
Malam hari Sita dan Fahri duduk bersandar pada head board, Sita menyandarkan kepalanya pada bahu Fahri.
Fahri menatap Sita dengan perasaan bahagia. Ia menangkup wajah Sita lalu mengecup bibir Sita dengan lembut.
" Boleh aku melakukannya sekarang?" Tanya Fahri yang di balas anggukan kepala oleh Sita.
Fahri menindih tubuh Sita, Ia kembali mencium bibir Sita, Sita mengalungkan tangannya ke leher Fahri.
Fahri melu*** lembut bibir Sita, begitupun dengan Sita. Ia membalas ciuman Fahri dengan lembut juga.
Suara decapan memenuhi ruangan kamar mereka. Ciuman Fahri turun ke leher Sita, Ia membuat beberapa stempel kepemilikan di sana membuat Sita mendesih pelan.
" Mas." Desis Sita.
Tangan Fahri berkelana menjelajahi lekuk tubuh Sita dengan baik membuat sang empu menggeliyat seperti cacing kepanasan.
" Aku mulai ya." Ucap Fahri.
" Iya Mas." Sahut Sita menganggukkan kepalanya.
Fahri segera mengarahkan senjatanya menuju pintu goa yang sudah siap menerimanya.
Malam ini apa yang seharusnya terjadi beberapa bulan yang lalu akhirnya terjadi juga. Fahri kembali memiliki Sita sepenuhnya. Bedanya kali ini Fahri benar benar merasakan kebahagiaan yang tiada tara.
Fahri memanjakan tubuh Sita dengan penuh kelembutan. Selama dua jam lamanya, keduanya saling bertukar saliva dan peluh di balik selimut yang panas. Bahkan dinginnya AC tidak bisa mendinginkan tubuh mereka yang bergelora.
" Terima kasih sayang." Ucap Fahri mencium kening Sita setelah Ia menyelesaikan permainannya.
" Sama sama Mas." Sahut Sita memeluk Fahri.
" Aku mencintaimu." Ucap Fahri mencium pucuk kepala Sita.
" Aku juga mencintaimu Mas." Sahut Sita.
Keduanya terlelap ke dalam mimpi indah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini Sita sedang memasak di dapur. Ia sedang fokus di depan kompornya, tiba tiba Fahri memeluknya dari belakang membuat Sita kaget.
" Aw Mas." Pekik Sita saat tangannya menempel pada panci panas.
" Sayang maafkan aku." Ucap Fahri menarik tangan Sita ke wastafel.
Fahri mengucuri tangan Sita dengan air.
" Maaf sayang aku tidak sengaja." Ucap Fahri.
" Iya Mas nggak pa pa, ini juga nggak parah kok." Sahut Sita.
Sita menatap Fahri yang sedang meniup tangannya. Ia merasa bahagia dengan perhatian yang Fahri berikan. Inilah yang Ia harapkan dari dulu. Hidup bahagia dengan cinta dan perhatian Fahri. Ia berharap hidupnya akan bahagia selamanya.
" Mas bau gosong." Ucap Sita mengendus bau gosong yang berasal dari panci di atas kompor.
Keduanya menoleh ke kompor dan...
" Yah gosong Mas." Ucap Sita mendekati masakannya yang berubah menjadi hitam.
Keduanya saling tatap lalu tertawa bersama.
" Kamu sih Mas, jadi gosong kan masakanku." Ujar Sita.
__ADS_1
" Maaf sayang, kan aku nggak tahu kalau kamu bakal kena panci panas." Ucap Fahri.
"Ya udah aku masak lagi aja." Ujar Sita.
" Ya udah aku bantuin." Ujar Fahri.
Keduanya saling membantu dalam berbagai hal memasak. Setelah selesai keduanya menata makanan di meja makan.
" Aku mandi dulu mas." Ucap Sita.
" Silahkan, aku tunggu di sini." Sahut Fahri.
" Tapi kalau kamu udah lapar, makan duluan aja nggak pa pa." Ujar Sita.
" Enggak ah nanti aja nungguin kamu, biar bisa makan bareng sama kamu dan biar terlihat romantis." Sahut Fahri membuat Sita tersenyum.
Sita pergi ke kamarnya untuk mandi.
Di meja makan Fahri melamunkan kejadian kejadian yang baru saja Ia alami dengan Sita. Kejadian yang tidak pernah Ia bayangkan sebelumnya.
" Maafkan aku sayang, andai saja rasa ini datang lebih awal pasti saat ini kita sudah hidup bahagia bersama anak anak kita." Monolog Fahri.
Ting.... tong...
Mendengar bel rumahnya berbunyi, Fahri segera membuka pintu rumahnya.
" Adnan." Ucap Fahri menatap Adnan yang berdiri di depannya.
" Hai." Sapa Adnan.
" Mau apa kau pagi pagi ke sini?" Selidik Fahri.
" Bisakah aku bertemu dengan Sita? Sudah beberapa hari ini dia tidak bisa di hubungi, aku hanya ingin memastikan jika Sita baik baik saja." Ucap Adnan.
" *Aku akan membuat kissmark di leher Sita terlihat, d*engan begitu kau akan tahu kalau Sita sudah menjadi milikku sepenuhnya." Ujar Fahri dalam hati dengan bangga.
Keduanya berjalan menuju ruang tamu lalu duduk di sana.
" Mau apa kau menemui istriku? Apa kau merindukannya?" Tanya Fahri.
" Ya aku merindukannya." Sahut Adnan membuat Fahri melotot tajam ke arahnya.
" Hei jangan melotot begitu, aku merindukannya sebagai teman Bro, kan tadi aku sudah bilang kalau aku ke sini untuk memastikan kalau Sita baik baik saja, masih bertanya." Ujar Adnan tertawa.
" Aku hanya tidak mau kau mengganggu istriku." Ucap Fahri.
" Aku temannya Bro, dan aku tidak mengganggunya malahan aku menjaganya selama ini." Sahut Adnan membuat hati Fahri tercubit.
" Adnan." Ucap Sita menghampiri mereka.
" Hai, bagaimana kabarmu?" Tanya Adnan.
" Seperti yang kau lihat, aku baik baik saja." Sahut Sita duduk di sebelah Fahri.
Fahri merangkul pundak Sita lalu merapikan rambut Sita hingga membuat leher Sita terlihat jelas. Hal itu sukses membuat Adnan mengerutkan keningnya.
" Kalian..,
" Kami sudah baikan Nan, Mas Fahri sudah menyadari dan mengungkapkan cintanya kepadaku." Ucap Sita.
" Syukurlah kalau begitu, aku turut bahagia." Ucap Adnan.
__ADS_1
" Kau tidak perlu menjelaskannya aku sudah tahu lewat jejak merah itu Ta." Batin Adnan.
" Terima kasih Nan, semua ini berkatmu juga, Terima kasih sudah menemaniku dan selalu memberikan aku semangat selama ini." Ucap Sita.
" Itu sudah menjadi tugasku sebagai temanmu." Ucap Adnan.
" Apa kau yakin hanya teman?" Tanya Fahri memastikan.
" Apa boleh lebih dari teman?" Adnan balik bertanya.
" Nggak boleh! Sita hanya milikku dan selamanya akan menjadi milikku." Ucap Fahri.
" Berarti kami hanya teman, tidak lebih." Sahut Adnan.
" Berarti kamu sudah tidak bisa bekerja lagi." Ujar Adnan.
" Aku tidak mengijinkan Sita bekerja lagi, dia harus fokus denganku dan anak anak kami nanti." Sahut Fahri.
" Tapi sekali kali aku akan datang ke cafemu, bolehkan Mas?" Tanya Sita.
" Boleh tapi jangan keseringan, kalau tidak nanti aku cemburu." Sahut Fahri.
" Kamu ini ada ada aja Mas." Sahut Sita.
" Kalau begitu ayo kita sarapan bersama." Ajak Sita.
" Nggak usah, aku nggak mau ngerepotin, aku mau pulang aja, aku ke sini hanya memastikan keadaanmu saja." Sahut Adnan.
" Kau tenang saja! Sita akan aku jaga dengan baik." Sahut Fahri.
" Kalau kau masih menganggapku sebagai teman kamu tidak akan menolak makan bersama kami." Ucap Sita.
Adnan menatap ke arah Fahri.
" Tidak pa pa Bro, ayo kita cicipi masakan buatan istriku rercinta." Ucap Fahri menarik tangan Adnan.
" Baiklah." Sahut Adnan menghela nafasnya pelan.
Ketiganya makan dengan khidmat. Setelah itu Adnan berpamitan pulang.
Fahri merangkul Sita membuat Sita menatap ke arahnya.
" Jangan pernah melihat pria lain, aku tidak mau hatimu condong kepadanya dan membuatmu meninggalkan aku." Ucap Fahri.
" Tidak akan Mas, mataku yang melihat tapi hatiku hanya milikmu sejak dulu dan selamanya." Sahut Sita.
" Terima kasih sayang." Ucap Fahri.
Kini keduanya akan memulai hidup bahagia dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Hai readers... Kisah ini kita tamatkan ya... Mereka juga udah bahagia.... Author mohon maaf yang sebesar besarnya jika author banyak salah kata dalam bertutur sapa di laman komentar...
Tetap dukung karya author di kisah yang lainnya ya... Author sangat menunggu dukungan kalian semua di sana....
Terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...
Miss U All.... 🥰😍😘🥰😍😘
Bye bye 👋👋👋
__ADS_1
...THE END...