
Malam hari Fahri membuka matanya setelah mendengar suara seperti orang menggigil. Ia menoleh ke samping dan...
" Astaga dia menggigil." Ucap Fahri duduk.
Fahri menempelkan telapak tangannya ke dahi Sita.
" Ya Tuhan panas sekali, kau demam Sita, beruntung aku memintamu tidur di sini tadi." Ujar Fahri.
Fahri turun dari ranjang. Ia segera menuju dapur untuk mengambil air kompresan.
Setelah mendapatkan apa yang Ia butuhkan, Ia kembali ke kamarnya. Dengan telaten Fahri mengompres dahi Sita.
" Mas... Mas Fahri.. Jangan tinggalkan aku." Gumam Sita mengigau.
Entah mengapa ucapan Sita membuat Fahri mengembangkan senyumannya.
" Mas.. Mas Fahri." Gumam Sita.
" Tidurlah! Aku di sini." Bisik Fahri di telinga Sita.
Sita menarik tangan Fahri ke dalam pelukannya tanpa sadar membuat Fahri menunduk. Wajah mereka terlalu dekat untuk saat ini. Fahri menatap wajah pucat Sita dengan perasaan yang tidak menentu.
Deg... Deg....
" Kenapa jantungku berdebar sangat kencang seperti ini? Ada apa denganku? Apa aku mulai menyukainya?" Tanya Fahri dalam hatinya.
Semalaman penuh Fahri mengurus Sita membuatnya sangat mengantuk hingga Ia tertidur di samping Sita sambil memeluknya.
Sita membuka matanya. Ia merasa ada sesuatu yang mendindihnya. Ia menoleh ke samping menatap Fahri yang terlelap dk sampingnya.
" Apa ini?" Gumam Sita menyentuh dahinya yang masih tertempel washlap.
" Mas Fahri melakukan ini padaku? Dia mengurus ku? Ada apa dengannya? Ah mungkin dia melakukan ini supaya aku mempermudah pernikahannya dengan Tiara." Gumam Sita.
Sita menerawang pada pertemuannya dengan Tiara siang ini. Setelah Fahri pergi ke kantor, Tiara kembali mendatanginya ke rumahnya.
Flash back...
Saat Sita hendak menutup pintu,
" Sita."
Sita menoleh ke belakang menatap Tiara yang sedang menghampirinya.
" Kenapa kau kemari? Mas Fahri baru saja pergi." Ujar Sita.
" Aku ada perlu sama kamu." Sahut Tiara.
" Silahkan masuk." Ucap Sita.
Keduanya duduk di sofa ruang tamu.
" Ada apa?" Tanya Sita to the point.
" Aku hamil."
__ADS_1
Jeduar...
Ucapan Tiara bagai petir yang menyambar di siang hari. Tiara menyodorkan sebuah tespack yang bergaris dua dari sebuah amplop berlogo rumah sakit ternama. Di sana jelas tertulis nama Tiara sebagai Nyonya dan Fahri sebagai Tuan.
" Fahri memang mau menikahi ku, tapi dia juga tidak mau melepaskanmu." Ucap Tiara.
" Dia bilang sih supaya dia bisa menyiksamu lebih lama, bukankah kau akan semakin tersiksa jika melihat kebahagiaanku dengan Fahri." Ujar Tiara.
" Lalu apa tujuanmu ke sini?" Tanya Sita.
" Sesama wanita aku kasihan sama kamu, kalau seandainya Fahri mencintai kamu, aku tidak akan menerimanya, tapi dia sama sekali tidak mencintaimu, kau tidak berhasil membuat Fahri move on dari Kira, aku lah yang berhasil merebut hatinya." Ucap Tiara.
" Aku ingin membebaskanmu dari rasa sakit ini Sita, pergilah dari kehidupan Fahri! Aku akan menyakinkan dia untuk melepasmu, aku akan memintanya untuk tidak mencarimu, dia pasti akan menuruti apa kemauan ku secara kan aku sedang mengandung anaknya." Sambung Tiara.
Sita berpikir jika ucapan Tiara ada benarnya.
" Akan aku pikirkan nanti." Sahut Sita.
" Baiklah kalau begitu aku permisi, aku harap kau akan segera pergi supaya Fahri bisa segera menikahi ku sebelum perutku membesar." Ucap Tiara meninggalkan Sita yang sedang dalam keadaan bersedih.
Flashback off
Fahri mengerjapkan matanya membuat Sita kembali memejamkan matanya. Fahri menatap Sita yang Ia pikir masih tertidur lelap, lalu Ia turun dari ranjang masuk ke dalam kamar mandi.
Selesai mandi, Fahri ke bawah untuk menuju dapur. Ia berencana memasak sesuatu untuk Sita.
Beberapa saat kemudian Sita membuka matanya. Ia duduk bersandar pada head board sambil memijat pelipisnya. Ia merasa pusing karena terlalu banyak hal yang Ia pikirkan.
" Kamu sudah bangun?" Fahri masuk ke dalam dengan membawa nampan berisi makanan di tangannya.
Sita menatap Fahri sambil mengerutkan keningnya.
Fahri meletakkan nampannya di atas meja.
" Kenapa malah bengong? Buruan mandi sebelum airnya berubah menjadi dingin." Ujar Fahri.
" Apa kamu salah makan pagi ini Mas? Atau kepalamu baru saja terbentur?" Tanya Sita.
" Kenapa kamu bicara seperti itu?" Tanya Fahri.
" Kamu tiba tiba baik padaku, kamu perhatian sama aku, apa ada sesuatu yang kau inginkan dariku?" Tanya Sita heran.
" Ah sial.. Kenapa Sita pakai tanya segala sih, kan jadi bingung aku jawabnya." Gumam Fahri dalam hati.
" E.. A.. Aku hanya kasihan saja sama kamu, kamu kan lagi sakit jadi ya.. Sekali kali aku berbuat baik sama kamu." Sahut Fahri.
" Baiklah apapun alasanmu, aku akan tetap mengucapkan terima kasih kepadamu." Ucap Sita.
" Aku mandi dulu." Sambung Sita turun dari ranjang.
Saat Sita hendak melangkah tiba tiba..
" Awh." Tubuh Sita terhuyung beruntung Fahri segera menarik Sita.
Posisi mereka saat ini Fahri memeluk tubuh Sita. Sita mendongak menatap mata Fahri begitupun sebaliknya.
__ADS_1
Deg.... Deg....
Jantung keduanya berdetak sangat kencang. Ada sesuatu yang berdesir di dalam hati Fahri.
" Ya Tuhan sungguh indah ciptaanmu, tapi sayang sampai saat ini aku tidak bisa menyentuh hatinya karena hatinya sudah menjadi milik orang lain." Batin Sita.
Tiba tiba Sita mengingat kejadian di kantor saat Fahri menghabiskan waktu bersama Tiara dan kejadian kemarin saat Tiara menghampirinya. Hatinya kembali merasakan sesak.
Sita segera menjauh dari Fahri lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Fahri menatapnya sambil mengerutkan keningnya.
Selesai mandi Sita dan Fahri duduk di sofa yang ada di kamar mereka. Keduanya makan sarapan bersama.
" Kau tidak perlu melakukan semua ini Mas jika hanya untuk meminta ijin padaku, aku mengijinkanmu menikahi Tiara kapanpun kamu mau karena kau harus bertanggung jawab kepadanya." Ucap Sita.
Deg....
Dada Fahri terasa sesak seperti di hantam bebatuan besar.
" Kenapa kau berpikiran seperti itu? Apakah aku tidak boleh berbuat baik kepadamu?" Ujar Fahri menatap Sita.
" Tidak perlu Mas, kebaikanku justru membuatku tidak nyaman, aku akan kembali ke kamarku." Ucap Sita beranjak.
Fahri mencekal tangan Sita.
" Mulai sekarang ini menjadi kamarmu juga, kamar kita, jadi kau tidak perlu kemana mana." Ucap Fahri.
" Ini akan menjadi kamarmu dengan Tiara setelah kalian menikah nanti, atau mungkin jika kau ingin Tiara tinggal di sini sebelum pernikahan kalian juga tidak masalah, aku sudah tidak terpengaruh lagi." Sahut Sita.
Fahri berdiri di depan Sita. Ia menatap Sita dengan tatapan tajam.
" Apa itu yang kau inginkan?" Tanya Fahri.
" Bukan aku, tapi itu keinginanmu." Sahut Sita.
" Jika aku merubah keinginanku gimana?" Tanya Fahri.
" Apapun keinginanmu kau tidak akan pernah menginginkan aku Mas." Sahut Sita meninggalkan Fahri.
" Kau tidak tahu Sita, entah sejak kapan aku mulai takut kehilanganmu, aku ingin kau selalu berada di sampingku." Monolog Fahri menatap punggung Sita yang mulai tidak terlihat.
Di dalam kamar, tubuh Sita luruh di belakang pintu. Ia merasakan sesak di dadanya membayangkan jika Fahri benar benar menikahi Tiara.
" Aku tidak sanggup melanjutkan pernikahan ini, aku ingin pergi menjauh darimu Mas, aku sudah ikhlas melepasmu, semoga kau selalu bahagia, maafkan aku Mas." Monolog Sita.
Sita segera berkemas. Ia memasukkan semua baju bajunya ke dalam koper. Ia akan pergi setelah Fahri pergi ke kantor nanti.
Nah loh pergi kan Sita nya....
Kira kira kepergian Sita di ketahui Fahri nggak nih?
Jangan lupa tetap like koment vote dan hadiahnya ya biar Fahri makin yakin akan cintanya kepada Sita
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport Author semoga sehat selalu
__ADS_1
Miss you All
TBC....