
Pagi hari semuanya sudah siap untuk sarapan di meja makan bahkan Vania juga berada di sana kecuali Mila tentunya. Mila keluar dari ruang tamu, Ia berjalan menuju pintu untuk keluar menyelesaikan masalahnya.
" Sayang sini." Mama Lina yang melihatnya pun langsung memanggil Mila.
" Sayang?" Ujar Arvi menatap Mama Lina.
" Ah maksud Mama Mila sini." Ucap Mama Lina.
Tidak enak karena sudah di panggil, Mila berjalan menuju meja makan. Matanya menatap tajam ke arah Vania dan Imran yang sedang duduk berdampingan.
" Iya Ma ada apa?" Tanya Mila dengan tenang.
" Ma." Ucap Arvi menatap Mama Lina dan Mila bergantian.
" Eh maksudku...
" Mama yang menyuruhnya untuk memanggil Mama, Mama tidak menganggap dia sebagai pelayan tapi sebagai anak Mama sendiri." Sahut Mama Lina.
" Oh." Gumam Arvi.
" Kamu mau kemana pagi pagi begini? Kenapa tidak sarapan bersama kami?" Tanya Mama Lina.
" Aku ada janji dengan pengacaraku Ma." Sahut Mila melirik Imran yang terlihat kaget.
" Pengacara? Ada perlu apa kau dengan pengacaramu Mila?" Tanya Arvi menatap Mila.
" Bukankah kita akan menikah? Jadi aku sedang mengurus surat suratnya melalui pengacaraku." Jawab Mila.
Tubuh Imran membeku mendengar ucapan Mila. Apakah ucapan Mila benar benar akan terjadi? Hati Imran mulai gelisah. Ia mengedarkan pandangannya ke segala arah. Apakah keputusannya kali ini akan membuatnya benar benar kehilangan Mila? Imran benar benar dilema menghadapi masalahnya.
" Benarkah? Bukankah menunggu aku sembuh dulu? Baru kita menikah?" Arvi bertanya lagi.
" Tidak perlu, Jika kita sudah menikah bukankah akan lebih leluasa aku untuk merawatmu?" Ujar Mila.
" Ah kau benar Mila, Kau tahu aku sangat bahagia mendengarnya." Ujar Arvi.
" Apapun asal kau bahagia Arvi, Baiklah aku pergi dulu." Ujar Mila.
" Apa kamu tidak mau sarapan dulu?" Tanya Arvi.
" Tidak perlu aku sudah kenyang." Sahut Mila meninggalkan mereka tanpa menghiraukan yang lainnya.
Papa Romi, Mama Lina dan Imran saling melempar pandangannya. Imran mengepalkan tangannya dengan erat menahan emosinya.
" Ma Imran berangkat dulu." Ujar Imran berjalan keluar rumah.
" Ma ada apa dengan Kak Imran?" Tanya Arvi.
" Mama tidak tahu sayang." Sahut Mama Lina menghela nafasnya.
" Sepertinya peluangku untuk masuk ke dalam keluarga ini semakin besar, Tinggal sabar menunggu hasilnya Vania." Batin Vania tersenyum.
Mila melajukan mobilnya menuju kediaman pengacaranya. Tafisa pengacara sekaligus sahabatnya. Umurnya memang jauh lebih tua dari Mila tapi Tafisa begitu akrab dengannya seperti seumuran dengannya. Sesampainya di sama Ia segera mengetok pintu.
Ceklek....
" Hei ada apa pagi pagi udah mertamu aja? Mau numpang sarapan?" Tanya Tafisa setelah membuka pintunya.
__ADS_1
" Biarkan aku masuk, Aku butuh solusi darimu." Ujar Mila menyelonong masuk ke dalam.
" Hei hei hei kau tidak sopan." Cebik Fisa.
Keduanya duduk di ruang tamu.
" Mau minum apa?" Tawar Fisa.
" Nggak usah aku lagi nggak mood." Sahut Mila.
" Apa yang bisa aku bantu?" Tanya Fisa.
" Aku mau bercerai dari suamiku." Jawab Mila.
" Apa? Bercerai? Kenapa? Jangan sembarangan membicarakan tentang perceraian Mil, Pamali tidak baik lebih baik tenangkan dirimu dulu jangan ambil keputusan saat kamu sedang emosi." Ujar Fisa.
" Aku harus bagaimana Kak? Pendapatku sama sekali tidak di perlukan dalam mengambil keputusan, Aku hanya menjadi boneka mereka saja." Sahut Mila.
" Tenanglah ceritakan dari awal agar aku bisa membantumu." Titah Fisa.
" Arvi datang sebagai adik angkat Imran." Ucap Mila menghela nafasnya.
" Arvi? Maksudmu Arvian yang dulu mendekatimu?" Tanya Fisa.
" Iya, Dia mengira aku pelayan di rumah itu...
" Pelayan? Apa matanya udah nggak normal bidadari cantik gini di sangka pembokap?" Tanya Fisa memotong ucapan Mila.
" Waktu itu pakai dasternya Mama Lina Kak, Aku lupa nggak bawa ganti, ini aja semalam aku beli online." Ujar Mila.
" Terus?" Tanya Fisa.
" Ya ampun kasihan banget." Sahut Fisa.
" Dia mengajakku menikah, Dan apa Kakak tahu apa yang terjadi setelah itu?" Tanya Mila.
" Tidak." Jawab Fisa menggelengkan kepalanya.
" Sebelum aku menjawabnya Mas Des sudah lebih dulu menyetujuinya dengan syarat Arvi akan menikahiku setelah dia sembuh, Gila nggak Kak?" Ujar Mila.
" Des tidak berunding dulu denganmu?" Tanya Fisa.
" Boro boro berunding Kak, Bahkan dia membawa wanita lain di hadapan kami dan mengakuinya sebagai istrinya, Wanita mana yang tidak terluka Kak." Ujar Mila.
" Des sudah keterlaluan kalau seperti ini Mil, Tapi untuk bercerai pikirkan matang matang keputusanmu ini Mil, Sekarang aku tanya apa kamu sudah unboxing sama Desfian?" Tanya Fisa.
" Belum Kak." Sahut Mila.
" Nah itu, Bukankah jika kamu bercerai dengan Des kamu tidak bisa rujuk sebelum kamu menikah dengan orang lain? Terlepas benar atau tidaknya yang jelas Allah membenci perceraian bukan?" Ujar Fisa.
" Iya juga sih Kak, Aku pernah mendengar tausiyahnya dan membaca bukunya." Sahut Mila.
" Lalu aku harus bagaimana?" Tanya Mila meminta solusi dari Fisa.
Fisa tidak perlu bertanya tentang perasaan Mila karena Ia tahu kalau Mila memendam perasaan cinta untuk suaminya. Apa yang Mila alami pasti Ia akan menceritakannya kepada Fisa.
" Ikuti sandiwara Des, Dan...
__ADS_1
" Ya aku tahu, Aku akan membalas rasa sakit ini dengan mendekati Arvi, Aku akan membuatnya terbakar api cemburu dan merasakan sakit yang aku rasakan karena tidak pernah di hargai dalam keluarganya." Ujar Mila memotong ucapan Fisa.
" Pinter." Sahut Fisa.
" Aku akan membuat dia menyesali keputusannya, Jikalau pun akhirnya nanti aku harus berpisah darinya aku akan pergi jauh dari kehidupan mereka." Ucap Mila.
" Tenang saja aku akan membantumu, Aku akan mengirimmu ke tempat di mana Des tidak akan menemukanmu." Ucap Fisa.
" Dimana? Di neraka maksudnya?" Selidik Mila.
" Ya bukan lah kamu ini ngaco aja, Aku akan kirim kamu ke pelosok desa di daerah jawa." Ujar Fisa.
" Nggak mau ah bisa tambah susah hidupku Kak." Sahut Mila.
" Ha ha iya, Kakak bercanda kok." Ujar Fisa.
" Ya udah Kak aku pulang ya, Makasih sudah mau mendengar masalahku." Pamit Mila.
" OK hati hati dan ingat sukseskan misimu." Ucap Fisa.
" Siap Kak." Sahut Mila.
Mila kembali ke rumah menjelang malam hari, Pasalnya Ia malah keluyuran nggak jelas, Hampir semua tempat Ia kunjungi hanya untuk merenung.
Mila masuk ke dalam kamar tamu, Di sana sudah ada Imran yang sedang duduk di tepi ranjang menunggunya.
" Darimana saja jam segini baru pulang?" Tanya Imran menghampiri Mila yang sedang mengambil baju di almari.
" Aku tanya kamu darimana?" Tekan Imran.
Mila berbalik badan menatap Imran.
" Apa pedulimu aku mau kemana atau darimana?" Mila balik bertanya.
" Jawab saja kamu darimana? Apa ini kelakuan seorang istri? Keluyuran nggak jelas sampai ketemuan dengan laki laki lain di luar sana?" Selidik Imran.
" Istri? Istri siapa? Aku bukan siapa siapa di sini, Jadi berhentilah bersikap seperti seorang suami." Ketus Mila.
" Mila.... Jangan melewati batasanmu, Bagaimanapun kamu adalah istriku." Ucap Imran.
" Istri? Suami? Lalu suami mana yang merelakan istrinya di nikahi pria lain hah?" Bentak Mila membuat Imran berjingkrak kaget.
" Mila maafkan aku... Aku hanya memintamu untuk bersandiwara saja sampai Arvi...
" Sampai kapan? Sampai Arvi sembuh? Atau sampai Arvi tiada? Umur tidak ada yang tahu Pak Imran yang terhormat, Yang jelas kau sudah mempermainkan dua kehidupan sekaligus, Sekarang pergilah jangan pernah temui aku." Ucap Mila berjalan menuju kamar mandi. Ia menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Imran.
" Tenang saja aku akan membantumu untuk bersandiwara, Tapi setelah semua itu selesai maka saat itu juga hubungan kita juga selesai, Lepaskan aku setelah itu sebagai upahku karna sudah membantumu membuat adikmu bahagia." Jelas Mila.
Brakkkk
Tubuh Imran luruh ke lantai, Kepalanya Ia rebahkan di atas ranjang.
" Hiks.... Hiks... Kenapa ini harus terjadi? Apakah aku akan kehilangan istri yang paling aku cintai? Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan, Aku tidak tega membuat adikku semakin menderita di sisa hidupnya... Hiks... Aku harus bagaimana? Istriku sudah terlanjur marah dan membenciku.... Hiks... Berikan jalan terbaik untuk hubungan kami Ya Tuhan..." Isak Imran. Ia tidak kuasa menahan gundah da kesedihan di dalam hatinya. Bukannya hubungannya dengan Mila semakin dekat kini justru semakin menjauh.
TBC......
Yuk Bantu Imran memikirkan solusi terbaiknya agar hubungannya dengan Mila bisa terselamatkan dan Arvi tetap bahagia di sisa hidupnya....
__ADS_1
Jangan lupa like dan koment di setiap babna ya...
Miss U All...