
Siang ini Mila menemani Imran bertemu client di restoran xx. Keduanya bergandengan tangan memasuki resto tersebut.
" Meja mana Mas?" Tanya Mila.
" Delapan enam, Tuh di sana." Sahut Imran menunjuk meja dengan nomer delapan puluh enam.
Imran menggandeng Mila menghampiri clientnya yang sudah duduk di meja itu.
" Selamat siang Tuan Arga, Maaf kami sedikit terlambat." Ucap Imran.
Merasa di sebut namanya, Arga mendongak menatap Imran yang berdiri di depannya. Bukan Imran lebih tepatnya menatap Mila yang sangat memukau baginya.
Arga Ravendra seorang CEO di perusahaan AR yang mengajukan kerja sama dengan perusahaan Imran. Arga mempunyai paras tak jauh tampan dari Imran. Usianya pun lebih muda tiga tahun dari Imran.
" Tuan." Panggil Imran.
" Ah iya Tuan Imran, Nona....
" Mila." Sahut Mila.
" Oh Nona Mila silahkan duduk." Ujar Arga.
" Terima kasih." Sahut Imran.
Imran duduk di samping Mila berhadapan dengan Arga. Arga menatap Mila dari atas sampai bawah dengan tatapan tertariknya.
" Siapa Nona di samping anda Tuan Imran? Apa dia sekretaris anda?" Tanya Arga masih menatap Mila membuat Mila sedikit risih.
" Dia istriku Tuan Arga, Kamila Maulana." Jawab Imran menekan kata istriku.
" Apa? Istrimu?" Pekik Arga menatap tak percaya membuat Mila mengerutkan keningnya.
" Jika Nona Mila ini istri anda, Lalu siapa wanita hamil yang anda temani periksa di rumah sakit saat itu Tuan Imran? Bukankah anda juga mengenalkannya kepada saya sebagai istri anda? Apa anda memiliki dua istri?" Tanya Arga ingin tahu dengan senyum mengejeknya.
" Jangan tanyakan sesuatu hal yang bersifat pribadi Tuan Arga, Yang jelas sayalah satu satunya istri Tuan Imran." Sahut Mila.
Arga semakin tertarik dengan Mila setelah mendengar ucapannnya. Ia yakin ada sesuatu di balik pernikahan mereka.
" Menarik... Aku akan mengambil kesempatan ini untuk mendapatkanmu Nona." Batin Arga.
" Maaf Nona jika saya telah lancang menanyakan hal itu, Saya hanya ingin menepis prasangka saya saja jika Tuan Imran memiliki dua istri di sampingnya, Tapi jika Nona nerasa tersinggung saya minta maaf sekali lagi." Ujar Arga.
Mila memutar bola matanya malas.
" Baiklah Tuan Imran mari kita bahas tentang pengajuan kerja sama perusahaan saya, Atau mau memesan makanan terlebih dahulu?" Tawar Arga.
Imran menatap Mila yang di balas gelengan kepala oleh Mila.
" Tidak perlu Tuan Arga karna kami sedang terburu buru, Sebelumnya terima kasih atas tawaran Anda." Ujar Imran.
" Baiklah Tuan Imran saya akan langsung bacakan presentasi perusahaan kami." Ucap Arga.
Arga menjelaskan presentasi keuntungan kerja sama yang Ia tawarkan jika perusahaan Imran mau bekerja sama dengan perusahaannya. Nampak Imran mengangguk anggukkan kepalanya. Keduanya terlibat dalam obrolan pekerjaan sedangkan Mila sibuk memainkan ponselnya sambil senyam senyum sendiri membuat Arga sesekali mencuri pandang ke arahnya.
" Selamat bergabung dengan perusahaan kami Tuan Arga." Ucap Imran menjabat tangan Arga.
" Terima kasih Tuan Imran, Suatu kebanggaan tersendiri buat kami karna bisa di terima bekerja sama dengan perusahaan sebesar perusahaan anda Tuan." Sahut Arga.
" Sama sama Tuan." Sahut Imran.
" Oh ya Tuan untuk pembangunan hotel tersebut saya ingin anda sendiri yang meninjau Tuan Imran." Ujar Arga.
" Kenapa harus saya?" Tanya Imran.
" Supaya anda bisa memantaunya dan memastikan hasilnya sendiri Tuan, Di sana lokasinya benar benar nyaman Tuan, Bisa di jadikan untuk bulan madu juga." Ujar Arga melirik Mila.
__ADS_1
" Hah iya anda benar Tuan, Lokasinya di puncak ya, Kalau tidak salah di samping bangunan hotel yang sedang di bangun juga ada wisata alamnya kan?" Tanya Imran.
" Anda benar Tuan, Wisata alam yang sangat indah pemandangannya, Jadi gimana? Apa anda bisa meninjaunya?" Tanya Arga.
" Bagaimana sayang?" Tanya Imran kepada Mila.
Mila mengalihkan pandangannya dari ponselnya.
" Apanya Mas?" Mila justru balik bertanya.
" Bulan madu sambil meninjau bangunan hotel di puncak sepertinya menarik." Ujar Imran mengerlingkan sebelah matanya.
Mila menatap ke arah Arga yang sedang tersenyum padanya. Mila menangkap sesuatu yang tidak beres di mata Arga.
" Kenapa harus bulan madu? Kita bisa menghabiskan waktu berdua di rumah kan? Lagian kita juga sudah bulan madu, Kita bukan pengantin baru lagi Mas." Sahut Mila membuat Arga mengepalkan tangannya.
" Kita akan selalu menjadi pengantin baru sayang, Karna kita akan sering melakukan apa yang di lakukan saat bulan madu, Lagian Mas harus meninjau proyek di sana sayang, Kalau kamu tidak ikut nanti kamu sama siapa di rumah? Mau ya." Ujar Imran.
" Baiklah Mas aku ikut kamu saja, Kemanapun kamu pergi aku akan mengikutimu." Sahut Mila.
" Baiklah Tuan Imran sebagai tanda terima kasih dari kami, Maka saya sendiri yang akan mengatur selama kalian di sana termasuk sewa hotelnya, Saya akan menghubungi anda jika semuanya sudah siap." Ucap Arga.
" Terima kasih Tuan Arga, Kalau begitu kami pamit dulu." Ujar Imran.
" Silahkan Tuan, Sampai jumpa minggu depan." Sahut Arga.
Mila dan Imran meninggalkan Arga yang sedang menatap kepergian Mila. Arga tersenyum smirk. Ia segera menghubungi seseorang untuk membantunya.
" Sayang kita pulang ke rumah kita ya, Aku tadi sudah telepon Mama dan bilang kalau kita mau pulang ke rumah kita sendiri." Ujar Imran melajukan mobilnya meninggalkan pelataran Cafe.
" Ya udah Mas aku ngikut aja." Sahut Mila.
Imran melajukan mobilnya menuju rumahnya sendiri. Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di rumah. Imran menggandeng tangan Mila menuju pintu rumah mereka. Saat Imran hendak membuka pintu, Tiba tiba Vania berlari memeluknya.
" Sayang kenapa kamu tidak menjengukku hm? Apa kamu sengaja menghindariku? Aku kangen banget sama kamu." Ucap Vania masih memeluk Imran. Mila memutar bola matanya malas.
" Kamu berani mendorongku? Apa kau tahu aku sedang hamil anak Imran? Akan aku balas kamu." Ucap Vania mendorong Mila hingga hampir terpelanting ke belakang. Beruntung Imran segera menopang tubuhnya.
" Kamu tidak pa pa sayang?" Tanya Imran.
" Urus selingkuhanmu itu." Ketus Mila masuk ke dalam rumahnya.
" Sayang tunggu." Imran hendak mengejar Mila tapi Vania mencekal tangannya.
" Kamu mau kemana sayang?" Tanya Vania.
" Ayo kita pulang." Sambung Vania.
" Lepaskan aku! Dasar gadis gila." Bentak Imran menyentak kasar tangan Vania.
" Kau.... Kau juga menganggapku gila? Aku tidak gila Imran, Aku tidak gila.." Lirih Vania dengan air mata yang menggenang di matanya.
" Bukankah ibumu sudah menjelaskan semuanya? Aku bukan suamimu, Jadi ku mohon jangan pernah mengusik hidupku lagi." Tegas Imran.
" Tidak... Kau suamiku, Kau ayah dari anak ini." Teriak Vania menunjuk perutnya.
" Kau harus menerima kenyataan kalau aku bukan siapa siapamu Vania, Aku suaminya Mila dan selamanya akan menjadi suaminya, Ingat itu, Jika kamu tidak ingin aku berbuat kasar padamu sekarang pergilah dari sini." Ucap Imran.
" Imran aku mohon jangan tinggalkan aku, Kembalilah padaku Imran, Aku dan anak ini sangat membutuhkanmu sayang." Ujar Vania menggenggam tangan Imran.
" Lepaskan aku! Aku tidak sudi menolong wanita licik sepertimu." Ucap Imran melepas paksa genggaman tangan Vania.
" Kau sengaja menjebakku, Inilah karma yang harus kamu terima dari semua perbuatanmu Vania." Bentak Imran.
Tante Winda berlari menghampiri mereka dengan tergopoh gopoh dan nafas tersengal.
__ADS_1
" Vania... Vania pulanglah Nak." Ucap Tante Winda.
" Tante jaga putrimu jangan sampai dia menghancurkan rumah tanggaku, Dan jangan biarkan dia kemari lagi, Atau kalau tidak aku bisa menghancurkan keluargamu saat ini juga." Ancam Imran.
" Maafkan kami Nak Imran, Jangan lakukan apapun kepada kami, Kami sudah mendapatkan karmanya Nak.. Maafkan kami." Ujar Tante Winda.
" Bawa pergi putrimu dari sini sekarang juga." Titah Imran.
" Ayo sayang kita pulang, Ingat dia bukan suamimu." Ucap Tante Winda menyeret tangan Vania.
" Tidak Ma, Aku tidak mau pulang, Aku mau sama Imran, Imran ayo kita pulang, Kita besarkan anak kita Imran." Ujar Vania.
" Ayo Vania kamu jangan seperti ini Nak, Mama sedih melihatmu seperti ini, Dia buka suamimu Nak, Maafkan Mama yang sudah membohongimu, Dia bukan siapa siapa kita, Mama sudah bilang padamu kan? Kalau Mama hanya meminta bantuan darinya saja untuk mengaku sebagai suami kamu, Sekarang ayo kita pulang." Ucap Tante Winda.
" Tidak mau... Mama aku tidak mau... Imran tolong aku.... Imran." Teriak Vania saat Tante Winda menyeret paksa masuk ke dalam mobilnya.
Imran masuk ke dalam menuju kamarnya menghampiri Mila yang sedang duduk bersandar pada headboard sambil memainkan ponselnya.
" Sayang." Panggil Imran duduk di samping Mila.
" Hmm, Apa ulet keket itu sudah pulang?" Tanya Mila.
" Ulet keket?" Ujar Imran.
" Istri palsumu itu." Ketus Mila.
" Ha ha ha ulet keket? Ada ada aja kamu Yank, Terus kalau dia ulet keket, Lalu si Arga itu apa sayang?" Ujar Imran mengacak rambut Mila.
" Bajing loncat." Sahut Mila asal.
" Ha ha ha..." Imran tertawa renyah.
" Pasti udah pulang karna udah di kasih ciuman." Ucap Mila.
" Ciuman? Hiii nggak banget Yank, Tadi udah di seret sama Tante Winda." Ujar Imran.
" Oh... Berarti kalau tidak di seret Tante Winda dia belum pulang pulang, Pasti masih memeluk tubuhmu itu." Ujar Mila.
Imran menatap Mila sambil tersenyum.
" Apa kamu cemburu? Ah mas seneng banget kalau kamu cemburu, Itu tandanya kamu sayang sama Mas." Ujar Imran tersenyum lebar.
" Apa sih Mas, Siapa juga yang cemburu sama uler keket itu, Kalau kamu mau aku kasih dengan suka rela, Dengan begitu aku bisa cari yang...
Hmp....
Imran membungkam mulut Mila dengan bibirnya. Ia mencecap bibir Mila, Mila melongo membulatkan matanya. Imran menyusupkan lidahnya ke dalam mulut Mila. Ia mengekspos setiap inchi dalam mulut Mila. Mila memejamkan matanya meresapi sensasi panas dingin yang di berikan Imran untuknya. Imran melu*** bibir Mila dengan lembut. Setelah di rasa keduanya kehabisan nafas Imran melepas pagutannya. Ia mengusap pelan bibir Mila menggunakan jempolnya.
" Makasih Yank." Sahut Imran.
Mila mengerucutkan bibirnya. Ia kesal Imran main nyosor aja.
" Jangan gitu donk, Entar Mas khilaf lagi lho." Ujar Imran.
" Tau ah." Sahut Mila membaringkan tubuhnya memunggungi Imran.
" Jangan marah donk." Ujar Imran memeluk Mila dari belakang.
" Sekarang tidurlah nanti Mas bangunkan kalau sudah sore." Sambung Imran.
Keduanya memejamkan mata menuju alam mimpi.
TBC.....
*Jangan lupa like dan koment setiap babnya ya...
__ADS_1
Terima kasih untuk para readers yang selalu mendukung author semoga sehat selalu....
Miss U All*