kasihan sama Mbak Henanya kalau harus ngurusin kita berdua." Ujar Mila membuat Imran tersenyum dengan perhatian Mila kepada Hena.
__ADS_1
" Iya... Besok Mas akan mencarinya, Kasihan Hena juga dia lagi sakit." Sahut Imran.
" Begitu lebih baik." Ucap Mila.
Keduanya turun ke bawah menuju meja makan dimana di sana sudah ada Hena.
" Pagi Hen." Sapa Imran.
" Pagi Ran." Sahut Hena.
" Masak apa hari ini Mbak? Maaf ya nggak bantuin." Ujar Mila.
" Makanan kesukaan Imran." Sahut Hena. Mila hanya menganggukkan kepalanya saja.
Ketiganya makan dengan khidmat.
" Mbak aku sama Mas Imran mau pergi bulan madu." Ucap Mila tiba tiba.
Uhuk.... Uhuk.... Uhuk....
Hena tersedak makanannya sendiri, Imran segera memberinya minuman.
" Minum dulu." Ucap Imran mengelus punggung Hena.
Hena meminumnya hingga tandas.
" Makasih." Ucap Hena.
Melihat perhatian Imran kepada Hena entah mengapa Mila merasa tidak suka. Ada sesuatu yang menusuk hatinya.
" Why Mila? Perasaan apa yang sedang kau rasakan saat ini? Jangan Mila.... Jangan sampai kamu mempunyai perasaan dengan Pak Des, Kamu tidak bisa menghancurkan pernikahan mereka, Kamu tidak boleh merebut kebahagiaan wanita lain.. Sadar Mila." Batin Mila
" Lain kali hati hati, Apa kamu sudah minum obatnya?" Tanya Imran pada Hena.
"Sudah... Jika aku tidak minum obatnya bagaimana bisa aku sehat begini, Kamu ini ada ada aja." Kekeh Hena.
" Kamu sakit Mbak? Sakit apa?" Tanya Mila.
" Kanker otak stadium tiga sayang." Sahut Imran.
" Kanker otak? Sudah stadium tiga?" Tanya Mila memastikan.
" Iya." Sahut Imran.
"Sakit kanker otak kok nggak kelihatan seperti orang penyakitan? Apa mungkin Mbak Hena berbohong? Tapi untuk apa dia berbohong?" Tanya Mila dalam hati.
" Mbak biasanya kalau orang mengidap kanker otak apalagi stadium tiga itu nggak akan sesehat Mbak Hena lhoh, Bahkan biasanya pasien akan sering mimisan, Kok aku lihatnya beda ya?" Tanya Mila menatap Hena dengan tatapan menyelidik.
" A... Aku sering mimisan kok, Tapi aku selalu bersembunyi di kamar, Aku tida mau membuat Imran sedih itu aja." Ujar Hena.
" Oh... Ya udah Mas ayo kita berangkat, Aku pengin mampir ke suatu tempat dulu." Ujar Mila.
" Baiklah sayang apapun untukmu, Hen aku pergi dulu jaga diri di rumah, Sebentar lagi Bi Sri akan datang kemari menemanimu." Ucap Imran.
" Baiklah hati hati, Bawa kabar baik setelah kalian pulang dari sana." Ucap Hena.
" Bye Mbak... Assalamu'alaikum." Ucap Mila.
" Wa'alaikumsallam." Sahut Mila.
Mila dan Imran pergi menggunakan mobilnya menuju bandara. Entah apa yang akan mereka berdua lakukan di selama di sana yang jelas Mila hanya menganggap semua ini liburan untuk memanjakan matanya saja.
TBC....
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentnya....