
Di dalam taksi Kinan memikirkan tentang ucapannya kepada Aroon.
" Apa aku sudah keterlaluan dengannya? Harusnya aku meminta penjelasan darinya bukan malah menghindarinya.. Apakah ucapan Mbak Fisa benar atau tidak." Gumam Kinan dalam hati.
" Pak kembali ke tempat tadi." Ucap Kinan kepada Driver.
" Baik Non." Sahutnya.
Taksi kembali melaju ke rumah Aroon. Saat sampai di depan rumah, Kinan melihat mobil Aroon keluar dari halaman rumah.
" Mau kemana lagi Mas Aroon?" Gumam Kinan.
" Pak ikuti mobil itu." Ucap Kinan.
" Baik Non." Sahut Driver.
Taksi yang di tumpangi Kinan mengikuti mobil Aroon dari belakang. Sekitar setengah jam mobil Aroon memasuki halaman rumah megah. Aroon keluar mobil lalu masuk ke dalam rumah itu.
" Pak tunggu di sini, saya akan segera kembali." Ucap Kinan.
" Iya Non." Sahutnya.
Kinan turun dari taksi, Ia berjalan menuju rumah yang Aroon masuki. Di dalam rumah Aroon menatap Mila yang sedang menuruni anak tangga, Saat tiba di pijakan terakhir tiba tiba Mila tersandung kakinya sendiri, tubuhnya terhuyung ke depan dan dengan sigap Aroon menangkap tubuhnya dengan memeluknya.
Saat bersamaan Kinan masuk ke dalam rumah dan melihat semua itu. Hatinya memanas melihat suaminya memeluk wanita lain, apalagi wanita yang di cintainya.
" Wow...... Pemandangan yang luar biasa." Decak Kinan membuat kedua orang itu menatap ke arahnya. Aroon segera melepas pelukannya dan menghampiri Kinan.
" Sayang kamu salah paham." Ucap Aroon.
" Kalau siang siang begini kalian bisa berpelukan, lalu apa yang kalian lakukan semalaman?" Tanya Kinan.
" Jaga ucapanmu Kinan, Mila tidak serendah itu." Tegas Aroon.
" Wah wah wah Tuan Aroon yang terhormat, Kau tidak bisa mendengar wanita yang kau cintai di hina oleh orang lain ya, lalu apa kabar dengan penghinaan yang kau lakukan padaku semalam?" Tanya Kinan mengelus dada bidang Aroon.
" Kau meninggalkanku begitu saja setelah meniduriku demi wanita yang kau cintai dan putranya, kau menganggapku seperti wanita jal*** di luar sana, bukan begitu Tuan Aroon?" Tanya Kinan menjauhkan tangannya dari tubuh Aroon.
" Kinan kau salah paham, aku bisa jelaskan semuanya." Ucap Mila.
" Ya... Kau benar Mbak Mila, aku memang salah paham.... Aku percaya saat Tuan Aroon mengatakan jika kau adik angkatnya, tapi ternyata kau wanita terkasihnya." Sindir Kinan.
" Kinan maafkan aku, soal itu Mila tidak tahu apa apa, aku sendiri yang telah membohongimu." Ucap Aroon.
" Ya ya ya .... Berapa kali aku menuduhnya pun kau pasti akan membelanya karna saat ini kita sedang membahas wanita yang kau cintai." Ujar Kinan.
" Bagaimana kau tahu semua ini?" Sambung Aroon.
" Kenapa? Kau kaget? Kau tidak mengira aku cepat mengetahui semuanya? Perbuatan buruk akan lebih cepat terungkap Tuan Aroon." Sahut Kinan.
__ADS_1
" Siapa yang sudah memberitahumu?" Selidik Aroon.
" Tidak penting dia siapa, yang jelas aku sangat berterima kasih padanya karna sudah memberitahuku tentang kebenarannya." Sahut Kinan.
" Sayang aku akui jika dulu aku memang mencintai Mila, ingat! Itu dulu, tapi saat aku bertemu denganmu rasa cinta itu berpaling kepadamu sayang, aku hanya mencintaimu bukan Mila lagi." Terang Aroon.
" Bullshit dengan kata kata cintamu itu Om, sekali aku tidak percaya padamu maka selamanya aku tidak akan mudah percaya pada semua kata katamu, Apa mungkin Zavran milik kalian berdua?" Ujar Kinan.
" Kinan." Bentak Aroon.
" Kau sudah melewati batasanmu, kau menghina wanita mulia seperti Mila." Sambung Aroon.
" Kau yang membuat aku melewati batasanku Tuan Aroon." Bentak Kinan.
Aroon berjingkrak kaget menatap Kinan. Mata Kinan berkaca kaca mengisyaratkan kesedihan dan kekecewaan yang mendalam dalam hatinya.
" Maafkan aku sayang, kita bisa membicarakan kesalah pahaman ini dengan baik baik, ku mohon jangan terbawa emosi."Ujar Aroon.
" Tidak ada yang perlu di bicarakan lagi Om, sudahi hubungan ini dan carilah kebahagiaanmu bersama wanita yang kau cintai, aku tidak sanggup mendengar suamiku selalu membela wanita lain, lepaskan aku dan cari wanita yang bisa membuatmu berpaling dari Mbak Mila." Ucap Kinan.
" Kamu lah wanita yang aku cintai Kinan, percayalah padaku sayang, hanya kamu tidak ada yang lainnya, Mila hanya masa laluku, aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri, dan saat ini aku sedang membantunya." Sahut Aroon menggenggam tangan Kinan.
" Terserah kau mau bilang apa Om, yang penting aku sudah melaksanakan kewajibanku sebagai istri sebelum aku melepas statusku sebagai istrimu." Ucap Kinan menyentak kasar tangan Aroon hingga genggamannya terlepas.
" Sayang jangan pernah berbicara seperti itu, aku tidak mengijinkan kau pergi meninggalkan aku." Ujar Aroon.
Kinan berlari keluar meninggalkan rumah Mila menuju taksinya. Hatinya hancur mengetahui jika dirinya di permainkan oleh suami yang mengaku mencintainya. Ia mengusap kasar air matanya.
" Perumahan Xx pak." Ucap Kinan setelah duduk di dalam taksi.
Aroon mencoba mengejar Kinan tapi di depan pintu Ia terkejut dengan kedatangan Papa Shiv yang menghadangnya.
" Sudah puas bermain main dengan kehidupanmu?" Tanya Papa Shiv.
" Apa maksud Papa?" Tanya Aroon.
" Jika kamu belum bisa melepaskan Mila, kenapa kamu harus menikahi Kinan dan menghancurkan masa depannya? Papa menyesal karna telah mendekatkan kalian, kalau kamu tidak bisa memprioritaskan istrimu maka lepaskan dia sama halnya saat kau melepas Fisa, hiduplah dalam masa lalumu yang akan membuatmu hancur dengan sendirinya." Ucap Papa Shiv menatap Mila yang berdiri di belakang Aroon.
" Om." Sapa Mila.
Papa Shiv mengabaikan sapaan Mila, Ia kembali ke mobilnya meninggalkan Aroon yang mematung karna memikirkan ucapannya.
Taksi yang di tumpangi melaju menuju rumah Kinan. Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit untuk sampai di kediaman Papa Burhan. Setelah membayar ongkos taksinya, Kinan masuk ke dalam rumahnya langsung menuju kamarnya. Ia tahu jika saat siang seperti ini Papanya pasti sedang bekerja.
Kinan mengunci pintu kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit langit kamarnya.
" Bodoh kamu Kinan.... Sekarang jika Aroon menceraikanmu kamu akan jadi janda yang ternoda... Andaikan aku tahu dari awal... Ahhh bodoh bodoh bodoh." Teriak Kinan.
" Aku membencimu Aroon...." Teriak Kinan.
__ADS_1
Kinan memejamkan matanya, Ia berharap bisa melupakan masalahnya kali ini.
Tak terasa hari sudah sore, Kinan bangun dari tidurnya lalu membersihkan dirinya di kamar mandi. Setelah selesai Ia rebahan di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Sejak kedatangannya Ia tidak keluar kamar jadi tidak ada yang tahu jika Ia ada di dalam.
Di lantai bawah, Aroon baru saja datang. Ia menemui Papa Burhan yang sedang bersantai di ruang keluarga.
" Sore Pa." Sapa Aroon.
" Sore menjelang petang Nak, apa kabarmu?" Tanya Papa Burhan.
" Baik Pa, apa Kinan pulang ke sini Pa?" Tanya Aroon menatap Papa Burhan.
" Kinan? Dari tadi tidak ada siapa siapa." Sahut Papa Burhan.
" Sebentar Papa tanya Bi Inah dulu." Sambung Papa Burhan.
" Bi... Bi Inah." Panggil Papa Burhan.
Bi Inah berlari menghampiri Papa Burhan.
" Iya Tuan." Ucap Bi Inah.
" Apa tadi Kinan ke sini?" Tanya Papa Burhan.
" Tidak Tuan, tidak ada yang datang dari tadi." Sahut Bi Inah.
" Aku kira Kinan pulang ke sini Pa, bolehkah aku ke kamarnya untuk memastikannya Pa? Siapa tahu saat Kinan ke sini Bibi tidak melihatnya." Ujar Aroon.
" Boleh saja, pintu kamarnya tidak terkunci." Sahut Papa Burhan.
" baiklah Pa saya ke sana dulu." Ujar Aroon.
Aroon berjalan menuju kamar Kinan.
Ceklek ceklek..
Pintu terkunci dari dalam.
" Aku menemukanmu gadis kecilku." Ujar Aroon tersenyum lebar.
Hayoo kira kira Kinan mau nggak ya pulang bareng Aroon????
Tunggu di bab berikutnya....
Terima kasih untuk para readers yang sudah mensuport author... Semoga sehat selalu
Jangan lupa like dan komentnya ya...
Miss U All....
__ADS_1