Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
4. Bertemu Fahri Almanaf


__ADS_3

" Yah aku harus berjuang... Aku akan berjuang, semangat Kira kau pasti bisa." Ucap Kira menyemangati dirinya sendiri.


" Semangat untuk apa?"


Kira menoleh ke samping yang ternyata ada manusia yang duduk di sebelahnya tanpa Ia sadari.


" Siapa?" Tanya Kira menatap pria di sebelahnya.


" Kenalin aku Fahri." Ucap Fahri mengulurkan tangannya.


" Fahri siapa?" Tanya Kira. Fahri menarik kembali tangannya.


" Kalau aku jujur siapa aku, apa kamu mau berteman denganku?" Tanya Fahri.


" Apa maksudmu?" Kira balik bertanya.


" Aku bukan orang kaya sepertimu." Ucap Fahri.


Kira menoleh ke arah Fahri. Ia menatap penampilan Fahri dari sepatu, celana dan kemeja yang Ia pakai. Mirip orang kaya, pikir Kira.


" Kenapa menatapku begitu?" Tanya Fahri.


" Maksud lo bilang kaya' gitu karna lo berpikir kalau gue cari temen milih milih gitu? Gue nggak peduli dia orang kaya atau miskin yang penting baik buat di ajak berteman, bukankah lebih banyak teman akan lebih baik daripada banyak musuh?" Ujar Kira membuat Fahri tersenyum.


" Aku Fahri anaknya Pak Asep." Sahut Fahri.


" Pak Asep? Pak Asep tukang kebun di sekolah gue?" Tanya Kira memastikan.


" Iya." Sahut Fahri.


" Ah masa' sih? Kalau di lihat kok nggak ada mirip miripnya ya." Ujar Kira menyentuh pipi Fahri.


Jantung Fahri berdetak sangat kencang. Ada sesuatu yang berdesir dalam hatinya.


" Eh maaf." Ucap Kira.


" Its OK." Sahut Fahri.


" Aku pernah melihatmu saat kamu membela ayahku dari temanmu waktu itu." Ucap Fahri.


" Gue kok nggak lihat Lo." Ujar Kira.


" Kerja dimana?" Tanya Kira.


" Di perusahaan AA group." Sahut Fahri.


" Bagian apa?" Kira kembali bertanya.


" Manager marketing." Sahut Fahri.


" Wah hebat donk." Sanjung Kira.


" Hanya jabatan biasa." Ujar Fahri.


" Aku tidak memuji jabatanmu, tapi aku memuji kemampuanmu dalam bidang itu." Ujar Kira.


" Owh... Terima kasih atas pujianmu." Ucap Fahri.


" Berarti kamu pandai bicara donk, secara dalam bidang marketing kan harus pintar menawarkan barang dan jasa kan." Ujar Kira.


" Tidak juga semua itu akan dilakukan oleh anak buahku." Sahut Fahri.


" Ah iya juga ya, kau hanya memikirkan strateginya saja." Ucap Kira.


" By the way kamu kenapa di sini sendiri? Mana hampir gelap lagi, gimana kalau kamu di culik." Ucap Fahri.


Kira menghela nafasnya. Baru saja Ia melupakan sedikit kegalauannya sekarang malah Fahri mengingatkannya.

__ADS_1


" Aku sedang kesal dengan seseorang." Sahut Kira.


" Kesal? Kenapa? Tanya Fahri. Kira menatap ke arah Fahri membuat Fahri sedikit gugup.


"Maaf bukan maksudku mencampuri urusanmu, mau aku ajari membuang kekesalan itu?" Tanya Fahri.


" Gimana caranya?" Tanya Kira.


Fahri turun dari bangku, Ia mengambil beberapa kerikil lalu melemparkannya ke dalam danau. Kira menggelengkan kepalanya melihat tingkah Fahri. Mungkin Fahri berpikir kalau Ia anak kecil.


" Kenapa?" Tanya Fahri saat melihat Kira menggelengkan kepalanya.


" Aku bukan anak kecil Tuan Fahri, kalau aku sedang kesal ingin rasanya aku menonjok seseorang asal kau tahu." Ujar Kira.


" Apa? Menonjok seseorang?" Tanya Fahri berdiri di depan Kira.


" Iya, maukah kau membantuku soal itu?" Tanya Kira.


" Caranya?" Tanya Fahri.


" Pinjamkan saja pipimu untukku, maka dengan senang hati aku akan membuatnya memar." Sahut Kira mengepalkan tangannya.


" Ah tidak tidak, aku tidak sebaik itu." Ucap Fahri.


" Ha ha baiklah, mau menemaniku ke bar?" Tanya Kira.


"Jangan ke sana, tempat itu tidak baik untuk anak sekolahan sepertimu kita ke tempat lain saja." Ujar Fahri.


" Tapi aku ingin minum di sana, aku ingin merasakan minuman yang bisa membuatku mabuk seperti kata para orang dewasa." Ucap Kira.


" Kau masih kecil! Belum waktunya untuk merasakan minuman itu, mending kita ke cafe cari makan sama minum latte aja." Saran Fahri.


" Semua orang menganggapku masih kecil, itu sebabnya Kak Zav selalu menolakku." Gumam Kira.


" Kau mengucapkan sesuatu?" Tanya Fahri.


" Tidak, aku selalu menghindarinya karna minuman itu di larang dalam agamaku." Ujar Fahri.


" Kau benar, ah untung saja aku tidak tersesat ke sana, baiklah kalau begitu ayo kita ke cafe saja." Sahut Kira.


" Kamu bawa mobil?" Tanya Kira.


" Tidak, aku tadi naik taksi ke sininya." Kilah Fahri.


" Lalu di belakangku itu mobil siapa?" Tanya Kira menunjuk sebuah mobil terparkir tepat di belakang mobilnya.


" Mungkin pengunjung lain." Sahut Fahri.


" Ah mungkin saja, itu mobil pazero yang punya pasti kalangan sultan." Ujar Kira.


" Apa kamu punya di rumah?" Tanya Fahri.


" Tidak, aku kan bukan anak sultan." Sahut Kira.


Keduanya berjalan menuju mobil Kira.


" Masa' sih? Kalau di lihat dari penampilanmu kamu terlihat seperti anak Sultan." Ujar Fahri.


" Biasa aja." Sahut Kira.


" Kau tidak menyombongkan apa yang kamu punya Kira, bahkan kau tidak bilang kalau aku bekerja di perusahaan ayahmu, aku semakin tertarik denganmu." Gumam Fahri dalam hati.


" Nih kamu aja yang nyetir." Ucap Kira memberikan kunci mobilnya kepada Fahri.


" OK, khusus untukmu aku siap jadi sopirmu." Ucap Fahri.


" Bisa aja." Kekeh Kira masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


Fahri melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


" Mau ke cafe mana nih?" Tanya Fahri menoleh ke arah Kira.


" Kan kamu yang ngajak aku gimana sih." Ujar Kira. Fahri tersenyum menatap Kira.


" Jangan menatapku gitu, fokus aja ke depan nanti kalau nabrak gimana, aku nggak mau mati muda." Ucap Kira


" Enggak lah tenang aja, aku akan membawamu selamat sampai tujuan." Sahut Fahri kembali fokus pada kemudinya.


Sesampainya di cafe yang bertuliskan love cafe, Fahri memakirkan mobilnya di depan cafe tersebut. Keduanya turun dari mobil berjalan masuk ke dalam.


" Kita cari meja kosong." Ucap Fahri.


" Tuh di sana kosong." Ujar Kira menunjuk meja paling pojok.


" Tahu aja lokasi strategis." Ucap Fahri.


" Apaan sih." Sahut Kira.


Kira dan Fahri menuju meja yang di maksud oleh Kira.


" Mbak." Panggil Fahri pada pelayan.


" Ya Mas mau pesan apa?" Tanya Pelayan.


" Mau pesan apa Ki?" Tanya Fahri.


" Fried potatto sama coffe latte aja." Sahut Kira.


" Ya itu Mbak, dua ya." Ucap Fahri.


" Fried potatto dua sama coffe latte dua, di tunggu ya." Ucap Pelayan meninggalkan keduanya.


" Kamu tahu namaku?" Tanya Kira.


" Tahu kemarim tanya Ayah." Sahut Fahri.


" Berarti tadi kamu sengaja ya menghampiri aku?" Tanya Kira.


" Bisa di bilang gitu, aku takut kamu bunuh diri di sana." Sahut Fahri asal.


" Ih ngaco kamu, sorry ya kalau aku harus bunuh diri segala." Sahut Kira.


Tak lama pelayan datang membawa pesanan mereka.


" Silahkan pesanannya Mbak, Mas." Ucap Pelayan meletakkan pesanan mereka di depan meja masing masing.


" Terima kasih." Ucap Kira.


Kira mulai memakan potatto yang di colek ke saus. Fahri menatap bibir Kira, ada saos yang menempel di sana. Fahri memajukan tubuhnya. Kira menatap Fahri.


" Ada saos di bibirmu." Ucap Fahri memgusap bibir Kira.


Tanpa mereka sadari ada seseorang yang melihat semua itu. Ia mengepalkan erat tangannya lalu berjalan menghampiri meja Kira dan Fahri.


" Kira.." Panggil seseorang itu dengan nada meninggi membuat para pengunjung menatap ke arahnya.


Siapa hayoooo???


Authornya main tebak tebakkan mulu...


Jangan lupa like dan koment di setiap babnya...


Miss U All*


TBC....

__ADS_1


__ADS_2