Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Di Rumah Aroon


__ADS_3

Kinan melihat lihat kamar Aroon. Dinding bercat putih dan beberapa barang koleksi tertata rapi di dalam bufet. Ranjang yang hanya cukup untuk tidur berdua dan...


" Tunggu.... Kenapa ranjangnya sempit? Dan sofa? Mana sofa?" Monolog Kinan mencari cari sofa di dalam kamar Aroon. Jawabannya tidak ada.


" Berarti aku harus tidur berdua nih, rese' juga tuh Om Om setengah tua." Ujar Kinan telungkup di atas ranjang sambil memainkan kelopak mawar yang menghiasi ranjangnya.


" Oh kelopak mawar ini akan terlihat begitu indah jika aku menikah dengan orang yang aku cintai, tapi sayangnya kau terlihat mengerikan karna aku menikah dengan Om Om itu.... Hua... Kenapa nasibku begini amat, umurku dua puluh tahun tapi aku harus menikah dengan pria berumur tiga puluh lima tahun, duda dua kali lagi, malang sekali nasib putrimu Ma." Gerutu Kinan.


" Jangan menggerutukan umurku sayang, justru dengan umurku yang sekarang ini masih matang matangnya, sekali coba langsung jadi." Ujar Aroon menghampiri Kinan.


" Bodo' ah siapa juga yang mau mencoba, rugi banyak aku." Sahut Kinan tanpa merubah posisinya.


" Walaupun aku duda dua kali tapi aku masih perjaka sayang, kalau nggak percaya kau bisa membuktikannya." Ujar Aroon.


" Nggak mau." Sahut Kinan.


Blugh...


Aroon membantingnya tubuhnya di sebelah Kinan membuat ranjangnya bergerak. Aroon memiringkan tubuhnya menatap Kinan yang sedang menata kelopak bunga mawar menjadi tulisan.


" Coba buat tiga kata." Ujar Aroon.


" Apasih, buat sendiri kan bisa." Sahut Kinan.


" Aku ingin kamu yang membuatnya sayang." Ucap Aroon mengelus rambut Kinan.


" Nggak usah sentuh sentuh deh." Sahut Kinan.


" Kenapa? Emang ada larangan menyentuh istri sendiri?" Kekeh Aroon.


" Udah diam, kalau enggak pergi sana Om aku mau santai sendiri aja." Ujar Kinan.


" Kinan sayang, aku ini suamimu jadi mulai sekarang panggil aku Mas ya, jangan Om nanti orang orang yang tidak tahu kalau kamu istriku akan memandang rendah dirimu, mereka akan mengira kalau kamu simpanan Om Om." Ujar Aroon.


" Tinggal di ralat, istri Om Om gitu." Sahut Kinan.


Aroon menghela mafasnya, Ia memejamkan matanya mengumpulkan kesabaran untuk menghadapi istri kecilnya.


" Sayang Mas mau tidur dulu ya, Mas capek." Ucap Aroon.


" Tidur tinggal tidur nggak ada yang melarang juga." Sahut Kinan.


" Bangunkan aku jika sudah sore." Ucap Aroon.


" Hmm." Gumam Kinan.


Aroon tidur terlentang menutup matanya dengan satu lengannya. Kinan turun dari ranjang mengambil ponselnya. Ia duduk bersandar pada headboard sambil memainkan ponselnya. Tanpa sengaja Kinan menatap wajah Aroon.


" Kamu tampan juga Om, kamu juga kelihatan lebih muda dari usiamu." Lirih Kinan.


" Eh apaan sih aku ini kan malu kalau dia denger." Monolog Kinan.


Kinan membuka sosmednya tak lama setelah itu pintu di ketuk dari luar.

__ADS_1


" Papa." Panggil Zavran dari luar kamar.


" Zavran." Gumam Kinan.


Kinan turun dengan pelan takut menganggu tidur Aroon, Ia membukakan pintu untuk Zavran.


" Mama, Papa mana?" Tanya Zavran.


" Papamu sedang tidur sayang, kamu sama siapa ke sini?" Tanya Kinan.


" Sama Mommy, Apan kangen sama Papa mau main." Ujar Zavran.


" Tapi Papa nggak bisa di ganggu gimana donk? Tadi Papa bilang capek mau tidur gitu." Terang Kinan.


" Ya udah deh Apan main saja sama Mama, ayo Ma." Sahut Zavran menarik tangan Kinan.


Kinan dan Zavran turun ke bawah menghampiri Mila yang sedang duduk di ruang tamu.


" Hai Mbak." Sapa Kinan.


" Hai, panggil Mila aja." Ujar Mila.


" Kesannya kurang sopan karna kamu lebih tua dari aku, jadi aku panggil Mbak aja." Ujar Kinan.


" Baiklah senyaman kamu saja." Sahut Mila.


" Oh ya Kinan, apa aku boleh meninggalkan Zavran bermain di sini seperti biasa? Hari ini jatah Kak Aroon bersama Zavran jadi Zavran ngotot mau ke sini, maaf ya mengganggu waktumu." Ucap Mila.


" Aku tidak akan mengubah jadwal Zavran bersama Mas Aroon Mbak, biarkan terjadi seperti biasa." Sahut Kinan mengerti.


" Aku tidak terganggu sama sekali Mbak." Sahut Kinan.


" Ya sudah aku pulang dulu ya, titip Zavran." Ucap Mila.


" Iya hati hati Mbak." Sahut Kinan.


Mila pergi meninggalkan rumah Aroon.


" Mama ayo kita ke ruang bermain." Ajak Zavran.


" Emang ada ya?" Tanya Kinan.


" Ada Mama.... Papa membuatkan kamar khusus untukku bermain di sana, ayo." Sahut Zavran menunjuk sebuah pintu bergambarkan binatang binatang.


Ceklek....


Zavran membuka pintunya, Ia masuk ke dalam mengambil mainannya lalu duduk di karpet bulu yang tersedia di sana. Kinan menatap kagum ruangan itu, ruangan yang mirip dengan kelas play groupnya. Mainan dan alat alat tulis lengkap tertata rapi di almari. Kinan menatap ke arah Zavran yang sedang bermain bersama robotnya.


" Siapa kamu sebenarnya? Kenapa Om Aroon begitu mengistimewakan dirimu? Apa benar kamu anak dari adik jauhnya? Tapi kenapa hanya kamu yang istimewa? Atau memang hanya kamu keponakan yang dia punya?" Ujar Kinan dalam hati bertanya tanya.


" Mama lihat robotku bisa berjalan lho." Ucap Zavran.


" Ah iya kau benar, wah hebat sekali ya." Sahut Kinan ikut duduk di samping Zavran.

__ADS_1


" Kalau Mama sukanya mainan apa?" Tanya Zavran.


" Suka main ponsel." Sahut Kinan jujur.


" Kata Papa nggak baik mainan ponsel terus, bisa membuat mata kita menjadi sakit Ma." Ujar Zavran.


" Iya ya..." Sahut Kinan.


Kinan menemani Zavran main hingga hari menjelang sore. Asyik juga ya ikut bermain bersama anak kecil seusia Zavran yah walau kadang harus menahan emosi.


Aroon yang baru bangun tidur mencari cadi Kinan sampai ke dapur. Saat melewati ruangan Zavran, Ia melihat Kinan sedang bermain dengan Zavran. Ia menyunggingkan senyumnya. Aroon berjalan pelan memdekati Kinan tanpa Kinan sadari.


" Sore sayang." Ucap Aroon merangkul pundak Kinan.


" Apa sih Om, minggir." Sahut Kinan menepis tangan Aroon.


" Jangan kasar donk Yank." Ujar Aroon.


" Bodo' salah siapa pegang pegang." Sahut Kinan.


" Papa Apan kangen." Ucap Zavran memeluk Aroon.


" Masa' sih? Kan baru kemarin ketemu." Ujar Aroon mencium pipi Zavran.


" Kan bertemu doank nggak main bareng sama Papa." Ucap Zavran.


" Iya deh Papa juga kangen sama kamu, uluh anak Papa yang paling ganteng." Ujar Aroon.


" Siapa sebenarnya dia Om?" Tanya Kinan.


Aroon menoleh ke arah Kinan.


" Jangan panggil Om karna aku tidak pernah menikah dengan Tantemu." Sahut Aroon.


" Zavran main lagi sana, Papa mau ngobrol dulu sama Mama." Sambung Aroon.


" Iya Pa." Sahut Zavran kembali bermain.


" Kenapa kamu bertanya seperti itu?" Tanya Aroon menatap Kinan.


" Ya aku ingin tahu aja, sepertinya Zavran begitu istimewa bagimu." Ujar Kinan.


" Dia putra kandung Mila dan Imran, tapi aku sudah menganggapnya sebagai putraku sendiri." Sahut Aroon.


" Siapa Mila da Imran itu? Apa dia saudaramu?" Tanya Kinan.


Deg....


Aroon tidak mungkin jujur kepada Kinan jika Mila wanuta yang pernah di cintainya. Bisa bisa Kinan semakin menjauh darinya.


" Mila adik angkatku, itu saja." Sahut Aroon.


" Baiklajh aku percaya padamu." Sahut Kinan.

__ADS_1


TBC.....


__ADS_2