Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Salah Paham


__ADS_3

Hari hari berlalu begitu saja sudah satu minggu Sita mengabaikan Fahri, membuat Fahri sedikit terganggu dan uring uringan.


Seperti hari ini, Fahri sedang bersiap ke kantornya namun Sita malah sibuk telepon dengan Adnan.


" Ya nanti aku ke sana agak siangan Nan, aku sedikit nggak enak badan nih." Ujar Sita memijat mijat tengkuknya.


-----------


" Iya kamu jangan khawatir! Aku hanya meriang biasa kok, makasih ya udah khawatirin aku." Ucap Sita.


--------


" Ak...


Belum selesai Sita berbicara tiba tiba Fahri merebut ponselnya lalu mematikannya sebelum Ia melemparnya ke atas ranjang.


" Apa apaan sih Mas." Ucap Sita dengan suara meninggi.


" Berani kamu berbicara keras kepadaku hah." Bentak Fahri mendorong tubuh Sita ke ranjang.


Fahri menindih Sita lalu mencengkram dagu Sita dengan kuat membuat Sita meringis kesakitan.


" Bukannya membantuku bersiap malah kamu enak enakan teleponan sama selingkuhanmu itu, aku sudah diam selama satu minggu ini Sita." Tekan Fahri.


" Apa perlakuanku padamu selama ini berpengaruh dalam hidupmu? Bukankah ada dan tidaknya aku sama saja bagimu? Lalu apa ini? Kenapa kau menuntut ku seolah aku adalah istri yang kau harapkan? Aku sudah menyiapkan semua keperluanmu lalu apa lagi yang kau inginkan dariku? Apa kau ingin aku yang memakaikan baju dan dasimu juga?" Tanya Sita menatap Fahri dengan senyuman manisnya.


Deg... Deg...


Jantung Fahri berdetak dua kali dari sebelumnya. Ia menatap mata Sita yang entah mengapa terlihat indah di matanya.


" Sampai kapan kau menindih ku begini Mas? Menyingkirlah! Tubuhmu berat." Ucap Sita.


Sadar dengan apa yang Ia lakukan, Fahri segera bangkit menjauh dari tubuh Sita. Ia menjadi salah tingkah. Bahkan memakai dasi saja Ia selalu salah.


" Argh sial." Umpat Fahri merasa kesal.


Sita menghampiri Fahri lalu mengambil dasi dari tangan Fahri.


" Biarkan aku menjadi istri yang baik hari ini." Ucap Sita.


Sita memasangkan dasi pada leher Fahri sedangkan Fahri sibuk menatap wajah cantik Sita.


" Sudah Mas." Ucap Sita mendongak.


Untuk sesaat mereka saling menatap tapi Fahri segera membuang pandangannya ke segala arah.


" Sarapan sudah aku siapkan di bawah, maaf aku tidak ikut sarapan karena aku ingin tiduran saja, kepalaku rasanya sakit." Ujar Sita kembali naik ke atas ranjang.


Tanpa membalas ucapan Sita, Fahri segera turun ke bawah karena memang waktunya yang mepet untuk segera sampai ke kantor. Hari ini ada meeting dengan para petinggi perusahaan.


" Bahkan kamu tidak peduli saat aku mengatakan kalau aku sakit Mas." Batin Sita.


Di meja makan Fahri mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Ia mulai menyiapkan sesendok makanan ke mulutnya.


Entah mengapa rasanya begitu hambar saat Ia menatap ke depan melihat kursi yang biasa di duduki Sita kosong.


" Kenapa rasanya ada yang kurang tanpa kehadiran Sita? Apa aku sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya? Ah tidak.... Aku tidak boleh begini." Monolog Fahri.


Tidak mau tambah stres di rumah, Fahri segera berangkat ke kantor tanpa menghabiskan sarapannya. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Sesampainya di kantor Ia segera menuju ruang rapat yang mana di dalam sana telah hadir beberapa orang peserta rapat.


Di rumah Fahri, Sita merasakan kepalanya semakin berdenyut nyeri. Ia mencoba turun dari ranjang ingin mengambil sarapan di dapur, namun pandangannya terasa berputar tak karuan.


" Oh astaga, kenapa sakit sekali." Rintih Sita memegangi kepalanya.


Sita duduk di tepi ranjang, Ia mengambil ponselnya menimbang nimbang apakah Ia harus menghubungi Fahri atau tidak. Sita semakin merasakan tidak kuat menahan sakit yang mendera di kepalanya.

__ADS_1


" Kalau aku telepon Mas Fahri pasti dia marah, aku minta bantuan Adnan saja lah." Ujar Sita.


Sita menekan tombol hijau pada kontak Adnan. Telepon tersambung hanya tinggal menunggu Adnan mengangkatnya.


" Halo Ta, ada apa? Apa kamu baik baik saja?" Tanya Adnan khawatir.


" Adnan kepalaku sakit banget, a... aku....


Brugh....


Sita tidak sadarkan diri.


" Sita.... Sita... Sita kau kenapa?" Teriak Adnan di seberang sana.


" Sial!" Umpat Adnan.


Adnan segera menyambar kunci mobilnya. Lalu Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Fahri.


Sepuluh menit Ia sampai di depan rumah Fahri. Tanpa berpikir panjang Adnan langsung masuk ke dalam.


" Sita.... Sita." Teriak Adnan.


" Dimana kamar Sita ya? Biasanya kamar utama ada di atas, aku coba cari aja deh." Ujar Adnan.


Adnan berlari menaiki tangga mencoba mencari kamar utama. Di atas ada dua kamar, Ia membuka satu persatu pintunya hingga...


"Sita." Teriak Adnan saat melihat tubuh Sita tergeletak di lantai.


Adnan segera membopong tubuh Sita ke atas ranjang.


" Astaga Sita kamu kenapa sih?" Ujar Adnan.


Adnan menyentuh kening Sita dengan telapak tangannya.


" Dia demam." Ucap Adnan.


Adnan mencoba mencari kotak p3k di kamar Sita. Ia tidak peduli apa kata orang yang jelas keselamatan Sita saat ini menjadi prioritas utamanya.


Sambil menunggu Sita sadar, Adnan mengusap usap telapak tangan Sita yang terasa dingin.


" Engh." Lenguh Sita membuka matanya.


" Sita kamu sudah sadar." Ucap Adnan.


" Adnan." Lirih Sita menyentuh kepalanya.


" Iya ini aku." Sahut Adnan.


" Aku kenapa?" Tanya Sita.


" Kamu tadi pingsan Ta." Sahut Adnan.


" Mana yang sakit?" Tanya Adnan.


" Kepalaku rasanya seperti mau pecah." Ucap Sita.


" Apa kamu punya penyakit yang menyebabkan kepalamu sakit?" Tanya Adnan memastikan.


" Tidak." Sahut Sita menggelengkan kepalanya.


" Mungkin kamu mau flu Ta." Ujar Adnan.


" Mungkin Nan." Sahut Sita.


" Nan apa aku boleh minta tolong?" Tanya Sita menatap Adnan.


" Apapun untukmu Sita." Sahut Adnan.

__ADS_1


" Aku lapar, bisakah kau mengambilkan makanan untukku di dapur?" Ujar Sita.


" Baiklah kau tunggu di sini, akan aku ambilkan." Ucap Adnan.


Adnan turun ke bawah mencari dapur. Setelah ketemu Ia segera mendekati tudung saji lalu mengambilkan makanan untuk Sita.


Adnan kembali ke kamar Sita dengan membawa sepiring makanan dan segelas air putih hangat di atas nampan.


" Maaf aku merepotkanmu." Ucap Sita.


" Tidak apa, sebagai teman kita harus saling menolong kan." Sahut Adnan.


Sita duduk bersandar pada head board.


" Aku suapi, setelah makan kamu harus minum obatnya biar cepat sembuh." Ucap Adnan menyodorkan sesendok nasi dan sayur ke mulut Sita.


Tanpa bantahan Sita menerima suapan demi suapan dari Sita karena memang dia ingin cepat sembuh. Kalau Ia sakit siapa yang akan merawatnya? Sedangkan Fahri saja tidak peduli dengannya.


Setelah menghabiskan makanannya, Sita segera meminum obatnya.


" Kamu istirahat lagi, aku akan menunggumu di sini." Ujar Adnan.


" Terima kasih Nan, kamu sudah mau merawatku." Ucap Sita.


" Tidak perlu di pikirkan, sekarang istirahatlah." Ucap Adnan membungkukkan badanya untuk memudahkan Ia mengelus kepala Sita.


Wajah mereka nampak dekat, keduanya saling menatap sampai tiba tiba...


" Apa yang kalian lakukan di dalam kamarku hah?" Bentak Fahri yang saat ini berdiri di depan pintu kamarnya.


Fahri berjalan menghampiri Adnan lalu menarik kerah lehernya.


" Beraninya kalian berbuat mesum di dalam kamarku." Bentak Fahri.


Bugh bugh


Fahri memukul wajah Adnan.


" Adnan." Teriak Sita turun dari ranjang.


Sita mendekati Adnan hendak membantunya membuat Fahri semakin kesal.


" Kau membelanya." Ucap Fahri geram.


" Aku membelanya karena dia tidak bersalah Mas." Teriak Sita membantu Adnan berdiri.


Sita berdiri sempoyongan menatap Fahri.


" Aku sakit, aku meneleponnya karena aku tahu jika aku meneleponmu kamu tidak akan mengangkatnya, dia mengurus ku di sini di saat suamiku tidak mempedulikan aku, lalu dimana salahnya? Jika Adnan tidak ke sini mungkin saat kau pulang kau hanya melihat jasad ku saja, bukankah kau menginginkan aku hidup lebih lama lagi supaya kau bisa terus menyiksa batinku demi balas dendammu itu." Ucap Sita menohok hati Fahri.


" Adnan kau pulanglah! Obati lebammu sendiri, aku sudah baikan dan saat ini aku mau istirahat, maaf atas keributan ini." Ucap Sita menatap Adnan.


" Terima kasih sudah menolongku." Sambung Sita.


" Baiklah kau jaga diri baik baik, aku pulang dulu." Ucap Adnan tidak mau membuat masalah ini semakin runyam.


" Jaga Sita bro! Jangan sampai dia pingsan lagi." Ucap Adnan menepuk bahu Fahri.


" Pingsan?" Gumam Fahri menatap Sita yang saat ini berbaring memejamkan matanya di atas ranjang.


Melihat itu entah mengapa hati Fahri menjadi merasa bersalah. Ia merasa sama sekali tidak berguna menjadi seorang suami.


Next bab kita akan mulai melihat kebucinan Fahri ya...


Jangan lupa untuk tetap dukung author dengan cara like koment vote dan hadiahnya nya biar Sita terus semangat mendapatkan cinta Fahri


Terima kasih author ucapkan untuk readers yang telah memberikan suport nya kepada author semoga sehat selalu.

__ADS_1


Miss U All..


TBC....


__ADS_2