Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Cekcok


__ADS_3

" Kamu mau kan?" Tanya Arvi menatap Mila.


" A.... Aku..." Mila bingung mau menjawab apa sampai...


" Dia pasti mau Vi, Tapi syaratnya kamu menikahi dia setelah kamu sembuh." Sahut Imran tiba tiba dengan menggandeng tangan wanita menghampiri keduanya.


" Tapi aku tidak bisa sembuh Kak, Apakah itu artinya Mila tidak akan pernah jadi milikku?" Tanya Arvi.


" Itulah sebabnya Vi, Aku kasihan dengan Mila jika kalian sudah menikah lalu kau meninggalkannya, Dia akan menjadi janda muda dan jarang ada orang yang mau menikahi janda cerai mati, Maaf bukan maksud Kakak mendoakanmu tapi kita juga harus memikirkan nasib Mila bukan? Yang terpenting sekarang kamu harus mau berusaha berobat dulu ya, Siapa tahu akan ada keajaiban dari Tuhan." Terang Imran menatap Arvi.


" Oh ya kenalkan dia Vania istri Kakak." Ujar Imran memperkenalkan Vania sebagai istrinya di hadapan Arvi.


Deg....


Hati Mila mencelos mendengar ucapan Imran. Lagi lagi Imran mengecewakannya dengan bertindak sendiri tanpa meminta pendapatnya. Dan Ia yakin pasti kedua mertua dan orang tuanya ikut andil di dalamnya. Kenapa sepertinya takdir sedang mempermainkannya?


Jika boleh Mila akui sejujurnya Mila sudah jatuh cinta pada suaminya tapi Ia tidak mau mengungkapnya sebelum Ia yakin jika Imran benar benar mencintainya dan takut akan kehilangannya. Tapi apa nyatanya? Imran bahkan memberikan harapan pada adiknya dengan mempertaruhkan perasaan Mila kepadanya. Mila benar benar tidak mengerti jalan pikiran Imran.


" Hai Kakak ipar, Kenalkan aku Arvi dan ini Mila calon istriku." Ucap Arvi.


" Hai aku Vania." Sahut Vania sambil menempel pada lengan Imran.


Mila memejamkan matanya menahan sesak di dadanya. Bagaimana tidak? Wanita mana yang rela suaminya di sentuh oleh wanita lain? Imran menatap Mila dengan tatapan sendu.


" Semoga kau mengerti sayang dengan keadaan ini, Maafkan aku... Aku terpaksa melakukannya demi adikku." Batin Imran.


" Kenapa kau tega melakukan ini Mas." Batin Mila.


" Arvi maaf aku kembali ke kamar dulu, Kepalaku tiba tiba pusing." Ujar Mila menyentuh keningnya.


" Kamu sakit? Ayo kita ke dokter sayang." Ucap Arvi khawatir.


" Maaf Arvi jangan memanggilku dengan sebutan itu sebelum aku menjadi milikmu, Aku tidak nyaman dengan panggilan itu." Protes Mila.


" Baiklah aku akan memanggilmu Mila saja." Ujar Arvi.


" Makasih." Sahut Mila.


Mila meninggalkan ketiga orang yang sedang menatap kepergiannya. Mila berlari menuju kamar tamu melewati kedua orang tua dan mertuanya begitu saja.


" Mila." Panggil Mama Lina.


Mila tidak bergeming, Ia masuk ke kamar lalu mengunci pintunya. Ia lempar kuncinya ke sembarang arah. Ia membanting tubuhnya ke atas ranjang dengan posisi tengkurap.


" Hiks.... Hiks.... Kenapa selalu seperti ini? Aku siapa bagi mereka? Kenapa tidak ada yang mau mendengar keinginanku? Selalu saja seperti ini, Kenapa? Kenapa semuanya begitu egois? Hiks..." Isak Mila.


Ceklek ceklek

__ADS_1


Suara kunci di putar dari luar setelah itu terdengar pintu di buka.


Tap tap


Terdengar langkah seseorang menghampirinya. Gerakan ranjang membuatnya yakin jika ada seseorang yang duduk di tepi ranjangnya. Aroma ini? Aroma maskulin Mas Des, Untuk apa dia ke sini? Pikir Mila.


" Sayang maafkan Mas, Mas harus melakukan semua ini demi adikku, Aku tahu jika aku egois mengambil keputusan ini tanpa meminta pendapatmu, Tapi ku mohon mengertilah, Kami ingin Arvi bahagia di sisa hidupnya... Bukan hanya kamu yang terluka tapi aku... Aku sangat terluka sayang... Maafkan aku." Ucap Imran.


Mila duduk bersila menghadap Imran.


" Kau mempermainkan perasaanku Desfian!" Ucap Mila. Imran memejamkan matanya mendengar panggilan Mila yang hanya menyebut namanya saja.


" Kau telah membuktikan cintamu dengan membuatku kecewa, Lalu apa yang aku harap darimu? Pernikahan yang bahagia? Suami yang setia? Atau pria yang bisa mempertahankan miliknya? Yang mana yang harus aku harapkan dari pria sepertimu?" Tanya Mila tersenyum sinis.


" Maaf, Kamu tahu bukan jika Arvi terkena kanker otak stadium akhir....


" Lalu apa hubungannya denganku? Dari awal aku sudah bilang akhiri semua ini! Mari kita cari jalan masing masing agar kita tidak saling tersakiti tapi kau yang bersikukuh mempertahankan pernikahan ini, Dan hari ini aku harus berkorban lagi, Sampai kapan ha? Sampai kapan aku harus menjadi budak dalam drama yang kalian mainkan? Katakan Desfian Imran." Ucap Mila dengan mata nyalang menatap Imran.


" Sampai adikku tiada." Sahut Imran.


" Bukankah kau mengharapkan keajaiban? Lalu bagaimana jika keajaiban itu datang? Bagaimana jika adikmu sembuh dari penyakitnya? Apa aku harus menikahi adikmu begitu?" Tanya Mila.


Imran menatap mata Mila dengan penuh cinta tapi Mila menatapnya dengan tatapan kebencian.


" A... Aku ...


" Kamu akan melepaskan aku dan menyuruhku menikah dengan Arvi, Itu yang akan kau lakukan." Tebak Mila memotong ucapan Imran.


" Aku bersumpah setelah aku lepas darimu aku tidak akan berhubungan dengan keluarga ini lagi." Teriak Mila.


" Sayang." Ucap Imran.


" Jangan memanggilku dengan kata itu lagi! Aku tidak sudi mendengarnya dari mulut plin planmu itu." Teriak Mila.


" Kau...." Ucap Mila menunjuk wajah Imran.


" Kau laki laki yang tidak punya pendirian, Aku membencimu Desfian Imran, Aku sangat membencimu." Teriak Mila.


" Aku sudah menautkan namamu di hatiku tapi apa? Lagi lagi kau membuatku menghapusnya, Kau selalu memainkan perasaanku Desfian Imran, Kau selalu menarik ulur perasaanku." Teriak Mila


" Aku berjanji tidak akan pernah menyerahkan hati ini lagi kepada pria sepertimu." Mila masih terus berteriak mengeluarkan kekecewaannya.


Ia tidak peduli semua orang di dalam rumah itu mendengarnya.


" Sayang ku mohon maafkan aku, Aku terpaksa melakukannya sayang, Aku tidak bisa berbuat apa apa, Aku tidak mau membuat adikku terluka apalagi kecewa sayang." Ujar Imran.


" Tapi kau tidak segan segan melukaiku, Kau selalu membuatku kecewa, Bahkan kau mengakui wanita lain sebagai istrimu tanpa seijinku." Bentak Mila.

__ADS_1


Mila hilang kendali Ia berlari menuju meja rias dan...


" Argh....." Mila melempar barang barang di kamar tamu itu yang bisa Ia jangkau. Ia memecahkan kaca rias dengan tangannya hingga membuat tangannya berdarah.


" Sayang kendalikan dirimu, Jangan seperti ini ku mohon." Ujar Imran memeluk Mila dari belakang.


" Lepas..." Teriak Mila mendorong tubuh Imran hingga Imran jatuh tepat di atas kasur.


" Jangan pernah mencoba untuk menyentuhku! Aku membencimu, Aku membenci pria yang tidak punya pendirian sepertimu, Sekarang pergilah jangan temui aku." Ucap Mila mengusap air matanya dengan kasar.


" Sayang tanganmu terluka, Sini aku obati." Ucap Imran hendak meraih tangan Mila tapi Mila segera menepisnya.


" Luka ini." Ucap Mila mengangkat tangannya. Darah segar semakin mengalir mengotori lantai berwarna putih itu.


" Luka ini tidak sebanding dengan sakit di hatiku yang sudah kau permainkan Desfian." Ujar Mila.


" Kau ingin aku menikah dengan adikmu bukan? Baiklah aku akan mengabulkannya, Tidak perlu menunggu dia sembuh ataupun mati, Aku akan menikahinya secepatnya dan aku akan mengurus surat perceraian kita secepatnya, Satu permintaanku padamu, Kau harus menandatangani surat itu, Sekarang keluar dari kamar ini aku tidak sudi melihat wajahmu, Mulai hari ini kau bukan lagi suamiku." Ucap Mila mendorong tubuh kekar Imran ke arah pintu.


" Sayang bukan itu maksudku tolong dengarkan penjelasanku sayang, Aku tidak mau betcerai darimu, Aku tidak mau kehilanganmu." Ujar Imran panik mendengar Mila akan menceraikannya.


" Sejak kau menyetujui ajakan Arvi untuk menikahiku maka sejak itu pula kau sudah kehilangan aku." Sahut Mila.


" Sayang dengarkan aku." Ucap Imran.


Mila terus mendorong tubuh Imran hingga keluar dan...


Brakkkk


Mila menutup pintu dengan kencang, Ia mengunci pintunya dari dalam tanpa mencabut kuncinya.


" Mila buka dengarkan aku, Mila ku mohon..." Lirih Imran.


Di luar Mama Lina yang memang sedari tadi mendengar perdebatan mereka mengelus pundak Imran.


" Sayang sebaiknya jangan korbankan kebahagiaanmu demi adikmu, Jujurlah dengan Arvi katakan yang sebenarnya, Mama yakin Arvi mau mengerti sayang." Ujar Mama Lina.


" Tidak Ma biarkan aku berkorban untuk kebahagiaan Arvi untuk yang terakhir kalinya." Sahut Imran. Mama Lina hanya menghela nafasnya saja.


" Walaupun pernikahanmu menjadi taruhannya?" Tanya Mama Lina.


" Aku yakin suatu saat nanti Mila akan kembali padaku Ma, Cinta sejati akan membawa kebahagiaannya sendiri." Sahut Imran meninggalkan mamanya menuju kamarnya.


TBC....


Mau cepet selesai atau masih mau berlanjut konfliknya nih....


Jangan lupa like dan komentnya ya..

__ADS_1


Makasih...


Miss U All...


__ADS_2