
Pagi ini Sita sedang menyuapi nenek Mira.
" Tinggal sedikit lagi Nek." Ucap Sita menyodorkan sesendok makanan ke mulut nenek Mira.
" Terima kasih Nak." Ucap nenek Mira.
" Sekarang tinggal minum obatnya." Ucap Sita memberikan tiga butir obat dan segelas air putih.
Setelah meminum obatnya, Sita membantu nenek Mira duduk bersandar pada kepala ranjang.
Tok tok...
Suara pintu di ketuk dari luar.
" Aku buka dulu Nek." Ucap Sita berjalan menuju pintu.
Ceklek....
Deg....
Jantung Sita berdetak sangat kencang, ingin rasanya Ia berteriak sambil memeluk seorang pria yang sedang berdiri di depannya saat ini.
Sosok seorang pria yang sangat Ia rindukan. Sosok pria yang sangat Ia cintai selama ini, sosok pria yang sangat Ia kagumi dan sangat Ia harapkan kehadirannya.
Sita menatap pria itu dengan mata nanar. Bibirnya seolah tercekat tidak mampu berbicara apapun.
" Mas.... Mas Fahri." Gumam Sita.
Fahri menyelonong masuk ke dalam tanpa mempedulikan Sita yang masih terbengong di depan pintu.
" Nenek bagaimana keadaan Nenek saat ini?" Tanya Fahri memeluk nenek Mira.
" Nenek baik baik saja Fahri, maafkan Nenek yang telah mengganggu kerjamu dan membuatmu jauh jauh datang kemari." Ucap nenek Mira
" Tidak masalah Nek, lagian aku juga berniat menetap di sini untuk menjaga Nenek." Sahut Fahri duduk di kursi samping ranjang.
Mendengar ucapan Fahri, Sita menyembunyikan senyumannya.
" Sepertinya kita di takdirkan untuk bersama Mas, aku akan berusaha mendapatkanmu dan membuatmu membalas perasaanku." Gumam Sita dalam hati.
" Nenek sangat senang sekali kalau kamu mau menetap di sini bersama dengan Nenek tua ini." Sahut nenek Mira.
" Apa dia wanita yang merawat Nenek selama dua tahun ini?" Tanya Fahri menunjuk Sita yang berdiri di dekat ranjang nenek Mira.
" Iya Nak, namanya Rasita tapi Nenek memanggilnya Sita, dia wanita baik hati dan penyayang, dia merawat Nenek dengan penuh kasih sayang dan menganggap Nenek seperti Neneknya sendiri, kamu harus memberikan banyak bonus untuknya." Ujar nenek Mira.
Fahri tersenyum sinis melirik Sita.
" Nenek belum tahu bagaimana sifat aslinya." Gumam Fahri dalam hatinya.
" Sita kenalkan, ini cucu angkat Nenek namanya Fahri, Nenek sudah menganggapnya sebagai cucu kandung Nenek sendiri sejak kepergian ayahnya, dia anak yang baik yang selalu membuat Nenek merasa bangga kepadanya." Ucap nenek Mira.
" Ma...
" Kenalkan aku Fahri, MAJIKANMU." Ucap Fahri sambil menyodorkan tangannya.
Sita mengernyitkan dahinya, Ia bingung kenapa seolah baru mengenal Sita.
" Ah iya Tuan, saya Sita." Ucap Sita hendak membalas uluran tangan Fahri namun sebelum tangannya menempel pada tangan Fahri, Fahri sudah menarik tangannya.
__ADS_1
" Saya akan menambah gajimu karena telah menjaga Nenek saya dengan baik." Ucap Fahri.
" Terima kasih Tuan." Sahut Sita.
" Sita sekarang sudah ada Fahri, kalau kamu mau istirahat silahkan istirahat saja, nenek tidak pa pa." Ucap nenek Mira.
" Tidak Nek, dia di sini di gaji untuk menjaga Nenek bukan untuk istirahat." Sahut Fahri dingin.
" Fahri..." Gumam nenek Mira.
" Tidak apa Nek, Tuan Fahri benar kalau aku di sini di gaji untuk menjaga Nenek bukan untuk bersantai Nek." Sahut Sita.
" Aku duduk di sofa ya Nek, nanti kalau perlu apa apa Nenek tinggal manggil aku saja." Sambung Sita berjalan menuju sofa.
" Iya Ta." Sahut nenek Mira.
Sita duduk di sofa. Ia memainkan ponsel untuk sekedar mengusir rasa sesak di dalam dadanya karena sikap dingin Fahri kepadanya.
" Aku tidak menyangka Mas jika kamu masih menyimpan rasa benci kepadamu, padahal sudah hampir tiga tahun kita berpisah, hah... aku akan berusaha untuk mendapatkanmu kembali, dengan cinta yang aku miliki aku yakin kau akan menerimaku lagi sepenuh hatimu." Batin Sita.
...****************...
Hari telah berganti, kesehatan nenek Mira semakin memburuk. Hal ini membuat Fahri dan Sita merasa cemas. Saat ini keduanya sedang menunggu di luar ruang icu dimana dokter sedang melakukan tindakan kepada nenek Mira.
" Tuan bagaimana jika Nenek kenapa napa?" Tanya Sita.
" Jangan pernah mengatakan hal buruk tentang Nenekku." Tekan Fahri menarik rambut Sita membuat Sita mendongak menatap ke arahnya.
" Jangan menatapku seperti itu! Aku benci tatapanmu dan semua yang ada pada dirimu." Sambung Fahri mendorong tubuh Sita.
" Maaf Tuan." Ucap Sita.
Tidak mau membuat Fahri semakin marah, Sita memilih duduk menjauh dari Fahri. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah sakit.
" Walaupun Nenekku bilang kalau kau wanita baik, tapi bagiku kau adalah wanita pembohong." Batin Fahri.
Tidak lama setelah itu dokter keluar dari ruang icu. Fahri dan Sita segera menghampirinya.
" Bagaimana keadaan Nenek saya Dok?" Tanya Fahri dan Sita bersamaan.
Fahri menatap tajam ke arah Sita membuat Sita menundukkan kepalanya.
" Beliau sudah melewati masa kritisnya Tuan, minum obat secara teratur dan istirahat cukup akan membantu beliau cepat pulih." Sahut dokter.
" Alhamdulillah." Fahri dan Sita kembali mengucapkan kata yang sama secara bersamaan.
" Saya akan memperhatikan ketepatan minum obatnya Dok." Ucap Sita.
" Saya juga menyarankan jaga kondisi dan tenangkan pikiran beliau, turuti apa yang beliau mau supaya beliau segera sehat kembali." Ujar dokter.
" Iya Dok, bolehkah kami menemuinya?" Tanya Sita.
" Saat ini Nyonya Mira sudah kembali ke ruangannya, silahkan temui beliau di sana." Sahut dokter.
" Baiklah Dok terima kasih." Ucap Fahri.
" Sama sama Tuan, saya permisi dulu." Ucap dokter meninggalkan Fahri dan Sita.
Fahri dan Sita saling melempar pandangan. Fahri segera memutusnya terlebih dahulu.
__ADS_1
" Maaf Tuan, bolehkah saya menemui Nenek sekarang?" Tanya Sita menatap Fahri.
" Baiklah kita masuk bersama saja." Sahut Fahri.
Fahri dan Sita berjalan menuju ruangan nenek Mira, keduanya masuk ke dalam secara bersamaan.
" Nenek." Ucap Sita menghampiri ranjang nenek Mira.
" Sita, Fahri maafkan Nenek yang telah membuat kalian cemas." Ucap nenek Mira.
" Bukan masalah Nek, Nenek harus banyak istirahat dan minum obat dengan teratur supaya Nenek cepat sembuh ya." Ucap Sita.
" Iya sayang, terima kasih sudah mencemaskan Nenek." Sahut nenek Mira.
" Fahri.." Panggil nenek Mira.
" Iya Nek, bagaimana?" Tanya Fahri menatap nenek Mira.
" Nenek sudah tua, umur Nenek tidak lama lagi...
" Jangan berbicara seperti itu Nek!" Ucap Fahri memotong ucapan nenek Mira.
" Memang itu kenyataannya Fahri." Sahut nenek Mira
" Ada satu keinginan Nenek yang harus kamu penuhi Fahri, Nenek mohon kabulkan permintaan Nenek supaya Nenek bisa pergi dengan tenang Nak." Ucap nenek Mira.
Fahri mengerutkan keningnya. Ia curiga dengan permintaan yang akan neneknya lontarkan.
" Permintaan apa itu Nek? Sebisa mungkin aku akan memenuhinya." Ujar Fahri.
Nenek Mira menoleh sekilas ke arah Sita lalu beliau menatap kembali ke arah Fahri.
" Nenek ingin kamu menikahi Sita."
Jeduar....
Bagai di sambar petir di siang bolong, tubuh Fahri kaku seolah tidak bisa di gerakkan.
" A... Aku....
" Nenek tidak mau menerima penolakan darimu Nak, jadi Nenek mohon kabulkanlah keinginan terakhir Nenek." Ucap nenek Mira.
" Sita tidak punya siapa siapa selain Nenek, dia akan kemana jika Nenek tiada nanti Fahri? " Tanya nenek Mira.
" Nenek jangan memikirkan aku..." Ucap Sita
" Tidak Sita, selama ini kamu sangat peduli kepada Nenek, sebelum Nenek pergi Nenek ingin memastikan kamu baik baik saja, dan kamu akan baik baik saja jika bersama dengan Fahri." Ucap nenek Mira memotong ucapan Sita.
Fahri menatap nyalang ke arah Sita. Kebencian dalam hatinya semakin menjadi.
" Jadi bagaimana Fahri? Apa kamu mau mengabulkan permintaan Nenek?" Tanya nenek Mira memastikan.
Mau nggak nih?
Pasti udah ketebak ya...
Jangan lupa like koment dan votenya ya biar Sita semangat mengejar cintanya lagi...
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
__ADS_1
Miss U All...
TBC...