
Sesampainya Mila di rumah sakit, Ia langsung berlari menuju ruang IGD di ikuti Mama Lina di belakang. Di sana nampak Imran sedang menunggu Dokter yang sedang memeriksa Vania di dalam. Tampak juga Tante Winda duduk di sebelah Imran.
" Ayo sayang." Ucap Mama Lina menggandeng Mila menghampiri Imran.
" Imran bagaimana kondisi Vania Nak?" Tanya Mama Lina setelah sampai di depan Imran.
" Dokter sedang memeriksanya Ma." Sahut Imran.
" Hei kamu wanita pembawa sial." Ucap Tante Winda menuding wajah Mila.
" Jika sampai terjadi sesuatu pada anak saya, saya akan tuntut kamu." Teriak Tante Winda.
" Kenapa Tante menyalahkan saya?" Tanya Mila.
" Nggak usah sok berlagak tidak bersalah, Imran sudah menceritakan semuanya kepada saya kalau kamu yang mendorong Vania hingga membuat Vania seperti ini." Sahut Tante Winda.
Perih..... Hati Mila terasa perih, Bagaimana bisa Imran menuduhnya seperti itu tanpa mencari tahu kebenarannya dulu. Ia menatap tajam ke arah Imran.
" Apa benar kamu mengatakan begitu Mas?" Tanya Mila.
" Iya.. Maaf karna yang aku lihat tadi kamu memang mendorong Vania sayang." Sahut Imran.
Jeduarrrrr.... Mila ingin berteriak sekencang kencangnya karna Imran tidak mempercayainya. Ia ingin menangis tapi sekuat mungkin Ia tahan. Ia harus kuat menghadapi orang orang di depannya.
" Imran kenapa kamu berkata seperti itu? Kamu bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi Nak." Ucap Mama Lina.
" Mila memang mendorong Vania, tapi dia mendorongnya dengan pelan dan saat itu Vania masih bisa berdiri, tapi entah kenapa tiba tiba Vania jatuh sekeras itu, Mama rasa Vania menjatuhkan dirinya sendiri Nak." Sambung Mama Lina.
" Apapun yang dia lakukan nyatanya membahayakan keselamatan calon cucuku, aku tidak terima ini Lina, aku akan menuntutnya." Ujar Tante Winda.
" Aku menunggu saat itu Tante, akan aku buktikan aku tidak bersalah dan saat tu aku yang akan menuntut Vania ke penjara, bukan ke penjara tepatnya di rumah sakit jiwa." Ucap Mila.
" Mila." Bentak Imran membuat Mila berjingkrak kaget.
" Jangan keterlaluan sayang." Sambung Imran.
" Imran dengarkan Mama...
" Tidak perlu menjelaskan apa apa kepadanya Ma, Biarkan Mas Des menganggapku bersalah." Ucap Mila memotong ucapan Mama Lina.
" Tapi Imran harus tahu sayang." Ujar Mama Mila.
__ADS_1
" Biar dia tanyakan pada hatinya Ma, jika dia hanya bisa melihat kesalahanku saja itu berarti hatinya buta dan aku sudah tidak mempedulikan semua itu lagi, aku sudah terbiasa menghadapi situasi seperti saat ini." Sahut Mila.
" Tapi sayang...
Pintu terbuka seorang Dokter wanita keluar dari sana.
" Bagaimana keadaan anak saya Dok?" Tanya Tante Winda.
" Anak ibu baik baik saja, tapi maaf kami tidak bisa menyelamatkan bayinya, dia mengalami keguguran karna benturan keras yang mengguncang perutnya." Sahut Dokter.
" Apa? Keguguran? Ya Tuhan kasihan sekali anakku." Ucap Tante Winda.
" Kami turut berduka cita Jeng Winda." Ucap Mama Lina.
" Semua ini karna menantumu itu, aku akan menuntutnya agar dia merasakan sengsaranya hidup di penjara." Ujar Tante Winda.
" Jangan menyalahkan menantuku, Putrimu sendiri yang datang kerumah kami dan mengganggu ketenangan rumah tangga menantuku, aku juga tidak terima kau menuduh menantuku seperti itu." Ucap Mama Lina tidak terima.
" Nyatanya putramu sendiri yang mendukungku." Sahut Tante Winda.
"Ya Tante Winda benar, bahkan suamiku hanya bisa diam tanpa membela aku sama sekali." Batin Mila.
" Tidakkkkk."
" Tidak.... Aku tidak ingin kehilangan anakku, Ini anakku dengan Imran aku nggak mau dia meninggalkan aku karna anak ini telah tiada haaaa tidak." Ucap Vania histeris.
" Aku tidak mau.. Aku tidak mau kehilangan anakku." Teriak Vania.
" Sayang kendalikan dirimu jangan seperti ini." Ucap Tante Winda memeluk Vania.
" Lepas... Lepaskan aku, ini semua gara gara kamu, kamu harus bertanggung jawab Mila, aku kehilangan anakku karna kamu mendorongku, Imran dia mendorongku.. Kamu jahat Mila." Bentak Vania membentak Mila.
" Imran jangan tinggalkan aku Imran, Maafkan aku yang tidak bisa menjaga anak kita, Imran maafkan aku, semua ini gara gara wanita itu, aku tidak mau kamu meninggalkan aku Imran, atau aku akan bunuh diri jika kamu meninggalkan aku." Ucap Vania.
Imran mendekati Vania, Ia merasa iba dengan kondisi Vania saat ini. Selain mentalnya terganggu, Ia juga harus kehilangam calon anaknya. Bukan tanpa sebab Imran diam sedari tadi, sebelumnya Dokter sudah memberitahunya tentang keadaan Vania. Ia bingung harus berbuat apa. Ingin membantu Vania tapi dengan cara apa.
" Imran jangan tinggalkan aku." Ucap Vania menggenggam tangan Imran.
" Tenanglah aku tidak akan meninggalkanmu." Ucap Imran agar Vania merasa tenang.
" Imran, Apa apaan kamu ini." Bentak Mama Lina.
__ADS_1
" Maaf Ma, aku merasa iba kepadanya dan mungkin ini yang terbaik untuknya, aku mohon Mama mengerti posisiku saat ini." Sahut Imran membuat Mama Lina dan Mila kecewa.
" Posisimu di sini adalah suami Mila bukan suami Vania, kau akan menyesalinya Imran, kau akan menyesali perbuatanmu saat ini." Ucap Mama Lina.
" Maafkan aku Ma, Mila semoga kau mengerti, tunggulah penjelasanku." Ucap Imran menatap Mila.
" Aku selalu mengerti dirimu Mas, dan sekarang aku sadar apa yang harus aku lakukan." Ucap Mila.
" Meninggalkanmu ya... untuk beberapa hari aku akan meninggalkanmu karna lagi lagi kau membuatku kecewa mas." Batin Mila.
" Ma ayo kita pulang." Ucap Mila keluar dari ruangan.
" Mila." Panggil Imran hendak mengejarnya.
" Sayang di sini saja temani aku." Ucap Vania menahannya.
Mila berjalan menuju mobilnya dengan perasaan teramat sangat kecewa pada suaminya. Berkali kali Ia mencoba bertahan tapi sepertinya takdir sudah menunjukkan jalannya.
" Sayang kamu harus membuktikan jika kamu tidak bersalah." Ucap Mama Lina.
" Aku tidak akan membuktikan apa apa Ma kana aku sudah tidak mampu lagi untuk bertahan Ma." Ucap Mila.
" Apa maksudmu sayang?" Tanya Mama Lina.
" Aku lelah dengan sikap Mas Desfian yang selalu selalu dan selalu seperti ini, lagi dan lagi dia membuatku kecewa dan sakit hati Ma, apapun yang akan dia jelaskan kali ini biarkan aku menjauh darinya Ma, ku mohon dengarkan keinginanku kali ini Ma." Ucap Mila.
" Mama mengerti perasaanmu, Mama akan mengijinkan kamu untuk menjauh dari Imran tapi Mama mohon jangan minta pisah darinya, Mama tidak mau kehilangan menantu sepertimu." Ujar Mama Lina.
" Baiklah Ma." Jawab Mila pasrah.
" Kita pulang ke rumah Mama saja, kau bisa tinggal di sana, Mama tidak akan memberitahu Imran soal ini." Ujar Mama Lina.
" Baik Ma." Sahut Mila.
Mila melajukan mobilnya menuju rumah mertuanya. Untuk beberapa hari Ia akan tinggal di sana sampai Imran menyadari kekeliruannya.
TBC......
*Konflik dulu ya sebelum mendengar kabar bahagia....
Terima kasih atas suport yang para readers berikan...
__ADS_1
Miss U All*....