
Imran mengerjapkan matanya, Hal pertama yang Ia lihat adalah wajah cantik sang istri yang masih terlelap. Imran tersenyum sambil terus menatap kecantikan Mila. Ia memajukan wajahnya lalu,
Cup Cup
Lagi lagi Imran mencuri ciuman Mila di kening dan pipinya. Dengan senyum bahagia Imran turun dari ranjang dengan pelan, Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk membasuh mukanya. Setelah itu Ia turun ke bawah menuju dapur.
Satu jam kemudian di dalam kamar Mila mengerjapkan matanya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar.
" Kosong.... Apa gue tadi mimpi ya Mas Des nyium gue? Ah Milaaaaa apa apaan sih Lo, Di sentuh aja nggak mau tapi ngarep ciuman darinya, Ha ha ha geli sendiri gue, Malu kalau sampai Mas Des tahu." Gumam Mila sambil menggelengkan kepalanya..
Mila turun dari ranjang, Ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selesai mandi Mila segera turun ke bawah. Indra penciumannya mencium aroma wangi dari arah dapur.
" Kamu bisa masak Mas?" Tanya Mila duduk di kursi meja makan.
Imran menoleh ke arah Mila, Ia tersenyum manis membuat Mila langsung terkena diabetes.
" Bisa, Kamu coba ya masakan aku." Sahut Imran.
" Nggak yakin sama rasanya, Entar yang ada aku mual mual lagi setelah makan masakanmu." Ejek Mila sambil menuangkan minum ke dalam gelasnya.
" Aku akan tanggung jawab kalau kamu mual mual, Tapi aku akan sangat bersyukur kalau kamu mual mual karena mengandung benihku." Seloroh Imran.
Byurrrr uhuk uhuk uhuk
Mila tersedak minumannya sendiri. Imran mematikan kompornya lalu Ia segera menghampiri Mila. Imran mengelus pelan punggung Mila berharap bisa mengurasi rasa sakit yang Mila rasakan.
" Pelan pelan sayang, Nih minum lagi." Ujar Imran menyodorkan segelas air putih ke mulut Mila.
Tanpa pikir panjang Mila langsung meminumnya hingga tandas.
" Hah.... " Mila menghela nafasnya.
" Secara tak langsung kita sudah berciuman Yank." Ucap Imran. Mila memicingkan matanya.
" Kamu minum di bekas bibirku." Kekeh Imran membuat Mila membulatkan matanya.
" Sialan kamu Mas, Kamu sengaja jebak aku dengan gelas itu." Cebik Mila.
" Biar romantis sayang, Rasulullah saja minumnya di bekas bibir Aisyah." Ujar Imran.
" Ya ini namanya kebalik Mas, Harusnya kamu yang minum di bekas bibir aku biar romantis kaya' Rosulullah." Sahut Mila tanpa sadar.
Mila langsung menutup mulutnya setelah sadar dengan ucapannya. Ia menatap ke arah Imran yang sedang menuangkan sedikit air di gelas tadi lalu meminumnya tepat di bekas bibir Mila.
__ADS_1
" Sudah romantis kah?" Tanya Imran.
" Bodo' ah... Udah buruan mana makanannya? Aku udah lapar Mas." Sahut Mila.
" Mas kan sudah masak sekarang giliran kamu yang menatanya di meja makan, Lalu melayani Mas, Mas yakin kamu tahu tugas seorang istri saat di meja makan." Sindir Imran.
" Ckk." Decak Mila.
Mila berjalan menuju rak piring dan mulai menata makanannya di meja. Ia kagum kepada Imran bagaimana bisa seorang laki laki bisa masak sebanyak ini? Yah walaupun hanya menu sederhana sih, Nasi putih, Rica rica ayam, Balado telur, Dan ayam kecap. Ia saja tidak bisa memasak apa apa, Bukan tidak bisa sebenarnya tapi karna malas saja. Setelah selesai Ia duduk kembali di kursinya.
" Lhoh piring Mas masih kosong lho Yank." Ucap Imran menatap Mila.
Dengan malas Mila mengambilkan makanan untuk Imran dengan porsi sepiring penuh. Imran melongo menatap makanan yang menggunung di piringnya. Saat Mila hendak mengisi piringnya,
" Tidak boleh kamu harus ikut menghabiskan makanan di piringku." Cegah Imran.
" What? Maksudmu kita makan sepiring berdua gitu? Nggak mau." Ucap Mila.
" Tidak hanya sepiring berdua tapi juga segelas berdua." Sahut Imran.
" Nggak mau." Ucap Mila.
" Aku akan menghentikan uang jajanmu saat ini juga." Ancam Imran.
" Emangnya kamu ngasih aku uang jajan gitu?" Tanya Mila.
" Bohong... Semua uangku dari Papaku." Kilah Mila.
" Kamu tidak percaya?" Tanya Imran.
" Tidak." Sahut Mila.
" Baiklah." Ujar Imran.
Imran membuka ponselnya lalu mengotak atik aplikasi pada ponselnya.
" Kau lihat bukti transferanku ke rekeningmu sejak awal kita menikah." Ucap Imran memberikan ponselnya ke Mila.
Mila melihat ponsel Imran dan benar saja semua uang itu bersumber dari rekening atas nama Desfian Imran M.
Hatinya mencelos karena Ia merasa di tipu oleh Imran dan Papanya.
" Masih nggak mau nurut?" Tanya Imran.
__ADS_1
" Ya ya baiklah terserah kamu saja, Pagi ini kamu membuktikan pemaksaan padaku dan bukannya cinta." Sahut Mila.
Mila memindahkan separo makanan di piring Imran ke piringnya. Ia mulai memakan makanannya tanpa suara. Imran menatap Mila yang sepertinya matanya sedang berkaca kaca.
Sekuat mungkin Mila menahan air matanya agar tidak menetes di pipinya. Ia merasa telah di bodohi oleh Papanya, Jika Ia tahu kalau uang itu berasal dari Imran maka Mila tidak akan mau kembali ke rumah ini. Ia akan mencari pekerjaan untuk membiayai kuliahnya sendiri.
Selesai makan Mila kembali ke kamarnya. Ia membanting tubuhnya di atas ranjang. Dengan posisi tengkurap Mila menutupi kepalanya dengan bantal. Ia terisak meratapi nasib yang Ia alami sekarang ini.
" Sayang jangan begini kamu akan kesulitan bernafas, Dadamu akan terasa sesak sayang." Ucap Imran mengambil paksa bantal yang menutupi kepala istrinya. Mila tidak bergeming.
" Sayang." Panggil Imran mengelus kepala Mila.
" Tidak usah pedulin gue." Ujar Mila.
" Aku tidak bisa, Aku peduli pada orang yang aku sayang, Maafkan aku jika sikapku tidak membuatmu nyaman." Ucap Imran.
Mila beranjak Ia duduk bersila di atas ranjang sambil menatap Imran.
" Bukan hanya sikapmu, Semuanya tidak membuatku nyaman, Aku tidak bisa menjadi diriku sendiri, Aku harus menuruti kemauanmu dan orang tuaku, Aku terkekang berada dalam lingkaran kalian, Aku mohon padamu Pak Des, Lepaskan aku biarkan aku mencari kebahagiaan di luar sana, Ku mohon bebaskan aku dari belenggu pernikahan ini." Ujar Mila mengatupkan kedua tangannya. Imran tidak bergeming Ia hanya ingin mendengar suara hati Mila yang mungkin selama ini terpendam.
" Aku merasa seperti boneka yang hanya di bodohi oleh kalian semua, Perjodohan, Menjadi istri ke dua, Dan uang transferan itu, Kalian tidak ada yang jujur padaku, Aku hanya sebagai pion yang harus siap kalian mainkan kapan saja, Aku tidak menginginkan seperti ini.... Aku ingin benar benar ada yang menyayangiku secara tulus, Ada yang mau mengerti aku, Ada yang benar benar perhatian padaku, Bukan ancaman atau pun kebohongan, Tapi sepertinya memang sudah nasibku harus mengalami hal seperti ini, Dari dulu aku selalu jauh dari kata bahagia, Orang tuaku hanya memberikan kebahagiaan semu padaku, Awal aku menikah denganmu aku sudah pasrah kemana takdir akan membawaku, Aku berharap kau bisa menjadi kebahagiaanku." Keluh Mila mengusap air matanya.
" Tapi aku salah kau justru menjatuhkanku dengan penderitaan menjadi orang ke tiga dalam sandiwara pernikahanmu dengan Mbak Hena, Setelah sehari aku lepas dari semua ini tiba tiba kau datang membawaku kembali kepada pernikahan ini, Aku tidak bisa berharap banyak dengan pernikahan ini jadi ku mohon sebelum semuanya terlalu jauh akhirilah sampai di sini, Lepaskan aku." Ujar Mila.
" Maafkan aku, Sekali lagi aku katakan padamu kalau aku Desfian Imran tidak akan pernah melepaskanmu, Aku akan membuktikan jika aku benar benar mencintaimu, Aku tulus menyayangimu, Dan aku berjanji akan membuatmu bahagia hidup bersamaku Mila." Ucap Imran.
" Tapi semua itu tidak akan berhasil jika kamu terus terussan memberi jarak di antara hubungan kita, Aku mohon padamu patuhi aku sebagai suamimu, Lakukan tugasmu sebagai istriku dan aku akan melakukan tugasku sebagai suamimu, Aku mohon kerja samanya Mila, Kau tahu jika kita berjuang bersama maka aku yakin kita akan bersama sama pula mencapai kebahagiaan itu, Bersabarlah aku akan memberikan semua itu padamu." Ucap Imran menangkup wajah Mila.
Mila menatap mata Imran, Entah mengapa hatinya menghangat hanya karena menatap mata Imran. Ia bimbang dengan pernikahan ini, Ia tidak yakin dengan hubungan yang di awali dengan kebohongan ini. Hatinya merasa takut jika Ia sudah terlalu dalam mencintai Imran, Imran akan melakukan satu kebohongan lagi. Haruskah Ia mencoba menjalaninya terlebih dulu?
" Kita awali dengan menjadi teman, Aku tidak akan mengancam atau memaksamu lagi, Mau kan kita berteman?" Tanya Imran. Mila sedikit memikirkannya.
" Baiklah.... Aku akan melihat usahamu membuktikan cintamu padaku." Ujar Mila mantap.
" Bolehkah aku memelukmu?" Tanya Imran. Mila hanya menganggukkan kepalanya saja.
Imran menarik tubuh Mila ke dalam peluangnya. Keduanya sama sama meresapai perasaan yang sedang bertahta di hati masing masing. Imran berjanji akan selalu membuat wanita yang Ia cintai tersenyum bahagia. Tanpa sadar Imran menciumi pucuk kepala Mila.
TBC.....
*Jangan lupa like dan koment di setiap babnya ya...
Semoga karya author tidak mengecewakan para readers
__ADS_1
Makasih atas suport yang para readers berikan
Miss U All*