Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Aku Yang ke Dua


__ADS_3

Sesampainya di rumah Imran, Imran turun dari mobilnya membukakan pintu untuk Mila. Ia menyeret koper Mila dan hendak menggenggam tangan Mila tapi Mila menolaknya.


" Aku bisa jalan sendiri Pak." Ucap Mila.


" Baiklah, Ayo masuk ke rumah baru kita." Ajak Imran.


Keduanya berjalan menuju pintu rumah Imran. Mila mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah itu. Rumah klasik terkesan mewah dengan taman di depannya membuat rumah ini terlihat Indah.


Ceklek....


Pintu terbuka dari dalam menampilkan wanita dewasa seumuran Imran yang terlihat cantik, Tapi tetap kalah cantik jika di bandingkan Mila.


" Kalian sudah datang? Silahkan masuk." Ucap wanita itu.


" Siapa?" Tanya Mila menunjuk wanita itu.


" Mila sayang perkenalkan dia Hena, Istri pertamaku."


Jeduarrrrrr


Bagai di sambar petir di siang bolong Mila menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Bukannya sedih dengan ucapan Imran, Mila justru menjadi emosi.


" Apa? Istri pertamamu?" Pekik Mila menatap Imran tidak percaya.


" Jadi maksudmu aku istri keduamu begitu? Sialan kau Pak, Jadi istrimu satu satunya pun karena aku terpaksa e ini malah jadi istri kedua, Kau menurunkan pamorku dari wanita terhormat menjadi seorang pelakor Pak Desfian yang terhina, Aku semakin membencimu dan pernikahan ini." Gerutu Mila.


Imran memejamkan matanya menahan cacian yang Mila lontarkan padanya sedangkan Hena menutup mulutnya tidak percaya jika istri Imran begitu berani dengan suaminya.


" Jaga ucapanmu Mila, Dia suamimu." Tegur Hena.


" Suamimu..." Sahut Mila menatap Hena.


" Aku tidak menganggapnya sebagai suamiku... Apa ini Pak Des?" Mila beralih menatap Imran.


" Kau bilang tidak akan membagi hatimu, Kau bilang hanya akan menikah sekali seumur hidupmu, Lalu apa ini? Dua istri dalam satu atap? Aku harus berbagi rumah? Berbagi suami? Berbagi cinta? Bahkan aku harus berbagi ranjang dengannya? Fiuhhhh menjijikkan sekali." Ujar Mila menatap jijik pada Imran yang hanya bungkam.


" Aku tidak menyangka kau tipe pria yang tidak cukup dengan satu wanita, Ck ck ck.... Malang sekali dirimu Mbak Hena.... Suamimu mengkhianati cintamu dengan menikahi wanita lain, Bagaimana bisa kau sebagai istri mengijinkan suamimu untuk menikah lagi? Kalian benar benar pasangan menjijikkan." Ejek Mila.


" Jangan pernah kau katakan pada siapapun masalah ini termasuk kedua orang tuamu." Ucap Imran.


" Waw ... Mengejutkan." Pekik Mila mengangkat kedua tangannya.


" Jadi kalian menyembunyikan pernikahan kalian? Benar benar amazing.... Aku punya penawaran yang menguntungkan untuk kalian bagaimana?" Ujar Mila.


" Penawaran? Penawaran untuk apa?" Tanya Imran mengerutkan keningnya.


" Aku akan menutup mulutku tapi dengan syarat kau ceraikan aku, Gimana? Adil bukan?" Tanya Mila.


" Aku tidak akan pernah menceraikanmu sampai kapanpun Mila, Ingat itu." Tekan Imran.

__ADS_1


" Tapi aku yang akan menceraikanmu Pak Des, Aku mau pulang." Ucap Mila hendak pergi dari sana.


" Rumahmu di sini, Jangan pernah pergi kemanapun tanpa ijinku." Ujar Imran mencekal tangan Mila.


" Lepas... Jangan sentuh aku dengan tanganmu, Aku jijik di sentuh oleh suami orang." Tegas Mila menarik paksa tangannya.


" Mila aku suamimu." Ucap Imran.


" Tapi kamu suami Mbak Hena juga." Sahut Mila.


" Aku lelah ku mohon jangan berdebat, Masuk ke kamar kita jangan menguji kesabaranku atau aku akan menghancurkan perusahaan ayahmu." Ancam Imran dengan terpaksa agar Mila mau menurut.


" Aku tidak peduli." Ketus Mila.


Mila berlari menjauh dari Imran membuat Imran kewalahan mengejarnya. Sejujurnya Ia sudah lelah pikiran di tambah lelah badan.


" Aku sudah bilang menurutlah." Ucap Imran setelah berhasil mencekal tangan Mila.


" Lepas.... Aku mau pulang, Aku tidak sudi hidup bersama pria sepertimu, Kau pria tidak punya hati." Teriak Mila.


Imran melepas cekalannya, Ia melipat tangannya ke dalam dadanya. Ia menatap tajam ke arah Mila yang keras kepala.


" Bukankah kamu bilang tidak mencintaiku?" Tanya Imran.


" Lalu?" Mila balik bertanya.


" Cih percaya diri sekali kau Pak, Walaupun ada sepuluh Hena pun tidak berpengaruh apa apa dalam hidupku." Sahut Mila.


" Lalu?" Imran membalikkan pertanyaan Mila.


Mila tahu maksud dari ucapan 'lalu' yang Imran ucapkan. Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar, Mila memejamkan matanya mengumpulkan kekuatan dan meredam emosinya sekaligus.


" Baiklah aku akan tinggal di rumah itu, Akan aku buktikan jika kehadiran Hena tidak berarti apa apa bagiku." Ucap Mila membuat Imran tersenyum bahagia.


" Seperti kehadiranmu dalam hidupku." Sambung Mila.


Senyum di bibir Imran hilang begitu saja, Ia tidak suka dengan kata kata yang Mila ucapkan. Tapi Ia mencoba menahan emosinya.


" Bagus." Ucap Imran berjalan kembali menuju rumahnya di ikuti Mila yang mengerucutkan bibirnya di belakang.


Imran masuk ke dalam rumahnya menuju kamar utama. Kamar yang akan Ia tempati bersama Mila.


Ceklek....


Imran membuka pintu kamarnya.


" Silahkan masuk, Ini kamar yang akan kita tempati, Semua keperluanmu sudah ada di sana." Ucap Imran menunjuk walk in closet.


" Kam... Kamar kita?" Tanya Mila memastikan.

__ADS_1


" Ya kamar kita, Kenapa? Kamu tidak mau satu kamar denganku?" Tanya Imran menatap Mila yang sedang gelisah.


" Apa kau juga satu kamar dengan Mbak Hena?" Mila balik bertanya membuat Imran gugup.


" I... Iya." Sahut Imran.


" Lalu kenapa Pa Des tidak di sana saja? Aku tidak mau satu kamar denganmu, Aku takut kau melakukan hal yang merugikan aku." Ujar Mila.


" Aku harus adil pada kalian jadi tidak ada bantahan, Menurut dan berdamailah agar kamu bisa hidup bahagia di sini." Sahut Imran meninggalkan kamar mereka.


" Arghhhhh." Teriak Mila menyugar kasar rambutnya.


" Rugi gue kalau kaya' gini caranya... Ah sial sial sial... Sial banget sih hidup gue.... Harus di nikahi sama guru killer, Jadi istri kedua ... Aku yakin rumah ini akan menjadi neraka buat gue.. Lo lihat aja apa yang bisa gue lakukan agar bisa lepas darimu Pak Desfiannnnnn." Gerutu Mila.


Mila merebahkan tubuhnya di atas ranjang hingga tak terasa Ia terlelap begitu saja.


Malam harinya Mila turun ke bawah menuju meja makan karena Ia memang sangat lapar. Di meja makan terlihat Imran sedang makan berdua dengan Hena sambil sesekali tertawa. Mila mengurungkan niatnya, Ia hendak kembali ke kamarnya.


" Sayang? Kamu sudah bangun? Sini makan malam dulu dari siang kamu belum makan." Ujar Imran menghentikan langkah Mila.


Mila berjalan mendekat ke meja makan, Ia harus membuktikan jika kehadiran mereka tidak ada artinya dalam hidup Mila. Mila mengambil makanannya lalu Ia menyuapkan makanan ke dalam mulutnya tanpa menghiraukan Imran dan Hena yang sedang menatapnya.


" Sayang.... Aku mohon anggaplah Hena sebagai kakakmu sendiri biar kalian bisa akur." Ujar Imran.


" Bisakah tidak memanggilku dengan sebutan itu? Dengan Mbak Hena saja kamu tidak memanggilnya sayang." Protes Mila.


" Buat membedakan aja aku manggil siapa, Kalau keduanya aku panggil sayang maka kalian akan bingung kan?" Kilah Imran.


" Iya kau benar Ran." Sahut Hena.


" Terserah Pak Des saja, Apapun panggilannya nggak ngaruh buatku." Ucap Mila.


Ketiganya makan dengan khidmat sesekali Mila menimpali ucapan Imran jika Ia di tanya.


" Aku udah selesai." Ujar Mila membawa piring kotornya lalu mencucinya di wastafel Setelah itu Ia kembali ke kamarnya.


" Sepertinya dia gadis yang rajin Ran." Ucap Hena menatap kepergian Mila.


" Iya... Dia gadis mandiri, Itulah sebabnya aku begitu mencintainya." Sahut Imran membuat Hena mengepalkan tangannya.


" Aku berjanji bagaimana pun caranya aku akan memilikimu sepenuhnya Imran." Batin Hena.


TBC.....


*Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya...


Makasih...


Miss U All*....

__ADS_1


__ADS_2