
Aroon duduk di depan ruang IGD menunggu Dokter yang sedang menangani Mila di dalam. Netranya menangkap Imran yang sedang berlari ke arahnya. Ia beranjak mendekati Imran dan....
Bugh.... Bugh...... Bugh.....
Aroon memukul wajah Imran.
" Semua ini terjadi gara gara kamu, kalau sampai terjadi sesuatu pada Mila aku tidak akan mengampunimu, aku akan menghancurkanmu dengan kekuasaan yang aku miliki Imran." Ucap Aroon mendorong tubuh Imran ke lantai.
Imran bangkit, Ia berdiri di depan Aroon.
" Aku suaminya, aku yang lebih berhak atasnya." Sahut Imran.
" Suami macam apa yang tega menyakiti istrinya sendiri." Bentak Aroon.
" Aku tidak sengaja menyakitinya." Sahut Imran.
" Kau selingkuh di belakangnya, bagaimana bisa kau bilang kau tidak sengaja menyakitinya?" Ucap Aroon.
" Aku tidak pernah selingkuh darinya, justru dia yang selingkuh denganmu." Sahut Imran.
" Kau tidak mengerti istrimu sendiri Imran, jika Mila mau berselingkuh denganku, Ia akan lakukan sejak dulu Imran, Kau tidak bisa memutar balikan fakta yang ada, kau yang sudah mengkhianatinya." Teriak Aroon.
" Tapi aku tidak pernah mengkhianatinya Aroon, aku sangat mencintainya... Hanya dirinya, kau tahu perjuanganku untuk mendapatkannya bukan." Ucap Imran.
" Kau berduaan dengan wanita lain bahkan kalian nampak mesra sampai wanita itu mengusap bibirmu dengan tisu, apa itu bukan selingkuh?" Ujar Aroon.
" Kau.... Kau tahu?" Tanya Imran.
" Kenapa? Kau kaget? Bahkan Mila melihat semuanya." Sahut Aroon.
" Kau salah paham, dia client baruku Aroon." Sahut Imran.
" Client baru meneleponmu dengan kata kata mesra bahkan kau membelikan baju untuknya, apa semua client wanitamu kau perlakukan seperti itu?" Sinis Aroon.
" Apa maksudmu?" Selidik Imran.
" Mila cerita kepada Fisa jika kau mendapat telepon mesra dari wanita itu dan Mila yang mengangkatnya, Kau juga membelikan baju untuknya Imran, bukankah baju yang dia pakai adalah baju pemberianmu?" Ujar Aroon.
" Sebentar sebentar, baju yang aku beli adalah baju yang di pakai wanita tadi?" Tanya Imran.
" Ya... aku pernah melihatnya di rumah, paket baju darimu yang aku kira buat Fisa ternyata untuk wanita itu." Sahut Aroon.
" Sepertinya ada yang janggal Ar." Ujar Imran.
" Janggal gimana?" Tanya Aroon.
Akhirnya Imran menceritakan jika Fisa yang menyuruhnya membelikan baju untuk saudaranya. Aroon jadi ingat kalau tadi Mila bilang kalau Mila tidak memberitahu Fisa jika dia dalam masalah. Lalu darimana Fisa tahu semua itu?
" Jangan jangan kita di jebak." Ucap Aroon.
" Di jebak bagaimana?" Tanya Imran.
" Kita di jebak supaya kita menyakiti satu sama lain." Ujar Aroon.
" Darimana kamu tahu aku dan Mila ada di taman bunga?" Tanya Aroon.
__ADS_1
" Fisa meneleponku, katanya dia lihat kamu bersama Mila di sana, hatinya sangat terluka melihat kalian pergi berdua." Sahut Imran.
" Kau tahu? Aku di suruh Fisa untuk menggantikan dirinya menemui Mila ke cafe itu, katanya kamu menyakiti Mila lagi karna telah mengkhianatinya." Ujar Aroon.
" Darimana Mila tahu kalau kamu ada di cafe itu?" Sambung Aroon.
" Aku juga tidak tahu, aku pikir kalian sengaja janjian untuk pergi berdua terus lihat aku di cafe itu, lalu kalian pergi buru buru sampai meninggalkan mobil Mila di sana." Sahut Imran.
" Sepertinya kita masuk jebakan seseorang." Ucap Aroon.
" Siapa yang sedang bermain main dengan kita?" Tanya Imran.
" Nanti kita akan tahu jawabannya, apa kau punya dugaan yang sama?" Tanya Aroon.
" Ya sepertinya istrimu sedang bermain main denganmu tapi dia melibatkan aku dan Mila di dalamnya." Ujar Imran.
" Kita akan buat perhitungan untuknya, tapi sebelum itu kita harus punya bukti yang nyata supaya dia tidak bisa mengelak lagi, sekarang kita tunggu Dokter dulu, aku khawatir dengan keadaan Mila." Ujar Aroon.
" Aku lebih mengkhawatirkannya karna aku suaminya, kita berdoa saja semoga Mila baik baik saja." Sahut Imran.
Keduanya duduk di ruang kursi tunggu dengan pikiran masing masing.
" Mukamu lucu juga kalau lebam lebam gitu." Ujar Aroon.
" Tonjokanmu sangat keras membuat wajahku sakit semua." Sahut Imran.
" Itu baru seberapa, lihat wajahku yang sudah merah semua." Ujar Aroon menunjuk wajahnya.
" Sepertinya kita harus mendapat penanganan." Ucap Imran.
" Nanti saja nunggu Dokter keluar, kita harus memastikan keadaan Mila lebih dulu, aku akan menelepon Fisa aku ingin melihat reaksinya." Ujar Aroon.
" Keluarga Nona Kamila." Ucap Dokter Shinta.
" Saya suaminya Dok, bagaimana keadaan istri dan anak saya?" Tanya Imran.
" Keduanya baik baik saja Tuan." Sahut Dokter Shinta.
" Alhamdulillah." Ucap Imran dan Aroon bersamaan.
" Tapi kondisinya masih lemah Tuan, jika dalam dua hari kondisinya belum membaik saya khawatir janin dalam kandungannya tidak dapat bertahan." Ujar Dokter Shinta.
" Lakukan yang terbaik untuk istri dan anakku Dok, berikan perawatan dan obat termahal kepadanya supaya istri saya cepat pulih." Sahut Imran.
" Akan kami lakukan Tuan, istri anda sedang di pindahkan ke ruang rawat, segera temui dia di sana saya permisi." Ucap Dokter meninggalkan Aroon dan Imran.
Keduanya menuju ruang rawat Mila. Ruang VIP nomer lima, Imran membuka pintunya. Ia masuk ke dalam menghampiri Mila yang sedang memejamkan matanya di ikuti dengan Aroon di belakangnya.
" Tuan ini tas Nona Kamila." Ucap Suster memberikan tas selempang milik Mila kepada Imran.
" Terima kasih Sus." Ucap Imran.
" Ran coba kamu cek ponselnya." Ujar Aroon.
" Ah iya kamu benar, selama ini aku tidak pernah tahu apa isi ponselnya." Sahut Imran.
__ADS_1
Imran mengambil ponsel Mila dari dalam tas, lalu Ia membukanya dengan sidik jari Mila.
Clek..
Layar ponsel terbuka, Ia segera membuka aplikasi hijau untuk mencari tahu siapa yang memberitahu Mila jika Ia di cafe saat itu.
" Nomer baru mengirim fotoku bersama wanita tadi Ar." Ucap Imran menunjukkan fotonya.
" Nomer baru.... Kira kira nomer siapa ini?" Tanya Aroon.
" Aku tidak tahu." Sahut Imran.
" Apa mungkin ini nomer Fisa?" Ujar Aroon.
" Selidiki saja Ar, minta bantuan Om Shiv." Sahut Imran.
" OK." Sahut Aroon.
Aroon menelepon orang kepercayaan Papanya untuk menyelidiki nomer siapa itu. Sepuluh menit Aroon mendapat jawabannya.
" Gimana?" Tanya Imran.
" Tafisa." Sahut Aroon.
" Kenapa istrimu tega melakukan semua ini?" Tanya Imran menatap Mila.
" Aku tidak tahu, aku minta maaf atas namanya, aku juga tidak menyangka dia bisa melakukan hal serendah ini." Ujar Aroon mengusap wajahnya kasar.
" Apa dia akan ke sini?" Tanya Imran.
" Sebentar lagi." Sahut Aroon.
Dan benar saja, pintu terbuka menampilkan Fisa yang berjalan masuk menghampiri Mila yang masih setia menutup matanya.
" Mila." Ucap Fisa duduk di kursi samping ranjang sambil menggenggam tangan Mila.
Mila mengerjapkan matanya menatap Fisa di depannya, Ia juga menatap Imran dan Aroon yang berdiri di samping ranjangnya.
" Aku kenapa?" Lirih Mila.
" Kau tadi terjatuh sayang, maafkan aku." Ujar Imran.
" Kenapa bisa seperti ini Mil?" Tanya Fisa sedih.
" Semua ini gara gara kamu Fisa." Ucap Aroon.
Deg....
Secepat itukah Aroon mengetahui semuanya?
" Apa maksudmu Kak?" Tanya Mila.
" Fisa yang merencanakan semua masalah yang terjadi pada kita Mil." Sahut Aroon.
Mila menarik tangannya, Ia menatap Fisa dengan penuh kekecewaan. Ia tidak menyangka sahabat yang Ia anggap sebagai Kakaknya tega melakukan semua ini kepadanya. Ia bahkan hampir kehilangan bayinya.
__ADS_1
" Mila maafkan aku." Ucap Fisa.
TBC......