
Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi. Hari ini ada rapat dadakan untuk para anggota himpaudi jadi play group di bubarkan lebih awal. Kinan sudah berulang kali menelepon nomer Aroon sebagai wali murid dari Zavran tapi tidak di angkat. Kinan bingung mau menghubungi siapa lagi karna Bu Ike hanya memberikan nomer Aroon kepadanya. Kinan tidak ikut rapat karna Ia hanya guru magang saja. Saat ini Kinan sedang menunggu wisuda untuk gelar sarjananya. Ia mengambil jurusan ekonomi tapi cita citanya menjadi seorang guru.
" Duh gimana ini? Mana Bu Ike hanya memberi nomer Om Aroon saja lagi.... Mau menghubungi siapa lagi ya? Eh Zavran bilang kan tidak punya Mama, pastinya memang nomer Om Aroonlah yang ada." Batin Kinan.
" Zavran dimana kamu tinggal?" Tanya Kinan.
" Di perumahan Teratai residence Ma." Sahut Zavran kukuh pada pendiriannya untuk memanggil Kinan dengan sebutan Mama.
" Perumahan Teratai Residence tidak sembarang orang bisa ke sana, lagian taksi nggak boleh masuk ke dalam juga." Gumam Kinan dalam hati.
" Kamu tahu kantor Papamu?" Tanya Kinan lagi.
" Tahu Ma, ayo kita ke sana saja." Sahut Zavran.
" OK... Naik mobil bu guru saja ya." Ujar Kinan.
" Apan nggak mau panggil bu guru, panggil Mama aja." Ucap Zavran.
" Baiklah Zavran terserah kamu saja." Ujar Kinan mengalah. Ia tidak mau sampai Om Om setengah tua itu menghukumnya dengan hal di luar dugaannya.
Kinan menggandeng Zavran menuju mobilnya. Ia membuka pintu depan untuk Zavran setelah itu Ia duduk di kursi kemudi.
" Dimana kantor Papamu?" Tanya Kinan.
" Di jalan Persada Raya nomer lima belas Ma." Sahut Zavran.
" Baiklah kita ke sana ya." Sahut Kinan.
Kinan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kantor Aroon. Sekitar setengah jam mobil Kinan sampai di parkiran kantor. Kinan menatap gedung yang menjulang tinggi berlogo AA Group.
" Ayo turun." Ajak Kinan.
Keduanya turun dari mobil. Kinan menggandeng Zavran masuk ke lobby kantor.
" Selamat siang Mbak." Sapa Kinan kepada receptionits.
" Selamat siang ada yang bisa saya bantu?" Tanya Receptionist.
" Mama kita langsung masuk aja ke ruangan Papa, ayo." Ajak Zavran.
Sang reseptionist menatap ke arah Zavran sambil melongo.
" Mama?" Gumam Receptionist.
" Kenalin Mbak ini Mamanya Apan, Apan ke ruangan Papa dulu ya." Ujar Zavran menarik tangan Kinan.
" Mari Mbak." Ucap Kinan.
" Mari Nyonya." Sahut receptionist.
Kinan dan Zavran menuju ruangan Aroon di lantai lima. Setelah menaiki lift Zavran menarik tangan Kinan masuk ke dalam ruangan Papanya.
" Papa Apan sama Mama datang." Teriak Zavran sambil mendorong pintu dengan kuat.
Semua orang di dalam yang berjumlah enam orang menatap ke arah Kinan dan Zavran. Ternyata Aroon sedang ada meeting dengan client di ruangannya.
" Ah maaf saya tidak tahu jika kalian sedang meeting." Ucap Kinan.
" Sayang ayo kita keluar dulu, Papamu sedang meeting." Sambung Kinan.
" Maaf Pa, Apan tunggu di luar sama Mama ya." Ujar Zavran.
" Kenapa menunggu di luar Nyonya Aroon, tunggu di sini saja meetingnya juga sudah selesai tinggal mengecek kelengkapan berkas saja." Ucap salah satu client Aroon menatap Kinan dengan tatapan tertariknya. Aroon bisa menyadari itu.
__ADS_1
Client Aroon kali ini seorang pengusaha muda bernama Madav. Ia mempunyai wajah tampan dan rupawan. Usianya jauh lebih muda dari Aroon.
" Kami tunggu di luar saja Pak." Sahut Kinan sopan.
" Nanti di bawa orang lhoh, wanita cantik dan muda seperti anda di luar hanya berdua bersama anak kecil." Ujar Madav.
" Tidak masalah." Sahut Kinan.
" Oh ya kenalkan saya Madav, rekan kerja Tuan Aroon." Ucap Madav yang di balas senyuman dari Kinan.
" Sayang tunggulah sebentar di kamar, aku akan menyelesaikan sedikit pekerjaanku dulu, setelah itu aku akan menyusul." Titah Aroon membuat Kinan melongo karna di panggil sayang oleh Om Om setengah tua itu.
" Ayo Ma kita tunggu di kamar aja." Ajak Zavran menarik tangan Kinan.
" Ah baiklah." Sahut Kinan.
Kinan hanya menurut saja. Ia tidak mengelak jika Ia di anggap sebagai Nyonya Aroon oleh rekan kerja Aroon karna Ia takut akan membawa masalah untuk dirinya maupun Aroon. Ia tahu soal jaga image seorang pengusaha karna Papanya juga seorang pengusaha. Madav menatap Kinan tanpa berkedip membuat Aroon mengepalkan tangannya erat.
" Kita akhiri sampai di sini Tuan Madav, dan satu lagi jaga pandangan anda dari istri saya Tuan." Ucap Aroon tegas.
" Anda beruntung sekali memiliki istri cantik yang masih sangat muda Tuan, saya rasa usia anda terpaut jauh dengannya, seandainya saja dia bukan istri anda saya pasti akan langsung melamarnya." Ucap Madav.
" Sayangnya dia sudah menjadi istri saya Tuan, pintu keluar ada di sana, saya mau menemui istri dan putraku dulu." Sahut Aroon berdusta.
" Baiklah Tuan Aroon saya permisi, senang bisa bekerja sama dengan anda." Ucap Madav.
" Hmm." Gumam Aroon menatap kepergian Madav beserta para stafnya.
" Kenapa aku berbohong soal Kinan? Kenapa aku merasa tidak senang saat Madav menatap Kinan? Ada apa dengan hatiku? Rasanya aku sangat kesal saat Madav mengatakan ingin melamar Kinan? Ah... Sepertinya ada yang tidak beres denganku." Ujar Aroon dalam hati.
Aroon masuk ke dalam ruangan pribadinya. Ia menatap Kinan yang sedang berbaring sambil memeluk Zavran. Ia menepuk pelan pantat Zavran.
" Apa Zavran mau tidur?" Tanya Aroon membuat Kinan kaget.
Kinan beranjak hendak turun dari ranjang tapi Zavran menahannya.
" Mama Apan ngantuk, peluk Apan lagi." Ujar Zavran.
" Tidak biasanya kamu mengantuk jam segini Van." Ujar Aroon.
" Zavran kalau mengantuk tidur saja, ada yang mau Kak Kinan omongin sama Papa kamu ya." Ujar Kinan.
" Iya Ma." Sahut Zavran.
Kinan turun dari ranjang, Ia menarik yangan Aroon keluar kamar.
" Apa maksud Om manggil aku sayang dan mengakuiku sebagai istrimu di depan clientmu?" Selidik Kinan menatap Aroon.
" Memangnya kenapa?" Tanya Aroon.
" Itu akan mematikan jalan jodohku Om, Oh my god.... Cowok setampan Madav harus lolos begitu saja gara gara ucapanmu Om." Ucap Kinan.
" Bukankah kamu berjanji pada Zavran akan menjadi Mamanya? Itu berarti kamu calon istriku kan." Ujar Aroon.
" Ha???" Gumam Kinan melongo.
" Astaga janji itu lagi, apa Om berharap itu akan menjadi kenyataan begitu? Apa Om kira aku mau menikah dengan duda setengah tua sepertimu begitu Om?" Tanya Kinan.
" Kenapa tidak?" Aroon balik bertanya.
" Lihat umur Om, umur kita berbeda sangat jauh, bahkan lima belas tahun dan lupakan soal janji itu, aku yakin lama kelamaan Zavran akan lupa dengan sendirinya." Ujar Kinan membuat harga diri Aroon terluka.
" Kau selalu mengatakan aku pria tua, apa kau ingin merasakan kekuatan pria tua ini?" Geram Aroon mendekati Kinan.
__ADS_1
Kinan memundurkan tubuhnya karna sedikit takut menghadapi Aroon. Mundur lagi, semakin mundur hingga tubuh Kinan membentur meja. Ia tidak bisa menghindar dari Aroon karna Aroon mengunci tubuh Kinan dengan kedua tangannya. Aroon menatap wajah Kinan yang putih berseri.
" Apa yang mau kamu lakukan Om?" Tanya Kinan.
" Aku mau memberikan pelajaran pada bibirmu yang sudah menghinaku." Ucap Aroon menatap bibir pink Kinan.
" Jangan Om, maafkan aku." Sahut Kinan.
Aroon mengunci kedua tangan Kinan ke belakang dengan satu tangannya, sedangkan tangan satunya menahan tengkuk Kinan.
" Lepas Om ku mohon." Lirih Kinan ketakutan.
Aroon memajukan wajahnya dan mencium bibir Kinan.
" Hmmpt." Kinan mencoba memberontak tapi tenaganya kalah kuat dengan tenaga Aroon.
Aroon menginggit bibir Kinan membuat Kinan membuka sedikit mulutnya. Aroon menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Kinan. Ia mengekspos setiap inchinya walaupun sedikit kesulitan karna Kinan terus bergerak. Air mata Kinan menetes di pipinya. Ia merasa telah di lecehkan oleh pria di hadapannya.
Aroon merasakan asin pada lidahnya. Ia menatap wajah Kinan yang berurai air mata. Kesadaran Aroon kembali sepenuhnya. Ia melepas pagutannya dan tangan yang mengunci tangan Kinan.
Plakkkk......
Tamparan keras mendarat di pipi Aroon dari Kinan.
" Maafkan aku." Sesal Aroon.
" Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Aku membencimu... Aku membencimu." Bentak Kinan menunjuk wajah Aroon.
" Maafkan aku Kinan, aku tidak...
" Aku tidak peduli apapun alasanmu, aku harap kita tidak akan pernah bertemu lagi, dan seandainya kita bertemu anggap saja kita tidak pernah mengenal sebelumnya." Ucap Kinan.
Kinan mengusap air matanya. Ia berlari keluar meninggalkan ruangan Aroon.
" Kinan tunggu." Teriak Aroon mengejar Kinan.
Para karyawan pun melihat adegan Bosnya sedang mengejar mantan istrinya yang sedang menangis. Mereka meyakini ada sesuatu hal buruk yang terjadi di antara keduanya.
" Kinan tunggu." Ucap Aroon mengetuk pintu mobil Kinan.
Kinan melajukan mobilnya keluar dari tempat parkir.
" Tutup gerbangnya." Teriak Aroon pada penjaga gerbang. Tapi sayang penjaga gerbang tidak mendengar teriakan Aroon hingga mobil Kinan berhasil melesat jauh meninggalkan kantor Aroon.
" Arghhh... bodoh bodoh bodoh... Kenapa aku harus menciumnya? Kenapa aku tidak bisa menahan hasratku saat di dekatnya... Ada apa denganmu Aroon...." Monolog Aroon menarik rambutnya kasar.
*Kira kira Aroon dan Kinan akan bertemu lagi nggak ya????
Jangan lupa untuk like dan koment di setiap babnya ya...
Terima kasih untuk readers yang sudah mensuport author...
Miss U All*...
TBC...
Bonus Papa Aroon yang tampan
Mama Kinan yang cuantik
__ADS_1