
Mila melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia memukul mukul stirnya melampiaskan rasa kesalnya.
" Desfiannn kau membohongiku lagi, Ah betapa begonya aku ini... Apa yang harus aku lakukan? Kabur? Ah tidak tidak kali ini aku tidak akan lari dari masalah, Aku akan menghadapinya... Ya aku akan menghadapinya." Monolog Mila.
Tiba tiba mobil Mila oleng.
" Eh eh kenapa ini?" Ujar Mila. Mila segera menginjak remnya. Beruntung jalanan sepi.
Mila turun dari mobil mengecek ada apa dengan mobilnya, Dan ternyata bannya kempes.
" Sial! Kenapa harus kempes sih." Cebik Mila menyugar rambutnya kasar.
" Bengkel.. Mana ada bengkel di sekitar sini." Mila mengedarkan pandangannya berharap bisa menemukan sebuah bengkel atau sekedar tambal ban saja.
" Ah itu." Ucap Mila kegirangan.
Mila menyebrang jalan menuju bengkel mobil.
" Mas mau ganti ban dalam bisa nggak?" Tanya Mila kepada pegawai bengkel yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.
" Oh bisa Mbak, Dimana mobilnya?" Tanya Pegawai itu.
" Itu di sebrang jalan, Kuncinya juga masih ada di sana." Sahut Mila menunjuk mobilnya.
" OK Mbak, Silahkan di tunggu dulu ya." Ujar Pegawai bengkel.
Mila duduk di kursi tunggu pelanggan sambil memainkan ponselnya.
" Mila." Panggil seorang pria yang sedang berdiri di depannya. Mila mendongak menatap wajah pria itu.
" Arnav kan?" Tanya Mila.
" Ternyata kau tidak melupakan aku." Sahut Arnav.
" Kamu ngapain di sini?" Tanya Mila.
" Seharusnya aku yang tanya padamu, Kamu sendiri ngapain di sini?" Tanya Arnav.
" Ya namanya di bengkel pasti kalau nggak memperbaiki mobil ya paling ganti ban atau sekedar tambah angin." Sahut Mila.
" Jawabanmu penuh teka teki." Kekeh Arnav duduk di sebelah Mila.
" Run Mbak ya ngapain ke sini?" Tanya Arnav pada pegawainya yang bernama Harun.
" Mbaknya mau ganti ban dalam Bos." Sahut Harun.
" Jadi kamu Bos di sini? Kalau kamu Bos bengkel mobil kenapa waktu itu naik motor?" Tanya Mila.
" Itu motor milik Harun." Sahut Arnav.
" Oh jadi Mbaknya ini yang bikin motor kesayanganku babak belur." Ujar Harun.
" Maaf ya Mas." Ucap Mila.
" STW Mbak saya malah harus berterima kasih sama Mbaknya, Karna berkat Mbaknya Bos Arnav menggantinya dengan yang baru." Sahut Harun.
Mila menatap ke arah Arnav. Padahal Arnav tidak meminta ganti rugi padanya, Lalu kenapa Arnav mengganti motor Harun dengan yang baru? Pikir Mila.
" Tidak usah di pikirin, Sebagai gantinya gimana kalau kita makan siang berdua sambil nungguin mobil kamu selesai." Tawar Arnav.
" Baiklah." Sahut Mila tidak enak menolak.
" Ayo." Ajak Arnav.
Keduanya masuk ke dalam mobil Arnav. Mereka menuju Cafe yang sedang booming di kota ini. Keduanya berjalan masuk mencari meja kosong.
__ADS_1
" Mau pesan apa?" Tanya Arnav setelah mendapat meja.
" Stik sama Jus anggur aja." Sahut Mila.
" Ok." Sahut Arnav berjalan menuju meja kasir untuk memesan makanan sesuai keinginan Mila.
Sepuluh menit Arnav membawa pesanan Mila.
" Ini pesanannya Tuan putri." Ucap Arnav sambil meletakkan pesanan Mila di depannya.
" Makasih Mas." Canda Mila.
" Apa? Mas? Sepertinya bagus juga tuh kamu manggil aku Mas, Usiaku kan juga jauh lebih tua darimu." Ujar Arnav.
" Nggak mau ah, Aku panggil Kak aja kali ya." Ujar Mila.
" Ya udah deh nggak pa pa dari Kakak menjadi Mas." Sahut Arnav.
" Maksudnya?" Tanya Mila.
" Kamu tahu betul maksudku Mil, Aku jatuh cinta pada pandangan pertama kepadamu, Tpi sayangnya kamu sudah menjadi milik orang lain." Ungkap Arnav.
" Yah sayang sekali, Padahal kalau kita bertemu lebih dulu aku pasti akan memilihmu ha ha ." Gurau Mila.
" Dari pada sama dia kebanyakan problem." Gumam Mila.
" Kenapa?" Tanya Arnav.
" Ah nggak pa pa." Sahut Mila.
" Kalau aku tahu ada gadis manis, Periang dan enjoy sepertimu aku pasti akan mencarimu kemanapaun kamu berada, Tapi yah yang namanya jodoh kita tidak tahu kan? Mungkin memang kita tidak berjodoh menjadi pasangan tapi kita berjodoh untuk menjadi teman bukan?" Ucap Arnav.
" Maukah kamu menjadi temanku yang mau mendengarkan keluh kesahku?" Arnav mengulurkan tangannya ke arah Mila.
" Teman." Mila membalas uluran tangan Arnav.
" No problem." Sahut Mila.
Selesai makan keduanya kembali ke bengkel. Mobil Mila sudah siap.
" Makasih untuk hari ini Mil." Ucap Arnav.
" OK, Aku pulang dulu ya makasih traktirannya." Sahut Mila.
" Hati hati sampai jumpa lagi." Ujar Arnav.
" Hmm." Gumam Mila.
Mila melajukan mobilnya menuju rumahnya. Setelah lima belas menit Mila membelokkan mobilnya masuk ke pekarangan rumahnya. Ia menghela nafasnya saat melihat mobil Imran sudah terparkir di sana. Ingin rasanya Mila memutar mobilnya dan pergi lagi tapi tidak Ia lakukan. Ia harus menghadapi masalahnya kali ini.
Mila menyelonong masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam. Mama Santi dan Imran menatap ke arahnya.
" Biasakan ucapkan salam sebelum masuk ke dalam rumah sayang." Ucap Mama Santi.
" Apa selama ini Mama pernah mengajariku seperti itu?" Tanya Mila.
" Sayang nggak...
" Jangan menceramahiku karna dirimu belum tentu lebih baik dari diriku." Potong Mila.
Mila menaiki tangga menuju kamarnya. Ia terlentang di atas ranjang menatap langit langit kamarnya.
Ceklek...
Imran menghampiri Mila, Tapi Mila cuek aja.
__ADS_1
" Sayang." Panggil Imran.
" Jangan memanggilku dengan sebutan itu karna aku tahu sayangmu itu palsu." Ucap Mila.
" Tidak sayang, Cinta dan kasih sayangku ini murni, Tulus dari hatiku yang paling dalam." Ujar Imran.
" Bullshit." Umpat Mila beranjak menuju kamar mandi.
Brakkk
Imran berjingkrak kaget menatap pintu kamar mandi. Sepertinya Mila belum bisa di ajak bicara karna masih emosi. Imran akan menjelaskannya nanti malam saja.
Malam hari Imran, Mila dan kedua orang tuanya sedang makan malam bersama. Mila tampak asyik menikmati makanannya sendiri, Mama Santi menatapnya tajam tapi Mila si bodo amat. Bisa ambil sendiri kan? Begitulah Mila jika sedang kesal.
" Mila jika ada masalah yang sedang kalian hadapi segera selesaikan jangan terlalu lama mengabaikan suamimu." Ucap Papa.
" Aku bosan Pa, Satu masalah terselesaikan pasti akan muncul satu masalah lagi, Begitu seterusnya lebih baik aku menghindari penyebab masalah itu." Ucap Mila melirik sinis ke arah Imran. Imran memejamkan mata sambil menghela nafasnya.
" Yang namanya hidup tidak luput dari masalah sayang, Kita tidak akan tahu kapan masalah itu akan datang." Ujar Mama.
" Jika kita bisa menghindar kenapa tidak kita lakukan saja? Masalah tidak akan datang jika kita menjaga atau menghindarinya Ma, Mila kenyang." Ucap Mila.
Mila kembali ke kamarnya. Ia membersihkan dirinya sebelum tidur. Itulah kebiasaannya. Setelah selesai Ia duduk bersandar pda headboard memainkan ponselnya.
Drt... Drt...
Ponselnya berdering tanda panggilan masuk. Satu nomer baru Ia malas mengangkatnya tapi saat Ia melihat pp nomer itu Ia langsung tersenyum.
" Hai Nav." Sapa Mila setelah mengangkat panggilannya.
" Hai kok tahu kalau ini nomerku?" Tanya Arnav bersamaan dengan Imran masuk ke dalam kamar.
" Siapa sih yang akan lupa dengan pria tampan sepertimu, Wow profilemu keren bet." Ujar Mila.
" Eh kapan kapan foto bareng terus buat pp wa ya." Sambung Mila.
" Beneran? Entar suami kamu marah lagi." Kekeh Arnav.
" Ah iya aku lupa dengannya ha ha, Besok mau jalan nggak?" Tanya Mila melirik Imran yang sedang mendengarkan obrolannya.
" Kemana?" Tanya Arnav.
" Mantai, Jemput aku jam tujuh pagi OK." Ujar Mila.
" OK Ok apapun untuk Milaku tercantik deh." Sahut Arnav.
" Baiklah Arnavku tertampan aku mau bobok dulu, Sampai jumpa besok pagi bye." Mila menutup teleponnya.
" Apa baik seorang istri memuji pria lain di depan suaminya?" Tanya Imran menatap Mila.
" Kenapa? Nggak suka? Setidaknya aku melakukannya di depanmu bukan di belakangmu kan." Sindir Mila.
" Kamu salah paham sayang, Maafkan aku yang tidak jujur padamu, Sekarang dengarkan penjelasanku ya." Ujar Imran.
" Apapun penjelasanmu tidak akan mengubah penilaianku terhadapmu Pak Imran, Kau pembohong kelas kakap." Cibir Mila.
" Sa...
" Stop! Kau tidak perlu menjelaskan apapun lagi aku mau tidur, Aku capek seharian jalan sama Arnav dan besok pagi aku harus bangun pagi pagi karna aku mau hang out dengannya, Aku mau melupakan masalah yang terus kau buat dalam rumah tangga kita, Ada saatnya aku membuat masalah juga bukan? Jadi diamlah!" Ucap Mila masuk ke dalam selimutnya.
Ya beginilah Mila. Keras kepala, Saat dia marah penjelasan apapun tidak akan Ia benarkan. Jadi Imran menunggu marah Mila reda baru Ia akan menjelaskan semua kebenarannya.
TBC....
Hayoo penasaran nggak sih sama kebenarannya? Jangan lupa like dan koment setiap babnya ya...
__ADS_1
Miss U All