
Hari hari berlalu kondisi Imran kini sudah membaik. Kini Imran dan Mila sedang menghadiri acara pernikahan Aroon dan Fisa. Keduanya berjalan menuju pelaminan untuk mengucapkan selamat kepada kedua mempelai.
" Selamat Kak Aroon, semoga bahagia." Ucap Mila menyalami tangan Aroon.
" Terima kasih Mil, kau juga harus bahagia." Sahut Aroon di balas senyuman oleh Mila.
Mila beralih kepada Fisa. Ia memeluk Fisa dengan perasaan bahagia.
" Selamat Kak, semoga menjadi keluarga samawa." Ujar Mila.
" Terima kasih Mil, doakan semoga Aroon bisa melupakanmu segera karna aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bersabar Mil." Sahut Fisa.
" Aku yakin seiring berjalannya waktu namaku akan tergantikan dengan namamu Kak, maafkan aku yang jadi penghalang di antara hubungan kalian." Ujar Mila.
" Amien.... Jangan menyalahkan diri sendiri karna ini murni kesalahan Aroon dan kesalahanku sendiri yang dengan percaya dirinya menawarkan bantuan untuknya." Sahut Fisa.
" Bersabarlah Kak semua akan indah pada waktunya, kita hanya perlu bersabar menunggu waktu itu tiba." Ucap Mila.
" Iya kau benar Mil." Sahut Fisa.
Sedangkan di samping kedua wanita itu, Imran nampak sedang mengucapkan selamat kepada Aroon.
" Selamat Pak Aroon semoga bahagia." Ucap Imran memeluk Aroon.
" Terima kasih Pak Imran, semoga kau juga selalu bisa membahagiakan Mila." Ujar Aroon.
" Tentu saja, jangan khawatir Pak Aroon.... Mila istriku jadi sudah kewajibanku membuat Mila bahagia." Sahut Imran. Imran beralih ke Fisa.
" Selamat Fis semoga bahagia." Ucap Imran menyalami Fisa.
" Makasih Kak." Sahut Fisa.
" Silahkan menikmati hidangannya." Sambung Fisa menunjuk ke arah stand makanan.
" Terima kasih kami kesana dulu." Sahut Imran.
Imran menggandeng tangan Mila menuju stand makanan. Mereka duduk di meja sambil meminum es buah yang sudah di sediakan oleh pihak catering.
" Nak Mila ya?" Tanya Tante Alfi memastikan.
" Iya Tan, siapa ya?" Tanya Mila karna merasa tidak mengenal wanita di depannya sebelumnya.
" Saya Alfi Mamanya Aroon." Ucap Tante Alfi.
" Oh maaf Tante." Ucap Mila.
" Tidak apa, boleh Tante duduk di sini?" Tanya Tante Alfi.
" Silahkan Tante." Sahut Mila.
__ADS_1
Tante Alfi duduk di depan Mila dan Imran.
" Apa ini suamimu yang dulu pernah mengajar di sekolah yang sama dengan Aroon?" Tanya Tante Alfi.
" Iya Tan, perkenalkan saya Imran suami Mila." Ucap Imran menjabat tangan Tante Alfi.
" Kamu beruntung bisa mendapatkan Mila, tidak seperti anak saya yang terlambat mendapatkannya." Ujar Tante Alfi.
" Jodoh sudah ada yang mengaturnya Tan." Sahut Imran.
" Iya kau benar, Tante tidak menyangk kalau Aroon berjodoh dengan Tafisa." Ucap Tante Alfi.
" Sebentar Tante, kenapa Tante bisa tahu soal itu?" Tanya Mila penasaran.
" Aroon pernah menceritakan pada Tante kalau dia mau melamar seorang gadis, tapi sayang saat dia sampai rumahnya gadis itu sudah menjadi milik orang lain." Terang Tante Alfi sedih.
" Tapi tidak heran sih kenapa Aroon begitu terpikat padamu, kamu gadis lugu dan cantik, siapa sih yang tidak terpesona padamu." Puji Tante Alfi.
" Tante bisa aja." Sahut Mila.
Di depan pelaminan saja Aroon menatap kedekatan Mila dan Mamanya. Ada rasa menyesal dalam hatinya karna gagal mendapatkan Mila dalam hidupnya. Fisa mengikuti arah pandang Aroon membuat hatinya kesal. Pasalnya Aroon selalu menatap ke arah Mila tanpa mempedulikan perasaannya.
" Jangan sampai di saat malam pertama kita kamu salah sebut nama." Ucap Fisa membuat Aroon menatap ke arahnya.
" Apa maksudmu?" Tanya Aroon.
" Maaf... Entah mengapa saat melihat Mila hatiku kembali goyah, aku sendiri tidak tahu apakah aku bisa melupakannya atau tidak Fis." Ucap Aroon.
" Kau memang tidak punya perasaan Ar, kau tega mengatakan itu di depan istrimu sendiri, lalu apa arti pernikahan ini bagimu? seharusnya kita tidak melakukan semua ini." Ucap Fisa.
" Kau menyesalinya?" Tanya Aroon.
" Sangat.... Sekarang aku juga tidak yakin dengan diriku sendiri apakah aku bisa memenangkan hatimu atau tidak karna secara tidak sadar kau sudah menutup hatimu sebelum aku memasukinya Ar." Ucap Fisa meninggalkan Aroon di pelaminan sendiri.
Tidak kuasa menahan sesak di dadanya Fisa menuju kamarnya, kamar yang akan menjadi kamar pengantin dan tempat yang akan di gunakan untuk malam pertamanya. Ia masuk ke dalam menatap ranjang yang sudah di hias dengan banyaknya bunga mawar. Fisa semakin sesak melihat semua itu.
" Arghhhhh." Teriak Fisa mengacak acak sprei ranjangnya membuat kelopak bunga mawar itu berhamburan menghujani dirinya.
" Semua ini tidak ada gunanya, semua ini tidak ada artinya, semua ini palsu, semua ini hanya tipuan belaka... Aku membenci semua ini, Kenapa ini semua terjadi padaku? Kenapa rasanya begitu sakit... Kenapa?." Teriak Fisa.
" Fisa." Bentak Aroon menghampiri Fisa membuat Fisa berjingkrak kaget.
" Apa apaan kamu ini? Aku tidak mengharapkan ini darimu Fisa." Ucap Aroon.
" Aku juga tidak mengharapkan semua ini darimu karna aku tahu kamu tidak akan melakukannya denganku, lalu untuk apa semua ini? Bukankah nantinya akan di buang juga?" Sinis Fisa.
" Kamu harhs bersabar sampai aku benar benar menerimamu Fisa." Ujar Aroon.
" Sampai kapan?" Tanya Fisa menatap Aroon. Aroon tidak bergeming.
__ADS_1
" Bahkan kau sendiri tidak tahu sampi kapan kamu bisa melupakan Mila, apakah aku harus mengingkirkan Mila lebih dulu baru kau bisa menerimaku?" Tanya Fisa.
" Apa yang kamu katakan Fisa? Mila temanmu bahkan sahabat karibmu, jangan pernah menyentuh Mila sedikitpun karna jika sampai itu terjadi aku tidak akan pernah melepaskanmu, kau tahu bukan apa yang bisa aku lakukan denganmu." Ancam Aroon.
" Ha ha ha." Fisa tertawa seperti orang gila. Aroon menatap heran ke arah Fisa.
" Ada apa sebenarnya denganmu Fisa?" Tanya Aroon.
" Aku hancur Aroon, aku patah hati... Di hari pernikahanku suamiku menatap wanita lain tepat di depan mataku, apakah perasaan ini tidak berarti baginya? Setidaknya jangan lakukan itu di hari pernikahanku, aku malu sama orang orang yang sudah menatap rendah kepadaku hiks... hiks... Aku menjadi pengantin yang tidak di inginkan Ar.... Aku telah mengancurkan hidupku sendiri karna menawarkan diri untuk membantumu melupakan Mila... Tapi nyatanya aku tidak bisa Ar... Kau terlalu dalam mengukir nama Mila di dalam hatimu hingga aku tidak dapat menjangkaunya... Kenapa malang sekali nasibku... Aku tidak bisa menemukan kebahagiaanku sendiri, Aku terlalu cepat mengambil keputusan ini... Hiks.." Racau Fisa melempar tubuhnya di atas ranjang, Posisi Fisa saat ini tengkurap sambil menutup kepalanya dengan bantal.
Ucapan Fisa membuat hati Aroon mencelos. Fisa benar jika dirinya tidak menghargai perasaan Fisa yang seharusnya Ia jaga. Aroon merasa bersalah dengan Fisa yang baru beberapa jam menjadi istrinya. Aroon mendekati Fisa.
" Maafkan aku Fis, kau benar aku tidak menghargai perasaanmu, mulai sekarang aku berjanji akan menghapus nama Mila di hatiku dan menggantikannya dengan namamu." Ucap Aroon mengelus pundak Fisa.
Fisa tidak bergeming, Ia begitu malas menghadapi Aroon yang keras kepala. Ia tidak mau melihat wajah Aroon untuk saat ini. Ia terlalu muak dengan sikap Aroon yang mengabaikan perasaannya.
Sedangkan di tempat acara Mila dan Imran hendak pamit. Keduanya tengak tengok mencari pengantin baru tapi tidak terlihat.
" Tante dimana Kak Fisa dan Kak Aroon ya?" Tanya Mila.
" Mungkin mereka istirahat di kamar, tahu sendiri kan capeknya jadi pengantin seharian." Ujar Tante Alfi.
" Ah iya Tan, kalau begitu kami pamit ya.. Sampaikan salamku kepada Kak Fisa dan Kak Aroon Tante." Ujar Mila.
" Iya sayang hati hati di jalan." Sahut Tante Alfi.
" Mari Tante." Ucap Imran.
" Mari." Sahut Tante Alfi.
Keduanya bergandengan tangan meninggalkan ballroom hotel tempat acara di selenggarakan.
" Kita mau pulang atau mau mampir dimana dulu?" Tanya Imran setelah masuk ke dalam mobilnya.
" Pulang aja Mas aku capek." Sahut Mila.
" Baiklah." Sahut Imran.
Imran melajukan mobilnya menuju jalan raya berhambur dengan kendaraan lainnya.
TBC....
Kalau cerita Aroon sama Fisa di jadiin satu di sini pada keberatan nggak sih?
Tulis di kolom komentar ya...
Terima kasih atas suport yang kalian berikan semoga sehat selalu....
Miss U All....
__ADS_1