Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Janda Muda


__ADS_3

Rasita seorang janda muda berusia dua puluh tiga tahun yang bekerja sebagai perawat seorang lansia bernama nenek Mira yang tinggal sendirian di rumah mewah namun terlihat sederhana.


" Pagi Nek." Sapa Sita masuk ke dalam kamar Nenek Mira.


" Pagi sayang." Sahut nenek Mira.


" Sekarang waktunya mandi, aku siapkan air hangatnya dulu ya Nek." Ujar Sita masuk ke dalam kamar mandi.


" Ayo Nek kita mandi." Ucap Sita.


Sita menuntun nenek Mira menuju kamar mandi. Dengan telaten Ia menggosok punggung nenek Mira. Majikan yang Ia rawat seperti nenek sendiri.


Selesai mandi Sita membawa nenek Mira keluar rumah untuk berjemur.


" Nenek mau makan apa hari ini? Nanti biar aku masakin." Ucap Sita.


" Apa saja Ta, semua masakanmu terasa lezat di lidah Nenek." Sahut nenek Mira.


" Nenek bisa aja." Sahut Sita tersenyum manis.


" Apa Fahri sudah telepon pagi ini?" Tanya nenek Mira.


" Sepertinya hari ini Tuan Fahri tidak menelepon Nek, soalnya kemarin dia bilang dia sibuk banget hari ini, mungkin dia akan telepon besok pagi." Sahut Sita.


" Baiklah tidak apa, Nenek memaklumi kesibukannya." Sahut nenek Mira.


Sebenarnya Sita sangat penasaran dengan cucu nenek Mira yang telah menggajinya selama dua tahun ini. Karena sampai saat ini Sita tidak pernah bertemu dengannya. Fahri menetap di luar negeri.


Fahri....


Seperti nama mantan suami Sita. Sita sempat bertanya tanya apakah Fahri majikannya adalah Fahri yang sama dengan mantan suaminya? Tapi Sita menepis semua pemikiran itu. Toh nama Fahri ada banyak di dunia.


" Sebenarnya Nenek sangat merindukan Fahri, sudah dua tahun dia tidak pernah pulang." Ujar nenek Mira sedih.


Sita menghampiri nenek Mira. Ia berjongkok di depan nenek Mira yang sedang duduk di kursinya.


" Jangan bersedih Nek! Tuan Fahri sedang menyelesaikan bisnisnya di sana, nanti kalau beliau sudah tidak sibuk aku yakin kalau Tuan Fahri akan kembali ke tanah air untuk menjenguk nenek, atau kalau tidak Nenek ikut saja ke luar negeri bersamanya." Sahut Sita.


" Nenek tidak mau ikut Fahri menetap di sana, Nenek lebih suka hidup di sini." Ujar nenek Mira.


" Ya sudah Nenek tidak perlu khawatir, aku akan selalu menemani dan menjaga Nenek di sini, meskipun nanti Tuan Fahri sudah tidak memberikan aku upah lagi, aku akan tetap bersama Nenek karena hanya Nenek lah keluarga yang aku punya." Ucap Sita memeluk nenek Mira.


" Kau memang wanita yang baik dan penyayang Sita, Nenek berharap kau akan menjadi jodoh Fahri dan hidup bahagia bersamanya." Ujar nenek Mira.

__ADS_1


" Aku belajar dari pengalaman hidupku Nek, dulu aku pernah berbuat kesalahan dan aku selalu mencoba untuk memperbaiki kesalah itu dan tidak membuat kesalahan yang sama lagi." Sahut Sita.


" Semoga kau selalu bahagia Nak." Ucap nenek Mira.


" Amin terima kasih Nek." Ucap Sita mempererat pelukannya.


" Ya sudah Nek, ayo kita masuk! Sepertinya mataharinya sudah mulai panas." Ujar Sita.


Matahari mulai naik ke atas, Sita membawa nenek Mira masuk ke dalam. Lalu Ia menyiapkan sarapan untuk nenek Mira.


" Sarapannya Nek." Ucap Sita memberikan sepiring nasi beserta lauk dan sayur kepada nenek Mira.


" Terima kasih Sita." Sahut nenek Mira.


" Sama sama Nek." Sahut Sita.


Keduanya makan dengan khidmat. Setelah selesai, Sita mengajak nenek Mira duduk di taman belakang.


Drt... Drt...


Ponsel Sita berdering. Ia segera mengangkat panggilan yang ternyata dari kontak 'Tuan Fahri'.


" Halo Tuan." Sapa Sita.


" Alhamdulillah Nenek baik baik saja Tuan, saat ini Nenek sedang bersantai di taman belakang bersama saya, apa anda mau berbicara dengan Nenek?" Tanya Sita.


" Ah tidak usah! Aku akan menelepon Nenek nanti setelah rapat selesai, saat ini aku sedang terburu buru." Ujar Fahri.


" Baiklah Tuan Fahri kalau begitu saya tutup dulu teleponya, assalamu'alaikum." Ucap Sita.


" Wa'alaikumsallam." Sahut Fahri mematikan sambungan teleponnya.


Sita menatap ke depan dengan tatapan kosong, ada yang mengganjal dalam hatinya setiap kali Ia bertelepon dengan Fahri selama ini.


" Kenapa aku merasa begitu mengenalmu Tuan? Apakah karena aku merindukan Mas Fahri selama ini? Mas Fahri.... Kamu dimana sekarang? Apa kau benar benar sudah melupakan aku? Apa sebegitu bencinya kamu kepadaku karena kesalahan yang sudah aku perbuat padamu di masa lalu? Aku sangat menyesal Mas.... Aku sangat merindukanmu... Aku selalu berharap kita akan bertemu lagi suatu hari nanti dan bisa memulai kisah baru kita, itulah sebabnya aku masih menyimpan rapi rasa cinta ini." Gumam Sita dalam hatinya.


" Sita... Apa kau baik baik saja?" Tanya nenek Mira menatap Sita.


" Iya Nek aki baik baik saja." Sahut Sita.


" Apa Fahri mengatakan sesuatu hal yang menyinggung perasaanmu? Jika Nenek perhatikan, kenapa setiap Fahri telepon wajahmu berubah menjadi murung seperti itu? Apa yang sebenarnya kamu sembunyikan dari Nenek, Sita?" Tanya nenek Mira menggenggam Sita.


" Jangan khawatir Nek! Aku baik baik saja, tadi Tuan Fahri hanya menanyakan kabar nenek saja, Tuan Fahri akan telepon lagi nanti setelah rapatnya selesai." Sahut Sita.

__ADS_1


" Baiklah kalau begitu sekarang tersenyumlah." Ujar nenek Mira.


Sita mengembang senyuman di bibirnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Satu bulan berlalu, hari ini kesehatan Nenek Mira ngedrop. Tiba tiba tekanan darahnya naik dan Nenek Mira sering mengeluhkan sakit kepala. Beliau di rawat rumah sakit sudah satu minggu dan hanya di temani oleh Sita.


" Sita." Panggil nenek Mira lemah.


" Iya Nek, apa Nenek membutuhkan sesuatu?" Tanya Sita menghampiri nenek Mra yang sedang terbaring di ranjang pasien.


" Kapan Fahri akan pulang Nak? Nenek sangat merindukannya." Ucap nenek Mira.


" Tuan Fahri bilang dia akan pulang besok pagi Nek, Nenek yang sabar ya, jangan sampai Nenek ngedrop lagi karena banyak pikiran." Ujar Sita.


" Iya Sita, Nenek tidak memikirkan apapun, Nenek hanya kangen sama Fahri, cucu yang sangat Nenek sayangi." Ucap nenek Mira.


" Baiklah sekarang mending Nenek tidur aja ya, aku akan menjaga Nenek di sini." Ujar Sita.


" Terima kasih Sita atas kebaikanmu Nak, Nenek tidak tahu bagaimana kehidupan Nenek jika tidak bertemu denganmu." Ucap Nenek Sita.


" Aku yang berterima kasih sama Nenek karena telah memberikan aku pekerjaan, Nenek telah memberikanku kehidupan baru setelah aku bercerai dengan suamiku, Nenek memberikan aku semangat untuk melanjutkan hidup, untuk itu aku akan mengabdikan diriku kepada Nenek selamanya." Ucap Sita.


" Kalau nanti Nenek punya permintaan untukmu, apakah kamu mau mengabulkannya Ta?" Tanya nenek Mira.


" Apa yang Nenel inginkan dariku?" Tanya Sita.


" Kamu harus berjanji dulu jika kamu mau menerima apapun permintaan Nenek suatu hari nanti." Ucap nenek Mira.


" Baiklah Nek, aku berjanji akan memenuhi apapun permintaan Nenek nanti." Ucap Sita.


" Terima kasih sayang." Sahut nenek Mira.


Setelah mengatakan itu nenek Mira memejamkan matanya menuju alam mimpi, sedangkan Sita duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


" Aku penasaran dengan Fahri cucunya Nenek, tapi kenapa aku cari di sosmed nggak ketemu profilenya ya? Atau mungkin Tuan Fahri ini anti sosmed? Arghhh semakin aku penasaran semakin aku ingin bertemu dengannya, aku ingin memastikan apakah dia Tuan Fahri atau Mas Fahri, aku harus menunggu sampai pagi untuk menghilangkan rasa penasaranku." Monolog Sita.


Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya biar Sita semakin semangat mencari kebenarannya...


Terima kasih untuk readers yang mampir dan mensuport author, semoga sehat selalu...


Miss U All...

__ADS_1


TBC....


__ADS_2