
Jeduarrrr
" A... Apa Pa? Kau menerima tawarannya?" Tanya Kinan memastikan.
" Iya sayang, Papa akan mempersiapkan pernikahan kalian dalam waktu satu bulan ini." Ucap Papa Burhan.
" Apa? Satu bulan? Kenapa secepat ini Pa?" Pekik Kinan.
" Agar kau tidak kabur dari pernikahan ini." Sahut Papa Burhan.
Aroon membekap mulutnya menahan tawanya, Kinan menatap tajam ke arahnya.
" Apa? Kalau mau ketawa, ketawa aja kali Om jangan di tahan." Ketus Kinan.
" Pa masa' Papa tega sih jodohin aku sama duda tua seperti Om Aroon kaya' nggak ada yang lainnya aja." Cebik Kinan.
" Kinan...." Tekan Papa Burhan.
" Pokoknya aku nggak mau, aku akan kabur jauh dari sini dari pada aku harus menikah dengan Om Aroon Pa." Ucap Kinan.
" Kinanthi." Bentak Papa Burhan membuat Kinan bejingkrak kaget.
" Papa membentakku?" Lirih Kinan tidak percaya karna selama ini Papanya selalu berbicara lembut padanya.
" Maafkan Papa sayang, bukan maksud Papa membentakmu." Ucap Papa Burhan.
Kinan berdiri di depan Aroon, Ia menatap tajam ke arahnya.
" Ini semua gara gara kamu." Bentak Kinan menunjuk wajah Aroon dengan jarinya.
" Sejak bertemu denganmu hidupku tidak bisa tenang seperti sebelumnya, aku membencimu." Teriak Kinan.
Kinan berlari masuk ke dalam rumah.
" Kinan." Panggil Aroon mengejar Kinan masuk ke dalam.
Kinan berlari menuju kamarnya, saat Ia hendak menutup pintunya Aroon mengganjalnya dengan kakinya.
" Buka aku mau masuk." Ucap Aroon mendorong pintunya. Ia masuk ke dalam kamar Kinan.
" Apa apaan ini? Kamu berani masuk ke kamarku?" Cebik Kinan.
" Maaf aku harus melakukannya, aku ingin bicara padamu." Sahut Aroon.
" Tidak ada yang perlu di bicarakan, sekarang pergilah menjauh dari hidupku." Teriak Kinan.
" Kinan ku mohon dengarkan alasanku dulu." Ujar Aroon memegang bahu Kinan.
" Aku tidak mau mendengar alasan apapun dari mulutmu." Sahut Kinan menepis tangan Aroon.
" Kinan aku melakukan ini karna aku menyukaimu... Aku mencintaimu Kinan." Ucap Aroon.
__ADS_1
" Heh cinta... Aku sudah sering bertemu dengan orang sepertimu, jika kau tidak bisa menjerat wanita dengan alasan bisnis maka kau akan menjeratnya dengan alasan cinta, bulshit." Sahut Kinan.
" Tidak... Aku jujur mengatakan ini dari dalam hatiku." Ujar Aroon.
Kinan menatap tajam ke arah Aroon. Ia ingin melihat kebohongan dari mata Aroon, tapi sepertinya tidak ada. Kinan keluar dari kamarnya. Ia menuruni tangga menghampiri Papanya di ruang tamu.
" Bukankah Papa menginginkan pernikahan untukku?" Tanya Kinan. Papa Burhan mendongak menatap Kinan.
" Iya sayang." Sahut Papa Burhan.
" Aku bersedia menikah." Ucap Kinan.
Papa Burhan menatap Aroon di balas senyuman oleh Aroon.
" Dengan Noval bukan dengan Tuan Aroon." Sambung Kinan.
" Apa apaan kamu Kinan? Yang akan menikahimu itu aku bukan pria lain karna aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi." Ucap Aroon.
" Kami akan membangun perusahaan Papa dari nol lagi jika Tuan Aroon membacklist perusahaan kita Pa, aku akan bangkit dan membuat perusahaan Papa seperti semula, jadi nikahkan aku dengan Noval saja, itu akan lebih baik" Ujar Kinan menghiraukan ucapan Aroon.
" Kinan kau sudah terlalu banyak bicara sayang, jika kau tidak mau menikah dengan Tuan Aroon baiklah, tidak pa pa, biarkan perusahaan Papa bangkrut dan kita akan hidup dalam kemiskinan, tidak masalah Papa akan menuruti keinginanmu.. Heh...." Setelah mengatakan itu Papa Burhan tersengal sengal.
" Papa... Papa kenapa Pa?" Pekik Kinan khawatir.
" Hah... Hah..." Papa Burhan memegang dadanya yang terasa sesak.
" Apa Papamu punya penyakit jantung?" Tanya Aroon.
" Kita bawa Papamu ke rumah sakit." Ucap Aroon.
Aroon membopong Papa Burhan menuju mobilnya, Kinan masuk ke dalam mobil memangku kepala Papanya. Aroon melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.
Sesampainya di rumah sakit, Dokter segera memeriksa Papa Burhan di dalam ruangan IGD. Kinan nampak mondar mandir di depan ruangan itu.
" Kinan tenanglah, Papamu pasti akan baik baik saja." Ucap Aroon.
" Papaku pasti baik baik saja jika kau tidak muncul dalam kehidupanku." Sahut Kinan.
" Kinan percayalah padaku, aku menyukaimu Kinan, jadilah istri dan ibu untuk anak anakku." Ucap Aroon.
" Tapi aku tidak mau menikah denganmu Tuan Aroon, pernikahan bukan hanya mainan yang dengan sesuka hati kau mainkan Tuan, pernikahan itu komitment antara dua insan, aku tidak mau menikah tanpa cinta karna itu akan membuatku menderita." Ucap Kinan.
" Cintaku sudah cukup untuk kita berdua Kinan, jadi terimalah aku sebagai suamimu." Sahut Aroon.
" Kenapa kau memaksa sekali Om? Apa kau tidak bisa mencari wanita lain?" Tanya Kinan.
" Setelah apa yang terjadi pada Papamu hatimu tidak tersentuh sama sekali? kau masih keras kepala untuk menolakku? Ingat Kinan aku tidak akan memberikan kesempatan dua kali, jika saat ini kau menolakku maka tidak ada kesempatan di kemudian hari walaupun kau berlutut di kakiku sekalipun Kinan, dan ingat bukannya aku tidak bisa menemukan wanita lain di luar sana tapi karna hatikulah yang memilihmu." Tegas Aroon.
Kinan menghela nafasnya dalam dalam. Bagaimana jika nanti Papanya ingin mempertahankan perusahaannya dan tetap menginginkan pernikahan ini? Kinan tahu betul bagaimana pengaruh Aroon dalam dunia bisnis. Bagaimana jika Ia salah mengambil keputusan dengan menolak Aroon. Saat ini Kinan benar benar bingung, Ia tak tahu harus berbuat apa.
Kinan menatap Aroon yang juga sedang menatapnya.
__ADS_1
" Sekarang pergilah, lakukan apa yang kau mauTuan Aroon, jika kamu menginginkan pernikahan ini maka lakukanlah, aku bersedia menikah denganmu dan akan aku pastikan kau akan menyesal karna sudah memaksaku untuk melakukan pernikahan ini." Ucap Kinan.
" Aku tidak peduli, yang jelas aku akan melakukan apa yang menurut hatiku benar." Sahut Aroon.
" Nona Kina dan Tuan Aroon." Panggil Suster.
" Iya Sus." Sahut Kinan menghampiri suster.
" Anda di panggil oleh Tuan Burhan, Beliau ingin mengatakan sesuatu Nona" Ujar Suster.
" Terima kasih sus." Sahut Kinan.
Aroon dan Kinan masuk ke dalam ruangan dimana Papa Burhan sedang di tangani.
" Pa." Ucap Kinan berdiri di tepi ranjang.
" Sayang.... umur.. Papa... tidak.. lama lagi." Ucap Papa Burhan terbata bata.
" Jangan bicara seperti itu Pa." Ucap Kinan menggenggam tangan Papa Burhan.
" Papa... punya.. satu... permintaan... padamu Kinan." Ujar Papa Burhan.
" Apa itu Pa? Kinan akan menurutinya tapi Papa harus sembuh ya." Ucap Kinan.
" Menikahlah..... dengan..... Tuan Aroon..... sekarang.... juga, Papa.... ingin..... melihatnya sebelum.... Papa.... tiada." Ucap Papa Burhan.
" Papa jangan bicara seperti itu, Papa istirahat saja tidak usah memikirkan hal itu lagi, lagian Ini sudah malam Pa, kita lakukan besok saja ya." Ujar Kinan.
" Waktu... Papa... tidak... lama.... lagi." Ujar Papa Burhan.
" Baiklah Pa, aku setuju tapi Papa harus berjanji padaku jika setelah aku menikah Papa akan sembuh." Ucap Kinan.
" Terima.. kasih.... sayang." Ucap Papa Burhan.
" Nak Aroon.. segera... kabari... keluargamu... datang... kemari." Ucap Papa beralih menatap Aroon.
" Baik Om, saya akan menelepon mereka dan menyuruh orangku untuk menyiapkan pernikahan ini, aku mau pernikahan ini sah secara hukum dan agama." Ucap Aroon.
Aroon keluar ruangan untuk memberitahu keluarganya. Setelah selesai Ia berjalan menuju ruang rawat Papa Burhan, baru saja Ia di beritahu suster jika Papa Burhan sudah di pindahkan.
Aroon berjalan dengan senyum mengembang di bibirnya. Walaupun keadaannya seperti ini tapi Ia begitu bahagia karna bisa mendapatkan wanita yang Ia cintai.
TBC....
*Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya...
Setelah author baca lagi, ternyata cerita author tokoh prianya bucin duluan sama tokoh wanitanya mungkin karna Author suka cerita yang seperti itu kali ya he he.... Tapi insyaallah ceritanya beda kok...
Dukung juga karya author yang lain ya...
Semoga terhibur dengan cerita recehan author..
__ADS_1
Miss U All*...