Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Kepergian Nenek Mira


__ADS_3

Di rumah nenek Mira, Sita sedang mondar mandir di dalam kamar nenek Mira karena cemas. Berulang kali Sita menelepon Fahri namun tidak di angkatnya.


" Ya Tuhan apa yang Mas Fahri lakukan sampai tidak mengangkat teleponku." Gumam Sita.


Beberapa waktu yang lalu nenek Mira mengalami kejang kejang. Tiba tiba Ia pingsan tidak sadarkan diri. Sita sudah menelepon ambulans namun sampai saat ini ambulansnya belum tiba juga.


Sita mencoba menelepon Fahri kembali, namun hasilnya tetap sama. Fahri tidak mengangkatnya.


" Aku tidak akan memaafkanmu jika sampai terjadi sesuatu kepada Nenek Mas." Monolog Sita.


" Gimana Mbak Sita? Apa Mas Fahri mengangkat teleponnya?" Tanya art rumah sebelah.


" Tidak Mbak, Mas Fahri mungkin lagi sibuk, kita tunggu ambulans saja Mbak." Sahut Sita.


" Baiklah tapi maaf saya tidak bisa menemani lebih lama lagi karena saya sedang bekerja Mbak, saya takut majikan saya marah." Ujarnya.


" Tidak apa Mbak, terima kasih ya sudah membantu saya." Sahut Sita.


" Sama sama Mbak." Sahutnya.


Lima belas menit setelah itu ambulans tiba, nenek Mira segera di bawa ke rumah sakit terdekat.


Di rumah Kira, Fahri baru saja selesai bermain dengan Zavi. Ia mengambil ponsel yang Ia letakkan di atas meja.


" Tujuh panggilan dari Sita, kenapa dia meneleponku? Apa terjadi sesuatu kepada Nenek? Aku harus segera meneleponnya." Monolog Fahri sambil mengerutkan keningnya.


Fahri segera menelepon Sita untuk memastikan semuanya baik baik saja.


Tut.... Tut....


Panggilan terhubung namun Sita belum menjawabnya.


" Angkat Sita." Gumam Fahri.


Tut....


" Halo." Sapa Sita di seberang sana.


" Halo Sita kenapa kamu tadi meneleponku? Apa terjadi sesuatu dengan Nenek?" Tanya Fahri.


" Kenapa kau peduli pada Nenek? Nikmati saja waktumu bersama Tiara dan Kira, tidak perlu memikirkan Nenek." Sahut Sita kesal. Ia langsung mematikan ponselnya.


" Ah sial! Kenapa malah dia ketus gitu sih." Umpat Fahri.


" Aku akan menelepon pak Udin." Ujar Fahri mencoba menelepon satpam kompleksnya.


" Halo Mas Fahri." Ucap pak Udin setelah mengangkat panggilannya.


" Halo Pak, maaf saya mau tanya apa keadaan di rumah saya baik baik saja?" Tanya Fahri memastikan.


" Tidak Mas." Sahut pak Udin.


" Apa maksudnya tidak Pak?" Tanya Fahri.


" Baru saja Nenek Mira di bawa ke rumah sakit Mas, beliau kejang kejang dan setelah itu tidak sadarkan diri." Ujar pak Udin.


Jeduarrr....


" A.... Apa?" Pekik Fahri.


" Nenek saya kejang kejang?" Tanya Fahri memastikan.


" Iya Mas, katanya Mbak Sita sudah menghubungi Mas Fahri berkali kali tapi tidak di angkat jadi Mbak Sita menelepon ambulans Mas, kasihan Mbak Sita Mas bahkan sampai nangis nangis karena panik Nenek Mira kenapa napa." Terang Pak Udin.


" Nenek saya di bawa ke rumah sakit mana Pak?" Fahri kembali bertanya.

__ADS_1


" Rumah sakit xx Mas." Sahut pak Udin.


" Baiklah saya akan segera ke sana, terima kasih Pak." Ucap Fahri mematikan sambungan teleponnya.


" Kenapa Om?" Tanya Zavi menatap Fahri.


" Om harus pulang sekarang, nenek Om masuk ke rumah sakit, kita mainnya lain kali lagi ya." Ucap Fahri.


" Iya Om, semoga nenek Om cepat sembuh." Ucap Zavi.


" Terima kasih sayang." Sahut Fahri.


Fahri dan Zavi menghampiri Kira dan Tiara di ruang tamu.


" Sudah selesai mainnya?" Tanya Kira menatap Zavi.


" Sudah Mom." Sahut Zavi.


" Kira aku harus pulang sekarang, Nenekku masuk ke rumah sakit jadi aku harus kesana." Ucap Fahri.


" Boleh aku ikut bersama Kakak? Aku ingin menjenguk Nenek Kak Fahri." Ujar Kira.


" Tapi Zavi...


" Zavi biar sama Mbak Lela." Sahut Kira memotong ucapan Fahri.


" Baiklah, ayo Tiara." Ajak Fahri.


" Iya." Sahut Tiara.


Setelah menitipkan Zavi kepada pengasuhnya, Fahri segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit xx.


Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di sana. Ketiganya segera menuju ruang igd dimana nenek Mira di tangani.


" Nenek." Ucap Fahri menghampiri nenek Mira yang sedang berbaring lemah di atas brankar.


Deg....


Jantung Sita berdetak kencang menatap Kira yang berada di sana. Hatinya berdenyut nyeri melihat Fahri membawa Kira menemui neneknya.


" Fahri." Lirih nenek Mira.


" Nenek baik baik saja?" Tanya Fahri duduk di kursi samping ranjang.


" Nenek merasa waktu Nenek tidak akan lama lagi." Sahut nenek Mira.


" Nenek tidak boleh berbicara seperti itu Nek." Sahut Fahri.


" Siapa gadis itu Fahri?" Tanya nenek Mira menunjuk Kira.


Kira maju ke depan menyalami nenek Mira dengan takzim.


" Aku Kira Nek, temannya Kak Fahri." Ucap Kira.


" Kamu Kira?" Tanya nenek Mira memastikan.


" Iya Nek." Sahut Kira.


" Jadi ini wanita yang di cintai Fahri? Kamu sangat cantik dan terlihat baik hati Nak." Ucap nenek Mira memuji Kira.


" Terima kasih Nek, Nenek cepat sembuh ya biar kita bisa mengenal satu sama lain." Ucap Kira.


" Entahlah Nak, rasanya Nenek sudah tidak kuat lagi." Sahut nenek Mira.


" Nenek harus tetap optimis dan semangat demi Kak Fahri, apa Nenek tidak mau melihat cucu Nenek dari Kak Fahri?" Ujar Kira menghibur nenek Mira.

__ADS_1


" Terima kasih sudah memberi semangat kepada Nenek." Ucap nenek Mira.


" Fahri." Panggil nenek Mira.


" Iya Nek, apa Nenek membutuhkan sesuatu?" Tanya Fahri.


" Nenek hanya ingin menitipkan Sita kepadamu, Nenek tahu kau sangat sulit melupakan wanita sebaik Kira, tapi Nenek mohon belajarlah mencintai Sita sayang.... Dengan begitu nama Kira akan tergantikan dengan nama Sita Nak." Ujar nenek Mira dengan nafas tersengal.


" Nenek tidak perlu khawatir, Kak Fahri akan melakukan apapun keinginan Nenek, dan aku akan mendukungnya Nek." Sahut Kira.


" Kira... Nenek minta kepadamu berilah pengertian kepada Fahri jika kalian tidak berjodoh, buatlah Fahri menerima Sita dengan sepenuh hati Nak, kamu mau membantu Nenek kan?" Tanya nenek Mira menatap Kira.


" Aku akan berusaha Nek." Sahut Kira.


" Sita." Panggil nenek Mira.


" Iya Nek." Sahut Sita mendekati nenek membuat Fahri dan Kira mundur menjauh dari ranjang.


" Nenek berharap kamu akan selalu sabar menghadapi sikap Fahri, terus dampingi dia dan cintai dia sebagai suamimu." Ucap nenek Mira.


" Iya Nek." Sahut Sita.


Tiba tiba nafas nenek Mira tersengal sengal dan.....


Titttt....


Nenek Mira menghembuskan nafas terakhirnya.


" Ne.... nek..." Teriak Sita memeluk tubuh nenek Mira.


" Minggir." Fahri mendorong tubuh Sita. Sita menjauh dari ranjang dan berdiri di belakang Kira.


" Nenek bangun Nek! Kenapa secepat ini Nenek meninggalkan aku? Hiks...." Ucap Fahri sambil menangis.


" Nenek... Hiks...." Isak Fahri.


" Yang sabar ya Kak." Ucap Kira menepuk pundak Fahri.


Fahri menatap Kira lalu....


" Nenek... Kira... Nenek meninggalkan aku." Isak Fahri memeluk Kira membuat tubuh Kira mematung.


" Belum lama kami bertemu Nenek sudah meninggalkan aku Ki, aku sangat menyayangi Nenek, aku sangat menyayanginya." Ucap Fahri.


" Iya Kak kami tahu kok kalau Kakak menyayangi Nenek Mira, tapi Kakak harus ikhlas melepas kepergian supaya tidak memberatkan kepergian Nenek Kak." Ujar Kira.


Sita yang melihatnya merasa sakit yang mendalam dalam hatinya. Tidak mau merasakan lebih sakit lagi, Ia segera keluar ruangan untuk memanggil dokter.


" Sabar dan ikhlaskan Kak." Ucap Kira mengelus punggung Fahri.


Sebenarnya Kira tidak nyaman di peluk oleh Fahri tapi mau gimana lagi? Saat ini Fahri membutuhkan dukungan dari orang orang sekitarnya.


Kira menatap Tiara seolah memintanya untuk membantunya namun Tiara malah membalasnya dengan anggukan kepala.


" Aku turut berduka ya Kak, semoga Nenek di tempatkan di tempat terindah di sisi Tuhan." Ucap Kira.


" Terima kasih Ki, kamu memang yang terbaik." Sahut Fahri.


Kurang ya bawangnya????


Tambahin sendiri aja ya ha ha...


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat nih melanjutkan kisah mereka....


Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All....


TBC.....


__ADS_2