Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Koleps


__ADS_3

Pagi ini saat Mila keluar kamar Ia berpapasan dengan Imran. Imran menatap sendu ke arah Mila, Masih tersimpan rasa cinta yang mendalam di dalam matanya. Sedangkan yang di tatap justru memalingkan muka membuat Imran menghela nafasnya. Mila berjalan menuju meja makan dimana di sana sudah ada Papa Romi, Mama Lina dan Arvi tanpa menghiraukan Imran yang mengikutinya dari belakang.


" Pagi semua." Sapa Mila duduk di sebelah Arvi.


" Kamu ikut sarapan di sini? Apa biasanya juga begitu?" Tanya Arvi menatap Mila dengan tatapan herannya.


" A.. Aku." Mila menjeda ucapannya, Ia menatap ke arah Mama Lina.


" Kamu ini gimana sih Vi? Kan Mila sebentar lagi jadi calon istrimu, Lagian Mama sudah bilang kalau Mila udah Mama anggap seperti anak Mama sendiri jadi setiap makan dia selalu makan bersama kita." Ujar Mama Lina.


Mila menghela nafas lega.


" Iya Ma maaf aku lupa, Maafkan aku Mila bukan maksudku melukai hatimu." Sahut Arvi.


"Its OK, Mau makan pakai apa?" Tawar Mila kepada Arvi karena melihat piring Arvi yang masih kosong.


" Apapun yang kamu berikan padaku aku akan memakannya dengan senang hati." Jawab Arvi.


Mila mulai menyendokkan nasi, Sayur dan lauk pauk ke piring Arvi. Semua itu membuat hati Imran terasa seperti di sayat pisau tajam. Sakit... Sungguh sakit tapi Ia harus menahannya. Bukankah ini keinginannya? Jadi Ia harus menyiapkan mental sekuat mungkin.


" Makasih sayang." Ucap Arvi setelah Mila meletakkan piring berisi makanan di depannya.


" Oh ya Kak dimana istrimu?" Tanya Arvi kepada Imran.


" Dia sedang ada acara dengan teman temannya di luar negri untuk beberapa bulan ke depan." Sahut Imran melirik ke arah Mila tapi Mila cuek aja.


" Owh." Gumam Arvi.


Imran terus menatap Mila, Ia sengaja mengosongkan piringnya supaya Mila mau meladeninya tapi Mila justru asyik dengan makanannya sendiri. Akhirnya Imran terpaksa mengambil makanannya sendiri.


Mereka makan dengan khidmat hingga....


" Awh." Rintih Arvi memegangi kepalanya.


" Arvi.. Kau kenapa?" Tanya Mila panik membuat ketiga orang lainnya menatap ke arah mereka berdua.


" Awh kepalaku sakit sekali Mil." Ucap Arvi.


Mila berdiri di depan Arvi membuat Arvi langsung memeluk pinggangnya. Ia menempelkan wajahnya pada perut Mila.


Imran mengepalkan tangannya menahan emosi yang bergejolak di dadanya.


" Kenapa Arvi? Katakan apa yang kau rasakan saat ini." Ucap Mila menangkup wajah Arvi membuat Arvi mendongak.


Tes....


Darah mengalir dari hidung Arvi.

__ADS_1


" Arvi kau mimisan." Pekik Mila.


" Pa cepat ambil es batu Pa." Ucap Mama Lina.


Mama Lina dan Imran mendekati Arvi.


" Arvi mendongaklah agar darahnya tidak mengalir terus." Ujar Mila cemas melihat darah yang mengalir pada hidung Arvi semakin banyak.


" Mila tenanglah kau tidak perlu cemas ini biasa terjadi." Ujar Arvi.


" Biasa terjadi? Lalu kenapa kamu tidak bilang pada kami Arvi.. Hiks.. Aku tidak tega melihatmu seperti ini." Mila mengusap kasar air matanya.


Imran bagai terhantam bebatuan besar melihat istrinya begitu mencemaskan pria lain walau itu adiknya sendiri dan tentunya atas kemauannya.


" Ya Tuhan... Kenapa rasanya begitu sakit? Kuatkan aku Tuhan." Batin Imran.


" Mila..." Panggil Arvi tersengal.


" Iya Arvi aku di sini, Kau ingin mengatakan sesuatu? Katakanlah." Sahut Mila.


" Temani... aku.... untuk... yang.... terakhir... kali... Berjanjilah ... untuk.... selalu... di.. sisihku." Ujar Arvi.


" Baiklah Arvi aku berjanji akan selalu menemanimu, Berjuanglah untuk kesembuhanmu." Sahut Mila tanpa pikir panjang.


" Aku... Sudah.. tidak ada... harapan... lagi Mila... Aku capek...Aku mau istirahat." Ujar Arvi.


" Arvi...." Teriak Mila menepuk pelan pipi Arvi.


" Arvi bangun.... Arvi bangunlah.... Bangunlah sayang..." Ucap Mila tanpa sadar.


Lagi..


Hati Imran terasa di remas remas sehingga sangat sakit di dalam dadanya. Ia tak kuasa menahan sesak di dadanya.


" Kita bawa ke rumah sakit Pa." Ucap Mama Mila.


" Imran angkat Arvi! Bawa ke mobil kita bawa dia ke rumah sakit." Ucap Papa Romi.


Imran segera membopong Arvi menuju mobil. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.


Sesampainya di rumah sakit Arvi segera di tangani oleh Dokter ahli penyakit kanker. Imran dan Papa berjalan mondar mandir di depan ruang ICU. Sedangkan Mila sedang menangis di pelukan Mama Lina.


" Sayang tenanglah Arvi akan baik baik saja, Kalaupun memang ini saatnya dia harus pergi, Kita semua harus mengikhlaskannya sayang." Ucap Mama Mila mengelus kepala Mila.


" Mila tidak tega melihatnya Ma, Dia tersiksa di dalam sana Ma, Dia sedang berjuang melawan maut, Aku tidak bisa membantunya... Hiks... hiks..." Isak Mila.


" Sadarlah sayang jika ada suamimu di sini! Mama tidak mau kecemasanmu kepada Arvi membuat Imran terluka sayang...." Ucap Mama Lina.

__ADS_1


" Maafkan aku Ma, Aku hanya mengikuti naluriku saja, Dan bukankah ini juga kemauannya?" Tanya Mila.


" Sudahlah jangan pikirkan itu sekarang kita fokus saja pada Arvi Ma, Urusan aku sama Mas Des biar menjadi urusan belakangan." Sambung Mila.


Ceklek...


Pintu ruangan terbuka menampilkan seorang Dokter laki laki keluar dari ruangan itu. Keempat orang itu menghampirinya.


" Bagaimana keadaan adik saya Dok?" Tanya Imran.


" Kondisinya sangat kritis, Virusnya sudah menyebar hingga ke jantung Tuan, Dengan sangat menyesal kami mengatakan jika Tuan Arvi tidak punya harapan untuk sembuh, Ikhlaskan saja jika terjadi sesuatu hal yang buruk kepadanya." Jelas Dokter membuat Mila menutup mulut dengan telapak tangannya.


" Kami sudah mengikhlaskannya Dok." Sahut Mama Mila.


" Ada yang bernama Mila?" Tanya Dokter.


" Saya Dok." Sahut Mila.


" Tuan Arvi ingin bertemu dengan anda Nona." Ucap Dokter.


" Baik Dok saya akan menemuinya." Sahut Mila.


Setelah memakai pakaian khusus, Mila masuk ke dalam ruangan dimana Arvi terbaring lah di atas ranjang dengan beberapa peralatan medis menempel pada tubuhnya. Kepalanya bahkan sekarang sudah botak. Ternyata selama ini Arvi menggunakan wik untuk menutup kepalanya.


" Mila." Lirih Arvi menatap Mila.


" Arvi.... Berjuanglah untuk kami semua." Ucap Mila menggenggam tangan Arvi.


" Sekuat apapun aku berjuang, Aku akan tetap kalah dengan penyakit ini Mil, Waktuku tidak lama lagi, Mungkin esok hari aku akan menghadap Tuhan." Sahut Arvi pelan.


" Aku tidak bisa berkata apa apa Vi, Aku hanya bisa mendoakan semoga Tuhan memberikan yang terbaik untukmu, Maafkan aku yang tidak bisa memberikan kenangan indah di akhir hidupmu Hiks.." Ujar Mila meneteskan air matanya.


" Aku sudah sangat bahagia kamu mau di sini menemaniku, Jangan pernah menangisiku Mil, Cintaku padamu akan aku bawa sampai ke SyurgaNya... Mil aku takut sendirian.. Aku mohon jangan pernah tinggalkan aku." Ucap Arvi.


" Aku akan selalu menemanimu Vi, Sekarang istirahatlah jangan pikirkan apapun." Ujar Mila.


Arvi memejamkan matanya sambil menggenggam tangan Mila yang Ia letakkan di atas dadanya. Mila menatap wajah yang kemarin terlihat tampan sekarang menjadi pucat pasi. Bahkan sepertinya tidak ada darah yang mengalir di tubuh Arvi.


" Kasihan sekali kamu Vi, Bertahun tahun aku menanti kabar darimu tapi tidak satu pun berita yang mengabarkan tentang dirimu, Sekarang kita bertemu di saat yang tidak tepat, Kau melamarku di saat aku sudah menjadi milik orang lain... Berbahagialah di sana dan tunggu aku di pintu syurga Vi, Bagaimanapun namamu masih tersimpan di sudut paling ujung dalam hatiku, Kau laki laki pertama yang membuatku mengerti akan cinta, Kau yang mengajarkan aku artinya kasih sayang, Biarlah perasaan ini hanya aku yang mengetahuinya, Aku tidak ingin menjadikan perasaanku ini beban untukmu, Jika memang saat waktunya tiba, Aku sudah mengikhlaskanmu Arvi." Ujar Mila dalam hatinya. Ia mengusap pelan air mata yang menetes di pipinya.


Sedangkan Imran yang mengintip lewat celah jendela kaca menatap interaksi Mila dan Arvi dengan perasaan takut. Ia takut Mila akan berpaling darinya setelah melihat kondisi Arvi. Imran benar benar sedang berperang dengan hatinya saat ini.


TBC....


Udah double up ya... Jangan lupa beri hadiahnya like dan koment di setiap babnya...


Terima kasih untuk para readers yang sudah selalu mensuport karya author.

__ADS_1


Miss U All..


__ADS_2