
" Sebenarnya aku dan Hena tidak pernah menikah." Ucap Imran dengan lantang.
" Apa?" Pekik Mila menatap Imran tak percaya. Jadi selama ini Ia di bohongi oleh suaminya sendiri? Apa ini trik dari Imran supaya dirinya mau pulang kembali bersama Imran?
" Jangan mencoba membodohiku Mas, Aku tidak akan terkecoh oleh sandiwaramu itu." Sambung Mila.
" Tidak sayang.... Itu kebenaran bukan sandiwara ataupun kebohongan, Maafkan aku yang selama ini tidak jujur padamu sayang... Sebenarnya aku mau mengungkapkan kejujuran ini saat di Cafe KA tapi sayang kamu justru pergi meninggalkan aku." Terang Imran.
" Aku pergi karena aku mengalah, Aku tidak mau membuat Mbak Hena sedih lagi di saat saat terakhirnya." Sahut Mila.
" Kau di bodohi olehnya, Ternyata dia sudah merencanakannya sejak awal." Ucap Imran.
" Apa maksudmu Mas?" Tanya Mila.
" Semua berawal dua hari sebelum kita menikah, Hena teman masa kecilku di desa datang kepadaku mengaku jika dia terkena penyakit kanker otak stadium tiga, Ia mengaku tidak punya siapa siapa lagi dan dia bingung hendak meminta pertolongan pada siapa di sisa hidupnya, Sebagai teman aku mencoba membantunya tapi dia memintaku untuk mengakuinya sebagai istriku dan tinggal bersamaku." Jelas Imran menghela nafasnya.
Flashback On
" Imran ku mohon tolonglah aku, Akui aku sebagai istrimu dan biarkan aku menghabiskan sisa hidupku bersamamu di sini, Aku akan melakukan pekerjaan rumah seperti pembantu, Aku tidak akan diam seperti ratu, Aku juga akan menuruti semua perintahku, Tapi ku mohon tolonglah aku, Aku tidak punya siapa siapa lagi Imran... Hiks hiks." Pinta Hena sambil menyeka air matanya.
" Bagaimana mungkin Hena, Dua hari lagi aku akan menikah bagaimana reaksi istriku jika melihat kau tinggal di sini, Apalagi mengakuimu sebagai istri pertama, Kau benar benar gila Hen." Ujar Imran.
" Ku mohon Ran tolong aku." Lirih Hena.
" Aku akan menolongmu dan membiarkanmu tinggal di sini tapi sebagai pembantuku." Ucap Imran.
" Ran.. Jika kau mengakuiku sebagai pembantumu maka kau tidak akan leluasa menolongku jika terjadi sesuatu padaku, Bagaimana jika saat aku koleps? Kau tidak akan bisa membantuku karena istrimu pasti akan cemburu pikirkan itu Ran, Lagian aku yakin istrimu wanita kuat Ia tidak akan mudah terintimidasi dengan kehadiranku? Jika sudah tiba waktunya aku sendiri yang akan mengungkap kebenarannya." Ujar Hena.
Hena benar jika Mila adalah sosok wanita yang kuat, Imran menimbang nimbang keputusan apa yang akan Ia ambil sampai tiba tiba...
Brugh....
Hena terkapar di lantai, Imran panik ia segera membopong tubuh Hena menuju kamar tamu. Ia merebahkan tubuh Hena di sana. Imran segera menelepon dokter keluarga untuk meminta bantuannya.
Sambil menunggu kedatangan Dokter Imran memberanikan diri membuka tas yang di bawa Hena. Ia menemukan sebuah kertas berisi rekam medik yang menyatakan jika pasien atas nama Hena terkena penyakit kanker stadium tiga. Hati Imran trenyuh tak tega melihatnya.
Tok tok
Imran menoleh ke arah pintu, Ia melihat Dokter Angga masuk ke dalam menghampirinya.
" Siapa?" Tanya Dokter Angga.
" Temanku, Dia tiba tiba pingsan." Sahut Imran.
" Apa itu?" Tanya Dokter Angga menatap kertas di tangan Imran.
" Hasil pemeriksaannya, Dia terkena kanker otak stadium tiga." Jawab Imran.
" Bisa aku memeriksanya? Aku juga ingin tahu riwayat kesehatannya." Ujar Dokter Angga.
" Egh..." Lenguh Hena membuat kedua pria itu menoleh ke arahnya.
" Kamu sudah sadar?" Ujar Imran sambil memasukkan kertas itu ke dalam tas Hena kembali.
__ADS_1
" A... Aku kenapa?" Lirih Hena memegangi kepalanya.
" Kamu pingsan, Saya periksa dulu ya." Ucap Dokter Angga.
Dokter Angga mulai memeriksa Hena dari denyut nadi, Tensi dan detak jantungnya.
" Dia kelelahan, Karena darahnya rendah hingga mengakibatkannya pingsan." Ujar Dokter Angga.
" Apa anda sering mimisan?" Tanya Dokter Angga.
" Kenapa?" Hena balik bertanya.
" Bukankah anda terkena kanker otak?" Tanya Dokter Angga.
" Ah iya sering Dok, Tapi saya selalu menyembunyikannya dari orang lain." Sahut Hena.
" Baiklah saya sarankan besok periksalah ke rumah sakit agar hasilnya jelas, Saya tidak berani memberikan obat karena seharusnya anda mengkonsumsi obat khusus." Ujar Sokter Angga.
" Baik Dok." Sahut Hena.
Flashback Off.
" Dan saat itu juga tanpa curiga aku menyetujui permintaannya, Aku mengakuinya sebagai istri pertamaku di hadapanmu, Itulah sebabnya aku melarangmu untuk memberitahu orang tuaku." Ujar Imran.
" Lalu sekarang Mbak Hena Gimana?" Tanya Mila menatap Mila.
" Dia sudah aku usir dari rumah." Jawab Imran.
" Dia membodohiku dengan kebohongan tentang penyakitnya." Ujar Imran.
" Jadi maksud kamu Mbak Hena tidak sakit?" Tanya Mila. Imran menganggukkan kepalanya.
" Selama ini dia membohongi kita?" Mila bertanya kembali.
" Iya sayang, Ternyata dia melakukan semua itu karena dia mencintaiku dan ingin menguasai hartaku, Yang sakit sebenarnya adiknya, Apa kau tahu niat dia ingin merebutku darimu? Untung aku menyuruh Abbas untuk menyelidiki tentang kebenarannya." Ucap Imran.
" Kenapa Mbak Hena berani bermain main dengan yang namanya penyakit?" Gumam Mila.
" Biarlah tidak perlu di pikirkan." Sahut Imran.
" Mila." Ucap Imran menggenggam tangan Mila.
" Maafkan Mas, Apa kamu mau memaafkan kesalahanku?" Tanya Imran menatap Mila.
" Entahlah Mas." Sahut Mila.
" Sayang aku benar benar mencintaimu, Aku tidak bisa hidup tanpamu sayang, Maukah kau pulang bersamaku? Kita mulai semuanya dari awal tanpa kebohongan." Ucap Imran menatap Mila dengan tatapan penuh harap.
Mila menghela nafasnya. Ia bingung harus mengucapkan apa. Sejujurnya Ia ingin langsung bilang Iya, Tapi Mila ingin tahu bagaimana usaha Imran mendapatkan maafnya dan menunjukkan cintanya.
" Sayang mau ya? Kalau kamu mau kita langsung pulang hari ini karena hari esok Mas ada meeting di perusahaan." Ujar Imran.
" Meeting? Di perusahaan?" Tanya Mila.
__ADS_1
" Iya mulai besok pagi Mas sudah kembali memimpin perusahaan lagi." Sahut Imran.
" Jika kamu pemimpin perusahaan lalu kenapa kamu jadi guru di sekolahanku?" Tanya Mila dengan keingintahuannya.
" Karena aku hanya ingin mengawasi kamu saja supaya kamu tidak di rebut oleh orang lain." Sahut Imran membuat Mila melongo.
" Jadi sebenarnya kamu bukan guru?" Selidik Mila.
" Ya guru lah Yank orang aku ngajar sampai tiga tahun di sana." Kekeh Imran.
" Katanya kamu ngajar cuma buat ngawasi aku aja berarti sebenarnya kamu bukan guru kan?" Tanya Mila.
" Bukan.. Aku seorang Direktur di perusahaan DIM Group." Sahut Imran.
" Lalu selama ini siapa yang menggantikanmu?" Selidik Mila.
" Ya aku bolak balik lah Yank, Demi cinta apapun akan Mas lakukan." Sahut Imran.
" Heh gombal, Aku tidak percaya akan adanya cinta, Bagiku tidak ada yang bisa mencintai dengan tulus." Ucap Mila.
" Kau salah sayang, Cintaku padamu sangat tulus dari hatiku jika kau merasakannya." Ujar Imran.
" Dan sayangnya aku tidak merasakannya, Cintamu penuh dengan kepalsuan dan tipu tipu." Ejek Mila dengan senyum sinisnya.
" Kau akan merasakannya mulai saat ini dan kau akan mengakuinya suatu saat nanti, Sekarang kemasi barang barangmu! Penerbangan kita tiga jam lagi." Ujar Imran.
" Apa? Aku belum memberimu jawaban kenapa kau sudah memutuskan?" Kesal Mila.
" Kalau menunggu jawabanmu kelamaan, Suka atau tidak suka kau harus ikut bersamaku karena aku suamimu, Aku berhak atas dirimu." Tegas Imran.
" Ya ya ya kalian selalu saja semena mena kepadaku, Apapun yang aku lakukan baru di atur oleh kalian." Ketus Mila berjalan menuju kamarnya.
" Sayang bukan seperti itu." Ujar Imran mengejar Mila saat sampai di depan pintu tiba tiba....
Brak....
Imran berjingkrak kaget saat Mila menutup pintu kamarnya dengan kencang.
" Mila... Mila sayang jangan marah Mil, Bukan itu maksudku.... Sayang buka sayang." Ujar Imran menggedor pintunya.
" Sayang dengarkan aku...." Teriak Imran.
Tidak ada sahutan, Imran kembali duduk di sofa memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk meluluhkan hati Mila.
TBC....
*Yok bantu Imran memikirkan caranya...
Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya...
Makasih atas suport yang para readers berikan
MISS U ALL*...
__ADS_1