
Fisa bersiap untuk bekerja di Firma hukumnya. Hari ini Ia mendapat client dengan kasus perceraian yang mana pihak tergugat tidak mau di ceraikan oleh istrinya. Fisa mengambil tas selempangnya di almari.
" Mau kemana pagi pagi gini sudah rapi?" Tanya Aroon sambil memakai jam di tangannya.
" Mau kerja." Sahut Fisa singkat.
" Kamu menangani kasus lagi?" Tanya Aroon.
" Hanya kasus kecil." Sahut Fisa.
" Bareng aku aja jadi nggak usah bawa mobil sendiri." Ucap Aroon merapikan kerah kemejanya di depan cermin.
" Aku bareng Daren, kebetulan kami satu arah." Sahut Fisa membuka ponselnya.
" Tidak bisa, aku tidak mengijinkanmu pergi brrsama pria lain." Ucap Arron menatap Fisa.
" Aku tidak butuh ijinmu Ar, lagian aku hanya berangkat kerja bareng aja, enggak ada hubungan apa apa." Ujar Fisa.
" Tapi aku nggak suka kamu dekat sama pria lain Fisa." Ujar Aroon.
Fisa berdiri di depan Aroon sambil menatapnya.
" Kenapa? Apa kamu merasa cemburu melihatku dengan pria lain?" Selidik Fisa.
Aroon merasa gugup, Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah untuk menghindari tatapan Fisa.
" Tidak... Kamu istriku jadi kamu harus jaga image keluargaku." Sahut Aroon membuat Fisa kecewa.
" Tenang saja di kantorku tidak ada yang tahu kalau aku istrimu." Ucap Fisa keluar kamar meninggalkan Aroon yang menatap kepergiannya.
" Fisa tunggu." Ucap Aroon mengejar Fisa.
Fisa mempercepat langkahnha menuruni anak tangga. Sampai di tangga terakhir Aroon mencekal tangannya.
" Apaan sih?" Cebik Fisa.
" Kenapa kamu berubah seperti ini setelah kita menikah?" Tanya Aroon.
" Karna aku ingin membentengi diriku supaya aku tidak terlalu dalam jatuh hati padamu." Teriak Fisa.
Aroon melepas cekalannya. Ia tidak percaya jika Fisa menyerah begitu saja.
" Aku tidak mau terluka lebih dalam lagi Aroon, jangan siksa aku seperti ini, aku mencintaimu tapi sangat sakit rasanya jika aku tidak bisa mendapatkan cintamu." Ujar Fisa mengusap air matanya.
" Kamu memang suamiku, ragamu milikku tapi jiwa, hati dan cintamu milik orang lain Ar, Aku harus apa? Apakah aku harus menangis meratapi nasib burukku saat ini? Apakah aku harus memohon dan menyembah dirimu agar aku bisa mendapatkan cintamu? Katakan Ar! Aku harus bagaimana? Hiks..." Isak Fisa.
Aroon menarik Fisa ke dalam pelukannya.
" Maafkan aku, maaf karna aku telah membuatmu menderita dengan pernikahan ini, beri aku waktu dua bulan Fis." Ucap Aroon melepas pelukannya. Ia menangkup wajah Fisa dengan kedua tangannya.
" Jika dalam dua bulan aku tidak bisa memberikan hati dan cintaku untukmu, maka aku akan melepasmu untuk mencari kebahagiaan dan cintamu dengan pria lain." Ujar Aroon menghapus air mata Fisa.
" Baiklah aku beri waktu dua bulan, tapi tepati janjimu jika saat itu tiba dan kau tidak berhasil memberikan cintamu padaku." Sahut Fisa.
" Aku akan menepatinya." Sahut Aroon.
__ADS_1
" Dan aku akan membalas rasa sakit ini padamu dan pada Mila Ar, di saat kau sudah memberikan hatimu untukku saat itu juga aku akan meninggalkanmu, selama ini aku sudah menderita dengan cinta ini tapi sekarang tidak lagi, aku akan menghapus rasa sakit di hatiku ini dengan caraku sendiri." Ujar Fisa dalam hati.
" Aku pergi dulu." Ucap Fisa.
" Aku antar." Ujar Aroon.
" Tidak perlu, Daren sudah menungguku." Sahut Fisa.
" Bilang pada Daren kalau mulai besok aku yang akan mengantarmu." Ucap Aroon.
" Hmm." Gumam Fisa.
Fisa berjalan keluar menghampiri mobil Daren. Ia masuk ke dalam mobil duduk di kursi samping kemudi.
" Kok lama sih." Ucap Daren.
" Biasa ada drama dulu." Sahut Fisa.
" Sama suami kamu?" Tanya Daren.
" Hmm sama siapa lagi." Ujar Fisa.
" Kamu yang sabar ya, aku yakin kamu pasti akan mendapat kebahagiaan suatu hari nanti." Ucap Daren mulai melajukan mobilnya.
" Yah aku harap sih begitu, sekarang aku akan menjalankan misiku." Ucap Fisa tersenyum smirk.
" Misi? Misi apa?" Tanya Daren.
" Ada deh pokoknya, kamu tidak perlu tahu, kamu cukup temani aku aja maka aku akan merasa senang." Ujar Fisa.
" Baiklah aku akan selalu mendukungmu." Ujar Daren.
Di tempat lain Imran sedang mandi sedangkan Mila sedang menyiapkan baju Imran. Ponsel Imran berbunyi, Mila melihat layar yang menyala. Sebuah pesan dari nomer yang tidak di simpan. Mungkin nomer baru pikir Mila.
Mila lanjut merapikan tempat tidur, ponsel Imran kembali berdering. Kali ini panggilan telepon yang masuk. Mila mengambil ponsel Imran lalu Ia melihat pp si penelepon.
" Cewek." Gumam Mila.
Mila mendekati pintu kamar mandi.
" Mas ada telepon." Teriak Mila.
" Di angkat aja Yank, bilang Mas lagi mandi." Sahut Imran dari dalam.
Mila menggeser tombol hijau pada ponsel Imran.
" Halo sayang kita jadikan pergi berdua setelah meeting? Aku lagi siap siap nih dandan cantik biar kamu makin terpikat denganku." Ucap wanita di sebrang sana.
Deg.... Jantung Mila seolah berhenti berdetak mendengar ucapan wanita itu.
" Sayang kamu denger aku ngomong nggak sih? Aku pakai baju yang kamu beliin kemarin lhoh." Ujarnya.
" Sayang... baiklah kalau kamu tidak mau berbicara padaku tidak apa mungkin saat ini ada istri kamu di sana, ya udah aku matiin ya sampai bertemu di kantor." Sambungan ponsel terputus secara sepihak.
Pikiran Mila berkecamuk, pikiran buruk kini menghantui hatinya. Apakah Imran mengkhianatinya? Atau hanya orang iseng saja? Mila harus segera memastikannya.
__ADS_1
" Dari siapa sayang?" Tanya Imran yang baru keluar kamar mandi.
Mila menurunkan ponselnya dari telinganya, Ia menatap Imran dengan mata berkaca kaca.
" Hei ada apa sayang? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Imran menghampiri Mila.
" Nomer siapa ini Mas?" Tanya Mila menunjukkan ponselnya ke Imran.
Imran melihat panggilan masuk di ponselnya.
" Siapa ya?" Gumam Imran.
" Cermati ppnya dan katakan siapa dia." Ucap Mila.
" Kaya'nya nomer baru deh Yank, Mas juga tidak tahu." Sahut Imran.
" Benar kau tidak tahu? Kau benar benar tidak mengenalnya atau hanya pura pura tidak mengenalnya di depanku Mas?" Tanya Mila.
" Apa maksudmu sayang? Mas benar benar tidak tahu dia siapa, percayalah." Sahut Imran.
" Apa kemarin kamu membeli baju untuk seseorang?" Tanya Mila.
" Baju?... " Ucap Imran mengingat ingatnya.
"Ah iya kemarin aku memang membeli baju secara online, Fisa menyuruhku untuk membelikan baju untuk saudaranya." Sahut Imran.
" Fisa? Kenapa Fisa menyuruhmu? Apa dia tidak bisa membeli sendiri?" Selidik Mila.
" Sayang dengarkan aku! Kemarin katanya Fisa bingung mau memilih yang mana dan yang bagaimana modelnya untuk saudaranya yang telah ulang tahun, terus dia memintaku untuk memilihnya dan sekalian membelinya untuk saudaranya itu Yank." Terang Imran.
" Apa kamu juga yang membayarkannya?" Tanya Mila.
" Iya.. Tapi udah di ganti kok uangnya." Sahut Imran.
" Ya udah Mas ganti baju dulu udah mepet soalnya Mas ada meeting pagi ini, jangan berpikiran macam macam ya kasihan dedeknya." Ucap Imran mencium kening Mila.
Imran masuk ke dalam walk in closet untuk mengganti bajunya. Sedangkan Mila menelepon Fisa untuk memastikan kebenarannya. Ia harus segera memastikannya.
" Halo Mil ada apa?" Tanya Fisa di sebrang sana.
" Halo Kak aku cuma mau nanya, apa Kak Fisa menyuruh Mas Desfian memesankan baju utuk saudara Kakak?" Tanya Mila.
" Baju? Saudaraku? Tidak..." Sahut Fisa.
" Yang bener?" Mila kembali bertanya.
" Untuk apa aku meminta suamimu memesankan baju? Aku bisa pesan atau membelinya sendiri kan? Lagian kamu tahu kalau aku tidak punya saudara, aku sebatang kara di sini Mil jika kau lupa, Ya udah ya aku lagi ada meeting soalnya nggak enak kalau di sambi teleponan." Ujar Fisa.
" Ah iya Kak maaf menganggu." Sahut Mila menutup teleponnya.
" Apa yang sedang kamu sembunyikan dariku Mas? Apa kamu mengulang kesalahan yang sama lagi? Aku harap ini hanya salah paham saja." Gumam Mila dalam hati.
TBC....
Jangan lupa like dan komentnya...
__ADS_1
Baca juga cerita author yang lainnya ya....
Miss U All...