Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Ungkapan Imran & Aroon


__ADS_3

" Ada sesuatu yang harus Mas beritahukan padamu." Ucap Nervan merapikan anak rambut Mila.


" Apa?" Tanya Mila.


" Sebenarnya...


" Assalamu'alaikum Mila." Ucap seseorang dari depan.


" Wa'alaikumsallam." Sahut Mila keluar melihat siapa yang datang.


" Pak Aroon." Pekik Mila refleks memeluk Aroon. Aroon pun membalas pelukannya membuat Imran mengepalkan tangannya.


" Kemana aja Pak selama ini? Kok nggak pernah kelihatan, Dah lupa ya?" Tanya Mila melepas pelukannya.


" Maaf aku pulang ke Kota, Nggak mungkin lah lupa sama murid bandel kaya' kamu." Sahut Aroon.


" Apaan sih Pak." Ucap Mila.


" Gimana kabarmu?" Tanya Aroon.


" Baik Pak, Kalau bapak sendiri gimana?" Tanya Mila.


" Alhamdulillah baik juga." Sahut Aroon.


" Silahkan masuk Pak." Ucap Mila.


Keduanya masuk ke dalam kostan Mila lalu duduk di ruang tamu.


" Eh masih ada tamu ya." Ujar Aroon duduk di sofa.


" Emang Pak Aroon lupa ya? Ini Pak Des, Eh maksud saya Pak Imran." Ucap Mila.


" Ah iya maaf lupa, Gimana kabarnya Pak?" Tanya Aroon mengulurkan tangannya sambil menatap Imran yang menekuk mukanya.


" Baik." Sahut Imran singkat membalas uluran tangan Aroon.


" Oh ya Pak darimana Bapak tahu saya ada di sini?" Tanya Mila menatap Aroon.


" Kemarin tidak sengaja aku lihat kamu sama Risa jalan di benteng, Lalu aku ikutin mau mampir tapi udah malam nggak enak sama tetangga." Terang Aroon.


" Owh." Sahut Mila.


Mila melirik wajah Imran yang terlihat sudah tidak bersahabat. Suatu ide terbesit di otak Mila.


" Pak Aroon apa bener bapak sudah nikah?" Tanya Mila.


" Kenapa tanya tanya soal itu Mil?" Tanya Imran.


" Ya ingin tahu aja barangkali ada kesempatan." Sahut Mila.


" Kes...


" Udah cerai kok." Aroon memotong ucapan Imran.

__ADS_1


" Berarti duda donk." Pekik Mila.


" Iya, Tapi sayang kamu sudah ada yang punya." Ujar Aroon sedih.


" He he." Ucap Mila nyengir.


" Oh ya mau minum apa Pak?" Tanya Mila menatap Aroon.


Imran terbengong pasalnya dia yang sedari tadi duduk di sana tidak di tawari minum sama sekali.


" Lhoh kok malah saya yang di tawarin, Pak Imran nggak di tawarin juga." Ujar Aroon.


" Pak Des mah nggak perlu di tawarin Pak dia bisa buat sendiri kalau mau, Kan dia bukan tamu." Sahut Mila.


Mata Imran melotot, Bagaimana bisa Ia tidak di anggap tamu oleh istrinya sendiri, Lalu Ia di anggap apa oleh Mila? Orang lain?


" Tapi suami saya." Sambung Mila.


Nyesssss hati Imran bagai di siram air es mendengar Mila mengakuinya sebagai suami. Ia menahan senyumnya, Entah mengapa rasanya ada kupu kupu beterbangan dalam hatinya.


" Apa? Suami kamu? Jadi kamu di jodohin sama Pak Imran?" Pekik Aroon menatap Mila.


" Emang....


" Bukan Pak, Tapi Pak Des pilihan hati saya sendiri." Mila memotong ucapan Imran.


Deg...


Jantung Imran terasa berdetak dengan kencang walaupun Ia tahu kalau ucapan Mila adalah kebohongan tapi entah mengapa rasanya sejuk sekali di hati.


" Kamu bohong Mila, Aku tahu kamu di jodohkan oleh orang tua kamu, Aku pernah ke rumahmu dan orang tuamu memberitahuku semuanya." Ucap Aroon.


" Maaf Pak selepas itu perjodohan atau bukan yang jelas sekarang dia suami saya." Sahut Mila.


" Apa kau mencintainya? Apa kau bahagia bersamanya?" Selidik Aroon.


Mila menatap ke arah Imran begitu juga dengan Imran. Mila beralih menatap Aroon membuat Imran tidak suka.


" Iya." Sahut Mila menghela nafasnya.


" Aku tidak percaya Mil, Jangan berbohong aku tahu kamu mencintaiku bukan dirinya." Ucap Aroon melirik Imran.


" Tapi kenyataannya memang seperti itu Pak, Dan maaf kalau berbicara tentang cinta sudah tidak ada gunanya, Buat apa bilang cinta jika tidak bisa menyatakannya apalagi untuk memperjuangkannya." Sahut Mila.


Hati Aroon mencelos, Ya dirinya pantas di sebut sebagai pengecut. Ia tidak bisa memperjuangkan cintanya. Jangankan memperjuangkan menyatakannya saja Ia terlambat. Dulu Aroon berpikir belum waktunya Mila untuk membina rumah tangga, Ia takut jika ucapan cintanya menjadi hambatan masa depan Mila. Bukankah Mila punya cita cita yang tinggi? Ia ingin menjadi Dokter spesialis anak agar Ia bisa selalu dekat dengan anak anak tidak seperti orang tuanya yang selalu mengabaikannya demi pekerjaan mereka.


"Ya kau benar, Aku memang pengecut yang tidak berani mengutarakan isi hatiku, Aku hanya menjadi pengagum rahasiamu, Walau jarak kita dekat tapi bibirku kelu untuk menyatakannya padamu... Maafkan aku... Baiklah kalau kau sudah bahagia dengannya, Aku akan mencoba merelakanmu tapi katakan padaku jika dia berani menyakitimu aku akan merebutmu darinya." Ucap Aroon.


" Apa maksudmu Pak Aroon? Apa kau pikir aku akan menyakiti istriku sendiri?" Tanya Imran.


" Aku yakin kau tahu jelas maksudku Pak Imran, Aku sangat mencintai Mila, Jadi jika kau menyakitinya maka saya akan merebutnya darimu." Sahut Aroon.


" Aku tidak akan membiarkanmu merebutnya, Ingat itu, Mila istriku dan selamanya akan menjadi istriku camkan itu." Tegas Imran.

__ADS_1


" Baiklah Mil saya pulang dulu." Ucap Aroon.


" Lhoh kan belum minum Pak." Ujar Mila.


" Tidak perlu hatiku sakit lama lama di sini, Selamat ya untuk pernikahanmu, Semoga selalu bahagia." Ucap Aroon.


" Makasih Pak, Maafkan aku yang tidak peka akan perasaanmu Pak." Sahut Mila.


" Tidak masalah mungkin kita memang tidak berjodoh." Ujar Aroon.


" Aku titip Mila Pak Imran, Jangan sia siakan dia karena jika itu terjadi kau akan sangat menyesalinya." Ancam Aroon.


Aroon pergi meninggalkan kostan Mila dengan perasaan sedih. Mila menghela nafasnya menatap kepergian Aroon. Hatinya merasa bersalah telah membuat Aroon kecewa. Bagaimanapun keduanya sudah dekat lama.


" Makasih sudah mengakui Mas sebagai suamimu." Ucap Imran membuat Mila tersadar dari lamunannya.


" Jangan GR aku hanya tidak mau mengumbar aibmu saja walaupun aku tidak bahagia dengan pernikahan ini, Heh... Bagaimana bisa bahagia jika aku hanya menjadi yang kedua." Sahut Mila.


" Mila... Mas ingin mengatakan sesuatu padamu, Dengarkan baik baik dan jangan menyela ucapan Mas." Ucap Imran.


" Apalagi yang mau kamu bicarakan?" Selidik Mila.


" Aku..... Aku mencintaimu Mil." Ungkap Imran.


" Sejak kapan?" Tanya Mila menyela ucapan


" Sejak tiga tahun yang lalu, Saat pertama kali aku melihatmu di parkiran sekolah aku langsung jatuh cinta padamu, Tapi saat itu aku tidak berani mengucapkannya jarena aku pikir kamu masih terlalu kecil, Perasaan ini aku pendam hingga satu tahun lamanya." Jawab Imran menghela nafasnya.


" Lalu?" Ucap Mila.


" Saat aku melihatmu dekat dengan Aroon aku merasa cemburu dan takut kehilanganmu, Saat itu juga aku ke rumahmu untuk meminangmu kepada orang tuamu." Terang Imran.


" Apa? Jadi pernikahan ini bukan atas dasar perjodohan orang tua kita?" Selidik Mila.


" Iya... Semua ini karna aku yang memintanya." Sahut Imran.


" Lalu kenapa kamu terburu buru menikahi aku?" Tanya Mila.


" Karena aku takut kehilanganmu, Aku tahu kedekatanmu dengan Vicki, Bahkan para siswa banyak yang mengatakan jika kalian sepasang kekasih, Aku langsung menelepon orang tuamu untuk mempercepat pernikahan ini." Terang Imran.


" Heh kau tidak sadar diri Pak Des, Kau sudah punya istri tapi masih tertarik dengan wanita lain." Ejek Mila.


" Kamu perlu mengetahui sesuatu sayang kalau sebenarnya aku dan Hena.....


TBC........


*Gantung lagi ya.... Like dulu baru author lanjutin ha ha ha... Canda ya..


Mohon doa dan dukungannya ya buat karya author satu ini, Semoga author di beri kelancaran dalam berimajinasi agar bisa membuat karya yang menarik di hati readers semua... Thank you*...


*Jangan lupa like dan komentnya di setiap babnya ya...


Makasih atas suport yang para readers berikan pada author jika berkenan VOTE dan beri author HADIAH ya biar semangat ngetiknya...

__ADS_1


Miss U All*


__ADS_2