Ternyata Dia Hanya Milikku

Ternyata Dia Hanya Milikku
Perubahan &Tantangan


__ADS_3

Hari ini Sita sedang menyiapkan makanan di meja makan. Fahri datang lalu seperti biasa Ia duduk di kursinya sambil menunggu Sita mengambilkan makanan untuknya.


Namun setelah beberapa saat menunggu, Fahri tidak kunjung mendapatkan apa yang Ia mau. Ia menatap Sita yang malah sibuk dengan piringnya sendiri.


" Sita kenapa kau tidak mengambilkan makanan untukku?" Tanya Fahri.


" Aku terburu buru Mas, kau bisa mengambilnya sendiri." Sahut Sita mulai memakan makanannya sendiri.


" Heh buru buru." Cebik Fahri memitar bola matanya malas.


" Memangnya kau mau kemana? Mau pergi? Pria mana yang akan kau jebak lagi?" Tanya Fahri.


" Apa aku harus mengatakan semua yang akan aku lakukan kepadamu? Jika kau saja bebas melakukan apapun dengan Tiara, kenapa aku tidak?" Sahut Sita menghentikan makannya. Ia menatap Fahri dengan tatapan tidak sukanya.


" Apa maksudmu Sita? Kau sudah berani melawanku setelah mendapatkan barang baru?" Tanya Fahri dengan nada meninggi.


" Ya... Aku berani melawanmu Tuan Fahri, untuk apa aku mengikuti alunanmu jika semua itu hanya membuatku terluka? Aku bisa mencari jalan sendiri untuk membuat hidupku bahagia, terserah kau berpikir seperti apa karena apa yang kau pikirkan belum tentu itu kenyataan." Ucap Sita meninggalkan Fahri sendiri di meja makan.


Sebelum sampai pintu Sita menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Fahri.


" Seperti aku yang selalu berpikir jika kau pria baik baik, namun kenyataannya kau pria menjijikkan yang bisa melakukan hubungan ranjang tanpa adanya ikatan pernikahan." Ucap Sita menatap jijik ke arah Fahri.


" Kau." Geram Fahri mengepalkan tangannya.


Sita segera melanjutkan langkahnya meninggalkan rumah Fahri.


" Ada apa dengannya? Apa kejadian kemarin mengubahnya menjadi wanita pemberani dan keras kepala?" Monolog Fahri.


" Aku tidak menyangka jika dalam semalam dia bisa berubah menjadi macan betina." Sambung Fahri.


Fahri melongok ke jendela menatap ke depan dimana saat ini Sita sedang berbicara dengan Adnan. Tak lama setelah itu, Sita masuk ke dalam mobil lalu mobil itu meninggalkan rumah Fahri.


" Mau kemana mereka? Apa mereka benar benar punya hubungan? Apakah Sita seberani itu untuk melawanku setelah mendapatkan kekasih baru?" Tanya Fahri pada dirinya sendiri.


" Hah kenapa aku harus memikirkannya, lebih baik aku ke kantor saja." Ujar Fahri.


Fahri segera pergi ke kantornya dengan menahan perasaan kesal di dalam hatinya.


Sedangkan Sita saat ini sudah sampai di cafe tempatnya bekerja bersama Adnan.


" Sepertinya kita harus merubah tatanan mejanya deh Nan." Ujar Sita melihat kursi dan meja yang tertata di sana.


" Kenapa? Apa menurutmu kurang menarik?" Tanya Adnan.


" Bukan kurang menarik, tapi kurang strategis gitu." Sahut Sita.


" Kalau seperti ini terlihat seperti di kedai bakso bukan di dalam cafe." Sambung Sita.


" Baiklah mari kita tata ulang meja dan kursinya." Ujar Adnan.


" Ayo." Sahut Sita.

__ADS_1


Mereka berdua menata kembali meja dan kursi seperti di dalam cafe cafe pada umumnya. Sita sedikit memberikan dekorasi dari kertas kertas, bunga plastik dan balon membuat suasana cafe ini semakin hidup.


Dua jam kemudian mereka beristirahat sambil duduk memandang hasil kerja mereka.


" Bagus juga ya, tidak seperti tadi yang seperti bangku sekolah." Ujar Adnan.


" Iya.. Semoga dengan seperti ini akan banyak pelanggan yang datang." Sahut Sita.


" Amin." Sahut Adnan.


" Kita juga harus menyediakan menu menu kekinian yang banyak di minati oleh para remaja." Ucap Sita.


" Iya.. Soal menu aku serahkan sama chef Bara." Sahut Adnan.


Tak lama setelah itu para pelanggan mulai berdatangan memesan makanan.


Nampak seorang perempuan mendekati Sita dan Adnan.


" Sita."


Sita dan Adnan menoleh ke arahnya.


" Tiara." Ucap Sita.


" Mau apa kau kemari? Mau pesan makanan? Atau mau pesan minuman?" Tanya Sita.


" Aku mau berbicara berdua denganmu, ini soal Fahri." Sahut Tiara.


" Aku sedang sibuk, dan aku juga tidak berminat membicarakan suamiku dengan wanita lain." Sahut Sita.


Sita menatap Adnan, Adnan hanya menganggukkan kepalanya saja.


" Sita, aku ke belakang dulu." Ucap Adnan paham aka situasinya.


" Iya." Sahut Sita.


" Silahkan duduk." Ucap Sita.


" Terima kasih." Sahut Tiara.


Keduanya duduk berhadapan dan terhalang meja.


" Apa yang ingin kau katakan?" Tanya Sita.


" Aku ingin kau meninggalkan Fahri." Ucap Tiara membuat Sita melongo.


" Kenapa aku harus meninggalkannya?" Sita bertanya lagi.


" Aku rasa kau tahu apa alasannya, aku ingin Fahri bertanggung jawab kepadaku, kau sudah melihat sejauh mana hubungan kami kan? Jadi tanpa aku jelaskan panjang lebar kau paham apa maksudku Sita." Ujar Tiara menatap Sita.


" Bukankah mereka akan menikah? Kenapa Tiara bilang seperti ini padaku? Apa Mas Fahri berubah pikiran ya? Ah lupakan itu, aku akan mengikuti permainannya." Ujar Sita dalam hatinya.

__ADS_1


" Sejujurnya setelah nenek meninggal, aku sudah meminta pisah dari Mas Fahri, tapi Mas Fahri tidak mau berpisah dariku, sepertinya dia tidak mau kehilanganku tuh, terus aku harus gimana? Aku tidak boleh pergi meninggalkannya begitu saja, kecuali Mas Fahri yang menginginkannya, itulah perjanjian yang kami buat." Sahut Sita.


" Dia menahanmu karena ingin balas dendam denganmu Sita, kau jangan bodoh! Bukankah lebih baik kau pergi jauh daripada kau terus tersiksa hidup dengannya? Kalau aku jadi kamu mending aku pergi saja, dengan begitu kau tidak akan tersiksa lagi." Ucap Tiara.


" Mendingan kamu ngomong sendiri sama Mas Fahri dan menyakinkan Mas Fahri untuk meninggalkan aku atau melepasku, maka aku akan pergi jauh dari kehidupan kalian, dan aku akan sangat berterima kasih kepadamu jika sampai itu berhasil." Ucap Sita menatap Tiara.


" Dan akan aku pastikan kau tidak akan pernah berhasil memisahkan kami Tiara." Sambung Sita percaya diri.


Tiara mengepalkan erat tangannya di bawah meja.


" Kau begitu percaya diri Sita, istri yang tidak di inginkan sepertimu akan sangat mudah untuk aku singkirkan." Ucap Tiara.


Sita tersenyum manis ke arah Tiara.


" Maka lakukan itu secepatnya Tiara, aku juga sudah tidak tahan berada di sampingnya, aku ingin lepas dari penjara berkedok pernikahan ini, aku ingin bebas dan membebaskan dia, buatlah dia bahagia bersamamu! Aku ikhlas menerima semuanya." Ucap Sita menahan sesak di dadanya akibat ucapannya sendiri.


Bagaimanapun Sita masih mencintai Fahri selepas apa yang Fahri lakukan kepadanya.


" Tidak ada gunanya berbicara sama kamu Sita." Ucap Tiara pergi dari sana.


Sita menatap kepergian Tiara.


Tes....


Air mata Sita menetes begitu saja saat Ia mengingat apa yang di lakukan Fahri dan Tiara kemarin.


" Jangan bersedih!" Ucap Adnan menepuk pundak Sita.


Sita segera mengusap air matanya.


" Bagaimana aku tidak sedih Nan? Wanita lain memintaku meninggalkan suamiku... Suami yang sangat aku cintai, dan sayangnya suamiku tidak mencintaiku." Ucap Sita.


" Tetap kuat agar kau berhasil membalikkan keadaan, tetap fokus pada misimu untuk membuat Fahri membutuhkanmu, dan aku yakin suatu saat dia pasti akan mencintaimu." Ujar Adnan.


" Terima kasih, kau memang teman terbaikku." Ucap Sita.


" Sama sama." Sahut Adnan.


" Ayo kita bekerja." Ucap Adnan.


" Ayo." Sahut Sita.


Keduanya melanjutkan pekerjaan mereka untuk membuat cafe ini semakin menarik di mata pelanggan mereka.


Adnan menatap Sita dengan tatapan yang sulit di artikan.


" Semoga kau selalu bahagia Sita." Batin Adnan.


*Jangan lupa like koment vote dan hadiahnya ya biar Sita semangat menjalankan misinya.


Author ucapkan banyak terima kasih untuk readers yang selalu mensuport author semoga sehat selalu...

__ADS_1


Miss U All


TBC*...


__ADS_2