Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Pemandangan Luar Biasa


__ADS_3

Saat Sita hendak mengambil baju di dalam almari tiba tiba pintu kamar mandi terbuka membuat Sita menoleh ke arahnya dan.......


Glek....


Fahri menelan kasar salivanya saat melihat Sita yang hanya memakai dala**n saja.


Sita langsung menutupi area terlarangnya dengan tangannya.


" Astaga." Ucap Fahri kembali masuk ke dalam kamar mandi.


Melihat Fahri kembali masuk ke dalam kamar mandi, Sita segera mengambil pakaian lalu memakainya dengan cepat.


Di dalam kamar mandi, Fahri menggelengkan kepalanya berharap rekaman tentang indahnya tubuh Sita segera menghilang, namun justru rekaman itu semakin menempel pada ingatannya.


" Ah sial... Apa sih maunya tuh wanita? Dia kira dengan dia telanjang begitu aku akan menyentuhnya? Tidak akan." Gerutu Fahri.


Ceklek...


Fahri membuka pintu kamar mandinya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar.


" Syukurlah dia sudah berpakaian." Gumam Fahri setelah melihat Sita yang sedang berbaring di atas sofa.


" Lain kali jangan bersikap seperti seorang jal** kepadaku." Ucap Fahri naik ke atas ranjang.


" Apa maksud ucapanmu Mas?" Tanya Sita mengubah posisinya menjadi duduk.


" Kau sengaja kan telanja** di depanku? Seperti apa yang kamu lakukan kepadaku dulu? Hanya bedanya saat ini kau ridak menaruh obat perangsang di dalam minumanku." Ucap Fahri menohok hati Sita.


" Kau pikir aku tidak tahu? Jangan berharap apapun dengan pernikahan ini, aku tidak akan sudi menyentuh tubuh wanita sepertimu karena tubuhku lebih berharga jika harus bersentuhan dengan tubuh mura*an seperti tubuhmu." Ucap Fahri menatap sinis ke arah Fahri.


" Cukup Mas... Cukup." Ucap Sita beranjak dari duduknya.


" Aku memang pernah berbuat salah kepadamu, aku menyesali semuanya Mas, aku sudah berubah.... Selama hampir tiga tahun ini aku selalu berusaha mengubah diriku menjadi lebih baik, aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti dulu lagi... Aku menyesalinya Mas... Ku mohon hentikan kebencianmu kepadaku!" Ujar Sita.


Sita mendekati Fahri lalu menarik tangannya.


" Kau boleh memukulku, kau boleh menjambak rambutku, kau boleh mencekikku, atau kau mau membunuhku? Bunuhlah aku Mas... Aku rela mati di tanganmu dari pada aku harus melihat kebencian dan hujatan dari bibirmu." Sambung Sita.


" Sekarang pukul aku!" Ucap Sita memukulkan tangan Fahri ke kepalanya.


" Apa yang kau lakukan Sita." Bentak Fahri menarik tangannya.


" Kenapa? Kau membenciku kan? Kau ingin membuatku menderita kan? Ambil salah satu dari tanganku, kakiku atau mataku sekalian." Teriak Sita kehilangan kendali.


" Atau perlu aku ambilkan pisau sekalian?" Tanya Sita menatap Fahri.


Fahri tidak bergeming.


" Baiklah aku akan mengambilnya." Ucap Sita hendak keluar dari kamarnya.


" Hentikan!" Bentak Fahri mencekal tangan Sita.


" Apa kau sudah gila hah?" Fahri kembali membentak Sita sambil menatapnya.

__ADS_1


" Iya... Aku memang sudah gila." Teriak Sita menghentakkan tangannya hingga cekalan Fahri terlepas.


" Aku gila karenamu Mas... Kau yang membuat aku begini, kau selalu menaruh curiga padaku, aku selalu terlihat buruk di matamu, aku bukan wanita yang baik." Ucap Sita dengan nada meninggi.


" Aku wanita pembohong, aku pendusta, aku wanita hina yang rela melakukan apapun demi mencapai tujuanku... Aku wanita yang sangat buruk, tapi kenapa kau mau menikahiku? Kenapa hah?" Teriak Sita menarik kerah leher Fahri.


" Karena Nenek." Sahut Fahri.


Sita menjauhkan tangannya dari leher Fahri. Ia mundur ke belakang menarik rambutnya kasar.


" Sekarang Nenek sudah tidak ada, mari kita akhiri saja hubungan kita sampai di sini." Ucap Sita.


Fahri menekan tangan Sita dan menatapnya dengan tajam.


" Sudah aku katakan aku tidak akan melepasmu, sekali lagi kau mengatakan itu maka aku akan mematahkan tanganmu." Tekan Fahri memelintir tangan Sita.


" Awh." Pekik Sita kesakitan.


" Kenapa? Sakit?" Tanya Fahri menyeringai.


" I... Iya Mas." Sahut Sita.


" Aku akan melakukan yang lebih sakit dari ini jika kau berani memancing emosiku Rasita." Tekan Fahri.


Fahri mendorong tubuh Sita hingga terbentur meja.


" Mulai besok kembalilah ke kamarmu! Aku tidak sudi bernafas dalam ruangan yang sana denganmu." Ucap Fahri naik ke atas ranjang.


Fahri memejamkan matanya sedangkan Sita keluar kamar menuju kamar sebelumnya.


" Tunjukkan aku jalan dalam menjalani pernikahan ini ya Tuhan... Aku menerima dengan ikhlas takdir yang kau tuliskan untukku." Monolog Sita.


...----------------...


Pagi hari Sita sedang berbelanja di mini market dekat rumahnya. Saat Ia sedang berjalan, Ia tidak sengaja menabrak seorang pria hingga tubuhnya hendak terpelanting ke belakang, beruntung pria itu dapat menopang tubuh Sita.


Keduanya saling menatap satu sama lain hingga...


" Ah maaf maaf, saya tidak sengaja." Ucap Sita membenarkan posisinya.


" Tidak masalah, lain kali hati hati kalau berjalan." Ujarnya.


" Iya." Sahut Sita.


" Oh ya kenalkan! Aku Adnan." Ucap pria itu menyodorkan tangannya.


Sita menatap tangan itu tanpa mau menyambutnya. Ia tidak mau sok akrab dengan orang asing.


" Tenang saja! Aku orang baik kok, buktinya aku mau menangkap tubuhmu supaya tidak jatuh ke lantai." Ujar Adnan tidak berniat menarik tangannya.


" Sita." Sahut Sita pada akhirnya sambil membalas uluran tangan Adnan.


" Oh ya maukah kau membantuku Sita?" Tanya Adnan menatap Sita.

__ADS_1


" Membantu apa?" Tanya Sita.


" Aku baru saja pindah ke kota ini, aku tidak tahu tempat dan daerah sini, bisakah kau membantuku mengenalkan tentang apa yang ada kota ini? Misalnya restoran yang menyajikan makanan lezat." Ujar Adnan.


" Maaf aku tidak bisa, aku harus segera kembali ke rumah." Tolak Sita.


" Ayolah Sita bantu aku! Aku tidak mengenal siapa siapa di sini." Ucap Adnan membuat Sita mengerutkan keningnya.


" Kalau kamu tidak mengenal siapapun di sini, lalu kenapa kau ke sini?" Tanya Sita menyelidik.


" Aku sedang mencari temanku tapi aku kehilangan alamatnya, jadi ya aku hanya mondar mandir saja dari kemarin." Sahut Adnan.


" Kasihan sekali." Gumam Sita.


" Mau kan kau membantuku?" Tanya Adnan.


" Baiklah aku akan membantumu, aku akan mengajakmu ke restoran yang terkenal dengan kelezatan masakannya di daerah sini." Ujar Sita.


" Bisa kita pergi sekarang? Kebetulan aku sedang lapar." Ucap Adnan.


" Baiklah ayo." Ajak Sita.


Sita dan Adnan berjalan berdampingan menuju resto yang di maksud Sita.


Sekitar lima ratus meter dari mini market tersebut, Sita dan Adnan masuk ke dalam resto tersebut.


" Silahkan Mbak, Mas, mau pesan apa?" Tanya pelayan setelah Sita dan Adnan menemukan tempat duduk.


" Aku mau udang pedas sama steak ayam ya Mbak, kalau kamu mau apa Nan?" Tanya Sita menatap Adnan.


" Samain aja deh." Sahut Adnan.


" Baiklah... Kalau minumannya apa ya Mbak?" Tanya pelayan lagi.


" Jus jeruk aja Mbak." Sahut Sita.


" Kalau aku jus anggur." Sahut Adnan.


" Baiklah di tunggu sebentar pesanannya ya Mbak, Mas." Ucap pelayan.


" Iya Mbak." Sahut Sita.


Tanpa mereka sadar jika Fahri melihat semuanya. Ia mengepalkan tangannya kuat hingga membuat buku buku tangannya memutih.


Entah marah atau cemburu, Fahri sendiri tidak tahu. Ia segera meninggalkan resto tersebut.


Nah loh... Cemburu apa cemburu nih???


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya biar author makin semangat ya...


Terima kasih untu readers yang selalu mensupport author semoga sehat selalu...


Miss U all....

__ADS_1


TBC....


__ADS_2