Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Rencana Hena


__ADS_3

Pagi hari Imran mengerjapkan matanya, Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah. Hanya sepi yang Ia dapatkan.


" Awh.... Kepalaku pusing." Rintih Imran sambil memegangi kepalanya.


Ia melihat jam pada dinding yang menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.


" Aku ada kelas di kelas sepuluh, Aku harus segera bersiap." Monolog Imran.


Imran turun dari ranjang berjalan tertatih menuju kamar mandi. Sepuluh menit Ia sudah menyelesaikan ritual mandinya. Setelah bersiap Ia turun ke bawah menuju meja makan untuk menyantap sesuatu sebelum minum obatnya.


" Mila mana Hen? Kok nggak ada di kamarnya?" Tanya Imran menghampiri Hena.


" Dari tadi pagi aku nggak melihatnya Ran, Aku kira dia masih di kamar bersamamu." Ujar Hena.


Imran langsung kembali ke kamarnya untuk memastikan sesuatu. Di dalam kamar yang Ia tuju pertama kali adalah almari Mila. Ia membukanya dengan kasar.


Jederrrrrr


Tubuh Imran terhuyung ke belakang saat menatap almari pakaian Mila yang kosong. Imran segera mengambil ponselnya lalu mencoba menghubungi Mila, Namun sayang hanya operator saja yang menjawabnya.


" Ah Sial." Umpat Imran.


" Kenapa kamu pergi sayang, Padahal hari ini aku mau memulai semuanya dari awal tanpa kebohongan, Aku ingin mengungkapkan kejujuran denganmu,Tapi kenapa kau malah pergi lebih dulu? Maafkan aku sayang yang tidak terbuka denganmu, Aku terpaksa melakukannya demi temanku, Akhirnya aku harus kehilanganmu." Monolog Imran menyugar kasar rambutnya.


Di luar kamar Hena mengintip Imran. Ia tersenyum senang karena rencananya berjalan lancar.


" Aku berharap usahaku tidak akan sia sia, Lupakan Mila ada Hena di sini yang selalu mencintaimu Imran." Batin Hena.


Hena masuk ke dalam kamarnya, Ia merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil mengingat rencana yang beberapa hari lalu Ia jalankan.


Flashback On


Hari pertama Mila ujian Hena hendak memanggil Imran di kamarnya, Ia menghentikan langkahnya saat mendengar Imran berbicara dengan seseorang di dalam telepon.


" Setelah hari kelulusan Mila, Aku akan mengungkap semua kebenaran pernikahanku dengan Hena, Dan aku akan menyatakan cintaku padanya yang telah aku pendam selama bertahun tahun lamanya, Aku minta kau mengatur semuanya di Cafe KA jamnya jam sembilan pagi saja." Ucap Imran.


........................


Hena mengepalkan tangannya erat. Ia tidak terima jika Imran akan mengatakan yang sebenarnya pada Mila, Itu artinya dirinya akan tersingkir.

__ADS_1


" Aku harus menjalankan rencanaku sebelum Imran mengungkap kebenarannya, Aku harus membuatnya pergi dari sini sebelum semua ini terjadi, Aku yang sudah mencintai Imran selama bertahun tahun enak aja dia yang akan memiliki Imran." Batin Hena. Hena segera pergi dari sana sebelum ketahuan Imran.


Malam hari setelah makan malam Imran pamit pergi ke rumah kepala sekolah untuk membicarakan masalah sekolah dan sedikit tentang ujian sekolah.


" Sayang Mas pergi dulu." Ucap Imran kepada Hena.


" Iya Mas hati hati." Sahut Mila.


Imran berjalan keluar rumah.


" Mil ayo kita ke ruang tamu ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." Ucap Hena setelah kepergian Imran.


" Iya Mbak." Sahut Mila.


Keduanya duduk di ruang tamu, Mila menunggu Hena membicarakan sesuatu tapi justru mulutnya bungkam. Untuk mengusir kejenuhan Mila memainkan ponselnya.


" Mil sebenarnya ada yang ingin Mbak bicarakan sama kamu, Apa kamu mau mendengarnya?" Tanya Hena menatap Mila yang sedang asyik dengan ponselnya.


" Ada apa Mbak?" Tanya Mila meletakkan ponselnya di atas meja.


" Katakan saja." Sambung Mila.


" Sepertinya aku berubah pikiran Mbak, Aku ingin menjalani rumah tangga saja seperti selama aku di sini, Bukankah selama ini kita baik baik saja?" Sahut Mila membuat emosi Hena memuncak tapi sebisa mungkin Ia menahannya.


" Apa kamu sudah mencintai Imran?" Selidik Hena.


" Aku nggak tahu Mbak tapi sepertinya belum sih, Aku merasa perasaanku masih abu abu." Sahut Mila.


" Apa kamu tega terus terusan merebut kebahagiaanku? Hiks...." Isak Hena.


" Apa maksudmu Mbak?" Tanya Mila.


" Sejak kedatanganmu perhatian Imran kepadaku hilang begitu saja hikss, Dia tidak pernah memberikan aku perhatian, Bahkan aku seperti pembantu di sini." Ucap Hena.


Mila tidak bergeming, Ia ingin tahu apa yang sebenarnya Hena inginkan.


" Kamu tahu? Sebelum kehadiranmu hidup kami sangat bahagia Mil, Bahkan Imran begitu perhatian padaku, Dia selalu mengingatkanku untuk minum obat, Tapi sekarang dia sudah lupa dengan kewajibannya, Bahkan selama kamu di sini dia tidak lagi mau menyentuhku, Aku istri pertama tapi aku seperti istri kedua yang tidak pernah di anggap kehadirannya... Hiks... Malang sekali nasibku." Keluh Hena.


" Kamu tahu kan? Tidak ada istri yang mau berbagi suami dengan wanita lainnya?

__ADS_1


" Lalu kenapa Mbak Hena mengijinkan Mas Des menikahiku? Kenapa kalian tidak memberitahu tentang pernikahan kalian kepada keluarga Mas Des? Bukankah kalian sendiri yang memaksaku masuk ke dalam pernikahan ini? Jangan berperilaku seolah olah aku yang bersalah di sini Mbak." Mila memotong ucapan Hena.


" Karena keluarganya menjodohkanmu dengannya, Perlu kamu tahu kami mencoba mengungkap hubungan kami sebelumnya tapi keluarga Imran tidak merestui hubungan kami hingga membuat kami harus menikah secara diam diam Mil, Jika Imran menolak perjodohan ini kami takut pernikahan kami akan terbongkar, Aku belum siap berpisah dari Imran setidaknya sampai Tuhan mengambil nyawaku yang tidak lama lagi, Aku sangat mencintainya Mil, Kami sangat mencintai sebelum kehadiranmu di tengah tengah kami." Jelas Hena.


" Kemarin aku periksa ke dokter dan kau tahu apa hasilnya?" Mila menggelengkan kepalanya.


" Nih baca." Ucap Hena memberikan selembar kertas hasil pemeriksaannya.


Mila membaca dan meneliti keaslian dari hasil pemeriksaan itu, Semuanya asli.


" Berarti benar jika Mbak Hena terkena kanker otak? Berarti dia wanita yang kuat hingga terlihat seperti orang sehat." Batin Mila.


" Di situ tertulis jika penyakitku semakin parah karena aku terlalu stres, Aku stres memikirkan Imran yang mulai berpaling dariku Mil, Apa kamu tega menyakiti hati wanita lain? Apalagi istri pertama, Aku lebih berhak darimu Mila, Kau masih muda, Kau masih bisa mendapatkan pria lainnya, Tapi aku? Tidak ada yang mau bersama wanita penyakitan sepertiku kecuali suamiku sendiri, Ku mohon tinggalkanlah Imran untukku, Aku ingin di saat saat terakhir hidupku suamiku selalu ada untukku, Aku mohon Mil." Pinta Hena menangkupkan kedua tangannya dengan air mata yang mengalir di pipinya membuat siapa saja menjadi trenyuh.


" Lalu aku harus bagaimana Mbak? Mas Des tidak mau menceraikan aku, Sepertinya aku juga berat jika jauh darinya, Aku harus apa?" Pertanyaan Mila membuat Hena tersenyum.


" Sebelum perasaanmu berkembang tinggalkan rumah ini tepat di hari kelulusanmu, Aku akan membantumu." Ucap Hena.


Mila tidak bergeming, Ia diam memikirkan langkah apa yang akan Ia ambil. Jujur kedekatannya dengan Imran membuat hatinya berdesir, Membuat dirinya nyaman merasa terlindungi jika berada di dekat Imran. Bahkan rasa benci yang dulu ada dalam hatinya menguar entah kemana. Yang ada entah perasaan apa Mila sendiri tidak tahu.


" Malam setelah kau mendapatkan pengumuman, Aku akan membuat Imran menandatangani pendaftaran kuliahmu." Ujar Hena.


" Baiklah Mbak aku akan mengikuti saranmu, Maafkan aku jika selama ini aku telah menyakitimu." Ucap Mila.


" Sama sama Mil, Setelah kamu pergi dari sini lepas semua kontak dengan Imran, Aku ingin Imran hanya fokus kepadaku." Ujar Hena.


" Iya mbak, Aku ke kamar dulu." Sahut Mila.


Mila merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menatap langit langit kamarnya. Mila menghela nafasnya, Ia harus mengambil keputusan untuk kebaikan bersama. Ia tidak boleh egois hingga harus merusak rumah tangga wanita lainnya.


" Ya aku yang harus mengalah... Aku harus mencegah perasaan ini agar aku tidak sakit saat aku kehilangannya, Dari awal memang dia bukan milikku, Ya Tuhan beri aku kekuatan untuk melupakan perasaan ini." Ujar Mila dalam hatinya.


Flasback Off


TBC....


Yang penasaran sama kelanjutannya like dan koment ya... Biar author semangat melanjutkan ceritanya...


Makasih untuk readers yang sudahendukung karya author...

__ADS_1


Miss U All....


__ADS_2