
Hari ini sepulang sekolah tiga serangkai jalan jalan ke Mall ternama di kota itu. Siapa lagi kalau bukan Kira, Ai dan Rasi. Mereka berjalan menyusuri stand stand yang ada dalam Mall tersebut. Entah apa yang ingin mereka beli, atau hanya sekedar jalan jalan saja.
" Nonton aja yuk dari pada jalan nggak ada tujuan gini." Ucap Ai sambil berjalan.
" Malas ah, kita jalan jalan aja lihat lihat siapa tahu ketemu cowok ganteng." Sahut Kira asal.
" Alah gaya lo, entar kalau ketemu juga nggak di apa apain tuh cowok." Ujar Rasi.
" Kaya'nya Kira itu udah punya cowok idaman sendiri deh." Ujar Ai.
" Siapa Ki? Kasih tahu donk soal doi." Ucap Rasi.
" Kalian ini apaan sih, fokus ke ujian dulu setelah lulus baru cari tuh doi terus di ajak nikah deh." Ujar Kira.
" Beneran Ki? Lo mau langsung nikah gitu?" Tanya Ai penasaran menghentikan langkahnya.
" May be yes, may be no." Sahut Kira melanjutkan jalannya.
" Mau kemana nih kita?" Tanya Ai.
" Eh gue mau beli cincin dulu, antar yuk." Ucap Rasi.
" Ok Ok ayo." Sahut Ai.
Ketiganya berjalan menuju stand perhiasan. Sesampainya di sana Rasi memilih model cincin yang pas menurutnya. Bahkan Ia mencoba satu persatu cincinnya.
" Eh Ki, itu Kak Zav kan?" Tanya Ai menunjuk ke bagian kalung. Kira mengikuti arah yang di tunjuk oleh Ai. Dan benar saja, Zavran sedang memilih kalung di sana.
"Buat siapa Kak Zav membeli kalung?" Tanya Kira dalam hatinya.
" Ayo kita samperin." Ai menarik tangan Kira menghampiri Zavran. Kira ikut saja karna Ia juga penasaran.
" Kak Zav." Panggil Ai.
Zavran menoleh ke arah Kira dan Ai.
" Kalian." Ucap Zavran.
Zavran menatap Kira yang sedang menatap ke arahnya.
" Sedang apa kalian di sini?" Tanya Zavran.
" Kami sedang jalan jalan Kak, kata Kira cuci mata siapa tahu dapet cowok ganteng yang bisa di jadiin doi, gitu Kak." Seloroh Ai. Kira menoyor kepala Ai dengan tangannya.
" Apa sih Ki? Kan bener tadi lo bilang gitu." Ujar Ai.
" Kalau masih sekolah itu fokus ke pelajaran saja, urusan cowok pikirkan nanti kalau kalian sudah besar." Ucap Zavran.
" Kami juga sudah besar kali Kak, kami sudah bisa memberikan anak." Ceplos Ai mendapat cubitan di perutnya dari Kira.
" Awh awh awh." Pekik Ai kesakitan.
" Kenapa Ai?" Tanya Zavran.
" Ini Kak, Kira mencubit perutku." Sahut Ai.
" Ki nggak boleh gitu donk." Ujar Zavran menatap Kira. Kira memutar bola matanya malas.
" Oh ya Kak Zav beli kalung buat siapa?" Tanya Ai mewakili pertanyaan Kira.
" E.... Ini....
" Zavran, kamu di sini?" Belum sempat Zavran menjawab pertanyaan Ai, tiba tiba Amanda datang menghampiri mereka.
" Ah so sweet banget ternyata kamu beliin kalung buat aku ya." Ucap Amanda mengambil kalung di tangan Zavran.
" Cantik sekali..." Sambung Amanda.
Kira menatap Zavran dengan tatapan nanar. Hatinya sakit melihat Zavran membelikan sesuatu untuk Amanda. Ini membuktikan jika Amanda adalah orang spesial bagi Zavran. Tak kuasa menahan sakitnya, akhirnya Kira memilih untuk pergi.
__ADS_1
" Ai gue mau pulang." Ucap Kira meninggalkan mereka semua.
" Kiki." Panggil Zavran.
Kira tidak menghiraukan panggilan Zavran. Ia berjalan keluar Mall dengan perasaan terluka. Zavran kembali menghampiri Amanda dan menatapnya dengan mata berkabut amarah.
" Kamu ini apa apaan sih Nda, aku itu beli kalung itu bukan buat kamu, pd banget jadi cewek." Ucap Zavran mengambil lagi kalungnya.
" Maaf Vran." Ucap Amanda.
" Lain kali nggak usah sok tahu, dan nggak usah sok kepedean jadi orang." Ketus Zavran.
" Ini Mbak saya kembalikan saya nggak jadi beli, kalau dia mau membelinya biar bayar sendiri." Ucap Zavran memberikannya pada karyawan toko.
Zavran berjalan menjauh dari toko perhiasan.
" Vran tunggu." Ucap Amanda mengejar Zavran.
Ai masih berdiri mematung mencoba menilai situasi yang ada di depan matanya.
" Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Apa Kak Zav dan Kira......" Gumam Ai sambil berpikir.
" Ai, mana Kira?" Tanya Rasi menepuk pundak Ai membuat Ai tersadar dari lamunannya.
" Kira udah pulang duluan, lo nggak lihat tadi." Ujar Ai.
" Enggak, kan gue lagi fokus sama cincinnya, bagus nggak." Ucap Rasi menunjukkan cincin yang melingkar di jari tangannya.
" Bagus sih, udah yuk kita pulang." Ujar Ai.
" Ayo... Lagian nggak seru kalau nggak ada Kira." Sahut Rasi.
Kira turun dari taksi, Ia berjalan masuk ke dalam rumah.
" Assalamu'alaikum Mom." Ucap Kira menghampiri Mommy Kinan yang sedang duduk di ruang keluarga bersama Daddynya.
Kira menyalami kedua orang tuanya dengan takzim.
" Sayang nanti malam kita ada acara makan malam sama keluarga Zavran, kamu harus ikut ya." Ujar Mommy Kinan.
" Malas Mom, aku di rumah aja ya." Sahut Kira.
" Kalau Mom bilang harus berarti ya harus ikut Kira." Tekan Mommy Kinan.
" Baiklah terserah Mom saja, aku ke kamar dulu Mom mau tidur bangunkan aku saat makan malam nanti." Ucap Kira.
" Baiklah." Sahut Mommy Kinan.
Kira menaiki tangga menuju kamarnya. Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang menuju alam mimpi tanpa mengganti bajunya terlebih dahulu.
Malam hari setelah selesai bersiap, Kira turun ke bawah menghampiri Daddy dan Mommynya yang sudah menunggu.
" Duh cantiknya anak Mommy." Ucap Mommy Kinan.
" Siapa dulu Daddynya." Ujar Daddy Aroon.
" Heleh Daddynya udah tua, kalau Mommynya kan masih cantik dan masih muda." Sahut Mommy Kinan.
" Biar tua gini juga masih bisa buat kamu
Hup...
Mommy Kinan membungkam mulut Daddy Aroon dengan telapak tangannya. Daddy Aroon tahu maksud dari tindakan istrinya.
" Diem." Ucap Mommy Kinan yang di balas Daddy Aroon anggukan kepala.
" Jadi pergi nggak nih?" Tanya Kira.
" Jadi dong, ayo sayang." Ucap Daddy Aroon menggandeng tangan Mommy Kinan.
__ADS_1
Ketiganya naik mobil yang di kemudi oleh Daddy Aroon. Lima belas menit kemudian mereka sampai di resto yang sudah di pesan oleh Daddy Aroon.
" Ayo turun, mereka sudah menunggu." Ucap Daddy Aroon.
Daddy Aroon berjalan masuk ke dalam rastorant sambil terus menggandeng tangan Mommy Kinan. Meja nomer lima menjadi tujuan mereka.
" Maaf lama menunggu." Ucap Daddy Aroon.
" Kami juga baru sampai kok Ar, Gimana kabarmu?" Tanya Daddy Imran.
" Alhamdulillah baik seperti yang kau lihat." Sahut Daddy Aroon.
" Kinan aku kangen banget." Ucap Mommy Mila memeluk Mommy Kinan.
" Aku juga Mbak." Sahut Mommy Kinan.
" Silahkan duduk." Ucap Mommy Mila.
" Makasih Mbak." Sahut Mommy Kinan.
Daddy Aroon duduk bersebelahan dengan Mommy Kinan, sedangkan Kira duduk di depan Zavran. Mereka mulai menikmati hidangan makan malam yang sudah di pesan sebelumnya.
" Kalian ada masalah? Kenapa diam diaman dari tadi?" Tanya Daddy Aroon kepada Zavran dan Kira.
Zavran melirik Kira seolah meminta Kira yang menjawabnya tapi Kira diam saja.
" Enggak kok Pa, hanya salah paham saja." Sahut Zavran.
" Segera selesaikan sebelum masalahnya melebar." Ucap Daddy Imran.
" Iya Dad." Sahut Zavran kembali memakan makanannya.
" Kira udah mau ujian ya?" Tanya Daddy Imran di sela sela makannya.
" Iya Pa, seminggu lagi." Sahut Kira.
Ya sama dengan Zavran, Kira juga memanggil orang tua Zavran dengan sebutan Mama dan Papa.
" Mau lanjut kuliah dimana sayang?" Tanya Mommy Mila menatap Kira.
" Tidak mau kuliah Ma." Sahut Kira.
" Mau langsung kerja? Tapi kerja di mana dengan tamatan SMA sayang? Bukannya kamu harus meneruskan perusahaan Daddymu?" Tanya Mommy Mila.
" Enggak kerja juga kok Ma." Sahut Kira. Semua orang saling melempar pandangan.
" Lalu?" Tanya Daddy Imran.
" Setelah lulus aku mau langsung nikah aja." Sahut Kira.
Uhuk.... Uhuk... Uhuk...
Zavran tersedak makanannya sendiri. Ia segera mengambil segelas air putih di depannya lalu meminumnya hingga tandas.
" Hati hati Zavran makannya, kok bisa tersedak gitu sih, pasti sakit banget ya." Ucap Mommy Kinan.
" Iya Ma maaf." Sahut Zavran.
Zavran menatap ke arah Kira yang sedang menatapnya juga.
" Emang kalau kamu mau nikah, sama siapa sayang? Kok Dad nggak tahu kalau kamu udah punya pacar." Tanya Daddy Aroon. Zavran memasang telinga dan matanya menanti jawaban Kira. Entah mengapa dalam hatinya Ia ingin Kira menyebut namanya. Ia merindukan Kira yang selalu mencari perhatian padanya, Ia rindu Kira yang suka bermanja manja dengannya.
" Sama Kak Fahri Dad." Sahut Kira.
Jeduarrrrrr
Bagai di sambar petir di siang bolong. Jantung Zavran terasa berhenti berdetak. Ia menatap Kira dengan tatapan tak percaya. Benarkah Kira mau menikahi orang lain di saat dirinya sedang memantapkan keputusan yang akan Ia ambil? Begitu cepat kah perasaan Kira berpaling darinya? Sepertinya Zavran butuh waktu berdua untuk membahas persoalan ini.
TBC.....
__ADS_1